Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 07


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Fa, ini bekal kamu.." kata Ibu Suri dari pintu kamar ku yang ku biarkan terbuka.


"Taruh di meja makan saja Bu'e nanti tak ambil.." jawab ku degan masih melanjutkan mengaikan jilbabku ke kiri, ke kana bisa jadi nanti ke atas, bohong banget, jelas itu tidak ku lakukan, aku hanya sedang mengaitkan bros di jilbabku yang ku biarkan menutup area dadaku.


"Oke perfect.." ucapku pada cermin di depan ku sambil mengangkat jempol ku, ya cukuplah memuji diri sendiri menunggu ada yang memuji jelas itu tidak akan mungkin. Dan dengan kekuatan es batu subuh tadi, Alhamdulillah sembab di mataku bisa sedikit menghilang, dengan begitu aku tidak perlu repot repot memberi penjelasan kepada Novi si Kanjeng Ratu tentang sembab di mataku. Bagaimana tidak sembab, secara Ibu Suri mensekak ku secara langsung tanpa sindiran sindiran halus seperti biasanya dan itu membuatku sedikit berbaper baper ria, semalaman berurai airmata mengingat kenangan 5 tahun silam.


"Fa, nanti di habiskan ya.." ucap Ibu Suri kembali kekamarku, aku yang sedang menyiapkan keperluanku hanya menjawab Ibu Suri sekedarnya saja tanpa menoleh ke arahnya.


"Kan biasanya juga Syiffa habiskan Buk.." jawab ku.


"Fa.." panggil Ibu Suri, ternyata beliau sudah berada di samping ku dan memandang ku dengan lekat.


"Ada apa tho Bu'e..?" tanya ku heran, ku pandang Ibu Suri sebentar lalu kembali fokus menata perlengkapan ku.


"Maafkan Bu'e.." ucapnya lirih, tangan ku langsung berhenti bergerak lalu segera meraih pipi Ibu Suri dan dimatanya dapat ku lihat kaca kaca kecil yang akan segera pecah..


"Bu'e kenapa musti minta maaf pada Syiffa, apa yang Bu'e lakukan kepada Syiffa itu adalah bentuk sayang Bu'e untuk Syiffa, jadi udah jangan mewek pagi pagi, suara Bu'e jelek banget kalau mewek.." ucapku dan sontak saja Ibu Suri langsung memukul tangan ku dengan keras, dan sepertinya aku salah sudah membangunkan aungan singa di pagi hari yang harusnya sunyi ini.


"Selalu kamu itu, Bu'e sudah berusaha baik sama kamu, merasa bersalah sama kamu tapi kamu malah membuat Bu'e jadi naik darah lagi.." katanya dan langsung membalikan badanya, aku tau sebenarnya dia melakukan itu untuk menutupi airmata yang terlanjur jatuh di ujung matanya.


"Dan baiklah speker kembali berbunyi.." ucapku lirih sambil menyambar tas ku dan berjalan mengikuti Ibu Suri yang sudah mulai berdendang dengan menyebut seluruh isi dari rumah, kalau sudah seprti itu maka yang akan jadi pendengar setia adalah Kanjeng Doro.


"Sudah mau berangkat.." ucap Kanjeng Doro yang tengah menikmati kopi paginya di teras..


"Enggeh Pa'e.." jawabku, sambil mencium tangan Kanjeng Doro.


"Hati hati di jalan.." ucapnya.


"Ashiapp, Assalamu'alaikum..." jawab ku dan sudah mulai menaiki motor metic ku.


"Fa,.." panggil Kanjeng Doro,


"Iya Pa'e mau pesen di beliin sesuatu pulang nanti.." kataku..


"Tidak, tidak perlu, Pa'e minta jangan di masukin ke dalam hati ucapan Bu'e mu kemarin sore.." kata Kanjeng Doro dengan mendekat padaku dan mengusap bahuku pelan.

__ADS_1


"Ahh..semua ucapan Bu'e kemarin sore itu kayak kentut Pa'e.." jawab ku dengan menutup mulutku..


"Kamu itu ada ada saja kalau bikin perumpamaan, sudah berangkat sana.." ucap Kanjeng Doro..


"Enggeh, Syiffa berangkat dulu, Assalamu'alaikum.." kataku sambil mencium tangan Kanjeng Doro kembali.


"Wa'alaikumusalam.." jawabnya dan setelah itu langsung ku tarik pedal gas motor ku dan membawanya membelah jalan raya untuk sampai di tempatku mengabdikan diri.


Sesungguhnya mengajar bukanlah bidangku, tapi karna aku yang menginginkan mengabdikan diri buat anak anak yang berkubutuhan khusus, membuatku mempelajari bagaimana mengenali mereka dan mengajar mereka agar kelak mereka bisa mandiri seperti kami, syukur bisa sama seperti kami dan di terima juga seperti kami.


Kurang lebih 20 menit aku sampai di tempatku mengajar, dan pas aku membelokan motor ku di gerbang Sekolahan motor Suami Novi hendak keluar, dengan ramah dia menyapaku lalu basa basi sebentar, taulah basa basinya apa.., apa lagi kalau bukan titip Istrinya nanti untuk di antar pulang.


