Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 34


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dunia sudah berselimut pekat, dan aku masih setia duduk di ranjangku dengan mataku yang sama sekali tidak mau tertutup, di tambah pikiran yang terus berlarian kesana kemari mencoba untuk menembus sebuah misteri yang masih sangat abu-abu yang menjadi alasannya aku di berhentikan tidak hormat.


Kuku ibu jari tanganku sudah hilang dari bentuk indahnya, bahkan sudah rata dengan daging di bawahnya. Karena semenjak siang tadi aku terus saja menggigitinya sembari terus berfikir dan memilih mengurung diriku di kamar. Sampai-sampai Ibu Suri menggedor-gedor pintu kamarku dan mengomeliku yang terus menyendiri di kamar.


Orang tuaku tidak tahu, alasan apa yang membuatku terus menyendiri di kamar selayaknya anak muda yang baru patah hati. Dan aku memang sengaja tidak ingin memberi tahu tentang pemecatanku serta tuduhan yang di lemparkan padaku mengenai kasus Uul. Termasuk pertemuan ku dengan Bayu tadi siang di Rumah Sakit.


Semua kekecewaanku terhadap Pak Panji menguap begitu saja saat aku bertemu dengan Bayu di koridor Rumah Sakit, lantas menyeretku di area sepi pinggir Parkiran. Dan di gantikan dengan kemarahan yang luar biasa terhadap diriku sendiri karena telah jatuh cinta kepada orang yang salah selama betahun-tahun lamanya.


"Aku pastikan hanya aku yang bisa menyelamatkanmu, Fa." Ucap Bayu sesaat setelah mengatakan bahwa ada sebuah konspirasi yang dia ketahui. "Memohonlah kembali padaku, jika kamu ingin terbebas dari ini semua." Lanjutnya dengan senyum penuh kebanggaan terhadap dirinya sendiri, karena telah berhasil membautku seolah hanya bergantung terhadapnya.


"Jangan mimpi, Bay." Cicitku.


Bayu kembali mengulas senyum licik yang memuakkan di depanku, lantas kembali mencekal tanganku dengan kasar. "Lakukan sebisa yang kamu bisa, karena jelas backingmu sudah tidak berada di pihakmu untuk mendukungmu jika dia mengetahui apa yang aku ketahui." Bisiknya begitu mengancam.


"Apa maumu." Desisku pelan.


Bayu tertawa jahat, lantas dengan cepat sudah berhenti tertawa dan berkata dingin terhadapku. "Apa yang aku mau." Jedanya lantas menatapku seperti menguliti seluruh kulit yang menempel di tubuhku. "Memohonlah kembali padaku."

__ADS_1


"Hanya orang bodoh yang akan melakukan itu." Jawabku lantas segera menyentakan tanganku agar terbebas darinya, dan hendak melangkah menjauh agar terbebas dengan laki-laki saiko seperti Bayu. Namun, belum langkahku menjauh, Bayu kembali menghalangi langkahku.


"Apa kamu kira saat bukti ini sampai di tangan Pak Panji yang terhormat, dia akan melepaskanmu begitu saja." Kata Bayu dengan mengacungkan beberapa kertas juga foto-foto yang sudah di perlihatkan oleh Pak Panji kepadaku.


Ganti aku yang tertawa sinis ke arah Bayu, karena dia telah kalah satu langkah. "Apa kamu yakin.? Bagaimana jika ternyata Pak Panji sudah mengetahui itu dan sengaja tak ingin memperkarakan hal ini."


"Oh iya, aku lupa kalian kan bersama. Tentu tidak akan ada masalah bagi dia, tapi bagaimana jika ini jatuh pada Bu Susan, apa kamu yakin tidak akan jadi masalah lagi buatmu. Terlebih pada pekerjaan Bapakmu, yang juga di bawah kendali Haikal Grub."


Aku diam mencoba mencermati kata-kata Bayu. Susan, siapa Susan aku tidak tahu, dan siapa sebenarnya orang yang berada di balik Bayu hingga menjadi senekad ini aku juga sama sekali tidak mengetahuinya. Dan dengan Pa'e jelas akan berimbas padanya jika sampai tuduhan yang di buat kepadaku benar benar menguak kepermukaan.


