
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku tidak tahu dengan perubahan suhu di Bumi akan berapa derajat setiap menitnya, yang aku tahu perubahan pada Mas Alfi begitu tampak terlihat seminggu ini. Tidak berubah secara seratus persen juga, tapi itu hanya terlihat dikala dia mengantarkan aku berangkat ke sekolahan selama seminggu ini.
Juga, sikap aneh Mbak Anita kepadaku yang matia matian menghindariku. Hingga membuatku bertanya tanya dalam hatiku sendiri, apa salahku padanya dan apa penyebab dia begitu tidak nyaman bila aku sedang berada di dekatnya. Entahlah.
Kenapa aku harus ambil pusing dengan sikap orang lain kepadaku. Kalaupun dia mempunyai alasan tentang ketidak nyamananya terhadapku, biarlah itu jadi urusannya sendiri. Selama itu tidak menganggu ku, tidak akan ku persoalkan lagi. Yang terpenting saat ini, waktunya malam minggu.
Aku sudah bersiap dengan tunik Coksu dan ku padu dengan rok span berwana hitam. Tak lupa sneaker berwarna senada juga ku kenakan, dan ini merupakan outfit pilihanku yang tidak ribet dan juga tidak perlu harus merasa sakit dengan sepatu hak tinggi. Ku taburkan bedak bayi sebelum ahirnya aku meraih Pasmina berbahan ceruti yang juga sudah aku siapkan.
"Wokey, aku siap." Ucapku dengan mengulas senyum ke arah cermin di meja riasku. Namun, seketika senyumku menghilang di saat mataku menangkap seserahan berupa peralatan Make Up yang masih terbungkus rapi di atas mejaku.
Dan itu sudah berpuluh puluh kali mungkin juga ratusan kali, Ibu Suri terus mengingatkan aku agar segera membukanya. Namun, entah kenapa aku masih ragu. Bukan ragu terhadap Mas Alfi, tapi ragu terhadap diriku sendiri. Terlebih saat aku mengingat kejadian seminggu lalu, pas Pak Panji mengantarkan aku pulang. Ahh, itu sungguh menjadi tamparan besar buatku, bahwa hatiku telah berhianat tanpa aku sadari sebelumnya.
"Fa, Nak Ariz sudah di depan." Ucap Ibu Suri membuyarkan lamunanku dan seketika mengubah expresiku dengan cepat.
"Calon mantu idaman Bu'e." Ucapku dengan expresi seperti biasanya setiap kali dengan Ibu Suri. Dan sudah dapat ku prediksi seterusnya, lagu kebangsaan akan mengalun syahdu dari bibir wanita paruh baya itu. Tentu saja dengan jaga image di hadapan calon mantunya.
Wajah Mas Alfi tampak begitu fress, senyumnya juga terus saja tersunging saat menanggapi wawancara dari reporter cilik, siapa lagi kalau bukan si Empi yang lagi heboh hebohnya dengan mainannya microfon mainannya.
"Jadi, kenapa Sapi makan rumput.?" Tanya Mas Alfi kepada Empi, dan itu berhasil membuat wajah Empi bingung.
"Hayo kenapa.?" Timpalku, dan itu sukses membuat Empi semakin bingung hingga beberapa kali menggaruk garuk kepalanya, lantas dengan cepat duduk bersila saat aku sudah duduk di hadapannya.
"Empa, mau mana.?" Tanyanya.
"Rahasia, jawab dulu pertanyaan Om Alfi." Jawabku. Mas Alfi tersenyum ke arahku dan sejurus kemudian melihat jam di pergelangan tangannya, sebagai kode bahwa sudah harusnya kami cepat pergi. "Baiklah baiklah, kalau tidak bisa jawab bisa buat PR saja." Lanjutku.
__ADS_1
"Bener kata Tante Empa. PR buat besok." Ucap Mas Alfi ikut menimpali sambil menarik hidung pesek Empi. " Ayo, Fa. Agar tidak terlalu malam nanti pulangnya." Ucap Mas Alfi sejurus kemudian.
"Baiklah, biar Syiffa pamit dulu sama Bu'e dulu."
"Panggil saja kesini." Ujar Mas Alfi, akupun menyetujui perkataan Mas Alfi dan tak lama aku sudah kembali dari dalam dengan Ibu Suri bersamaku.
"Bu, Ariz ajak Syiffa keluar dulu, mungkin akan agak malam mengingat ini malam minggu. Sampaikan salam saya sama Bapak." Ucap Mas Alfi dengan sopan. Dan entah kenapa itu tidak mampu menyentuh hatiku, memang cinta itu hal yang sangat bodoh.
"Om, Afi. Empi au napa sapi makan umput." Sela Empi dengan tiba tiba. Dan membuat kami bertiga beralih fokus ke arah Empi yang tengah duduk dengan konsentrasi penuhnya.
