Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 43


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ku buang pandanganku jauh dari keramaian dua orang yang sedang bertengkar itu, terlebih pada seseorang yang sedang berdiri di samping meja mereka untuk melerai. Dan lagi lagi, kenapa harus berada di investasi yang di miliki oleh seseorang yang berusaha untuk aku hindari.


Kebetulan, itu yang pasti. Tapi, jika kebetulan berlangsung terus menerus seperti ini, apa lagi kebetulan terhadap seseorang yang tidak begitu menyenangkan di hati, tentu akan mempengaruhi mood ku juga dan memuak kan tentunya.


Dari sekian banyak manusia yang berada di muka bumi ini, kenapa harus kembali bertemu dengan Pak Panji. Kenapa tidak kebetulan ketemu dengan seorang Publik Figur yang jauh lebih menyegarkan mata. Arya Saloka misalnya, yang hanya dengan senyum tipis saja bisa membuat Emak Emak mengelu elukannya. Dan pasti akan menyenangkan bisa pamer sama Ibu Suri, bahwa Mas Aldebaran memang benar benar manis.😀😀


Atau mungkin Arman Maulana, Kaka Slank. Kan keren bisa ngerok bareng. Atau lebih memungkinkan Kang Sule sama Andre Taulany, Vincen, Desta. Seenggaknya banyolan mereka membuat hati tidak panas membara, seperti saat ini.


Sudah ku buang pandanganku sejauh yang ku bisa, namun telingaku masih saja menangkap kata kata dari si empunya Caffe, siapa lagi kalau bukan Pak Panji. Dan lama lama kata katanya sedikit membuatku emosi jiwa raga. Karena itu seperti sedang menyentil diriku,


andai tidak ingat bahwa sopan santun adalah segalanya sudah ku damprat habis habisan Pak Panji.


"Fa, kamu tidak nyaman.?" Ucap Mas Alfi, yang sangat tepat sekali membaca situasi lewat wajahku yang sedikit cemberut. "Sungguh aku tidak tahu, kalau tempat ini juga punya Pak Panji." Lanjut Mas Alfi dengan nada menyesal.


"Enggak apa apa, Mas. Namanya juga Sultan, biasa aja punya tempat bagus dimana mana." Jawabku dengan nada jutek, sembari memutar bola mataku jenggah, lagi dan lagi kebetulan itu terjadi sehingga mataku bersirobak dengan mata tajam milik Pak Panji.


Sembari mendengus kesal, aku memutus kontak mata dengan Pak Panji begitu saja, dan langsung menenggak habis sisa kopi di cangkirku dalam satu teguk.


"Itu wajar kamu rasakan, Fa. Tapi, tidak perlu berlebihan juga." Ujar Mas Alfi sembari tersenyum tipis. Dan aku yang mendengar penuturan dari Mas Alfi bertambah dongkol dengan apa yang di maksud oleh Mas Alfi.


"Inginnya juga seperti itu, Mas. Tapi, entah kenapa itu muncul begitu saja. Ibarat kata akting, itu muncul secara harfiah." Jawabku masih dengan nada sewot.


Mas Alfi makin melebarkan senyumnya, hingga sampai tampak barisan gigi bersihnya. "Kamu itu lucu banget, Fa. Dan makin lucu kalau sewot gitu. Tambah tambah menggemaskan lagi pas bibirnya di majuin. Sayangnya aku tidak bisa membuat kamu sewot kayak yang di lakukan Pak Panji meski dia tidak sedang melakukan apa apa."


Blusss, wajahku langsung memerah mendengar ucapan Mas Alfi. Dan aku tidak bisa membalas ucapan Mas Alfi bahkan hanya dengan satu kata saja. Ucapan Mas Alfi memang selalunya mampu membuatku tersipu, merasa di cintai dengan cara yang berbeda.


Mas Alfi memang sangat pandai merangkai kata, dan kata katanya itu spontan begitu saja, juga hal yang memang benar benar ada pada diriku, bukan yang di buat buat dan di tambah gombalan yang berlebihan.


Tapi, jika di ingat ingat memang benar apa yang di katakan oleh Mas Alfi, kenapa aku bisa begitu sewot hanya dengan melihat Pak Panji, padahal di antara kami tidak ada apa apa sebelumnya, hanya sebuah hubungan antara wali murid dan guru kelas. Juga apa yang di lakukan oleh Pak Panji senormalnya seorang Ayah yang sedang melindungi anaknya. Tapi, kenapa aku harus begitu marah, karena Pak Panji yang tidak mempercayaiku. Sudahlah, mungkin ini hanya perasaan sesaat saja.


