Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 33


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Aku terus melangkah pasti melewati korifor Rumah Sakit menuju tempat dimana Uul di rawat, dan satu tanganku terus mencengkram erat amplop coklat berisikan surat pemecatanku juga sekaligus beberapa uang tunjangan yang jumlahnya lumayan banyak untuk ukuran pemecatanku.


Dan nafasku terasa begitu sesak, saat mataku bertemu pandang dengan Netra kelam milik Pak Panji yang sedang berdiri di depan ruang rawat Uul. Tatapan tajam Pak Panji, terus lurus mengawasi ku seperti seorang predator yang mengintai mangsanya. Tatapan itu begitu mengintimidasiku dan seolah aku adalah seseorang yang sangat berbahaya jika berada di sekitarnya. Tatapan itu, benar benar membuatku seperti di kuliti hingga menyisakan kengerian dan sakit bak tersayat.


Ku beranikan diri mengulas senyumku di hadapannya, dengan mengepalkan tangannya Pak Panji memalingkan pandangannya dari ku sembari berucap dingin. "Berani kamu kemari, Fa. Kurang puas kamu membuat aku kehilangan hak asuh atas Uul." Desisnya pelan.


"Maaf, saya tid.."


"Simpan saja kata-kata maafmu itu." Kata Pak Panji dengan semakin dingin.


"Bagaimana keadaan Uul saat ini.?" Tanyaku.


Pak Panji tersenyum mengejek ke arahku dan kemudian memukul dinding di depanya hingga suara dentamnya membuatku merinding, dan semakin berfikir keras apa yang salah dengan ku sehingga Pak Panji begitu murka terhadapku.


"Simpan wajah polosmu di hadapanku. Jika, tidak ingat kamu adalah Perempuan jelas aku tidak akan abai akan hal ini." Ucapnya dengan tarikan nafas dalam untuk mengontrol emosinya.


"Memang salah saya apa.?" Tanyaku yang sudah tidak tahan dengan tuduhan yang tidak masuk akal yang di tujukan terhadapku.


"Kamu tanya salahmu apa.?" Ucap Pak Panji dengan suara dingin. Dan itu sungguh sangat menakutkan sekali, terlebih saat matanya yang tajam menatapku dengan tatapan nyalang seorang Ayah yang sangat kwatir dengan keadaan anaknya. "Ow, saya lupa. Itu bukan kesalahan mu, melainkan kesalahan kami yang telah begitu percaya terhadapmu dan membiarkan Uul dekat dengan seorang yang tak berhati sepetimu."


"Tunggu. Apa maksud Pak Panji."

__ADS_1


Di raihnya map yang berada di Kursi tidak jauh dari tempat kami berdiri, dan membukanya dengan kasar lantas melemparkan beberapa foto tepat mengenai wajahku. Dan juga dengan cepat pula Pak Panji memperlihatkan beberapa lembar kertas yang berisikan tanda tanganku di atas Matrai.


"Saya tidak melakukan ini. Dan ini kenapa, kenapa bisa."


"Jangan berlagak bodoh, Fa. Apa tanda tanganmu yang berada di atas Matrai ini cukup kuat untuk menjadi buktinya."


Aku mulai panik juga sekaligus bingung, lantas mendadak aku kehilangan kata-kataku. "Apa tujuanmu, Fa. Apa karena uang." Lanjut Pak Panji, dan aku hanya bisa menggeleng dengan begitu keras untuk menampik segala fitnah yang di tujukan padaku.


Entah siapa yang begitu tega melakukan ini, dan untuk tujuan apa melakukan ini terhadapku. Tapi yang pasti aku hanya bisa terus menggeleng dan menolak semua tuduhan yang Pak Panji tujukan kepadaku.


Setelah puas Pak Panji mengeluarkan segala unek-uneknya terhadapku, di helanya nafas dalam-dalam. "Pergilah, dan jangan lagi perlihatkan wajahmu di hadapanku, apa lagi di hadapan Uul." Mendengar kata yang di ucapkan oleh Pak Panji, aku tersentak dan membuatku fokus menatap wajah Pak Panji yang juga tengah menatapku.


"Saya tidak melakukan apapun, saya mohon percayalah kepada saya." Lirihku.


