Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 59


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gemerlap lampu lampu jalanan menjadi pemandangan yang tak berarti bagiku. Karena, aku seolah tersihir dengan seseorang yang tengah duduk dengan santai di balik kemudi. Pak Panji, tentu saja itu dia. Penampilannya yang santai dengan outfit rumahan membuat mataku menjadi nakal dengan curi curi lirik ke arah Pak Panji. Padahal, aku sudah mewanti wanti agar jangan sampai jelalatan.


Menghela nafas dalam dalam ku putuskan membuang pikiran aneh dari otakku, dan ku barengi itu dengan terus memutar mutar cincin yang berada di jari manisku di tengah obrolan ringan yang sesekali terjadi antara aku dan Pak Panji. Expresi Pak Panji jauh lrbih santai saat ini, ketimbang tadi pas hendak keluar dari Rumah Sakit.


Jelas saja iya, siapa juga yang akan senang melihat mantan Istri bersama dengan laki laki lain. Meski, sikap tenang Pak Panji cukup bisa di acungi jempol, tapi aku dapat menelisik bahwa Pak Panji tidak begitu suka dengan keadaan seperti ini. Mungkin, oleh sebab itu juga Pak Panji mengajak ku untuk keluar daripada harus bertatap muka lebih lama dengan mantan Istrinya.


Tunggu, tapi kenapa mesti aku harus di libatkannya. Aku harusnya bisa tetap disana kan.? Entahlah, itu hanya Pak Panji yang tau jawabannya dan aku terlalu segan untuk menanyakan hal yang tidak perlu aku harus berada dalam ranah itu.


"Apa anda begitu merindukan Ibu Suri, Bu Fafa." Ku toleh sekilas Pak Panji yang masih fokus dengan jalanan di depannya.


"Jujur, iya. Tapi, kalau sudah di rumah suka mau ngilang supaya bebas dari tausiyah, kultum, pengajian dadakan dan apapun itu namanya yang pas untuk mengambarkan sifat suka ngomongnya Ibu Suri sama saya." Jawabku.


"Hahaha, ada ada saja anda ini Bu Fafa. Saya justru meinginginkan Mama saya seperti itu." Menoleh dengan cepat, ku tatap Pak Panji dengan tidak percaya. Dan Pak Panji hanya terkekeh dengan expresiku. "Itu bukti sayang Ibu Suri dengan anda."


"Kalau itu sudah pasti. Karena saya yang paling di sayang sama Ibu Suri. Makanya, sering kena omel. Jangankan di rumah, di sini saja yang kuota katanya mahal masih ngomel ngomel kok."


"Serius.?" Tanya Pak Panji tepat menghentikan mobil karena ada lampu lalu lintas yang menyala merah.


"He'eh. Dan anda tau, itu cuma hal sepele saja. Pasti Ibu Suri sangat gabut tanpa saya


ya di rumah."


"Sungguh besar cinta Ibu Suri anda, Bu Fafa." Mobil kembali berjalan dan setelah beberapa saat mobil kembali memelan seiring dengan lampu lampu yang beraneka warna.


"Andai Ibu Suri bisa jadi Ibu saya juga." Aku tak ingin percaya akan pendengaranku, namun itu sudah terlanjur masuk dalam gendang telingaki. Sayangnya, aku tidak memiliki kesempatan untuk bertanya dengan maksud ucapan Pak Panji, karena Pak Panji sudah langsung mengalihkan pembicaraan dengan mengajak ku turun.


Dibukan pintu mobil untuk ku dan Pak Panji mengajakku berjalan tidak terlalu jauh dari parkiran di depan sebuah bangunan berlantai dua. Pasar Kilang Serai, seperti itulah tulisan besat yang terpampang jelas di depan gedung. Menjejakan kaki ke lantai satu, mataku sudah sibuk dengan deretan baju baju yang menggantung, namun sama sekali tidak ku temui busana kesukaanku, apa lagi kalau bukan daster.

__ADS_1


Aku sempat berfikir, bahwa Pak Panji lupa dengan tujuanku mengajak keluar adalah untuk makan. Bukan untuk belanja baju. Namun, ternyata aku salah besar. Naik ke lantai dua, perutku langsung asik berdendang lagu keroncong seiring dengan bertebaran stan stan penjual makanan. Bergaya rumah Melayu, Food Corner ini sudah begitu jelas mengusung makanan Melayu.


Eit, lagi lagi aku salah lagi. Ternyata, banyak jenis makanan lainnya, tidak hanya masakan melayu saja. Bahkan, di ujung stand yang paling rame aku dapat melihat penjual Es Cream Turky.


"Ayo, Bu Fafa." Pak Panji menyadarkan aku akan mataku yang lebih asik kamana mana daripada mengintilinya. Tergagap akupun mengikuti langkah lebar Pak Panji yang sekarang sudah mensejajarkan berjalannya di sampingku. "Anda mau makan apa, Bu Fafa.?"