"Fa, ayo." Ucap Mas Alfi sudah berdiri.


"Apa macetnya sudah terurai, Mas.?" Tanyaku konyol.


"Sudah." Jawab Mas Alfi dengan senantiasa tersenyum. "Kenyamanan bagi dirimu, itu yang utama, Fa." Lanjut Mas Alfi.


"Mas Alfi, bisa saja. Untungnya Syiffa sudah kebal, jadi sudah tidak perlu kaget dengan gombalan Mas Alfi."Jawabku dengan ikut berdiri.


"Ha.ha.ha. Aku hanya sedang berusaha, Fa. Bukan untuk dirimu seorang, tapi juga untuk diriku." Kata Mas Alfi.


"Karena masih ada Mbak Anita."


"Bisa jadi. Apa kamu bisa memaklumi itu.?" Ucap Mas Alfi.

__ADS_1


"Bukankah kita sudah berjanji saling membantu." Jawabku.


"Iya. Ayo." Jawab Mas Alfi dan kami baru saja hendak beranjak dari tempat kami, saat Pak Panji sudah dekat dengan meja kami.


"Selamat malam, Pak Panji. Tidak menyangka bertemu kembali dengan anda disini. Ini juga tempat yang sangat nyaman." Sapa Mas Alfi lebih dulu, dan sunggingan senyum masih senantiasa tertinggal di bibir Mas Alfi.


Pak Panji batuk sebentar sebelum membuka katanya, namun matanya melirik tajam ke arah diriku. "Selamat malam, Pak Ariz. Sepertinya dari kemarin malam kita senantiasa bertemu, seperti kebetulan yang di sengaja sekali." Ucap Pak Panji dan aku hanya ingin diam saja, meski sejujurnya ingin sekali aku meremas mulutnya yang aku rasa sekarang menjadi sangat pedas.


"Mungkin seperti itu, Pak Panji. Dan dari kebetulan ini, saya harus menambah stok mengaggumi lagi terhadap anda. Ini tempat hanh juga sangat bagus." Jawab Mas Alfi.


Aku sengaja tidak ingin ikut dalam pembicaraan ini, lebih memilih untuk diam dan membuang pandanganku ke arah kakiku, sembari sesekali bergumam pelan.


"Teman anda juga masih sama dengan yang kemarin malam, Pak Ariz." Sentil Pak Panji, dan itu berhasil membuatku mengangkat kepalaku.


Mas Alfi memandang ke arahku yang tengah menatap lekat Pak Panji. Memang apa salahnya jika aku terus menempel dengan Mas Alfi, toh itu tidak merugikan bagi Pak Panji.


"Bukankah itu bertanda bahwa Fafa adalah orang yang spesial buat saya, Pak Panji." Jawab Mas Alfi dengan meraih pergelangan tanganku.


Terlihat sekali, jika rahang Pak Panji mengeras saat Mas Alfi mengucapkan bahwa aku adalah orang yang spesial buat Mas Alfi. Namun, itu hanya sesaat saja karena setelahnya kembali Pak Panji bertutur dengan normal, dengan menekan emosinya.


"Mas, Syiffa ke toilet sebentar ya." Ucapku di tengah kebisuan kedua orang yang sedang saling tatap itu.


"Iya, nanti langsung ke parkiran ya." Jawab Mas Alfi, dan akupun melangkah ke arah selasar yang menuju toilet, sebelum aku benar benar jauh ku dengar Mas Alfi pamit kepada Pak Panji.


Sampai di toilet, aku hanya membasuh wajahku berulang ulang, mencoba menyegarkan pikiran tentang Pak Panji. Dan segera keluar dari toilet begitu ku rasa wajahku sudah mendingin kembali. Pintu toilet baru saja tertutup, dan langkah ku baru saja beberapa jengkal dari pintu, tiba tiba sebuah tangan besar meraih pergelangan tanganku dengan kasar kemudian segera menyeretku tanpa memerdulikan aku yang tengah meronta.


"Kita perlu bicara." Ucap Pak Panji, begitu sudah menutup pintu ruangan yang terlihat seperti ruangan meeting.


Pak Panji segera merah remot yang tergletak di atas meja ujung ruangan, dan aku tidak tahu apa fungsinya itu, karena setelah itu tidak ada yang berubah dari ruangan itu.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Bukankah semua sudah sangat jelas bagi anda, Pak Panji." Aku langsung melangkah menuju pintu namun tidak berhasil membukanya.