"Ingin aku percaya padamu, Fa. Tapi, melihat semua bukti yang memberatkan mu, sulit bagiku untuk percaya begitu saja terhadapmu.."


"Di dunia Bisnis semua serba tega, dan aku sudah sering melihat orang bermuka dua. Dan seringnya mereka yang berwajah polos sama seperti mu." Jawabnya dengan membuang kembali pandangannya terhadapku. "Dengan kami tidak memperpanjang kasus ini, semoga itu akan menjadi pelajaran buatmu dan aku rasa uang tunjangan yang kami berikan itu akan cukup untuk kebutu."


"Saya tidak memerlukan uang ini." Jawabku pelan sembari menyodorkan amplop coklat yang sedari tadi terus ku genggam. "Saya memang tidak terlahir dan di besarkan serba berkecukupan seperti sampean, tapi orang tua kami mendidik kami semua memiliki adab dan moral." Lanjutku, lantas berbalik dan menjatuhkan Amplop di tanganku begitu saja yang tak kunjung di terima oleh Pak Panji.


"Iya ada yang terlupa. Memang sedekat apa kita, hingga menyuruh sampean untuk mengingat sikap juga sifat saya, dan mengetahui seberapa tulus hati saya. Tapi, sayanganya hati saya tak mengenal Bisnis untuk benar-benar merasa nyaman bersama Uul." Ucapku saat kembali membalikan badanku dengan menatap Pak Panji lekat-lekat, lantas kembali lagi membalikan badanku dan memacu langkahku dengan cepat.


Dengan langkah marah, juga sekaligus kecewa aku terus menyusuri jalan keluar Rumah Sakit. Sesekali helaan nafas dalam aku ambil untuk mengurangi sesak yang tidak tau kenapa begitu menghimpit dada.


"Pantaskah aku kecewa.?" Ucapku lirih saat aku tengah berhenti di selasar yang cukup sepi, lantas dengan cepat segera mengusap lututku yang tiba-tiba serasa lemas, saat mengingat ucapan demi ucapan yang keluar dari Pak Panji yang seperti merendahkan aku.

__ADS_1


Ingin rasanya aku menangis, tapi airmataku enggan untuk keluar hingga menyisakan sesak yang begitu menyiksa di dada. Helaan demi helaan nafas berat terus aku tarik ulur, seperti aku yang tengah menarik ulur hatiku sebelum ahirnya nanti pulang ke rumah dan sudah dapat aku tata kembali wajah yang tidak meprihatinkan.


Cukup lama aku bersandar di samping tembok dan baru saja aku hendak beranjak meninggalkan tempatku dan langsung menghentikan gerakanku, karena mataku mengangkap sosok wanita yang baru saja keluar dari lift. Wanita itu juga tengah menatap ke arahku, tapi dengan tatapan penuh kebencian, padahal kami tidak saling mengenal dan menurutku juga ini kali pertama kami bertemu.


Wanita dengan Dress warna Mocca seatas lutut itu terus menantapku, dan sama sekali tidak melapas tatapanya dariku hingga jarak yang mengikis dan kami saling berhadapan. Dengan gerakan cepat wanita itu segera melengos, sembari mengibaskan rambut sebahunya yang menyisakan aroma sangat wangi. Maklum orang kaya, jadi wajar jika baunya wangi.


Aku semakin tidak mengerti dengan wanita yang baru saja lewat di depanku, apa lagi saat dengan sikap angkuhnya dia mencemo'oh baju yang tengah aku pakai.


Aku terus melangkah dengan sambil berfikir keras, kita kira kenapa dengan orang tadi hingga sebegitnya terjadapku. Dan saat aku sudah sampai di pintu keluar tiba-tiba aku teringat dengan wajah wanita yang aku lihat di dalam mobil setelah gudang terbakar dan cara mengibaskan rambutnya sama persis dengan wanita tadi.


"Atau jangan-jangan wanita itu orang yang sama." Pekik ku, lantas hendak kembali ke dalam lagi, namun langkahku terhenti karena cekalan dari tangan besar yang mencengkram erat pergelangan tanganku.


Bersambung...


####


Huh.. Kok nambah lagi keruwetannya, kayak benang kusut.


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2