Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 41


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Rumah bergebyok khas Jepara menyambut kedatanganku, dan bunga bunga di pot bertebaran di sana sini sesuai dengan jenis Bunganya. Kesan Asri begitu kentara begitu aku menapak satu dua undakan untuk sampai di pintu yang tengah terbuka lebar, dan di teras juga tidak kalah banyak Bunga bunga yang menggantung juga tertapa rapi di setiap sudut dan pinggir dari setiap jengkal teras tersebut.


"Bundaku sangat menyukai Bunga hias, Fa." Ujar Mas Alfi seperti tau pemikiranku. Akupun tersenyum simpul ke arah Mas Alfi. "Ayo, kenapa masih di situ." Lanjut Mas Alfi saat di lihatnya aku yang tiba tiba berhenti mematung di tempatku.


"Bentar Mas." Ucapku ke Mas Alfi, lantas membenarkan jilbabku dan memeriksa tas kecil titipan Ibu Suri, kemudian menghela nafasku dalam dan mengeluarkan secara pelan pelan lewat mulutku. Aku siap. Seperti itulah kira kiea dalam pemikiranku saat ini.


"Kamu gugup." Tanya Mas Alfi yang tiba tiba sudah berdiri menjulang di depanku hingga membuatku mundur beberapa satu lanhkah tanpa sadar tempatku berpijak adalah undakan, sehingga membuatku hampir saja terjatuh dari undakan teras jika Mas Alfi tidak menarik lenganku. "Hati hati, tidak ada kompensasi jika jatuh di sana, kecuali langsung menukah denganku." Lanjut Mas Alfi dengan senyum simpul yang, ahhh, itu susah sekali di jelaskan. Dan itu berhasil membuat salah tinglah dengan menggiring panas di wajahku hingga terlihat merona pastinya.


"Cie Cie, Mase." Sebuah suara seorang gadis terdengar jelas dan tak lama muncullah sosok gadis manis dengan kulit sawo matang, dan hidung bangir persis Mas Alfi, di balik punggung Mas Alfi yang tengah memegang lenganku.


"Apa sih, Dek." Ucap Mas Alfi, dengan wajah kikuk sembari melepas tangannya dari lenganku dan aku hanya bisa tersenyum kaku kepada gadis yang kini telah berdiri di samping Mas Alfi dengan menyungingkan senyum sempurnanya ke arahku.


"Mbak Fafa, lebih cantik aslinya ya Mas." Ucap gadis itu. "Allana" Lanjut gadis itu dengan menyodorkan tangan kecilnya ke arahku.


"Syiffa." Ucapku dan menyambut uluran tangan Allana kepadaku.


"Dia adikku yang paling bawel, Fa." Ucap Mas Alfi.


"Jangan percaya Mbak Fafa, Mas Ariz mah suka Fitnah." Jawab Allana dengan masih mempertahankan senyumnya untuk ku. "Tapi, Lana sih suka gemes sama Mas Ariz, kalau Lana mintain tolong suka lama banget."


"Dan setelah itu, kamu sewot, marah marah." Ujar Mas Alfi dengan menyentil hidung Allana lembut penuh kasih seorang kakak. Dan itu sama persis tingkahku dan Silla dulu ketika sedang bersama Bang Salim, saat kami semua masih pada single. "Ayo masuk." Lanjut Mas Alfi, dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.


"Ayo Mbak." Kata Allana dengan langsung mengandeng tanganku, lantas segera menariknya begitu saja dan meninggalkan Mas Alfi yang tengah menggelengkan kepalanya menyaksikan kami berdua.


"Ayah, Bunda. Mbak Fafa sudah datang. Lebih cantik aslinya lho Bun daripada di foto." Ucap Allana begitu sampai di ruang tengah dimana kedua orang tua Mas Alfi tengah berada dan tersenyum penuh makna kepadaku.


"Assalamu'alaikum.." Ucapku lantas segera berjalan menuju ke kedua orang tua Mas Alfi untuk menyalami mereka.


"Wa'alaikumussalam." Jawab keduanya, dan menyambut uluran tanganku dengan senyum yang tidak pernah pudar sedikitpun.


