
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Fa.." Triak sebuah suara dan kami langsung memalingkan pandangan kami ke asal suara tersebut, dan nampaklah Uul yang sedang berjalan susah payah mendekat ke arah ku dengan senyum yang melebar, dan dengan segera aku berdiri dari tempat ku, lantas segera meraih tubuh Uul dalam dekapan ku dan membawa ke tempat ku duduk.
"Hai cantik siapa namanya.." sapa Mas Alfi kepada Uul saat aku sudah duduk di dekatnya dan Uul duduk di pangkuan ku.
"U-ul.." jawab Uul dengan mata berbinar..
"Mbak silahkan duduk.." ucap ku pada perawat yang bersama Uul tadi..
"Iya Bu Guru.." jawab perawat itu sambil menarik kursi lantas duduk membundar seperti meja yang berada di depan kami ini.
Kami terus saja bercengkrama dan sudah seperti keluarga yang sangant bahagia. Apa lagi Mas Alfi tipe tipe orang yang humble kepada setiap orang, dan juga dia ternyata begitu penyanyang kepada anak kecil, itu dapat terlihat bagaimana dia terus mengajak Uul untuk berkomunikasi tanpa ada canggung terlebih jijik padahal air liur Uul sudah kemana mana, bahkan ketika orang orang di sekitar kami memandang kami dengan pandangan yang mungkin bisa di bilang kasihan.
Mereka tidak tahu saja seberapa istimewanya anak anak seperti Uul yang selalu jujur menegenai hatinya, juga bisa juga di bilang terlalu naif, karena bagi mereka semua yang ada di depanya adalah hal yang mengagumkan dan selayaknya anak yang bertumbuh kembang, ada masanya mereka ingin mengetahui fungsi dari apapun di samping mereka, meski dari segi penyampaianya kurang di fahami oleh orang yang berada di sekitarnya.
Uul terus saja bermanja di pangkuan ku dengan Mas Alfi yang terus membuatnya tertawa bahagia mendengarkan cerita cerita yang sesungguhnya biasa saja namun di kemas begitu kreatif oleh Mas Alfi. Ya jelas saja itu bisa di lakukan oleh Mas Alfi karena sedari masih kuliah dulu Mas Alfi terkenal dengan komunitas mendongengnya.
"Ehh Uul.." kata Novi yang tiba tiba sudah berdiri di samping kami dan dengan segera menarik kursi di samping ku.
"Hati hati.." ucap ku saat melihat Novi yang duduk dengan sembrono tanpa memerdulikan perutnya yang sebesar kendi itu.
"Lihat Mas Alfi, Fafa itu tingkat kecerewetanya naik semenjak saya hamil.." kata Novi dengan langsung menyesap minuman ku, dan itu sering sekali dia lakukan semenjak dia hamil, coba siapa yang enggak makin crewet jika sudah dekat sama dia kalau kayak gitu.
"Itu lumprah terjadi Vi, secara kamu saja sering ceroboh.." jawab Mas Alfi dan itu membuat Novi merengeut karena aku ada yang membela.
"Puas.." ucap Novi ke arah ku.. " Cepet halalin saja Mas si Fafa biar cepet tau rasa hamil gimana.." lanjut Novi lagi dan itu sontak membuat Mas Alfi tertawa renyah dan di ikuti juga oleh Novi bahkan juga Uul dan perawatnya juga ikut ikut tertawa..
"Sepertinya saya ketinggalan ini.." sela sebuah suara di di tengah tengah tawa kami, dan langsung menghnetikan tawa kami seiring dengan kepala kami yang menoleh ke arah asal suara khas yang di miliki oleh Pak Panji.
"Ya-Ya-H.." triak Fafa dan langsung turun dari pangkuan ku menuju kepada Ayahnya.
__ADS_1
"Mari silahkan.." ucap Mas Alfi memberi tempat duduk kepada Pak Panji, dan memang benar kata Ibu Suri bahwa Mas Alfi memiliki ahlak yang bagus, itu sangat dapat terlihat dari cara dia berbicara dan memperlakukan seseorang yang berada di dekatnya, dan tidak ada salahnya juga jika aku harus mengenalnya lebih.
"Trimakasih Mas.." ucap Pak Panji dan lansung mengulurkan tanganya kearah Mas Alfi.. "Panji, Masnya..?"
"Ariz juga biasa di panggil Alfi Pak.." jawab Mas Panji.
"Pak, saya rasa saya belum cukup tua untuk di panggil Pak.." jawab Pak Panji sambil tersenyum lebih lebar..
"Kan anda Bos saya Pak.." jawab Mas Alfi..
"Oh iya, tapi saya menolak tua, bukan begiti Bu Novi.." jawab Pak Panji dengan langsung menoleh kearah Novi yang tengah memandang Pak Panji dengan mata berbinar bak melihat artis K-Pop.
"Ahh, Pak Panji masih seumuran kok dengan saya,." jawab Novi sambil menginjak kakiku karena sangking bahagianya,. "Tapi akan lebih awet muda lagi kalau mau mengelus perut saya Pak.." lanjut Novi dengan tertawa lebih lebar lagi..
"Jangan mau Mas suruh mengelus perut Novi, itu bisa bisanya dia saja, bukan kemauan si Jabang bayi.." ucapku sepontan dan membuat semua menatap ke arah ku dengan memanggil Pak Panji, Mas, terlebih Novi yang menatapku seperti dimatanya jelas tertulis, "Apa ada yang tidak aku tahu.." kira kira seperti itulah.
"Krik..Krik..Krik.." hening sesaat gara gara ucapan ku barusan dan dengan berdehem pelan Mas Alfi mencoba mencoba membuka kembali percakapan ini.
