
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku baru saja keluar dari kamar mandi, dan Mas Alfi sudah menyiapkan makanan untuk ku. Tidaklah makanan mahal, tapi aku menyukai cara perhatian Mas Alfi kepadaku. Sejak kapan sih aku jadi suka gede rasa kayak gini. Tapi, juga enggak ada salahnya juga kalau aku gede rasa, secara kita juga pernah membahas hal ini.
"Ada apa..?" Tanya Mas Alfi, saat aku masih tidak bergerak dari tempatku dan terus lurus menatapnya.
Dengan menggelang pelan, akupun berjalan ke arah sofa di samping Mas Alfi yang tengah berdiri. "Mas Alfi sudah makan.?" Tanyaku sembari menggulung lengan daster yang sedikit kepanjangan buat ku.
"Fa, kamu juga terluka." Kata Mas Alfi dengan cepat meraih telapak tanganku, kemudian memperhatikan tanganku yang memerah hampir sampai ke siku. "Pasti ini panas sekali." Lanjutnya dengan menatapku, dan ku ulas senyumku untuk Mas Alfi yang tampak kwatir denganku.
"Tidak apa apa Mas, sudah dingin kena air." Jawabku dan tanpa melepas tanganku Mas Alfi mengajak ku untuk duduk. Dengan tlaten Mas Alfi membukakan sterofoam makanan yang berada di atas meja.
"Kamu bisa makan sendiri.?" Tanyanya.
Aku mengangguk sembari satu tanganku meraih sendok plastik yang tergletak di pinggir sterofoam. Baru saja nasi dengan lauk Ayam panggang itu hendak masuk ke tenggorokanku, tiba tiba saja pintu dengan sangat kasar terbuka, dan di balik pintu itu muncul dua orang wanita dengan seluruh yang menempel di tubuhnya adalah barang barang bermerk.
Nasi yang sudah sampai di ujung tenggorakanku tiba tiba terasa mandek begitu saja disana, saat ku lihat tatapan wanita yang lebih muda itu menyorot tidak suka terhadap aku dan Mas Alfi, apa lagi setelahnya seolah tidak ada orang yang di lihatnya saja, dia begitu saja ngeloyor pergi menuju bangsal Uul mengikuti wanita yang sepertinya sudah sepuh tapi masih cantik.
Aku kira, itu adalah Ibu dari Pak Panji. Karena dari bentuk hidung lumayan mirip dengan Pak Panji. Air mata bawang dari wanita yang lebih muda itu, membuatku kehilangan selera untuk makan. Akupun ingin mendekat ke arah mereka berdua, namun Mas Alfi mencegahku dengan menggeleng pelan dan menyuruhku untuk duduk kembali.
Cukup lama wanita yang aku perkirakan adalah Ibu dari Pak Panji itu menangis sesenggukan sembari terus mengelus elus tangan Uul, hingga beliau tersadar dan menatap ke arah kami berdua yang juga memandangnya. Langkah wanita paruh baya itu mantap menuju ke arahku, dan sungguh meski dia sudah berusian lebih dari setengah abad tapi cara berjalannya benar benar masih sangat anggun.
"Apa kalian yang membawa cucu saya kemari.?" Tanyanya begitu sudah berada di hadapan kami berdua.
"Tidak Bu." Jawab Mas Alfi
"Iya Bu." Jawaban kami yang berbarengan dan berbeda membuat Ibu Pak Panji menatap kami bergantian dengan bingung, terlebih orang yang sudah berdiri di belakang Ibu itu, sudah menatap kami dengan tatapan yang semakin tidak suka, bahkan mulutnya sudah terbuka hendak berbicara sesuatu kepada kami.
"Paling juga mau minta ucapan terima kasih dalam bentuk materi, Mah." Ucap wanita di belakangnya dengan nada sedikit berbisik tapi cukup kami dengar dengan jelas.
__ADS_1
Mas Alfi berdehem pelan, sebelum ahirnya berkata. "Saya tidak membawa cucu Ibu kesini, tapi wanita di sebelah saya yang telah menyelamatkan cucu Ibu."
"Oh, terima kasih banyak Mbak." Jawab Ibu Pak Panji dengan menyunggingkan senyum ramah ke arah ku.
"Itu kwajiban saya, Bu." Jawab ku dengan ikut mengulas senyum tipis. "Uul adalah anak yang sangat manis dan kuat, pasti nanti dengan dorongan seluruh keluarga akan segera sembuh." Lanjutku. Dan ibu itu kembali mengulas senyum hangatnya untuk ku.
"Kamu pacar baru Panji yah. Udik bener.?" Sela wanita di belakang Ibu itu.
"Ngel, jaga bicaramu." Bentak Ibu Pak Panji. Mendengar perkataan wanita yang lebih muda itu, Mas Alfi langsung menatapku dan mengulas senyumnya, lantas meraih tanganku dalam genggamannya.
