
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kamu baik baik saja, Fa." Sudah yang kesekian kalinya tanya itu keluar dari Mas Alfi yang sepertinya cukup sadar dengan perubahan sikapku sedari aku masuk ke mobilnya. Dan berkali kali pula ku jawab dengan anggukan pasti.
"Capek sekali ya, disana.?" Kembali Mas Alfi sengaja mengajak ku untuk bicara.
"Tidak terlalu, hanya bosan." Jawabku dengan setengah jujur, sekaligus setengah berbohong.
"Serius, apa Pak Panji benar benar hanya menyuruhmu untuk menjaga Uul, tidak memberimu waktu untuk jalan jalan..?" Ucapan Mas Alfi sukses menerbangkan ingatanku tentang kejadian semalam.
"Tidak juga seperti itu, Mas. Hanya saja, menurutku tidak terlalu penting jalan jalannya. Kan tujuannya demi orang sakit." Mas Alfi manggut manggut sembari terus fokus ke arah jalan, meski tampak begitu santai.
Alis tebal, hidung pas di ukurannya, kulit agak coklat di tambah dengan ukuran badan yang proposional, harusnya itu cukup buatku yang tidak terlahir cantik seperti Cinta Laura. Dan bisa memiliki kesempatan menjadi penghuni hati Mas Alfi, aku rasa itu sudah jadi standart yang bagus, bukan malah seperti pungguk yang merindukan bulan. Tapi, dalam kasusku ini. Bulan juga menghampiri pungguk dengan sinarnya. Lalu, haruskah aku menjadi pungguk yang egois.
Mas Alfi terlalu sempurna untuk di cari alasan ketidak patutannya. Sementara hatiku terlalu kurang ajar, dengan masih meragu dengan kehadiran Mas Alfi.
"Fa, kamu yakin baik baik saja kan.?" Ucapan Mas Alfi menyadarkan akan lamunan panjangku. Dan kali ini aku tidak memiliki alasan untuk mengelak lagi, bahwa di dadaku sedang tidak baik baik saja.
"Sedikti delay seperti pesawat, Mas." Jawabku mencoba melucu.
"Sepertinya akan lebih bagus kalau aku agak menambah kecepatanku, agar kamu cepat kembali seperti sedia kala setelah mendengar tausiyah Ibu Suri. Ckckkck."
"Ckckckck. Dih, Mas Alfi suka bener sekali kalau ngomong." Timpalku.
Suasana hatiku sedikit mencair begitu jarak ini semakin terkikis, apa lagi saat mobil Mas Alfi sudah berbelok ke perumahan dimana tempat tinggalku berada. Ibarat es batu, makin mencair terkena panas, dan yang berhasil membuat panas adalah orang yang dengan sengaja menghadang kendaraan yang kami tumpangi.
Entah apa maunya orang di depan itu, dengan sikap sok pamernya sedikit saja aku bisa meraba, mungkin maksudnya tak lain untuk membuang riya'. Dan bagiku, tidak akan sempurna jika aku tidak menanggapinya.
"Fa, kamu sudah dengar belum.?" Tanyanya dengan mengibas ibaskan sepuluh jarinya yang aku rasa hampir semua terisi dengan cincin emas yang menyilaukan mata. Silau bukan karena iri, tapi sungguh memang silau. Karena kuningnya sungguh terlalu berani untuk ukuran emas.
Memaksa senyum menyunging di bibirku, akupun menjawab kata Bu Gito, yang sesungguhnya minta di tanya. "Ya belum tau dong, Bu. Kan Bu Gito belum kasih tau Syiffa. Lagian Syiffa juga baru pulang dari luar negri." Kataku dengan nada sederhana, tapi itu cukup jadi meriam bagi Bu Gito.
Dalam hati aku tak henti hentinya tertawa melihat reaksi Bu Gito yang sok biasa biasa saja, padahal di dalam hatiny pasti sudah mengumpat kesana kemari. Itu dapat aku lihat dari matanya yang sedikit terangkat ke samping meremehkan ku.
__ADS_1
"Jadi ada kabar apa, Bu." Ucapku lagi.
"Tidak, tidak kabar besar juga sih, Fa." Jawab Bu Gito kembali dengan sikap percaya dirinya. Dan aku gunakan kesempatan itu untuk segera menyela ucapannya, jika itu tidak segera aku lakukan yang ada sampai matahari pulang ke rumahnya juga tidak bakal selesai kalau Bu Gito sudah membanding bandingkan aku dan anak perempuannya.
"Kalau begitu, saya permisi saja Bu." Ucapku sembari sudah hendak menutup kaca mobil.
"Eh, kok buru buru sih, Fa." Cegah Bu Gito dengan sengaja menaruh tanganya di kaca depanku, hingga terlihat jelas di mataku ke empat jarinya yang berisikan barisan benda kuning berkilauan yang besar batunya sudah hampir mengalahkan punya komedian ternama Tessy.
"Kan tidak ada kabar yang mengaharuskan saya tau, Bu. Bukan begitu Mas Alfi.?" Ku lempar bomnya kepada Mas Alfi yang sedari tadi hanya diam bingung memperhatikan perangaiku. Dan anggukan Mas Alfi yang Ambigu membuatku menahan tawaku.
