Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 42


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Rintik hujan menemani perjalan kembali kami dari kota kelahiran Mas Alfi. Dan saat rintik berubah menjadi hujan yang lumanyan deras, Mas Alfi memutuskan untuk membelokkan mobilnya ke sebuah Caffe bergaya modern dan kekinian serta Instagram-able.


Bukan tanpa alasan Mas Alfi membelokkan mobilnya di tempat kami tengah duduk menikmati kopi sekarang ini. Itu karena, Mas Alfi mendengar kabar dari teman, serta informasi yang kebetulan kami dengar secara langsung dari radio yang tengah mengalun di dalam mobil Mas Alfi. Longsor, itulah yang sedang terjadi di jalan utama penghubung antara kota A dan Kota B, sehingga menyebabkan terjadinya kemacetan panjang, karena jalan itu merupakan pegunungan fan hanya memiliki akses jalan satu arah saja.


Dengan pertimbangan, daripada terjebak macet disana, lebih baik menunggu kemacetan terurai baru melanjutkan perjalanan untuk pulang. Curah hujan yang tidak seharusnya deras, seolah memberi kesempatan bagiku dan Mas Alfi untuk mengobrol santai sambil menikmati secangkir kopi hangat di hadapan kami.


"Sudah telfon rumah, Fa." Ucap Mas Alfi saat melihatku mengotak atik ponsel di tanganku.


Aku tersenyum tipis sesaat, lantas dengan cepat meletakkan ponselku kembali di atas meja dan meraih cangkir kopi Capucinno di hadapanku. "Bu'e dan Pa'e tidak bisa di hubungi. Tapi, Syiffa sudah kirim pesan ke Mas Salim juga Silla."


"Aku hanya takut mereka salah mengira, dan berfikir macam macam saat seharusnya kamu sudah sampai di rumah sesuai janjiku sebelum membawamu ke rumahku." Tutur Mas Alfi dengan senyum khasnya.


Ketenangan dan kedewasaan Mas Alfi membuat Mas Alfi terlihat begitu sempurna, di tambah dengan sopan santunya akan menambah nilai lebih bagi dirinya, dan oleh karena itulah kedua orang tuaku begitu sangat mengidolakan Mas Alfi. Tapi, meski aku rasa Mas Alfi seseorang yang tidak ada celah untuk di kritisi, ada sesuatu yang banyak tidak aku ketahui tentangnya.


Aku anggap itu wajar, karena kami baru saja berusaha untuk saling tahu antara satu sama lain beberapa bulan terahir ini. Meski dulu Mas Alfi adalah Seniorku di Kampus dan sering terlibat dalam satu kelompok juga organisasi, tapi baik aku dan Mas Alfi bukan orang yang senang mencampuri urusan orang lain dan kami hanya saling mengenal selayaknya dengan teman teman lainnya.


"Fa, kamu ngelamun." Aku segera membuang pandanganku ke kaca besar yang menjadi dinding dari Caffe ini.


"Syiffa hanya merasa terlalu beruntung bisa dekat dengan Mas Alfi." Jawabku.


Mas Alfi menatapku dengan sangat serius, seolah sedang mencari kesungguhan di dalan ucapanku, dan kemudian kembali menarik cangkir kopinya lantas mengikuti arah pandangaku ke luar ruangan yang tengah basah oleh air hujan yang menjatuhkan dirinya ke bumi dengan begitu bersemangat.


"Aku juga beruntung bisa dekat denganmu, Fa." Timpal Mas Alfi.

__ADS_1


Aku kembali tersenyum, lantas meletakan tanganku di atas kaca yang tengah mengembun dan mengusapnya pelan, hingga dapat jelas terlihat bahwa di luar sana tidak hanya hujan saja yang sedang terjadi, melainkan juga angin kencang yang tak beraturan dan mengantar tetesan air hujan ikut meliuk liuk seirama dengan desauannya.


"Apa devinisi cinta menurut Mas Alfi." Tanya ku dengan tiba tiba.


"Cinta.?" Ulang Mas Alfi dengan nada penuh tanya.


Ku palingkan wajahku, dan ku tatap Mas Alfi yang juga tengah menatapku. "Rasa mengagumi yang kemudian berubah menjadi benci, atau rasa benci yang berubah menjadi mengagumi." Kataku dengan pelan.


"Tidak keduanya." Kata Mas Alfi masih dengan nada tenang.


"Lantas..?" Jawabku.


"Berpisah itu tidak harus dengan membenci, karena jodoh itu sudah ada tatanannya sendiri, jadi seberapa besar kita berusaha untuk menentukan jalan kita, jika Allah tidak berkehendak maka tetap semua tidak akan terjadi."


Aku terdiam, dan kembali membuang pandanganku ke luar ruangan. "Harusnya seperti itu, tapi sulit bagiku untuk tidak membenci Bayu. Karena, dia benar benar telah mengerdilkan asaku." Ucapku pelan, entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan terhadap diriku sendiri.


