
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi datang kembali, dan embun embun yang tertinggal di rumput depan rumah ku menguarkan aroma tanah yang khas saat aku membuka jendela kamar ku.
Ku buka jendela kamar ku lebar lebar, membiarkan udara dingin subuh membelai wajah ku, ku hirup udara dalam dalam, mengisi paru paruku dengan aroma yang menyegarkan pagi hari.
Rekaman kejadian kemarin sore kembali terlintas saat aku menutup mataku, mencoba untuk menerima apa yang di tetapkan oleh Ibu Suri kepadaku, tanpa memberiku syarat, pertimbangan, ataupun juga pilihan. Mungkin juga sudah saatnya aku kembali membuka hati setelah lima tahun terlewati dengan sendiri dan mencoba mengenalnya leboh dari sekedarnya saja.
Memang tidak akan ada yang kurang jika melihat dari perawakan Mas Alfi, hitam manis, bertubuh atletis di tambah sudah mapan dan plusnya lagi dia sangat mengerti sopan santun dan menempatkan dirinya. Tentu tidak akan ada seorang Ibu manapun di dunia yang tak menginginkan dia sebagai menantunya, termasuk dari Ibu Suri ku.
Lamunan ku segera bunyar begitu saja saat ku dengar suara berisik dari balik tembok pagar, suara berisik Ibu Ibu pulang dari Masjid, biasanya tidak seberisik ini, hanya saja yang membuatku kaget adalah suara berisik dari Bu Gito dan Ibu Suri, seperti sedang bertengkar, dengan segera aku bergegas keluar dari kamar ku dan berlari menuju ke jalan depan rumah kami.
"Lha saya itu cuma, bilang lho Bu Jamilah, kalau yang ngantar Syiffa itu mobilnya bagus. Terus kalau orang orang menambah nambahi terusanya apa itu menjadi kesalahan saya...?" sangakal Bu Gito.
"Memang sampean itu tukang gosip kok Bu Gito.." jawab Ibu Suri ku sudah sedikit terpancing emoasi.
"Siapa yang gosib tow Bu, wong sudah jelas saya melihat sendiri Syiffa keluar dari mobil bagus milik laki laki tampan itu, dan kemudian ikut masuk ke rumah sampean kok, lha ternyata di dalam ada Acara, iya tho.. iya tho.."
"Iya, di dalam memang sedang ada acara, acara per..." jawab Ibu Suri.
"Bu'e pagi pagi buta kok berdebat, mana suaranya sampai terdengar sampai di dalam Rumah, malu sama tetangga Buk.." kata ku ke Ibu Suri sambil menarik tanganya agar segera ikut masuk dan tidak perlu meladeni Bu Gito.
"Bener tow Syiff, kalau kamu kemarin siang di antar sama orang ganteng bermobil mewah.." kata Bu Gito masih mencoba untuk memancing lagi di air yang sudah keruh.
"Enggeh Bu leres, tapi saya rasa itu bukan urusan Bu Gito, saya saja enggak pernah tanya Sandra yang pulang gonta ganti yang nagtar, bukanya yang kemarin Sandra di antar sama Om Om dengan mobil sedikit mewah juga.." jawab ku dan membuat Bu Gito sedikit gelageban.
"Itu, Itu bosnya Sandra di tempat kerja..."
jawab Bu Gito dengan sedikit terbata..
"Kan tadi saya sudah bilang kalau tidak tanya.." jawab ku,.. "Ayo Bu, cepat masuk.." ajak ku ke Ibu Suri.
"Tapi yang ngantar kamu kemarin mobilnya benar benar bagus lho Fa.." kembali Bu Gito membuat ku sedikit naik darah, sedikit saja tapi.
"Ya jelas dong Bu, kan yang ngantar saya bukan cuma manager caffe, apa lagi Om Om gatel, upss keceplosan.." jawab ku dan bergegas masuk sambil menarik pintu gerbang untuk ku tutup dengan kasar agar suara berisik dari Bu Gito mendapat lawan yang seimbang..🤭🤭🤭
Di dalam Rumah setelah menaruh mukenanya, Ibu Suri terus saja mondar mandir seperti setrika laundry, yang terus saja bergerak maju, mundur, samping, dan ke sela sela ruangan sambil terus saja bergumam tidak jelas apa yang di gumamkan, sampai Kanjeng Doro pulang dari masjid saat matahari sudah sedikit menampakan warna jingganya di ufuk timur.
"Ada apa Buk mu Fa..?" tanya kanjeng Doro kepadaku.
__ADS_1
"Lha ya biasa Pak, tausiyah Mamah Dedeh,
Mamah dan Aa'.." jawab ku sambil beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Kanjeng Doro, dan dengan cepat aku sudah kembali keruang tengah dengan secangkir kopi di tangan ku.
Aku meletakan kopi di atas meja, dan hendak kembali ke dapur namun dengan cepat Ibu Suri menyuruhku untuk segera duduk dan dia juga ikut duduk di samping Kanjeng Doro, roman romanya akan ada sidang paripurna lagi ini, melihat dari gelagat Ibu Suri yang terus menatap ku dengan sadis..
"Ada apa lagi tho Bukkkkk...?" tanya Kanjeng Doro dengan memanjangkan kata kata Ibu di belakang, sembari meraih cangkir kopinya.. "Kok setiap hari ada saja yang di ributkan.." lanjut Kanjeng Doro sambil meletakan cangkirnya.
"Karena Pa'e tidak pernah jadi perempuan makanya enggak ngerasain rasanya sakit hati di omongin orang..." kata Ibu Suri..
