
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi kembali datang dan tubuhku lemah, lesu tak bertenaga, lantaran aku hanya tidur beberapa jam saja. Dengan menyeret pelan kakiku, ku langkahkan diriku ke kamar mandi dan menguyur seluruh tubuhku dari ujung kepala dengan air dingin, agar seluruh saraf-saraf tubuhku kembali normal, begitupun dengan saraf otak ku yang sedang penuh sesak dengan misteri.
Usai dengan urusan kamar mandi aku bergegas merapikan diri dengan langsung menggunakan baju seragam mengajarku. Bukan karena aku tidak ingin di pecat, hanya saja aku belum membicarakan ini semua dengan keluarga dan aku takut mereka semua akan syok saat aku di berhentikan secara tidak hormat.
Alasan utamaku sebenarnya satu, aku hanya ingin menghindari tatapan Ibu Suri yang suka benar menebak isi hatiku, untuk itulah sementara aku akan ngungsi ke rumah Novi pagi ini, kemungkinan tiap pagi untuk tiga hari ini. Itung-itung biar Novi balas budi terhadapku.
Dengan berpura-pura tidak terjadi apa-apa aku segera keluar dari kamarku, dan menjumpai Ibu Suri serta Kanjeng Dhoro yang baru saja pulang dari jama'ah subuh di masjid. Dan dapat terlihat raut keterkejutan dari wajah mereka saat melihatku yang sudah rapi menggunakan seragam tapi minus jilbabnya.
"Sudah rapi bener, segitu cintanya kamu sama kerjaan kamu, Fa." Ucpa Mas Salim yang tiba-tiba sudah keluar dari dapur dengan muka kusut seperti tidak tidur semalaman.
"Iya, tumben bener. Kamu enggak lagi mau kabur dari tugas negara kamu kan, Fa." Timpal Ibu Suri sembari masuk ke kamarnya menaruh Mukena, sajadah serta peci Kanjeng Dhoro.
Ku hela nafasku dalam-dalam sebelum menjawab tanya borongan yang di tujukan terhadapku. "Ini cuma masalah tanggung jawab, Mas." Ucapku pelan ke arah Mas Salim yang sedang meracik kopi. Alasan yang sangat tidak sesuai. "Mas Salim tumben pagi-pagi sudah kesini, muka kusut bener, apa mau di setrika bareng Jilba, Syifa." Lanjutku dengan menambah sungingan senyum yang sesungguhnya sedikit kaku di bibirku.
"Coba saja muka kamu duluan yang di setrika." Jawab Mas Salim sambil meraup mukaku dengan sedikit bubuk kopi di tangannya, dan membuatku langsung memekik kaget di sertai dengan omelan yang sudah lama sekali tidak aku lakukan terhadap Abang ku.
"Mas Salimmm..." Triak ku dengan lantang.
"Apa sih pagi-pagi sudah berisik sekali kamu itu, Fa." Kata Ibu Suri yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Mas Salim ini loh, Bu'e. Ngolesin bubuk kopi di pipi Syifa." Ucapku.
"Halah cuma gitu doang, triak-triak." Ucap Mas Salim membela diri.
"Itu kan bisa di cuci, Fa." Timpal Kanjeng Dhoro.
"Syifa sudah pakai bedak, kan sayang skin carenya." Cicitku membela diri.
"Tinggal bedak an lagi susah bener." Mas Salim kembali menimpali.
__ADS_1
"Suara kamu itu loh yang jadi masalah." Ucap Ibu Suri. Aku langsung terkesiap mendengar ucapan Ibu Suri lantas dan entah kenapa tiba-tiba perasaan sedih mendera hatiku.
"Iya, Syifa yang salah. Salahkan saja terus, teris dan terus." Ku hentakkan kakiku lantas berbalik menuju kamar ku meninggalkan mereka semua yang tengah melongo heran dengan sikapku yang biasanya akan tetus mendebat mereka hingga mereka semua kesal.
Masih dengan kesal aku menggulung rambutku yang masih basah, dan terus ngomel ngomel sendiri, yang sejujurnya itu hanya sebuah pengeluaran emosi yang aku tahan dari kemarin tanpa tau mau menyemburkan seluruh kekesalanku pada siapa. Ini rumit bagiku, aku memaklumi sikap Pak Panji, tapi kau benci di salahkan, ahirnya aku hanya bisa uring uringan tidak jelas dan menyalahkan semua pada keadaan.
"Fa, ada apa.?" Tanya Ibu Suri yang sudah berada di dalam kamarku dan terus memperhatikan gerak-gerik ku dengan seksama.
"Tidak ada, Bu'e." Jawabku dengan suara melunak.
"Apa ada masalah antara kamu dan Nak Ariz, bukannya kemarin kamu juga pulang sendiri." Ucap Bu'e yang sudah curiga dengan sikapku.
Ku hela nafasku dalam-dalam, lantas mengambil buku-buku dan memasukannya ke dalam tasku, seraya menjawab pertanyaan Ibu Suri dengan pelan. "Tidak ada Bu'e. Mas Alfi seseorang yang Syifa kira tidak ada celahnya." Aku kembali memasukan beberapa buku ke dalam tas ku, padahal aku tidak tahu akan berguan buat apa buku-buku ini selain dari memberatkan punggungku. "Ini murni karena Syifa yang lagi mau M saja." Lanjutku asal.