"Berusahalah sekuat yang kamu mampu, Fa. Selama kita belum bicara, kamu tidak akan bisa keluar dari ruangan ini." Ucap Pak Panji dengan tenang. "Duduklah, kita bicara baik baik." Lanjut Pak Panji.


Aku mendengus kesal, dan masih berdiri di tempatku. "Bicaralah, aku mendengarkan." Cecarku.


"Itu akan terliaht tidak bagus, duduklah dulu."


"Tidak perlu."


"Sepertinya, kamu memang menginginkan aku memaksamu, Fa." Kata Pak Panji, dan dengan cepat Pak Panji sudah berjalan ke arahku dan kembali meraih pergelangan tanganku, lantas mendudukan aku di sebuah kursi, begitupun dengan Pak Panji sendiri dan langsung duduk di sampingku.


Di putarnya kursi kami berdua, hingga saling berhadapan, dan jarak yang dekat ini, membuat jantung yang tidak tau malu ini justru berdebar hebat, hingga rasanya mau meledak.


"Kembalilah ke Sekolah besok, Fa." Ucap Pak Panji di tengah kesibukanku mengontrol debaran sialan ini.


"Apa saya tidak salah dengar." Jawab ku sepontan sembari membuang pandanganku.

__ADS_1


"Tatap aku saat bicara." Pak Panji berucap dengan nada tegas.


Aku tersenyum mengejek. "Kenapa harus, aku tidak mau." Sejujurnya itu aku lakukan agar dadaku tidak terus berdebar tidak karuan.


"Kamu memilih, memandang Ariz dengan tatapan meleleh, dari pada menatapku. Padahal apa yang akan aku katakan mengenai pekerjaanmu." Dengan cepat kedua tangan Pak Panji sudah menangkup wajahku dan dengan gerakan cepat pula suda memutar kepalaku hingga menatapnya. Dan kembali dada sialan ini berdetag tidak tau malu.


Mata hitam Pak Panji, seakan mengunci mataku dan membuatku serasa tidak berdaya hanya sekedar ingin mengerjapkan begitu saja.


"Mulai besok, kembalilah ke Sekolahan. Kerjakan tugasmu."


"Lepaskan tangan anda Pak Panji." Ucapku dengan mencoba meraih pergelangan tangan Pak Panji.


"Maaf." Ucap Pak Panji dengan melapaskan tangannya dari pipiku.


"Kenapa saya harus mendengarkan Anda, bukankah anda juga yang sudah memecat saya secara tidak hormat, dan jug."


"Berhenti bicara formal kepada ku, Fa." Potong Pak Panji. "Aku hanya ingin, kamu kembali ke Sekolahan mulai besok, dan tidak ada perdebatan lagi."


"Lalu apa yang saya dapat dan kenapa saya tidak punya hak untuk mendebat anda." Balasku.


"Karena, aku." Pak Panji langsung mendengus kesal dan melempar remot yang sedari tadi di pegangnya. "Aku hanya ingin kamu mendengarkan aku, dan tetap berada di bawah pengawasanku sampai aku menemukan buktinya." Lanjut Pak Panji dengan membuang pandangannya dariku.


"Anda tidak berhak mengatur saya, Pak Panji." Kata ku pelan, dan segera menekan open pada remot yang sudah berada di tanganku. "Tidak ada alasan buat saya untuk patuh kepada anda." Lanjutku dan dengan cepat sudah berdiri dan berlari menuju pintu.


"Fa, aku belum selesai. Aku juga tidak suka kamu dekat dengan Ariz." Kata Pak Panji saat aku sudah berhasil membuka pintu dan segera berusaha untuk mengejarku.


"Maaf, saya tidak mendengarnya." Ucapku dan dengan segera menutup pintu di belakangku dan menekan Close pada remot di tanganku.


Aku berjalan dengan cepat menuju depan, dan berhenti di kasir. "Mbak, tolong bukakan pintu di ruangan pertemuan, Bos sampean terkunci di dalam." Ucapku sembari memberikan remot pintu kepada kasir tersebut, yang hanya bengong dan terus memandang ke arahku yang masih tersenyum puas karena sudah berhasil mengunci Pak Panji di dalam ruangan.


"Memang siapa kamu, hingga kau harus mendengarkan dirimu." Gumamku sembari memacu langkahku menuju tempat memarkir mobil Mas Alfi.


Bersambung...


####


Kok begini tho.


Ndak tau, memang harus gitu kali.


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2