Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 49


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sisa acara pagi tadi masih menyisakan setumpuk peralatan makan yang kotor, juga demikian sampah yang terkumpul di kantong kantong kresek yang sudah siap untuk di bakar di belakang rumah. Makanan serta kue kue yang di bawa oleh keluarga Mas Alfi juga masih tersisa banyak, padahal sudah lebih dari separuh di bagi bagikan kepada tetangga oleh Ibu Suri.


Aku masih saja termenung di depan meja riasku, bukan karena terlalu kagum dengan penampilanku, justru pikiranku sedang traveling ke tempat lain. Sibuk menebak nebak dengan jalan pikiran Pak Panji, yang tiba tiba pergi dengan wajah kesal. Bahkan sesaat setelah rombongan keluarga Mas Alfi pergi, aku yang mencoba menghubunginya tidak di jawabnya, padahal nomernya sedang aktif. Kenapa..?, tanya itulah yang mengangguku.


Harusnya aku tidak perlu segelisah ini, hanya karena melihat wajah kesal Pak Panji saat melangkah pergi dari rumah ku. Tapi, perasaan bodoh ini justru asik sendiri dengan dugaan yang meyesatkan dan melupakan bahwa harusnya aku memiliki alasan untuk berbahagia untuk hari ini.


Mas Alfi, harusnya orang yang aku pikirkan saat ini. Mas Alfi begitu manis dan tidak ada celah untuk di duakan meskipun hanya dalam pikiran saja, biarpun itu cuma sejenak. Aiss, lupakan Fa, lupakan. Putusku dengan geram lantas segera meraih ponsel yang tengah berderit derit di samping sisir yang tergletak tidak pada tempatnya.


Senyum simpul menyungging di bibirku, saat ku lihat nama serta foto profil Mas Alfi yang memenuhi layar benda pipihku. Dan yang menjadi alasan senyum ku semakin melebar adalah foto Mas Alfi bersamaku, namun hanya nampak tanganku saja yang tengah tersemat cincin pertunangan kami.


"Assalamu'alaikum.." Suara dari sebrang terdengar bahagia.


"Wa'alaikumussalam.." Inginku merasa malu malu, tapi perasaan ini enggan muncul kepadaku. Apakah sebenarnya ini.?, apa seperti ucapan Mas Alfi, bahwa kita perlu belajar lagi untuk saling mengenali. Tapi kenapa..?


"Sudah selesai bersih bersih.?" Kembali suara Mas Alfi terdengar, membuatku tersadar akan sesuatu yang tidak seharusnya aku rasakan.


"Sepertinya sudah." Jawabku pelan.


"Fa..?"


"Iya." Jawabku dengan cepat.


"Tidak jadi."


"Mas Alfi sengaja menggodaku yah." Kataku.


"Memang iya." Jujur Mas Alfi di sertai dengan kekehan pelan di tengah dengusku. "Kamu jadi ke Rumah Sakit jenguk Uul hari ini..?"


Aku diam sesaat sembari menghela nafas dalam. "Inginnya seperti itu, tapi apa Mas Alfi mengizinkan.?"


"Kenapa tidak. Aku kan sudah tersertifikasi." Kembali kekehan kecil terdengar olehku


"Tersertifikasi..?"


"Tersertifikasi sebagai calon suami." Aku tersenyum garing dengan ucapan Mas Alfi. "Tapi, maafkan aku Fa, tidak bisa mengantarmu." Lanjut Mas Alfi.


"Tidak apa, Fafa bisa berangkat sendiri naik motor, sekalian nganterin kue ke rumah Kanjeng Ratu Novi."


"Aku janji besok tak antar ke Sekolahan. Besok jadikan masuk Sekolah.?"


"Iya, kan sudah dapat ACC dari calon Suami." Timpalku dengan nada canda, sampai sampai tawa renyah Mas Alfi terdengar begitu nyaring di telingaku.


"Ihh, yang lagi kasmaran, udahan dong. Disini ada jomblo tau." Teriakan dari Adik Mas Alfi terdengar olehku, dan Mas Alfi segera menyudahi panggilannya karena Allana yang terus menggodanya.


"Besok pagi aku kesana. Assalamu'alaikum.."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam.." Jawabku lantas segera memakai jilbabku dan keluar dengan tas kecilku.


Aku langsung berjalan masuk ke dapur dan mendapati Ibu Suri yang tengah memotong motong Uli dari keluarga Mas Alfi guna di bagi bagikan ke tetangga, beberapa bungkus plastik berisi aneka kue kue basah juga sudah terjajar rapi di meja makan. Di sela sela kegitanannya itu Ibu Suri masih tetap sambil Tausiyah dengan lantang, dan Silla juga Empilah yang menjadi pendengar setianya.