"Dia adalah calon Istri saya, Bu. Do'akan sesegera mungkin kami sakinah bersama." Jawab Mas Alfi, dan membuat Ibu Pak Panji kembali mengulas senyum hangatnya untuk kami berdua. Tapi, lain dengan wanita di belakangnya yang segera mencibir lantas menjauh dari kami, kembali menuju ke bangsal Uul.
"Semoga di segerakan, Dek. Kalian kelihatan sangat cocok." Jawab Ibu dari Pak Panji. "Oh iya, kalian kok bisa tahu kalau panggilannya Uul, dan langsung meminta dr.Rama untuk mengabari kami." Lanjut Ibu Pak Panji.
"Itu, karena saya adalah Guru Pembimbing Uul di Sekolahannya, Bu." Jawabku.
"Jadi, kamu itu Bu Fafa." Kata Ibu Pak Panji dengan senyum yang semakin melebar. "Masih sangat muda, belum menikah pula. Saya kira sudah tua, Uul sering sekali menceritakan tentang Bu Fafa." Lanjutnya. Dan itu membuat aku tidak bisa berkata kata selain dari tersenyum canggung saja ke arah Ibu Pak Panji.
"Terima kasih banyak Bu Fafa. Polisi pasti akan mengusut tuntas siapa dalang di balik perbuatan keji ini." Tutur Ibu Pak Panji.
"Panggil saya Syiffa saja, Bu. Dan saya akan siap memberi keterangan juga menjadi saksi." Jawabku sembari mengambil tas kecilku di atas sofa.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Nak Fafa. Panggil juga saya Bu Hera." Katanya.
"Mari Bu Hera, kami permisi. Assalamu'alaikum." Ucap Mas Alfi. Dan setelah mendengar jawaban salam kami, kamipun melangkah pergi meninggalkan ruangan VVIP ini dan berjalan berlahan dengan Mas Alfi yang masih mengengam telapak tanganku.
Kami masih menyusuri koridor Rumah Sakit ini dengan saling diam, meski dapat ku rasakan bahwa gengaman tangan Mas Alfi sudah sangat berbicara padaku, tentang keseriusannya, tentang tanggung jawabnya, dan juga rasa nyaman berada dalam lindungannya hanya sekedar lewat gengman tangannya.
Baru saja kami keluar dari gedung VVIP dan bermaksud berbelok ke arah lain.Tapi, Mas Alfi tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan aku yang tidak tahu menahu dengan rem mendadak yang di lakukan oleh Mas Alfi, langsung menabrak punggungnya. Karena memang aku yang sedang berjalan di belakangnya.
"Maaf Mas." Ucapku dan tidak ada reaksi dari Mas Alfi yang tengah memandang lurus ke depan. Dan disana terlihat beberapa orang dengan pakian seragam Polisi sedang berjalan ke arah kami. Juga sekaligus seseorang dengan stelan jas bagus yang tidak jauh dari mereka, dan aku sangat kenal dengan Laki-Laki itu. Ya, itu adalah Bayu.
__ADS_1
"Selamat sore, apa saudari yang bernama Asyiffa Nurul Mubaridhoh." Sapa salah seorang polisi dengan bintang dua di bahunya.
Mendengar namaku si sebut akupun langsung tersentak, dan mengalihkan pandanganku dari Bayu. "Iya Pak saya, Asyiffa." Jawabku.
"Ada apa ini Pak." Kata Mas Alfi.
"Kami ingin meminta keterangan dari Ibu Syiffa soal laporannya tadi. Dan silahkan ikut kami ke Kantor." Kata Polisi yang satunya dengan menunjukan secarik kertas kepada ku dan Mas Alfi. Dan masih membuatku bingung, apa hubungan Bayu dalam hal ini, hingga berdiri sebagai Pengacara disana. Dan membantu siapa.?
"Silahkan ikut kami, Bu." Kata Polisi satunya dengan mengarahkan tangannya agar aku untuk mengikutinya.
"Maaf Pak, biarkan Bu Syiffa tetap bersama saya. Kami akan cooperatif." Jawab Mas Alfi lantas segera mengandeng tanganku yang sempat terlepas tadi.
"Salah satu Anggota kami akan ikut dengan anda, untuk memastikan." Kata Pak Polisi lagi.
"Lho, kok bisa gitu Pak. Bu Fafa bukan tersangka. Dan lagi ini terlalu mengada ngada." Jawab Mas Alfi yang merasa keberatan.
"Mas, biarkan saja, biar cepat selesai." Ucapku sambil mengelus lengan Mas Alfi. Mas Alfipun kembali melunak lantas kamipun mengikuti langkah tegap para Polisi juga Bayu yang aku rasa pasti ada udang di balik rempeyek yang renyah. Dan jalanku terasa sangat ringan dengan genggaman erat tangan Mas Alfi kepadaku.
Bersmabung...
####
Waduh, kok Bu Fafa di bawa Pak Polisi. Nanti jangan jangan ketemu sama Polwan Cantik dan Gus Ali di Kantor Polisi, biar makin sambung menyambung jadi satu...😅😅😅😅
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862