"Ku beri waktu setengah bulan untuk berfikir, dan menjauh sejauh jauhnya dari Pak Panji mulai detik ini." Lanjut Bayu dengan menepuk pipiku pelan. "Sayang sekali aku belum pernah meraskan pipi ini. Jelas, akan sesegera mungkin." Ucapnya lagi dengan membalikan tubuhnya.


"Pluk." Suara sepatuku yang mengenai tepat di kepala bagian belakangnya. Dan sudah ku pastikan wajahku saat ini tengah merah padam karena menahan amarah.


Dan ku tinggalkan dia begitu saja yang tengah di liputi amarah karena perlakuanku, dan berjalan dengan cepat tanpa memerdulikan kakiku yang tanpa alas kepasanan menjajakan diri di pelataran rumah sakit di saat matahari tengah terik teriknya.


Aku terus memacu langkahku, tanpa perduli dengan tatapan orang orang terhadap diriku, terlebih tatapan Pak Panji yang juga tengah berjalan ke arahku dengan seorang wanita yang tadi aku temui di koridor rumah sakit. Ku abaikan mereka berdua, karena aku tidak perlu banyak kata untuk menunjukan diriku di depan mereka, terlebih untuk membela diriku sendiri di hadapan Pak Panji.


Orang ketika Emosi cendrung tidak akan berfikir benar, dan aku tidak akan mencari kebenaranku di hadapan Pak Panji saat ini. Karena sepandai-pandainya bangkai di sembuyikan pasti akan tercium juga baunya. Terlebih bangkai itu terus berkeliaran dan justru mendekati anjing pelacaknya, bukankah itu akan cepat sekali teredusnya.


"Lihat saja nanti." Desahku pelan, lantas kembali membanting tubuhku di kasur mencoba untuk melelapkan mataku, agar semua kegelisahanku hari ini terbang bersama dengan mimpi. Namun, nyatanya mataku enggan sekali untuk ku ajak terlelap, dan sekali aku menutup mata bayangan mata Pak Panji yang kecewa terhadapku bermunculan, dan menyisakan tanya tersendiri bagiku.

__ADS_1


"Harusnya aku yang kecewa dan terluka, karena disinilah aku yang menjadi korban." Debat hatiku saat kembali bayangan mata Pak Panji melintas di pikiranku.


"Tapi, wajar juga sih jika Pak Panji kecewa, karena Pak Panji seorang Ayah yang menyangi anaknya dan juga sudah memberi tanggung jawab itu kepada ku sebelumnya." Lagi-lagi hatiku berdebat dengan sendirinya. Dan membuatku lantas kembali duduk di ranjangmu dengan mengacak rambutku kesal.


"Kenapa aku harus seperduli ini terhadapnya. Masa bodoh dengannya, itu bukan urusanku. Mau dia percaya, mau dia tidak percaya kepadaku itu bukan urusanku lagi. Memang dia itu siapa, dia hanya Ayahnya Uul, wali murid juga donatur sekaligus dewan komite Sekolah." Desahku dengan kesal lantad membanting kembali tubuhku dengan kesal sembari mulutku terus menggumamkan kekesalanku terhadap Pak Panji.


"Dan dia juga orang yang punya uang sekaligus kuasa." Lirihku ahirnya sembari menatap dua farfum pemberiannya satu bulan yang lalu. Dan anehnya hatiku tidak ingin membencinya meski apa yang telah di lakukan tadi siang terhadapku cukup menyakitkanku, lantas justru memaklumi sikapnya lantaran yang sedang Emosi. Dan tidak bisa mengubah perasaan yang terlanjur nyaman saat bersamanya, seperti aku yang mengubah rasaku terhadap Bayu selama lima tahun bersama dengan cepatnya saat ku tahu Bayu adalah seseorang Seiko.


Bersambung...


####


Bayu.. Bayu.. Bayu.. saiya mesti ngomong apa tentangmu yang kasar. Padahal emak berhati lembut bak sutra, kok bisa lahir dirimu jadi salah satu anak Emak, yang pasti sebentar lagi akan di perbincangkan..🤭🤭🤭🤭


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2