"Uli dan beberapa makanan yang berbahan dari beras ketan itu punya simbol untuk acara seperti ini. Itu agar hubungan yang terjalin menjadi erat, seerat Uli ini." Kata Ibu Suri sambil menekankan pisaunya untuk memotong Uli yang tampak sangat lengket.


"Bukan erat lagi Buk, tapi lengket." Kataku dengan cepat dan sengaja agar Ibu Suri ngomel, dan tidak tunggu lama tangan Ibu Suri sudah menempel di bahuku dengan kekuatan super yang dimilikinya.


"Kamu itu, sekali saja tidak usah membuat pasal pembantahan untuk Bu'e kenapa." Kata kata yang keluar barengan dengan tangan yang terus saja memukul mukul bahuku.


"Sakit Bu'e." Rengek ku.


"Mbak Syiffa mau kemana sudah rapih bener." Timpal Silla begitu memperhatikan penampilanku yang sudah mengganti bajuku dengan baju keluar rumah.


"Mau ke Rumah Kanjeng Ratu Novi, sekalian mau ke Rumah Sakit." Jawabku sembari meraih Risolles.


"Nak Ariz sudah tau kalau kamu mau ke jenguk Uul.?" Ibu Suri menghentikan kegiatannya, lantas menatapku intens, hingga membuatku hampir saja tersedak oleh cabe hijau yang baru saja aku gigit bersama Risolles.


Ku telan makanan di mulutku dengan cepat, pantas meraih air milik Silla, hingga pemiliknya mendelik ke arahku. "Sudah, tadi Mas Alfi nawarin mau ngaterin, tapi Syiffa rasa tidak perlu. Kayaknya Mas Alfi capek banget." Cerocosku.


"Kamu bukan lagi gadis bebas, Fa. Ingat selalu sudah ada cincin yang tersemat di jari manismu. Maka selalu jaga sikapmu di luaran." Ku lirik sekilas cincin yang baru beberap jam tersemat di jari manisku, dan senyum tipis ikut terukir di bibirku. Tapi, tidak dengan hatiku. Karena aku tidak merasa cincin itu juga ikut mengikat hatiku.


"Iya Bu'e." Jawabku pelan. "Ini yang mau di anterin ke Novi. Banyak bener. Aturannya jangan banyak banyak buat Novi, biar enggak ngemil mulu tuh anak." Lanjutku sembari mengambil kotak tanggung yang sudah rapi masuk di dalam Plastik.


"Mbak Syiffa, jangan keluyuran aja. Enggak bagus Mbak."


"Halah, kamu itu ikut ikut Bu'e aja Sill. Aku bukan keluyuran, ini juga demi masa depan." Jawabku.


"Gini nih, kalau bocah sudah jadi Emak Emak." Bantahku dan segera meraih tangan Ibu Suri. "Syiffa berangkat dulu Bu'e."


"Omongan Silla ada benarnya juga, Fa. Mulai sekarang kamu harus mengurangi kegiatanmu di luar rumah." Kata Ibu Suri.


"Hadehhh, kalau gini terus enggak bakal jadi berangkat Syiffa. Nanti kalau udah masuk pingitan baru dah. Orang nikahnya juga masih lama juga." Jawabku hendak beranjak pergi namun tangan ku masih di cekal oleh Ibu Suri.


"Justru karena masih jauh jauh hari, agar semua berjalan lancar."


"Tuh, di bilangin juga."


"Iya, iya nanti. Ya udah ah, Syiffa berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Putusku dan dengan sesegera mungkin meninggalkan dapur agar dapat terhidar dari Kultum Ibu Suri.


Pelan dan pasti motorku sudah meninggalkan halaman rumahku, dan melaju mulus di aspal hitam membelah jalanan berdebu di bawah terik matahari menuju sore. Jarak lambat laun terkikis dan mengantarkan aku sampai pada tujuanku pertama yakni Keraton Kanjeng Ratu Novi.


Drama di sana berlangsung cukup lumayan lama, karena Introgasi Novi mengenai acara yang berlangsung pagi tadi. Dan andai saja aku tidak terbiasa dengan suara berisiknya, sudah pasti aku akan sawan olehnya. Untung saja di Baby juga anteng anteng saja mendengar suara menggelegar Ibunya.


Pamit dari Keraton Kanjeng Ratu Novi. Aku segera melajukan motorku pelan menuju Rumah Sakit, dan sampai di sana tepat saat Adzan Asar berkumandang. Sebelum melangkah ke kamar VVIP dimana Uul tengah di rawat, aku memilih menggiring langkahku terlebih dulu ke Masjid Rumah Sakit.