"Bayu Gede Samundra, harusnya aku berterima kasih kepadanya." Ucap Mas Alfi pelan dan itu berhasil membuatku kembali memandang Mas Alfi dengan tatapan penuh tanya. "Maksudku seperti ini, jika saja Bayu tidak melakukan kesalahan itu, jelas saat ini aku tidak memiliki kesempatan untuk kembali bertemu dengan cinta masa kecilku juga sekaligus cinta pertamaku." Lanjut Mas Alfi dan membuatku tercengang untuk beberapa saat atas pernyataan yang di keluarkannya.


Lagi lagi, dengan tenang Mas Alfi mengulas senyum tipisnya dan membetulkan letak duduknya hingga benar benar mengahadapku. "Baiklah, kelihatannya aku harus jujur saat ini juga." Mas Alfi menjeda ucapannya dan aku rasanya seperti tidak bisa bernafas karena terlalu penasaran atas apa yang akan di sampaikan oleh Mas Alfi.


"Dulu sekali aku mengenal nama Asyiffa Nurul Mubaridhoh. Dia adalah gadis kecil yang sering di ajak oleh Bapaknya berkunjung ke rumah kami. Syiffa gadis kecil yang kemanapun Bapaknya pergi akan mengikutinya, bahkan sampai shalat Jum'ah saja dia ikut dan tertidur dengan pulasnya, lantas dengan telaten Bapaknya akan menggendonganya." Kata Mas Alfi, dan dengan cepat itu mengingatkan aku pada masa kecilku dulu yang tidak pernah bisa ketinggalan Bapak.


"Seiring waktu gadis kecil itu tumbuh menjadi gadis remaja yang manis dengan segala tingkah konyolnya, namun saat itu pula aku harus menempuh pendidikan di Pesantren dan Asyiffa tetangga desa kami pindah ke kota lain."


"Mas Alfi, Syif.."


"Aku belum selesai, Fa." Kata Mas Alfi memotong perkataanku dan masih mempertahankan memandangku dengan intens. "Sekian tahun berlalu, aku kembali bertemu dengan dia di kampus, ya meski pertemuan kami cukup unik."

__ADS_1


"Please Mas Alfi, jangan bahas soal itu lagi." Ku rasakan wajahku memanas hingga ke telingaku saat Mas Alfi ingin membahas awla pertemuan ku dan Mas Alfi di Kampus, hingga membuatku beberapa kali pertemuan tidak berani untuk keluar ruangan karena insident memalukan yang terjadi waktu itu.


Mas Alfi tersenyum mengerti. "Tapi, ternyata saat itu kamu sudah dengan Bayu." Kata Mas Alfi pelan. "Mungkin kamu tidak akan pernah percaya, jika aku mengatakan kalau Kamulah cinta pertamku, Fa." Lanjut Mas Alfi, dan membuatku benar benar kehilangan kata kata.


"Mas Alfi tidak bercanda kan.?" Tanyaku, tapi itu lebih pada kata untuk menyakinkan diriku sendiri atas apa yang aku dengar.


"Aku bercanda, jelas saja tidak Fa. Untuk apa aku bercanda dalam hal ini." Jawab Mas Alfi. Dan seketika keheningan terjadi, karena kami tengah larut dalam pikiran masing masing.


"Lalu siapa Anita.?" Ucapku dengan berani, karena aku rasa Mas Alfi tidak akan keberatan jika aku ingin tau tentang hal itu, langsung darinya.


Kembali, aku harus di buat tercengang dengan sikap Mas Alfi yang sangat tenang bahkan masih senantiasa tersunging senyum di wajahnya, padahal saat ini aku tengah mengorek tentang masa lalunya.


"Anita, adalah obat bagi hatiku yang tengah patah hati, Fa." Ujar Mas Alfi pelan, dan kemudian membuang pandangannya jauh keluar, namun pandangan itu seperti tidak bertepi. "Anita, aku bertemu dengan dia saat KKN berlangsung, dia seorang Santriwati waktu itu. Beberapa bulan setelah KKN kami kembali bertemu lagi, dan lama kelamaan Anita menggeser rasa sukaku terhadapmu. Singkat cerita kami dekat dan menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Empat tahun lamanya kami bersama baik orang tuanya dan orang tuaku sama sama tahu, bahkan Ayah dan Bunda sangat menyukainya. Namun, saat aku dan keluarga berencana melamarnya, Anita telah di jodohkan oleh Kyainya dan sebagia bakti kepada Guru juga Orang tuanya Anita memilih mengahiri hubungan kami dan menerima perjodohan itu. Dan ini tahun kedua kami berpisah." Mas Alfi menutup ceritanya dengan helaan nafas dalam begitupun denganku.


Dan setelah itu kami sama sama diam, hingga keributan sepasang kekasih di ujung ruangan ini, membuatku dan Mas Alfi menggiring pandangan kami ke sana. Dan seketika seluruh rasa yang campur aduk ini berubah menjadi rasa kesal yang berlebihan saat seseorang keluar dari salah satu ruangan dan berjalan mendekat ke arah mereka.


Bersambung...


####


Siapa yang tiba tiba keluar itu..🤔🤔🤔🤔


Like, Koment dan Votenya masih di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz kopi


@maydina862


__ADS_2