"Pak Panji Haikal jika saya tidak salah, Anda adalah Owner dari tempat saya bekerja.saya baru pindah dari kantor cabang di kota D Pak, dan mendapat promosi disini. Senang sekali bisa bertemu dengan anda dan mengenal Anda di luar dari jam kerja.." ucap Mas Alfi dengan sopan dan di sambut hangat oleh Pak Panji dengan gurauan, lantas kembalu tercipta obrolan tnapa canggung lagi sambil menunggu makana yang kemudian di pesankan dan di bayarkan oleh Pak Panji.
"Jadi yang di pamiti cuma Fafa Mas, saya enggak.." kata Novi..
"Iya, baik semuanya saya pergi duluan, Uul lain kali di sambung ceritanya.." kata Mas Alfi dan kemudian mengahadap langsung ke arah Pak Panji.. "Trimakasih Pak untuk makan sianganya, Assalamu'alaikum.." ucap Mas Alfi dan langsung pergi meninggalkan kami hingga sosok tegap itu menghilang dari jangkauan pandangan ku.
"Vi, kayaknya kita juga mesti pergi juga,.." kata ku ke Novi..
"Kakiku masih pegel Fa, aku tunggu di salon saja sambil creambath ya.." jawab Novi, dan aku sudah tau jawabanya akan seperti itu, karena sudah sering sekali dia lakukan juga kepadaku, dan aku tidak sama sekali kaget tapi dongkolnya kebangetan..
"Fa- tut, I-Ya.." kat Uul..
"Eng-gak U- sah, Uul nan-ti ca-pek.."jawab ku ke Uul..
"Emmmm.." jawab Uul sambil mengegeleng dengan keras, jika sudah seperti ini maka membujuknya juga perlu waktu yang lama, sedang aku yang mamandang Pak Panji meminta bantuanya hanya mengangkat bahunya pelan. Dan pada ahirnya aku pergi ke tempat Farfum titipan Ibu Suri dengan Pak Panji juga Uul.
__ADS_1
Setelah memilih milih Farfum kamipun ahirnya mendapat pilihan kami masing masing, dan aku hanya membeli Farfum yang di titip Ibu Suri saja.
"Fa, itu kan Farfum buat orang tua.." kata Pak Panji saat melihat aku mengambilnya.
"Iya Mas, ini tadi titipan Ibu Suri.." jawab ku dan hendak langsung menuju ke kasir namun di cegah oleh Pak Panji.
"Ini baunya enak Fa.." kata Pak Panji menyuruh ku untuk mencium botol tester Farfum..
"Iya enak, tapi kayak terlalu menyengat.." jawab ku, dan Pak Panji kembali menyuruhku untuk mencium Farfum secara bergantian dan berulang ulang hingga rasanya aku pusing oleh aroma yang membingungkan, dan anehnya kesemuanya itu Farfum wanita.
Lantas setelah aku mengeluh pusing dengan aroma Farfum yang bermacam macam, Pak Panji pun mengajak aku untuk menyudahi berburu Farfum, dan dia juga mengambil dua buah Farfum bermerk yang harganya cukup menguras kanttong, bukan kantong lagi kalau menurutku, tapi brangkas.
"Mbak tolong ambilkan prodak dari YSL keluaran terbaru dan Women Attitude. yang paling soft ya, saya tunggu di kasir.." kata Pak Panji saat melintasi stand Farfum mahal itu.
"Baik Pak.." jawab SPG tersebut dan akuoun langsung mengikuti langkah Pak Panji yang sudah menuju kasir.
Sampai di kasir aku yang hendak membayar Farfum yang ku beli di cegah oleh Pak Panji dan bilang dia yang akan membayar untuk ku, dan mendengar itu berasa Maluku pindah ke pulau Jawa saja. Aku sudah berusaha sangat keras agar tidak perlu Pak Panji membayarkanya untuk ku, nanti di kira saya memang mencari kesempatan buat morotin lagi. Setelah berdebatan panjang ahirnya beliau bersedia mengalah dan membiarkan aku membayarnya sendiri.
Kamipun ahirnya hendak berpisah di salon tempat Novi sedang menunggu, dengan membujuk Uul agar mau berpisah dengan ku Pak Panji terus berjanjo bahwa besok hari minggu akan bertemu dengan ku dan berjalan jalan di taman kesukaan Uul dan setelah itu akan memberi maka ikan di kolam pancing, dan aku hany bisa mengangguk angguk saja seolah aku faham tentang tempat tersebut, dan setelah aku bilang bahwa aku akan ikut mereka piknik di hari minggu ahirnya Uul mau berpisah dengan ku.
"Ini buat kamu Fa, kalau tidak suka kamu bisa tukar di tempat tadi.." kata Pak Panji dengan menyerahkan dua papper bag yang berisi Farfum mahal itu kepadaku dan aku tidak bisa menolaknya karena dia memaksa atas nama Uul dan Uul sudah berjalan lebih dulu meninggalkan kami bersama dengan perawatanya.
Aku terus memandang tubuh tegap milik Pak Panji dengan pandangan bingung bercampur malu, terlebih saat melihat papper bag di tangan ku rasanya malu setengah mati karena mungkin saja dia berfikir bahwa aku adalah orang yang matre dan memanfaatkan kedekatanku dengan Uul, tapi juga mau, apa lagi Farfum mehong, kapan lagi aku akan mampu untuk beli Farfum mehong kalau enggak nabung dulu bertahun tahun jika hanya mengandalkan gaji guru ku...
Bersambung...
####
Bilang saja mau, mau banget enggak uaah sok Jaim, untung saja enggak di kasih ke Emak Farfumnya sama Pak Panji..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862