
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
POV Pak Panji...
Pagi ini aku sengaja menitipkan Uul kepada Fafa, karena aku tau hanya dengan Fafa seorang Uul lebih baik, dan bisa di kontrol dengan mudah. Bukan karena apa apa aku menitipkan Uul pada Fafa, itu aku lakukan karena aku yang harus pergi keluar pulau Jawa untuk beberapa hari, guna melebarkan sayap usahaku di bidang Interprenuer kuliner.
Fokusnya pada tongkrongan anak anak muda, dengan gaya kekinian dan tentu menambahkan spot spot foto sebagai penunjang pengenalan usaha yang aku geluti lewat media massa berupa akun akun yang di gandrungi anak anak muda sebagai sarana promosi. Dan itu aku akui sebagai penunjang yang sangat tepat dan tanpa harus berbayar justru di bayar.
Pesawat yang aku tumpangi dengan Asisten pribadiku Doni, baru saja mendarat dengan sempurna di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin. Namun, baru saja sampai kesialan sudah menyambutku, dengan menghilangnya ponsel pribadiku yang kemungkinan tertinggal di toilet di Bandara Semarang sana.
Aku hendak mengabari Fafa, bahwa yang akan menjemput Uul hari ini sopir rumah bukan aku. Juga, sebenarnya aku ingin pamitan dengan Fafa. Dan anehnya aku, karena aku berfikir akan menyenangkan mendengar Fafa menyuruhku untuk hati hati, atau sekedar mendengar suaranya saja.
Pertemuan dari satu tempat ke tempat yang lain dengan para Franchisee, membuatku melupakan hal hal konyol mengenai Fafa, hingga tidak terasa sudah 2 hari aku berada di pulau Sumatra. Dan kabar yang aku dengar pagi ini, benar benar membuatku membatalkan segala agendaku, lantas menyuruh Doni untuk mencari penerbangan secepatnya kembali ke pulau Jawa.
Perduli setan, sama jalan raya, ataupun rambu rambu lalu lintas, bahkan Polisi yang sedang mengatur lalu lintas saja sama sekali tidak ku gubris. Kabar yang aku dengar dari dr.Rama benar benar membuatku ingin meledak marah. Meski dr.Rama tidak menyebutkan spesifikasi alasan apa Uul harus di rawat di Rumah Sakit. Lima tahun membesarkannya membuatku sangat faham dengan Uul ku. Uul tidak akan mungkin masuk Rumah Sakit jika hanya sakit biasa saja.
Langkah tergesa ku seketika berhenti di ambang pintu, saat ku lihat tubuh kecil Uul mengelupas hingga merah merah seperti daging matang. Dan dadaku semakin sakit lagi, saat ku lihat wanita yang telah mencampak kan aku dan Uul sedang duduk di samping ranjang Uul dengan kipas yang terus di ayunkannya.
Susan Dayana Sutejha. Dia dulu adalah teman baik ku ketika kami masih sama sama duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan persahabatan kami berlanjut hingga kami sama sama dewasa dan masuk ke perguruan tinggi sesuai passion kami masing masing. Susan, sang bintang sekolah, Susan yang idola. Susan gadis cantik yang sudah aku gilai sejak aku pertama kali bertemu dengannya.
Susan juga yang membuatku berani melakukan hal gila, hingga menikahinya tanpa restu dari kedua orang tua kami. Namun, semua sia sia belaka bagi ku juga Uul, karena Susan melayangkan gugatan cerainya terhadapku, tepat seminggu setelah dia melahirkan Uul, pada usia pernikahan kami yang baru menginjak 7 bulan.
Dengan dalih Uul akan menghambat kariernya juga sekaligus menjadi kutukan bagi masa depannya. Susan benar benar mencampak kan kami berdua. Dan kini, setelah hampir 6 tahun berlalu, dia berani datang kesini, dan menuntut hak asuh Uul agar ikut bersama dengannya. Berani sekali dia.
Masih ku ingat dengan jelas, saat Susan hendak pergi meninggalkan rumah kami. Ku suruh dia mengelus kepala Uul sekali saja, namun alih alih Susan mau melakukannya, justru Susan terus mencaci bayi yang masih merah dalam dekapanku.
__ADS_1
"Untuk apa kamu kesini." Desis ku dengan nada dingin.
"Dia anak ku." Jawab Susan dengan tidak kalah dingin.
"Kamu tidak berhak atas itu, San. Pergilah."
"Kamu yang tidak punya hak atas dia." Kata Susan dengan nada semakin berani. "Aku sudah kembali bersama dengan Ayah biologis Uul, akan lebih baik Uul ikut bersama denganku. Kamu tidak becus mengurusnya." Lanjut Susan yang membuatku seketika langsung naik darah.
