Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 25


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi datang kembali, juga sekaligus membawa ke tugas Negaraku, yakni kembali ke Sekolah. Ya, hari ini liburan sudah usai dan saatnya melepas rindu dengan anak anak istemewaku. Tapi, sebelum berangkat terlebih dulu aku mengerjakan tugas cadangan. Itung itung belajar menjadi seorang Ibu..🤭🤭🤭🤭


Silvi sudah rapi dengan rambut kuncir duanya serta pupuran bedak bayi bak buah kesemek. Kopi Kanjeng Dhoro sudah siap di meja teras belakang rumah, masak buat sarapan juga sudah, nyapu ngepel juga sudah selesai ku kerjakan. Kurang apa coba diriku jika jadi seorang Istri, bukankah malah irit punya Istri kayak aku. ( Situ cari Suami, apa malah daftar PRT. )🤣🤣🤣🤣


Usai mempersiapkan diriku, akupun bergegas menyiapkan bekal untuk diriku sendiri, sekalian akan mengantarkan Silvi ke Rumah Sakit karena di rumah tidak akan ada orang. Juga tidak mungkin dia ikut dengan ku ke sekolah dimana tempatku mengajar.


Setelan berwarna Mustard serta Jilbab warna Hitam akan menemani hari ku awal masuk sekolah hari ini. Dan berharap hari ini akan secerah baju yang aku gunakan, juga begitupun dengan anak anak ku nanti di sekolahan.


Aku baru saja keluar kamar, saat ku lihat ruang makan kembali berantakan oleh ulah keponakan kesayangan ku, yang membuat seluruh hari yang ku anggap cerah, seketika seperti hujan badai di tengah matahari bersinar terang. Dan dengan menahan erangan di tengah waktu yang semakin mepet untuk berangkat akupun kembali membawa kain pel, serta merapikan rak piring yang hampir separuh dari isinya sudah berpindah di lantai.


"Pak, Pa'e.." Panggilku ke Kanjeng Dhoro sambil tanganku masih mengepel sisa sisa air.


"Ada apa, Fa." Jawab Kanjeng Dhoro, dan si bocil pembuat onar sudah di gendongan Kanjeng Dhoro dengan muka tanpa dosanya.


Dengan menghela nafas dalam aku mencoba untuk mengontrol emosiku, agar tidak tergiur untuk membawa Silvi yang tengah memasang muka sok imutnya di hadapanku, saat menyadari aku sudah cantik jelita bak putri Raja. (Embell)


"Fafa, sudah kesiangan. Jadi, Pa'e saja nanti yang ngantar Empi ke Rumah Sakit." Ucapku ke Kanjeng Dhoro dengan terburu buru untuk mengembalikan alat pel pada tempatnya.


"Ya, ya sudah kamu cepat berangkat." Jawab Kanjeng Dhoro, akupun bergegas menggunakan kaos kakiku kembali dan langsung menyambar ransel yang berisi beberapa tugas serta bekal untuk sarapanku.


Muka manyun Silvi jelas mengusik ku, tapi demi apapun aku harus menguatkan hatiku agar tidak tergoda dengannya. Dan setelah mencium tangan Kanjeng Dhoro akupun bergegas melajukan motorku dengan pelan meninggalkan halaman rumahku, yang pas bertepatan dengan Bu Gito yang tengah berbelok hendak datang ke rumah ku.


"Pagi Fa." Sapa Bu Gito..


"Pagi Bu." Jawabku dengan menghentikan laju motorku dan mengangguk pelan ke arahnya.


"Apa Istrinya Salim sudah di bawa pulang.?" Tanya Bu Gito kepadaku sambil kepalanya clingak clinguk ke dalam tanpa menatapku yang berada di depannya.


"Belum Bu, kemungkinan nanti siang." Jawabku.


"Berarti Ibu kamu belum pulang juga.?" Katanya lagi.

__ADS_1


"Belum." Jawabku singkat. "Ya, sudah Bu, saya permisi dulu sudah kesiangan." Lanjutku hendak melajukan motorku. Namun, dengan cepat tangan besar Bu Gito yang penuh dengan gelang emas hingga siku, mencekal ujung motorku.