Aku baru saja hendak melajukan motorku kembali, namun belum sempat itu terjadi triakan Uul dari jendela mobilnya membuatku kembali menghentikanya dan menyambutnya dengan senyum ku.


"Fa-Fa.." triaknya dengan bahasanya dan jelas bagi orang yang baru mendengar akan butuh waktu lama untuk mencernanya.


"Hai..." kataku dengan melambai lambaikan tangan ku juga.


"U- ya- gi.." katanya, aku hanya membalasnya dengan senyum karna Mobil sudah berjalan mendahului ku, dan akupun ikut melajukan motorku dan memarkirkan disisi yang berbeda dengan Mobil yang mengatar Uul ke sekolah.


"Selamat pagi Bu Fafa.." sapa Pak Sahri sopir yang biasa mengantar Uul ke sekolah, saat aku melintas di samping mobil itu untuk menuju kantor.


"Fa-Fa, aai.. Ul, tata biyu.." kata Uul saat keluar dari mobil dengan perawat baru yang kemarin aku lihat ada di belakangnya.


Langkah susah payahnya mencoba untuk menghampiriku memarken tas baru berwarna biru yang di bawanya.


"Ba-gu-s.." kataku dengan memberikanya 2 jempol ku, dengan tiba tiba dia menarik tangan ku dan akupun langsung berjongkok untuk menyamai tingginya.


"Muah, muah, muah, muah.." Uul langsung mencium ku berulang ulang, dan bisa di tebak apa yang terjadi, air liurnya menempel di pipiku dan itu membuat perawat Uul juga Pak Sahri kaget, tapi bagiku itu biasa saja, karna dia sering melakukanya padaku bahkan siswa lain juga seperti itu, maka dari itulah kami sebagai pembimbing selalu membawa pakain ganti.


"Maaf Bu Fafa, mungkin Mbak Uul.."


kata Pak Sahri


"Tidak apa apa Pak, Uul sering kok mencium saya, dan saya suka.." jawab ku dengan senyum manis.


"Ohh.." kata Pak Sahri dan barengan dengan itu Perawat Uul memberikan ku tisu.


"Trimakasih Mbak.." ucap ku. "Uul, ma-suk ke-las du-lu ya.." lanjutku kepada Uul dan dia mengaguk menyetujui ucapan ku.

__ADS_1


"Mbak letak kelas Uul ada di ujung koridor sana.." ucapku ke Perawat Uul.


"Iya Bu.." jawabnya lalu berjalan di samping Uul tanpa mengandeng tanganya.


"Mbak, tolong itu Uulnya di gandeng jalanya sedikit naik.." ucapku saat ku lihat dia tidak juga mengandeng tangan Uul meski kelihatan sekali Uul kesusahan untuk berjalan.


"Maklum Bu, Perawat baru, mungkin masih sedikit gimana sama Uul.." kata Pak Sahri kepadaku.


"Tapi juga tidak bisa seperti itu Pak, kan dia di gaji oleh Ayahnya Uul, setidaknya dia harus tangung jawab dengan gaji yang akan di triamanya dengan melakukanya pekerjaanya sepenuh hati.." jawab ku.


"Bu Fafa memang is the best.." kata Pak Sahri kepadaku.


"Lha itu artinya apa ya Pak..?" tanya ku pura pura.


"Ya pokoknya gitu lah Bu, kata anak anak muda, ha.ha..ha.." jawab Pak Sahri dengan tawa renyah.


"Baiklah Pak saya permi.."


"Maaf lho Buk, saya itu mau tanya dari dulu pas waktu pertama kali datang kemari belum jadi,.."


"Tanya apa Pak..?" ucap ku heran..


"Apa sampean ini sudah punya anak, kok bisa sabar sekali sama anak anak, terutama anak anak seperti Uul.." tanya Pak Sahri dengan hati hati, aku mengulas senyumku lalu menjawab tanyanya.


"Semua yang di landaskan atas dasar suka pasti akan menyenangkan Pak, kalau masalah anak sendiri, gimana mau punya Pak, Suami saja belum ada..ha.ha..ha." jawab ku.


"Oalah, jadi Bu Fafa ini masih gadis tow.." jawab Pak Sahri dengan muka keheranan.


"Nahh itu dia, saya juga mau tanya sama Pak Sahri lama sekali belum jadi.."


"Apa itu Bu, ehh saya rasa Mbak saja wong masih gadis kok.." kata Pak Sahri.


"Memang Pak Sahri tidak punya anak laki laki yang sudah siap menikah...ha.ha..ha.." kata ku , dan sudah keluar jiwa humorku..


"Ha..ha..ha.., Mbak Fafa ini ternyata pandai juga bercanda.." jawab Pak Sahri, kamipun tertawa bersama sama.


"Baiklah Pak saya permisi.." ucapku dan melangkah meninggalkan Pak Sahri setelah mendapat jawaban darinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2