"Apa coba, Om Alfi mau dengar."
"Mama Sapi enggak masak nasi, sama kayak Bunda Empi." Sontak mendengar jawaban dari Empi membuat aku tertawa terbahak bahak. dan hilang sudah kesan wanita anggunku.
"Enggak sekalian buat suruh buat krispi jamur saja Mamanya Sapi." Selonohku. Hingga tatapan mata tajam dari Ibu Suri sukses membuat tawaku terhenti di tenggorokanku.
"Maaf nak Ariz. Nanti ajari Syiffa agar lebih kalem lagi ya." Ucap Ibu Suri.
"Ya sudah, kalian cepat berangkat. Biar enggak kemalaman." Ucap Ibu Suri, ahirnya aku dan Mas Alfi berpamitan dengan Ibu Suri, lantas berjalan beriringan ke arah mobil Mas Alfi dengan masih membahas Empi.
Setengah jam lamanya, kami berputar putar mencari tempat yang nyaman, dan berahir pada sebuah caffe outdoor dengan view taman buatan. Cukup nyentrik juga tempatnya, karena bangunan semi permanen ini hampir tujuh puluh lima persennya berbahan dari bambu. Dan aku mengakui tempat yang di pilih Mas Alfi selalu nyaman.
Kami memilih duduk di kursi yang memiliki tema ayunan, dan akan ikut bergerak jika salah satu dari kami bergerak. Dan sembari menikmati makan malam romantis ini, kami tidak henti hentinya terus sambil mengobrol, meski itu kadang cuma membahas hal sepele soal makanan yang sedang kami makan.
Hingga obrolan ini berubah sedikit serius, saat Mas Alfi sudah mulai menginggung soal masalalunya. Dan jelas sekali terlilhat olehku, bahwa Mas Alfi hanya ingin di dengarkan saja untuk malam ini, karena terdengar dari intonasinya bahwa Mas Alfi sudah menyiapkan sebelumnya. Mungkin itu salah satu alasannya kenapa Mas Alfi berbeda ahir ahir ini.
Ini aku akui cukup gentle sikap yang di ambil Mas Alfi, karena Mas Alfi memilih menjelaskan semuanya dengan memilih timing yang tepat, bukan yang mengebu gebu, dan ingin terlihat benar sendiri. Lagi dan lagi, tapi kenapa hatiku tidak ingin tersentuh dengan sikapnya yang seperti ini. Malah perasaan jahatku berkelana memikirkan seseorang yang tidak sepantasnya aku pikirkan.
"Mas, setiap seseorang memiliki masa lalu. Saya juga memilikinya." Ucapku saat Mas Alfi berada di ahir ceritanya.
__ADS_1
"Aku tau masa lalumu, Fa. Dan aku pernah merasa iri dengan Bayu soal itu." Ucap Mas Alfi pelan. "Dan aku rasa kamu berhak tau soal aku dan Anita." Lanjut Mas Alfi sembari menghela nafas dalam dan panjang. Di pejamkan mata Mas Alfi untuk sesaat sebelum ahirnya di hembuskannya nafasnya dengan pelan pelan, lantas di raihnya tanganku yang berada di atas meja, lalu memutar mutar cincin yang melingkar di jari manisku.
"Anita Cahaya Irsani. Dia yang aku ceritakan tadi." Ucap Mas Alfi pelan, dengan sorot mata menghujam ke dalam manik mataku, meminta pengertianku lewat tatapan itu. Tapi, justru tatapan gusar yang aku berikan kepada Mas Alfi. "Maaf, harus selama ini aku menceritakan kepadamu, Fa. Sungguh aku tidak pernah menyanggka akan bertemu kembali dengan Anita di tempatmu mengajar."
Aku tidak dapat berkata apa apa, bukan karena aku tidak mimiliki kata yang tepat, hanya saja kau terlalu kaget. Hingga seluruh rangkaian kataku hilang begitu saja. Kaget, kerena tau alasan Mbak Anita menghindariku bukan karena dia tidak suka terhadapku, melainkan karena dia ingin membentengi dari sakit hati yang mungkin akan di deranya, saat melihat seseorang yang mungkin saja masih di cintainya bersanding dengan orang dekatnya.
Kenapa aku menyimpulkan bahwa Mbak Anita masih mencintai Mas Alfi. Karena dari cerita Mas Alfi, mereka berdua berpisah bukan karena keinginan mereka, melainkan keinginan orang tua dari Mbak Anita. Karena alasan yang memang benar menurut orang tua, tapi tidak adil bagi keduanya.
Lalu, apakah tempatku sekarang cukup benar. Karena aku berada di antara dua rasa yang masih sama sama ada, setelah aku sadari dengan mengumpulkan beberapa ingatanku saat mereka bersitatap di sekolahan selama seminggu ini. Apa ini adalah karmaku, karena di hatiku juga sudah tumbuh tunas terlarang.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862