Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 38


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Asal kopi mengepul di udara, membawa aroma khas yang menenangkan. Dan tampak jelas di mataku bagaimana Kanjeng Dhoro dan Mas Alfi sangat menikmati secangkir kopi yang sedang tersaji di meja di depan mereka. Sementara aku dan Ibu Suri hanya sebagai penonton saja.


Aku rasa saat ini juga waktu yang tepat untuk aku membicarakan soal kejadian tempo hari dengan kedua orang tuaku, termasuk juga dengan Mas Alfi. Sudah ku siapkan segala kata katanya, aku hanya sedang menyipkan moment serta mentalku dari cecaran Ibu Suri.


"Mas Alfi sudah berapa lama bekerja di Haikal Trans.?" Tanyaku ke Mas Alfi untuk memulai misiku menggiring arah pembicaraan ini.


"Lumayan lamalah, Fa. Mulai dari selesai kuliah dan di tempatkan di kantor cabang." Jawab Mas Alfi dan terlihat sedikit heran dengan pertanyaan yang ku ajukan.


"Hemm, lama yah. Mas Alfi sangat menyukai pekerjaan Mas Alfi..?" Tanya ku lagi.


"Ya, bukan seharusnya seperti itu, Fa. Dan itu memang passion saya.?"


Aku menghela nafasku dalam dalam, dan memandang ketiga orang yang sedang menatapku dengan intens. "Syiffa juga menyukai bahkan mencintai pekerjaan Syiffa. Juga berusaha sangat bertanggung jawab dengan itu, tapi Syiffa kehilangan itu." Ujar ku pelan dan membuat Mas Alfi juga orang tuaku ternganga untuk sesaat, lantas berujar dengan hampir bersamaan.


"Apa maksud mu, Fa." Tanya Kanjeng Dhoro begitupun Ibu Suri, sedangkan Mas Alfi hanya diam dan terus menatapku dengan tatapan sendunya.


Kembali ku tatap semuanya dan menghela nafasku dalam dalam. "Syiffa di berhentikan dari pekerjaan Syiffa." Ucapku pelan dan aku menjeda ucapanku untuk memastikan expresi mereka yang terkejut sekaligus heran dan pelan bibirku kembali ku buka untuk menuturkan kejadian kemarin hingga wajah Ibu Suri berubah mengeras dan sudah siap untuk meledak menyemprotkan amarahnya kalau saja tidak ada Mas Alfi di antara kami.


Dan untungnya ada Mas Alfi, hingga membuat amarah Ibu Suri tertahan karena pasti akan gensi. Masak marah marah di hadapan calon mantu..🤭🤭, bisa kabur terbawa angin lihat telanta presenter Ibu Suri yang sangat mumpuni.


"Kenapa kamu tidak mengajukan pembelaan, Fa." Ucap Mas Alfi.


"Syiffa, mau. Tapi, pasti nanti akan berimbas pada Pa'e. Jadi lebih baik Syiffa diam saja."

__ADS_1


"Iya, memangnya kamu tidak bisa mengajar di tempat lain apa." Ucap Ibu Suri dengan tangan yang masih mengepal.


"Kata kata Nak Alfi bisa di benarkan, Fa. Setidaknya kamu harus membersihkan nama kamu dulu di hadapan Pak Panji, agar semuanya jelas dan kalaupun kamu hendak kerja di tempat lain pasti juga tidak akan jadi beban." Tutur Kanjeng Dhoro.


"Benar yang di katakan Pa'e, Fa. Nanti saya bantu jelaskan pada Pak Panji soal itu, atau ke Kepala Sekolah kamu." Timpal Mas Alfi.


"Tidak perlu, Mas. Syiffa rasa memulai dengan yang baru juga tidak akan ada salahnya. Juga Syiffa mau ngerasain jadi pengangguran beberapa waktu, pasti rasanya kayak gimana gitu, sembari menikmati Tausiyah tiap hari." Ucapku dengan sudah kembali menyungingkan senyum ku dan itu berhasil membuat Ibu Suri memukul bahu ku pelan.


"Kalin ngobrol di depan sana, Bu'e mau lihat Sinetron." Ucap Ibu Suri mengusir aku juga Mas Alfi ke teras. Dan tampak sekali wajah Mas Alfi yang bingung saat mendegar Ibu Suri bilang mau lihat Sinetron.


"Hemm, Mas Al ayo ngobrol di teras sama Andin." Ucapku dengan spontan dan kembali bahuku di tabok oleh Ibu Suri dan Mas Alfi lagi lagi hanya menatap kami berdua dengan wajah herannya, karena masih belum mengerti tentang apa yang kami bicarakan. "Ayo, Mas Al-Fi." Lanjutku dengan masih menggoda Ibu Suri.


"Fa." Kata Kanjeng Dhoro, dan aku hanya melempari senyum atas ultimatum yang di berikan oleh Kanjeng Dhoro agar berhenti menggoda Ibu Suri. "Sudah ke teras sana." Lanjut Kanjeng Dhoro namun Mas Alfi masih senantiasa duduk di tempatnya hingga membuatku tidak bisa keluar dari tempatku karena aku berada di pojokan.