"Aduh, Fa. Jangan mudah esmosi gitu tho. Gini lho, gini lho. Bukan maksud hati saya mau pamer sama kamu. Ini bukan saya yang bilang, satu RW sudah pada tau kabar ini." Bu Gito menjeda ucapannya, seraya menggibaskan tangannya. Untung sekali cincinnya tidak ikut terkibas, jika itu sampai terjadi dan mengenai jidadku sudah pasti benjolnya bakal sebesar salak pondoh.
"Terus kabarnya apa.?" Tanyaku sudah tak sabar. Bukan tak sabar karena ingin tau, melainkan sudah panas dan gerah.
"Kamu itu kelihatan banget kalau tidak sabar mendengar kabarnya." Bu Gito mengikik pelan, membuatku mencebik dengan kesal namun tidak bisa berbuat lebih daripada masih harus menghormati orang yang lebih tua. "Sandra mendapat promosi jadi sekertaris di salah satu perusahaan Bapakmu kerja, Fa. Apa namanya saya lupa. Trans apa gitu lho. Pokoknya ada Transnya."
"Haikal Trans." Selaku.
"Iya itu. Dan sudah dapat gaji di depan. Makanya dia beliin saya cincin." Wajah sumringah Bu Gito membangkitkan jiwa keusilanku.
"Jangan gitu, Fa. Saya itu masih memamdang orang yang kurang mampu, yang cincinnya cuma satu saja atau bahkan tidak memiliki cincin sama sekali." Mas Alfi makin tak bisa menahan tawanya. Sampai sampai harus pura pura berdehem untuk mereda tawanya.
"Kalau kasihan di kasihkan saja, Bu. Buat amal jariyah." Timpalku lagi.
"Kalau amal itu tidak boleh di perlihatkan, Fa. Masak nanti ada yang tau kalau itu cincin dari saya kan jadi luruh pahala saya." Dehh, dasarBu Gito bisa banget cara ngelesnya.
"Iya, itu benar sekali, Bu." Jawabku ahirnya memilih menyerah debat dengan Bu Gito. Bukan karena apa apa, karena aku cukup waras jika harus meladeni Bu Gito terus. Lagi pula melihat Mas Alfi yang sudah hampir sakit perut karena mendengar obrolanku dan Bu Gito membautku tak tega.
"Ya sudah Bu kalau begitu saya permisi lebih dulu." Pungkasku ahrinya.
"Iya, silahkan. Andai saja kamu tau amal jariyah apa saja yang sudah saya kerjakaan pasti kamu akan iri, Fa. Saya itu sering sekali ngasih sumbangan ke Masjid, memyantuni anak yatim. Tidak hanya seratus dua ratus ribu, tapi bisa jutaan tiap bulannya."
Segera ku potong dengan cepat ucapan Bu Gito. "Luruh, Bu. Rumah Bu Gito sudah rata smaa tanah di syurga sana. Gara gara Bu Gito ngasih tau sama saya." Dan tampak wajah kesal tercetak di wajah Bu Gito begitu mendengar ucapanku, apa lagi saat aku melanjutkan ucapanku lagi.
"Satu lagi Bu. Kalau soal iri mah, saya lebih iri sama orang yang Qobliyah Subuhnya rutin di rumah, tidak di bawa ke Masjid. Karena pahala mereka lebih besar dari dunia serta isinya. Assalamu'alaikum." Segera ku tutup kaca mobil dan menyuruh Mas Alfi lekas menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Mas Alfi masih tak berhenti tertawa terbahak bahak dan makin terbahak lagi saat melihat kaca sepion yang disana masih terlihat wajah Bu Gito yang tengah sebal. "Kamu bisa banget, Fa. Asli parah banget. Lihat deh wajah Ibu Ibu itu."
"Wajahnya persis kayak Mahasiswa." Jawabku sekenanya saja.
"Kok Mahasiswa.?" Tanya Mas Alfi.
"Rasa ingin taunya tinggi, ckckkckck." Mas Lafi ikut tertawa denganku.
Nyatanya memiliki tetangga seperti Bu Gito ada plus minusnya. Minusnya, segala aktifitas yang ku lalukan selalu ada dalam pantaunnya, sudah selayaknya sebriti saja. Ya memang iya seelbriti, selebritis kampung. Plusnya, ada hiburan gratis saat butuh teman untuk berdebat.
Hingga mobil masuk ke halaman rumahku, aku dan Mas Alfi masih tak henti hentinta tertawa tawa, sampai sampai itu menjadi tanya untuk Ibu Suri, dan tanya tanyanya menganai Bu Gito langsung terhenti begitu Ibu Suri membuka papper bag yang berisikan coklat coklat mahal dari Pak Panji. Bahkan sampai menyisihkan satu kantong yang katanya hendak buat oleh oleh nanti saat pergi ke Pekanbaru.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Bisa bisanya Bu Fafa buat jawaban untuk Bu Gito. Iri sama yang sholat Qobliyah subuhnya rutin.. 🤣🤣🤣🤣🤣
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1