"Lalu kenapa kamu dari kemarin sore terus mengurung diri." Usut Ibu Suri, yang sudah ngalah ngalahi Polwan yang mengintrogasiku waktu lalu. Masih serem Ibu Suri sih.
"Itu karena Ibu Suri yang sudah membuka kado punya Kanjeng Ratu Novi, jadinya Syifa harus mikir buat beli lagi, mana sekarang lagi tanggal tua." Kilahku masih enggan untuk menatap ke arah Ibu Suri.
"Al sama Andin itu siapa. Rumahnya yang sebelah mana.?" Tanyaku ke Ibu Suri.
"Enggak tahu rumahnya dimana, tapi yang jelas mereka ada di TV." Jawab Ibu Suri.
"Masya'Allah Bu'e, jangan bilang kalau itu Sinetron." Kataku dengan menepuk jidatku.
"Ya memang iya." Jawab Ibu Suri dengan muka tanpa dosa, kemudian kembali berapi-api saat melihatku masih senantiasa memperhatikan Ibu Suri. "Kamu tau, Fa. Aldebaran itu awalnya benci banget sama Andin. Sikapnya juga ketus, dingin, pokoknya tidak menyenangkan sama sekali, apa lagi episode semalam Andin. Bla..Bla..Bla.." Ibu Suri terus bercerita tentang Sinetron yang entah seperti apa kekuatan megicnya hingga mengalahkan Ku Menangis yang membuat aku juga Empi menangis karena tidak kebagian TV.
Dengan mengurut keningku pelan, aku terus saja mendengarkan Ibu Suri yang sedang menyampaikan pidato kebangsaannya tanpa bisa di sela sedikit saja, hingga di luar sudah cukup terang dengan matahari yang sudah malu-malu menampakan dirinya di ufuk timur.
"Jadi gitu ceritanya, Fa." Ucap Ibu Suri menutup ceritnya.
"Hemm, seperti itu. Untung cuma Sinetron, coba kalau ada di sekitar sini sudah pasti di gilas habis sama Bu Gito." Ucapku dengan berdiri dari tempat duduk ku, lantas menggunakan jilbabku
"Kamu mau pergi sekarang, enggak kepagian.? Apa Nak Ariz sudah mau datang." Cecar Ibu Suro saat melihatku sudah kembali bersiap.
__ADS_1
"Mas Alfi hari ini ada Meeting pagi, Bu'e. Jadi tidak bisa mengantar Syifa. Lagian Syifa mau ke tempat Kanjeng Ratu Novi dulu." Ucap ku dengan menatap Ibu Suri dari cermin di depanku.
"Kamu beneran baik-baik saja kan sama Nak Ariz.?" Ucap Ibu Suri lagi.
Tanganku yang sibuk menata jilbabku langsung melepaskan begitu saja dan memfokuskan diriku ke arah Ibu Suri yang masih manatapaku. "Bu'e tanya saja Mas Alfi kalau besok kesini. Jika, jawaban Syifa masih meragukan menurut Bu'e." Jawabku dengan menghela nafas dalam-dalam.
"Bu'e hanya takut, Fa. Takut sesuatu yang tidak berani Bu'e dan Pa'e bayangkan kembali terjadi kepadamu." Ucap Ibu Suri dan ku lihat sedikit air mata yang sudah siap merebak di ujung pipinya jika aku tidak segera menenangkannya.
"Tidak akan lagi, Bu'e. Kan Bu'e dan Pa'e sendiri yang memilih Mas Alfi buat Syifa." Ujarku.
"Bu'e percaya dengan Nak Ariz, tapi Bu'e takut jika kamu yang masih menganggap ini terpasa buatmu." Tutur Bu'e.
Kembali ku hela nafasku dengan sangat dalam, lantas meraih Ibu Suri dalam dekapanku seraya berucap pelan. "Syifa sudah ikhlas dengan Mas Alfi. Tapi, jika Allah punya takdir lain Syifa bisa apa. Kalau ternyata jodoh Syifa Mas Aldebarannya Bu'e, ya kan Syifa enggak bisa nolak." Ucapku dan seketika pukulan demi pukulan mendarat di lenganku di sertai omelan singkat ala Ibu Suri sembari keluar dari kamarku.
Ku tatap punggung Ibu Suri hingga menghilang di balik pintu kemudian bergumam pelan. "Pa'e, Bu'e, inginnya Syifa menangis di pangkuan kalian berdua saat ini, dan berbagi kepada kalian tentang kejadian kemarin. Tapi, saat ku lihat senyum itu mengembang di bibir kalian, aku takut merenggut bahagia sederahana itu, dan tidak bisa mengembalikan kepada kalian lagi suatu saat nanti." Ucap ku palan dengan setitik airmata yang dari kemarin tidak ingin keluar dan menyisakan sesak yang dalam.
Bersambung...
####
Hemmm, kok Mas Aldebaran di bawa-bawa Mak.
Tau mau ikut exsis disini kali...
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu enggeh...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1