"Pak, Buk. Alfi mau minta ijin mengajak Syiffa besok sore untuk keluar sekalian untuk mencari cincin tunangan buat kami." Ucap Mas Alfi dengan sopan dan juga pelan, hingga membuatku merasa begitu tersanjung karena begitu di hormati sedemikian rupa olehnya. Coba bayangkan, mau keluar besok saja pamitnya sekarang. Bukankah itu sangat manis..


"Terima kasih, Pak." Jawab Mas Alfi.


"Sudah sana ke teras, kalau tetap disini nanti akan berisik sama Bu'e." Ucap Kanjeng Dhoro lagi. "Fa, ajak Nak Alfi ke depan." Lanjut Kanjeng Dhoro dengan menatapku.


Aku tersenyum cengengesan. "Gimana Syiffa keluar, tempat Syiffa di pojok." Kanjeng Dhoro juga Ibu Suri segera bergeser begitu mendengar ucapanku. "Ayo Mas Al-Fi ke depan." Lanjutku begitu sudah berdiri di samping kursi Mas Alfi yang langsung mendapat delikan tajam dari Ibu Suri.


Kami duduk di teras sembari berbincang bincang, kadang membicarakan kesukaan Mas Alfi, kadang juga menbicarakan hal sepele yang membuat tawa kami pecah. Hingga waktu seperti bergerak lebih cepat dari sebelumnya, dan saat Mas Alfi terahir kali menengok jam di pergelangan tangannya, aku berinisiatif untuk memangilkan Kanjeng Dhoro.


Aku baru berdiri, namun harus terhenti oleh kata kata Mas Alfi yang lagi lagi membuatku harus menelan salivaku dengan susah payah. "Aku tidak keberatan kamu menjadi pengangguran, Fa. Dan aku bersedia menanggung pengangguran seperti kamu, juga aku sanggub untuk membelikan kamu Daster meski gajiku tidak seberapa." Ucapan Mas Alfi terhenti saat aku menolehnya dan ulasan senyum tipis kembali di sungingkan oleh Mas Alfi.


"Mungkin hari ini usaha yang aku rintis belum begitu berkembang, dan aku yakin nanti akan terus berkembang saat ada tangan seorang wanita yang menjadi makmumku ikut terulur berdo'a bersamaku." Kata Mas Alfi lagi di tengah keterpakuanku dengan kata kata manisnya.

__ADS_1


"Mas, Syiffa." Ucapku, namun tidak tahu harus melanjutkan kata seperti apa karena seberapa keras aku berusaha untuk merangkai kata yang tepat untuk membalas ucapan Mas Alfi, namun sama sekali tidak terbersit sedikitpun kalimat yang tepat dan hanya menunjukan gejolak gelisah di wajahku saja.


"Tidak apa, Fa. Kita kan sudah sepakat sebelumnya, bahwa kita akan saling mengenal. Dan memang aku saja yang terlampau aktif mendekat kepadamu hingga membuatku merasa ambigu." Ucap Mas Alfi lagi masih mempertahankan senyum di bibirnya. "Namun, percayalah, Fa. Aku tidak akan pernah memaksa mu, jika kamu belum siap untuk menjalani bahtra rumah tangga bersamaku. Dan kita akan membuat komitment yang dimana kamu dan juga aku akan merasa nyaman sebelum pernikahan itu berlangsung." Lanjut Mas Alfi.


Aku ini orang bodoh atau apa sebenarnya. Harusnya dengan hanya mendegar ucapan Mas Alfi yang seperti itu, hatiku sudah bisa cukup yakin bahwa dia adalah orang yang sangat tepat bagi masa depanku, terlebih lagi sudah pasti bisa membimbingku ke arah yang lebih baik dengan ilmu agamanya. Tapi, hati ini terlalu bodoh untuk mengikuti logika, malah dia asik teringat oleh senyum orang yang nyata nyata telah mematahkan seluruh impiannya menjadi seorang pengabdi bagi Tuna Daksa.


"Tidak perlu kamu jawab sekarang, Fa. Kita masih punya banyak waktu untuk membicarakan itu nanti. Panggilkan Pa'e juga Bu'e, ini sudah malam." Kembali Mas Alfi berucap dan membuat aku kembali kepada kenyataan di depanku dan meninggalkan senyum seseorang yang hanya dapat di jangkau lewat mimpi belaka.


Aku pun berjalan masuk ke dalam rumah, dan keluar lagi dengan Kedua orang tuaku yang ikut serta bersamaku.


Setelah pamitan basa basi dengan kedua orang tuaku dan juga dengan ku, Mas Alfipun melangkah meninggalkan rumah kami dengan di iringi perasaan ku yang entah seperti apa. Dan satu yang pasti, bahwa aku masih belum bisa membuka hatiku sepunuhnya untuk orang yang tidak akan ada celanya seperti Mas Alfi. Andai saja Mas Alfi dulu waktu Kuliah mengenalkan dirinya padaku tentu akan lain yang terjadi saat ini...


Bersambung...


####


Haduh angel wes angel, Fa.


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2