Cukup ramai orang yang sedang mengantre untuk ke kamar mandi, dan aku memilih hanya berwudhu saja lantas ikut berjama'ah. Usai jama'ah aku merapikan penampilanku, dan baru saja hendak meninggalkan Masjid, saat tiba tiba mataku menangkap sosok Pak Panji yang tengah memakai sepatunya sembari menatap ke arahku.


Pandangannya aneh, karena aku tidak mendapati tatapan hangat yang sempat terpancar untuk ku selang beberapa bulan lalu. Pandangan itu lurus ke arahku, namun ada sesuatu yang dalam tidak bisa aku gali dari tatapan itu. Seperti sesal, seperti sedih dan entahlah apa itu. Tapi untuk apa.? Mengapa tatapan itu.? Ahhh, kenapa aku merasa tidak nyaman dengan ini.

__ADS_1


Ku sungingkan senyum ramah ke arahnya, mengingat ke datanganku ke sini juga karena atas undangannya, jadi selayaknya tamu aku akan bersikap ramah kepada tuan rumah. Tapi, juah di dalam hatiku merasa tidak terima akan tatapannya kepadaku. Karena jujur di dalam hatiku, aku merindukan sikap dan tatapan hangat yang dia berikan padaku.


Please hati, sadar, sadarlah. Ada cincin yang melingkar di jari manismu, dan itu bukan sekedar cincin biasa, melainkan penginkat bagimu. Desisku pelan, dan dengan cepat kembali mengulas senyumku yang untuk sesaat tadi memudar.


Kami basa basi sebentar, sebelum ahirnya langkah lebarnya segera mengajakku untuk segera sampai di kamar Uul dengan kebisuan. Dan nyatanya memang benar benar aku tidak mengenali seseorang yang berjalan dengan cepat di depanku saat ini. Sikap dinginnya yang tiba tiba saja datang membuat kami seperti orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.


Ya, memang iya, kami tidak bisa di katagorikan dekat juga. Tapi, bukan berarti sikapnya begitu jauh juga, apa lagi persis seperti fenomena alam yang baru baru ini melanda Bumi. Aphelion, dingin menggigit, lantaran keadaan Bumi yang tengah jauh dari Matahari. Dan aku merasa sikap Pak Panji kali ini seperti itu. Kenapa..?, kenapa cepat sekali sikapnya berubah ubah.


Hingga kami sampai di kamar Uul, Pak Panji tetap konsisten dengan sikap dinginnya. Antusias Uul dengan kedatangannya, juga sama sekali tidak membaut Pak Panji ikut bersemangat seperti Uul yang bersemangat untuk cepat sembuh.


Waktu yang berputar dengan cepat juga tidak membuat sikap dinginnya meleleh, bahkan cendrung semakin dingin saja. Apalagi saat aku pamit dan sedikit menyingung soal keputusanku kembali ke Sekolahan besok, kerutan di keningnya semakin menumpuk beberapa lipatan. Dan memandangku dengan helaan nafas dalam, sebelum ahirnya Pak Panji memberikan ku penjelasan singkat.


Pintu kamar Uul sudah tertutup rapat, dan entah kenapa sikap dingin Pak Panji kepadaku membuat sesuatu yang sulit aku artikan di dalam sana. Perasaan apa ini sebenarnya. Cincin di jari manisku tidak mampu menenangkan perasaanku tentang sikap dinginnya. Juga tidak mampu menghadirkan sosok Mas Alfi untuk ikut berbaur di dalam otak ku. Karena semua sudah di penuhi oleh Mata Tajam milik Pak Panji yang meredup.


Ya Allah, perasaan apa ini..? Rasa ini tidak menggebu, namun cukup pasti memenuhi setiap ruangnya dengan ketidak nyamanan akan sikap dinginnya kepadaku.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


"Suka suka Emak, mau di Up atau enggak aku bisa apa Mak, aku cuma wayangmu." Protes Bu Fafa.


"Maaf, maafkuen Emak yah. Nanti tak buatin kue Pukis deh.."


"Rayuan tidak di terima Mak. Janji manismu palsu belaka. Terlanjur sakit hatiku. Tak ku maafkan."


"Lha terus..?"


"Emboh, pokok e aku terlanjur marah.TITIK."


"Izza,.wez Emak manut pemeran e..🤭🤭🤭🤭, Loro neng atiku jeru rasane, nganti koyo di remesremse rasane.."


"Dehh, malah nyanyi."


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2