"Senangnya, Syiffa bisa main kemari." Ucap Ibu Mas Alfi dengan menggeser tempat duduknya agar aku bisa duduk di sampingnya, namun pada saat aku hendak mendudukan diriku disana, Allana segera menarik tangannku dan mendudukan aku di sofa panjang bersama dengan dirinya..

__ADS_1


"Mbak Syiffa duduk sama Lana saja." Ujarnya setelah aku duduk.


Aku berusaha sangat rilex, dan kegugupanku nyatanya dapat di baca oleh semua orang sehingga yang tanpa sadar tanganku yang tengah saling meremas di tarik oleh Allana dan di beri pijatan ringan sambil berbisik pelan kepadaku.


"Ayah sama Bunda enggak bakal gigit Mbak." Mata Allana mengerling indah kepadaku saat aku menatapnya untuk memastikan kebenaran ucapannya.


"Bapak, sama Ibu kamu apa kabar, Ndhok.?" Tanya Ayah Mas Alfi kepadaku.


"Alhamdulillah semua baik baik saja, Pak. Iya, beliau kirim salam buat njenengan." Jawabku dengan masih senantiasa menunduk, dan itu sangat jauh sekali berbeda dengan sikap ku keseharian yang biasanya sangat rame.


"Alaika Wa'alaikimussalam." Jawab mereka berdua.


"Ini juga ada titipan dari Bu'e buat keluarga disini." Lanjutku dengan menggeser tas kecil yang aku taruh di atas meja ke arah kedua orang tua Mas Alfi.


"Mbak Jamil, suka repot repot saja." Ucap Bunda Mas Alfi dengan senyum tipis di wajahnya. "Sampaikan terima kasih saya kepada Mbak Jamil, Ndhok." Lanjut Bundanya Mas Alfi dengan meraih tas kecil di hadapannya.


"Inggeh, Insya'Allah." Jawabku.


Tak berapa lama kami berbincang basa basi, Mas Alfi ikut masuk ke ruangan tersebut dan mendudukan dirinya di sofa single tepat di hadapanku. Wajahnya terlihat sangat santai dengan senyum yang selalu menghias di bibirnya, dan sangat terpancar dari setiap belaian tatapannya rasa kasih yang tak bermuara terhadap kedua orang tuanya.


"Sebentar saja, Mbak." Ucap Allana, seperti tau apa yang tengah aku pikirkan. Lantas dengan cepat sudah berdiri dan berjalan mengekori Bundanya dengan menentang tas kecil titipan Ibu Suri.


Ayah Mas Alfi, terus saja mengajakku berbicara meski aku menjawabnya dengan terbata bata, lantaran ke gugupan yang sungguh baru kali ini aku rasakan. Ternyata bertemu dengan calon mertua itu lebih horor, ketimbang harus ketemu sama syetan.


Dari ekor mataku dapat ku lihat Mas Alfi menertawaiku, menertawai kegugupanku dan pasti juga wajahku yang tetiba pias saat Ayah Mas Alfi menayaiku soal pertunanganku yang gagal lebih dari enam tahun silam.


"Sudah, masa lalu itu biarkan saja berlalu." Ucap Bunda Mas begitu kembali masuk ke ruang tengah rumah Mas Alfi, dan itu berhasil menyelamatkan aku dari pertanyaan yang di ajukan oleh Ayah Mas Alfi. Nampan berisikan teh juga kopi di letakan oleh Ibu Mas Alfi, dan di belakangnya muncul Allana dengan membawa piring berisi kue kue basar serta buah Apel yang sudah di kupas kulitnya. "Ayo Ndhok di coba, ini kue buatan Allana." Lanjut Bunda Mas Alfi dengan menyodorkanku piring berisikan kue Lapis kepadaku.


"Inggih Bu." Jawabku dengan kikuk sembari meraih satu potong, dan senyum lembut Bunda Mas Alfi berhasil membuatku tidak bisa mampu berkata kata lain.


"Enakkan Mbak.?" Tanya Allana penuh dengan harap.