"Tidak becus, aku tidak becus. Selama hampir enam tahun ini siapa yang ada di sampingnya, aku, lalu dimana kamu selama ini. Dan kamu bilang aku tidak becus mengurus Uul." Kataku dengan nada tinggi, hingga membuat Uul terbangun dari tidurnya. "Memang kamu yang mengandungnya, tapi akulah yang memberi hidup pada Uul setelah kamu tidak menginginkannya." Lanjutku dengan nada sedikit merendah.
"Walau bagimanapun, tidak ada darahmu di tubuh Uul. Aku lebih berhak atas Uul." Sergah Susan.
"Hak, kamu bicara hak. Hak seperti apa.? Andai Uul selayaknya anak normal lainnya tentu Uul tidak akan ingin lahir dari seorang Ibu seperti dirimu." Jawabku.
"Bagaimanapun aku Ibunya, Ji."
Aku terus menyeret Susan hingga kelaur dari ruangan dan kembali perdebatan soal hak asuh yang menjadi topik kami. Hampir enam tahun, baru kali ini Susan menginginkan Uul, dan itu jelas ada maksud serta tujuan yang akan menghasilkan bagi dirinya. Jika tidak, mana mungkin Susan susah payah mau mengurusi Uul.
Aku sangat faham dengan sifat Susan, dia tidak akan mudah menyerah dan jelas akan terus menyerang hingga apa yang di inginkan terwujud. Harusnya, aku bisa saja melepaskan Uul pergi bersama dengan Susan, mengingat apa yang di katakan Susan ada benarnya, aku tidak memiliko ikatan darah dengan Uul. Tapi, rasa sayangku untuk Uul jauh lebih besar dari apapun yang aku punyai di dunia ini.
"Dulu, aku memang bukan Ibu yang baik untum Uul, Ji. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Beri aku aku dan Gerry menebus kesalahan kami." Aku sama sekali tidak bergeming mendengar penuturan Susan. Dan masih tetap pada pendirianku, bahwa Uul hanya akan tinggal dengan ku.
"Pergilah, sebelum Mamaku datang." Usirku pada Susan, setelah aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.
"Aku akan menempuh jalur hukum, Ji. Jika kamu masih bersikeras dengan pendirianmu." Ucap Susan sebelum ahirnya melangkah pergi.
Aku pastikan Susan benar benar sudah menghilang dari pandanganku saat aku kembali masuk ke dalam kamar Uul, sembari bergumam dalam hati. "Entah apa yang membuatku jatuh cinta pada wanita seperti dia."
__ADS_1
Aku mendengarkan beberapa penggal cerita Uul mengenai kejadian lusa yang mengakibatkan Uul menderita luka bakar di sekujur tubuhnya. Namun, dari cerita Uul, aku sama sekali tidak mendapat petunjuk kecuali Fafa, karena Uul selalu menyebut Fafa.
Dan semuanya semakin rumit saja menurutku saat Doni mengantarkan beberapa salinan berkas dari penyidikan Polisi. Disana semua bukti memberatkan Fafa, karena beberapa barang Fafa berada disana, serta tidak ada sidik jari lain selain dari milik Fafa. Mungkinkah Fafa melakukan konspirasi seperti yang di katakan Angel pagi ini.
Aku terus berfikir jauh mengenai Fafa, dan tak ingin mempercayai ini. Tapi, tujuan Fafa mendekat pada Uul aku perlu mengetahuinya, apakah itu benar benar murni tulus, atau memang ada hal lain yang di rencanakan.
"Uul akan terus berada dalam bahay, Ji. Karena kamulah alasan seseorang menyakiti Uul, bisa jadi dia orang yang pura pura baik dan dekat dengan mu." Ucapan Susan kembali terngiang di telingaku, dan membuatku meremas kepalaku kasar.
Aku tidak ingin percaya semua pemikiranku tentang Fafa, tapi bukti bukti yang ada di tanganku membuatku tidak bisa berkutik, dan langsung menyambar ponselku. Dengan kasar aku mendial nomer kepala Sekolah tempat Fafa mengajar, dan meminta untuk memecat Fafa hari ini jug. Karena aku fikir, lebih cepat memecatnya akan lebih baik. Dan aku tidak perlu lagi bertemu dengannya, dengan begitu akan lebih mudah bagiku untuk melupakan beberapa perasaan yang sedikit kurang ajar dangan tumbuh tanpa undangan.
Bersambung...
####
Part berikutnya masih POV Pak Panji yah.
Ternyata Pak Panji penuh kejutan yah.
Statsu duda anak satu, tapi bisa jadi dia masih Perjaka..🤭🤭🤭
Like, Koment dan Votenya masih di tunggu...
Love Love Love....
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862