Jujur melihat begitu banyak jenis makanan yang baru aku lihat, membuat lidahku ingin sekali berucap Aku mau coba semuanya, Pak Panji. Tapi, aku harus bersikap sedikit elegant di depan Pak Panji. Dan andai itu Mas Alfi, tanpa aku berkata pasti sudah bisa menebak apa yang ada di otak ku saat ini.


"Apa anda mau coba Curry Puff.?" Aku mengaguk begitu saja, tanpa bertanya itu makanan apa.


Aku hanya terus mengikuti Pak Panji memilih makanan untuj kami, hingga kami mendapatkan tempat duduk. Dan aih, kenapa juga tempat duduk ini harus seperti sepasang kekasih saja. Lilin kecil tepat berada di tengah tengah meja segi empat, lampu yang tamaram di tambah agak menjorok masuk ke dalam, membuatku merasa tidak nyaman.


"Tempat yang lain penuh." Ucap Pak Panji, mungkin saja Pak Panji menyadari ketidak nyamananku, oleh karena itu Pak Panji mengatakan situasi yang dapat aku lihat memang sedang ramai sekali.


"Malam minggu, dimana mana pasti rame." Jawabku.


Pak Panji tidak mengatakan apapun setelahnya, karena sedang berfokus dengan posel di tangannya. Tidak lama setelah itu makanan yang di pesan oleh Paka Panjipun datang. Melihat tampilan makanan yang berada di letakan di atas meja, aku bingung sekaligus sangsi. Bagaimana mungkin aku akan kenyang hanya dengan makanan seperti itu.


"Ini Pastel bukan sih.?" Akupun balik bertanya ke Pak Panji. Pak Panji menahan tawanya, kemudian berdehem pelan.


"Dhem, hampir mirip. Cuma isinya daging cincang sama kentang."


"Sama ajakan, Pastel.?"


Kali ini Pak Panji sudah tidak tahan lagi menahan tawanya. "Saya tau apa yang anda pikirkan Bu Fafa. Pasti anda berfikir tidak akan kenyang kan.?"


Blus, wajahku seketika memerah. Dan aku terus merutuki diriku di dalam hatiku. Sumpah, apa ada seorang wanita yang katanya mau elegant sedikit, tapi malah terlihat rakus di depan laki laki. Dan, itu jawabannya adalah aku. Aku ingin sedikit jaim di depan Pak Panji, lagi dan lagi jatuhnya aku selalu terlihat kampungan. Mungkin, karena aku yang tidak terbiasa untuk berbohong. Kecuali, berbohongnya sama Ibu Suri. Wkwkkwkw.


"Saya masih ingat, anda lebih senang makan di warung kaki lima, warung warung tenda. Jangan kwatir ini hanya untuk pengganjal perut saja." Ucap Pak Panji lagi dan itu sukses membuatku seperti kehilangan muka.


Sudan terlanjur basah, akan lebih baik renang sekalian. Lho, kok renang. Pan kecemplung kolam renang, masak Pak Panji mau tak ibaratkan empang, kan kurang pas dengan wajah yang cakep bak Afgansyah Reza, setidaknya aku bisa berhayal menjadi Rossa, meski bak pingan di belah rata. Setidaknya aku memiliki satu kesamaan dengan Rossa, sama sama bertubuh mungil.😅😅😅

__ADS_1


"Yang pasti ini gratis kan, Pak Panji.." Candaku dan tawa Pak Panji pecah tanpa di buat buat. Sementara aku hanya terus mengusap tengkukku dengan tawa garing.


"Iya, Bu Fafa. Gratis." Pak Panji menjawabnya setelah tawanya mereda. "Cepat di makan Bu Fafa. Akan tidak enak jika dingin." Lanjut Pak Panji. Dan akupun menuruti ucapan Pak Panji.


Tidak butuh waktu lama, dua potong Pastel sudah berpindah di lambungku. Dan segelas besar teh berbusa kini aku raih, menyeruputnya dengan cepat, dan hampir saja menyembur ke wajah Pak Panji. Karena tangan Pak Panji yang menyentuh ujung bibirku.


"Sudah kayak anak kecil saja, makan belepotan." Tak dapat terelakan lagi, Teh Tarik yang seharusnya masuk ke tenggorokanku justru salah alamat dengan masuk ke rongga hidungku, membuatku terbatuk batuk hebat lantaran ucapan Pak Panji sekaligus dengan sikpanya yang tanpa jijik menjilat jempol bekas mengusap makanan di ujung bibirku..


.


.


.


.


.


####


Eaa, Bu Fafa. Pak Panji kan pernah bilang tidak mau banyak kata, cukup dengan tindakan.


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2