"Sempurna." Ucapku dan itu berhasil membuat senyum Allana semakin merekah sembari melontarkan kalimat yang sesungguhnya penuh cinta terhadap Mas kesayangannya.


Obrolan ringan yang awalnya aku rasakan penuh kecanggungan berubah menjadi sangat hangat dengan sikap manja Allana terhadap lu terlebih terhadap keluarganya, dan ke akraban ini semakin menghangat ketika Bunda Mas Alfi mengajakku ke dapur guna untuk mempersiapkan makan siang.

__ADS_1


Aku sangat tapjub dengan kepiawaian Bundaas Alfi dalam mengolah bumbu, dan berhasil membuat perutku berbunyi hanya dengan mencium aroma Bumbu yang di tumis. Sumpah, itu memalukan sekali. Apa lagi saat perutku berbunyi Bunda Mas Alfi mendengarnya juga dengan Allana.


Setelah kami bertiga berkutat di dapur hampir satu jam lamanya, ahirnya hasil masakan tertata rapi di atas meja makan. Gurame asam manis, Capcay, Cah Kangkung, juga tidak ketinggalan menu wajib bagi keluarga Mas Alfi, yakni Semur Jengkol. Dan itu membuatlu benar benar ingin meneteskan air liurku andai saja itu tidak di rumah Mas Alfi.


Makan siang penuh ke akraban terus terjalin, dan sesekali ke usilan Mas Alfi terhadap Allana di meja makan berhasil memancing tawa kami. Aku baru menyadari ternyata Mas Alfi sangat jauh berbeda jika sudah berada di rumahnya, kesan yang biasanya diam dan sopan, seperti hanyut di bawa ombak, berganti dengan Mas Alfi yang penyanyang juga jahilnya enggak ketulungan.


Usai makan siang. Aku di ajak Allana istirahat di kamarnya. Dan entah apa yang di lakukan oleh Mas Alfi, karena semenjak datang tadi aku terus di monopoli oleh Allana seorang, dan yang lain juga tidak ingin berebut dengannya juga. Tapi, bukan berarti mereka semua tidak menginginkanku, mereka juga banyak bertanya banyak hal terhadapku. Dan terutama Bunda Mas Alfi, yang banyak memberitahukanku mengenai apa yang di suka dan tidak di suka oleh Mas Alfi.


"Ini kali kedua Mas Alfi mengajak wanita ke rumah Mbak." Ucap Allana dengan tiba tiba, saat aku tengah melihat lihat beberapa mendali yang terjajar di bufet kaca di ujung kamarnya.


"Hemmm." Jawab ku singkat saja, tanpa mengalihkan tatapanku dari cindra mata yang terbuat dari kristal berbentuk bola dunia. "Ini bagus, Dek." Lanjutku dengan menunjuk Cindra Mata tersebut.


"Oh, itu." Ucap Allana pelan dan tak lama setelahnya dia sudah berdiri di sampingku dan menuturkan bagaimana dia bisa mendapatkan Cindra Mata tersebut, dan bibirnya terus saja bertutur mengenai asal muasal dari penghargaan yang di dapatnya dan aku dengan antusias mendengarkannya sambil sesekali bersorak ke arahnya. Itu berlangsung cukup lama, dan bahasan kamipun kini sudah kemana mana.


"Mbak Anita dulu aku ajak ke kamar, dan bereaksi sama seperti Mbak Fafa. Cuma bedanya Mbak Fafa lebih natural, dan Lana suka itu." Ucap Allana.


"Siapa itu Mbak Anita, apa teman kamu." Ucapku dan wajah Allana langsung berubah menyesal.


"Ups, maaf keceplosan. Bisa tanya Mas Alfi siapa Mbak Anita." Ucap Allana dengan nada rendah penuh penyesalan. Aku tersenyum tipis, tapi entah untuk siapa, karena kemudian kami sama sama diam larut dalam pikiran masing masing.


Bersambung...


####


Ea Ea Ea, Mbak Anita...


Jangan lupa, Like, Coment dan Votenya buat Bu Fafa.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


by: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2