"Gimana enggak kesiangan, wong sehari dua kali di apeli, mana yang satu sampai malam pula." Ucap Bu Gito sambil tersenyum penuh ejekan kepadaku, dan itu berhasil membuatku jenggah dengan sikapnya. "Mentang mentang Ibunya tidak di rumah makanya pacarnya pada suruh ngapelin." Lanjutnya.


"Maaf Bu. Itu bukan urusan Ibu, lagi pula kesimpulan Ibu itu salah semua." Jawabku dan hendak kembali melajukan motorku, namun lagi lagi tangan Bu Gito sudah lebih dulu memegang stang motorku.


"Kalau saran saya ya, Fa. Mending yang pergi sama kamu itu mobilnya bagus." Ucap Bu Gito sambil tersenyum seolah apa yang tengah di katakan itu sesuatu yang sudah sangat tepat.


"Terima kasih Bu sarannya. Tapi, saya rasa Bu Gito lupa, yang butuh saran itu Sandra bukan saya. Lagian saya cukup waras untuk minta pendapat kepada siapa yang tepat. Assalamu'alaikum." Jawabku dengan berani dan menghilangkan rasa sopan santunku begitu saja. Dan itu aku anggap wajar karena orang yang lebih tua akan di hormati dan di segani oleh yang lebih muda lantaran mereka yang mampu menjaga lisannya.


Tanpa menjawab salamku dan di tambah dengan muka yang merah padam Bu Gito melepaskan tangannya dari stangku dan melangkah pergi begitu saja, lantas akupun tidak mau ambil pusing dengan Bu Gito, karena sudah sangat terbiasa para Detergent Daia yang melimpah busanya menyorot kehidupan kami, yang sudah selayaknya artis papan atas tengah mengadakan reallity show di sebuah perkampungan.


Ku lajukan motorku dengan membayangkan wajah anak anak Istimewaku, agar moodku tidak rusak oleh Imajinasi Bu Gito, yang salah jalan. Harusnya orang orang yang suka berimajinasi tentang orang lain itu lebih baik di tuangkan ke sebuah Cerpen ataupun Novel, kalau perlu di buat karya Ilmiah juga, agar Imjinasinya tidak keluar jalur dan salah sasaran.


Sekian menit berlalu, ahirnya sampai juga di tempat aku mencurahkan seluruh hatiku jika sudah di dalamnya. Aku percaya setiap diri dari manusia pasti Allah menyisipkan kelebihan di dalamnya, meski dari fisik atau mental anak anak ku disini yang kurang begitu sempurna. Namun, ada yang terlupa dari itu, orang orang yang lebih sempurna cendrung mengabaikan kesempurnaannya itu dengan melihat kekurangan mereka. Dan aku masih juga tergolong di dalam orang orang itu, dan berusaha untuk menjadi baik.


Baru saja aku memarkirkan motorku dan hendak beranjak dari tempat Parkiran, saat mobil yang biasanya di kemudikan Pak Sahri untuk mengantar Uul memasuki gerbang dan melewati tempat parkir para Guru dan Staf Sekolah Luar Biasa Mentari. Tanpa berpikir panjang akupun bergegas hendak menuju ke kantor. Namun, langkahku baru saja berapa langkah saat Uul berteriak memangilku.


"Fa-Fa." Teriak Uul dan aku yang tadinya bergegas langsung membalikan tubuhku untuk menatap ke arahnya. Tapi, apa ini. Ya Allah, ini pemandangan indah sekali dan sulit sekali mata nakalku untuk berpaling dari dosa yang indah ini. Sumpah, Pak Duren Sawit emang suka bikin hati gadis termehek mehek dengan ketamapannya dan body aduhai six packnya.


"Iya, Mas. Eh, Pak Panji." Jawab ku dengan cepat memalingkan wajahku ke arah lain, agar si sexy Duren Sawit tidak membuatku ileran saat tengah sadar. Coba siapa yang enggak akan ileran otot yang kemarin ku raba raba dan kubayangkan bisa melihatnya menyumpal tanpa kain, kini benar benar ku lihat, meski tidak sepenuhnya terbuka, hanya mengexpose bagian bahu dan tangannya di tambah dengan keringat yang masih sedikit membasahi di bagian lehernya, membuat Pak Panji makin Aduhai sexy. Tapi, aku yakin, tidak hanya aku saja, hampir semua wanita yang tidak kuat iman sepertiku akan klepek klepek di buatnya saat ini.