"Lha Ibu itu yho lucu tho, kalau bapak pernah jadi perempuan berarti Pa'e kayak Bunda Dorce dong.." jawab Kanjeng Doro dan sontak membaut ku cekikikan..
"Jangan tertawa kamu Fa., " ucap Ibu Suri. "Ini juga karena kamu.." lanjut Ibu Suri..
"Kok Syiffa..?" tanya ku.
"Syiffa lagi, memang ada apa lagi tho Buk dengan Syiffa, tiap hari mengeluh soal Syiffa, enggak ada bosan bosanya..??" jawab Kanjeng Doro..
"Tanya sendiri ke Syiffa apa yang dia lakukan kemarin siang, sampai sampai tadi subuh di Masjid semua pada ngomongin dia.." kata Ibu Suri.
"Ada apa Fa..?" tanya Kanjeng Doro, dengan mengangkat sebelah aliasnya..
"Syiffa juga tidak tahu Pak, wong tadi sepulang dari Masjid tiba tiba Ibu Suri dan Bu Gito, pada cek cok.." jawab ku, kelelasan di depan Ibu Suri menyebutnya Ibu Suri.
"Apa tho Buk, Syiffa masih dengar dengan jelas.." jawab ku.
"Itu Pak, lihat kelakuan anakmu yang satu ini, bikin Bu'e pusing.." kata Ibu Suri sambil mengurut pelan kepalanya..
"Jadi Syiffa itu anaknya Pa'e saja, Bu'e ternyata adakah Ibu Tiri, pantesan saja sedikit jahat sama Syiffa.." kataku pura pura drama dan itu membuat Ibu Suri segera melemparku dengan bantal Sofa.
"Fa, bicara yang serius.." ucap Kanjeng Doro, jika Kanjeng Doro sudah bicara seperti itu berarti dia mau di dengarkan ataupun mendengarkan, maka dari itu akupun langsung diam dan kembali Ibu Suri membuka suara.
"Jadi tadi sepulang dari Masjid, Bu'e di brondong pertanyaan sama Ibu Ibu Komplek yang ikut Jama'ah subuh, bahwa kamarin Syiffa di anterin sama orang ganteng dengan mobil bagus, dan di tambahi sama Bu Gito bahwa sanya Bisa jadi Syiffa jadi simpananya bos.." kata Ibu Suri, Kanjeng Doro manggut manggut sebentar sebelum ahirnya dia biacara..
"Siapa yang mengatar Fa..?" tanya Kanjeng Doro, kepadaku.
"Pak Panji.." jawab ku santai, tapi lain halnya dengan Kanjeng Doro yang hampir tersedak oleh kopi yang sedang di sesapnya.
"Pak Panji, kok bisa..??" tanya Kanjeng Doro.
"Jadi kemarin Pak Panji menolong Syiffa, yang hampir saja di culik ol..."
__ADS_1
"Memang siapa yang mau menculik mu, wong kamu itu makanya banyak banget." potong Ibu Suri.
"Bu, dengarkan dulu Syiffa ngomong..."
tukas Kanjeng Doro, ahrinya akupun melanjutkan ceritaku dari awal lagi, mulai ban Motorku yang kempes, kemudian ketemu dengan Bayu, dan berahir di tolong oleh Pak Panji lantas di ajak makan siang di restoran mewah..
"Jadi gitu ceritanya, makanya Syiffa di antar oleh Pak Panji dan mobil Pak Panji berhenti tepat di depan rumah Bu Gito karena tidak dapat parkir disini.." kataku menutup cerita ku.
"Tuh, Buk, sudah dengarkan, makanya di tanya dulu baik baik, jangan asal marah marah.." kata Kanjeng Doro.
"Bu'e itu enggak marah Pak, cuma kesel saja biang gosip.." jawab Ibu Suri,
"Kayak gitu enggak marah, apa di sebut tausiyah.." gumam ku sambil menghadap arah lain dengan sedikit senyum jahil di bibirku, dan bisa di pastikan apa yang terjadi sesudah ini.
"Asyiffaaaaa...." triak Ibu Suri.
"Buk, sudah tho masak Pa'e mau menikmati kopi saja sampai enggak bisa tenang lho.." kata Kanjeng Doro..
"Habisnya Syiffa, bikin Bu'e jengkel.."
"Nanti kalau sudah di tinggal Syiffa juga bakal sepi dan Bu'e juga bakal kangen, nangis ahirnya.." kata Kanjeng Doro ku, aku tertawa sambil ku tutup mulut ku.
"Kamu Fa, kamu itu bukan anak kecil lagi, bersikaplah selayaknya usiamu, jangan buat Ibu Suri mu naik darah terus, Pa'e juga yang kena imbasnya.." kata Kanjeng Doro dengan senyum yang sama jahilnya dengan ku..
"Kalian berdua itu enggak ada bedanya, sebelas dua belas.." jawab Ibu Suri.
"Bu'e juga, Masjid itu tempat buat Ibadah, bukan tempat untuk Ghibah.." kata Kanjeng Doro..
"Siapa yang Ghibah Pak..." jawab Ibu Suri panjang, dan aku tahu habis ini bakal ada perdebatan panjang, dan kemungkinan juga bakal ada perang Barata Yudha, akan lebih save jika aku menyingkir dan menghilang sejenak ke dapur untuk membuat sarapan, sampai perang di antara keduanya berahir...
Bersambung...
####
Kangen ya sama Bu Fafa,
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862