"Ada apa, kok gitu amat lihatin saya.?" Tanya Pak Panji. Oh, please deh. Pak Panji mbok ya peka sedikit di kira saya ini boneka porselen apa musti di tanya gitu, saat pemandangan kayak gini ada di depan mata. Saya normal, dan wajar dong kalau saya ngiler lihat body sexy dan gratis pula, enggak perlu ke GYM.


"Kok Pak Panji yang ngantar, bukan Pak Sahri." Jawabku mengalihkan dari pertanyaannya, sembari menundukan pandanganku.


"Oh, itu. Tadi Pak Sahri tiba-tiba sakit perut pas di perjalan berangkat, dan kebetulan pas saya lagi joging di dekat sini." Jawab Pak Panji.


"Terus Pak Sahri sekarang kemana.?" Tanyaku, dan mengalihkan pandanganku ke Uul yang sudah meraih tanganku.


"Ada di klinik dekat sini." Jawab Pak Panji tersenyum tipis ke arahku, dan ku balas dengan senyum kikuk tak menentu. "Iya, Fa. Hari ini saya titip Uul ya, karena hari ini perawatnya sedang sakit juga. Jadi, saya minta kamu tunggu sampai nanti ada yang menjemputnya sewaktu pulang." Lanjut Pak Panji.


"Tentu, nanti Pak Panji bisa kabari saya." Jawabku dengan mengulas senyum.


"Baiklah, Terima kasih sebelumnya, Fa." Jawab Pak Panji, dan setelah basa basi sedikit itu, Pak Panjipun pamit. Dan aku membawa Uul melangkah masuk ke kelasanya, setelah itu aku menuju ke kantor. Namun sama sekali pikiranku tidak mau Fokus, malah membayangkan saat peluh Pak Panji bercucuran semakin banyak, tentu akan terlihat makin sexy.

__ADS_1


"Hayah, Fa. Sadar, sadar.." Ucapku sambil menggeleng kasar untuk mengusir pikiran liar yang sudah seperti virus malarindu. Dan tanpa sadar akibat terlalu banyak ngelamunin Duren Sawit aku sampai menabrak pintu kantor ku.


"Hayah, yang kebayakan liburan." Ucap Bu Rina dengan menahan tawanya.


"Selamat pagi, Bu Rina." Jawabku sambil mengelus jidatku yang terasa panas.


"Pagi, Fa. Gimana liburannya.?" Tanya Bu Rina saat aku sudah duduk di kursiku.


"Biasa saja, Bu. Seperti yang sudah-sudah." Jawabku dengan menaruh tasku di meja kerjaku.


"Masak sih, berarti berita yang saya dengar Hoax dong.?" Kata Bu Rina lagi..


"Berita apa Bu.?" Tanyaku dengan heran lantas menatap Bu Rina dengan Intens.


"Berita kamu lagi makan di mall bareng cowok hitam manis." Jawab Bu Rina dengan menunjukan sebuah foto ke padaku, yang dimana di foto itu adalah gambarku yang tengah duduk berdua dengan Mas Alfi pas waktu itu. Dan aku tahu siapa si baing keroknya. Novi.


"Pesannya jangan marah-marah, nanti Kanjeng Ratu murka dan memberi kutukan malah berjodoh sama duda." Lanjut Bu Rina dengan cekikikan menahan melihat mukaku yang sudah memerah menahan amarah untuk sahabat gesrek, plus nyebelin, juag sekaligus nganenin dengan tingah usilnya.


"Noviiiiiiiiiii, lihat saja nanti sepulang dari Sekolah, akan ku buat perhitungan.." Ucapku sambil meremas kertas di depanku hingga tak berbentuk lantas melemparnya dengan kesal ke tong sampah.


Bersambung...


####


Wadidau Bu Fafa. Habis di gombalin sama Mas Alfi, ehh paginya dapat kejutan..


Like, Coment dan Votenya di tunggu selalu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2