
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Masih POV Pak Panji.
Hari ini setelah, mengurus dan memastikan apapun untuk Uul. Aku bergegas mengechek Caffe yang berada di luar kota, dan membujuk Uul agar tidak rewel saat aku meninggalkannya. Ada satu syarat yang aku sedikit keberatan meski aku tidak mengatakan hal itu kepada Uul, dan hanya menganggukinya pelan saja tanda setuju meski dalam hati aku masih mempertahankan egoku.
Kebetulan itu lagi dan lagi terjadi kembali, bahkan kali ini di Kota B ini, aku kembali harus melihat Fafa. Dan yang nyaris membuatku kehilangan kendali saat ku lihat Fafa tengah bersama dengan Ariz. Bukan kebersamaan mereka saja yang membuat ku tidak ingin memperhatikan mereka, tapi lebih tepatnya adalah ke akraban sikap mereka berdua.
Aku tidak tau, alasan apa yang mendasari diriku untuk menarik tangan Fafa dan menyeretnya masuk ke dalam ruangan meeting meski dia terus mengelak dengan berusaha melepaskan tangannya dariku. Aku tidak yakin dengan alasan ku, karena yang aku tau, aku hanya tidak suka melihat Fafa bersama dengan Ariz. Konyol memang.
Fafa terus mendebatku, dan aku terus menekankan keinginanku yang tampak tidak wajar baginya. Karena aku memaksanya untuk kembali mengajar di Sekolahan, sementara Fafa bersikukuh ingin aku mengungkap terlebih dulu kasus Uul. Bukan aku tidak mau mengungkapnya saat ini, hanya saja bukti yang aku dapat belum utuh sepenuhnya.
Berdebatan sengit ku dengan Fafa yang keras kepala terus saja berlanjut, hingga Fafa berhasil meraih remot untuk membuka pintu meeting, lantas mengunciku dari luar. Kali ini ku biarkan Fafa pergi, dan memilih melihatnya dari jendela kaca. Jelas terlihat olehku, Fafa yang tengah berjalan ke parkiran dengan Ariz yang menunggunya dengan senyum hangat.
Melihat mereka berdua saling tersenyum dengan hangat, dadaku rasanya seperti terbakar dan amarah yang tadinya sudah padam kembali bangkit. Kotak tissu sudah berhamburan di lantai saat pintu ruang meeting di buka oleh salah satu karyawan, dan tanpa memerdulikan lagi pekerjaan yang belum usai, akupun langsung bergegas pergi meninggalkan caffe dan memilih kembali ke Kota A.
Kebetulan masih tidak ingin usai di sana saja dan mengantikan dengan keburuntungan bagiku. Tapi, alih alih aku dapat kembali tenang, justru pemandangan di mini market depanku menambah membara bara yang berada di dadaku. Dengan satu pukulan keras di setir mobil ku, aku memilih melajukan mobilku dan meninggalkan dua orang yang tengah menata belanjaannya ke dalam mobil.
Waktu berlalu, dan aku menikmati kesibukan ku di perusahaan sekaligus di beberapa caffe cabang yang tengah aku kembangkan, tentu saja tanpa embel embel nama Haikal di belakangnya. Itu berhasil mengalihkan fokusku tentang Fafa, hanya saja hari ini, Uul yang mengamuk menginginkan Fafa membuatku harus berusaha keras untuk menenangkannya dengan berusaha sangat keras untuk menghubungi Fafa, namun sia sia, karena Ponselnya Faga berada di luar jangkauan.
Pada saat aku hendak datang menemui Fafa di rumahnya, langkahku segera terhenti dengan satu panggilan dari seseorang yang aku suruh menyelidiki soal kejadian di gudang kosong yang mengakibatkan Uul terluka.
__ADS_1
Aku menggeram sangat kesal, saat aku tahu siapa dalang di balik kejadian itu, dan tanpa pikir panjang akupun langsung mendatangi kerumahnya untuk memuntahkan segala amarahku kepada orang yang tidak berperasaan. Di balik sikapnya yang oemah lembut, dengan tutur kata yang sopan. Diana benar benar seorang monster.
Bagaimana tidak di sebut Monster, Diana begitu tega merencanakan hal keji untuk menarik perhatianku, dengan cara pura pura menculil Uul dan menolongnya. Tapi, beruntung Fafa menyelamatkan Uul terlebih dahulu sehingga membuat Diana membelokan rencananya dengan mengkambing hitamkan Fafa.
Dan satu lagi yang tidak ingin aku percayai adalah seseorang yang tengah bersama Diana saat aku menemuinya. Laki laki yang pernah aku lihat menyeret Fafa di pinggir jalan waktu itu. Dan itu berhasil membuatku berfikir keras, sesungguhnya apa yang membuat laki laki itu ingin mencelakai Fafa dengan cara licik seperti ini.
Jika bukan karena Diana seorang perempuan, sudah pasti Diana akan ku hajar habis habisan dengan tanganku sendiri, dan tidak perlu melibatkan polisi dalam urusan ini. Dan juga jika bukan karena Donni yang menghalangiku, pasti laki laki sialan itu sudah meregang nyawa di rumah Diana pula. Aku anggap itu sebagai belas kasihanku terhadapnya sehingga menyerahkan mereka berdua pada Polisi.
Setelah kekacaun panjang siang ini, aku kembali menemui Uul yang sudah mulai membaik tapi banyak maunya. Satu saja maunya yanh sulit sekali untuk aku kabulkan, adalah bertemu dengan Fafa. Bahkan seolah olah dunia juga sedang ikut menghukumku, dengan tidak memberiku kesengajaan untuk bertemu dengan Fafa di suatu tempat.
Berulang ulang aku mencoba menghubunginya, namun tetap saja hasilnya saja, nomernya sedang berada di luar jangkauan. Hingga pada saat malam sudah larutlah, aku baru bisa terhubung dengan Fafa.
Ku utarakan maksudku mengenai Uul yang ingin bertemu dengannya, dan sejujurnya aku ingin bertemu dengan Fafa juga, menghabiskan waktu dengan ngobrol dengannya. Karena, setiap kali aku mengingat tingkah konyol Fafa di depanku, ada perasaan ingin selalu melihat itu, dan harapan Fafa terus berada di dekatku. Dan yang terpenting adalah aku ingin menjelaskan tentang kejadian tadi siang, sekaligus meminta maaf kepada Fafa.
Dan saat pagi kembali datang, aku tak ubahnya seperti anak remaja yang tengah kasmaran. Sudah berpuluh puluh kemeja, aku kenakan dan aku lepas kembali, dan aku selalu merasa ada yang kurang setiap kali melihat pantulan diriku di cermin. Hingga pada ahirnya aku menyerah pada kemeja kotak kotak warna biru tua.
Masih dengan senyum yang melebar sambil sesekali aku mengikuti lirik lagu yang mengalun di audio mobil, akupun terus memacu pedal gasku untuk sampai di kediaman Fafa. Dan begitu aku sampai di rumah Fafa, untuk sesaat aku masih belum menyadari bahwa tamu yang sedang berkunjung di rumah Fafa bukan sekedar tamu biasa.
Baru saat aku melihat senyum kedua orang yang berpakaian senada dengan tangan mereka yang terangkat menunjukan cincin di jari manis mereka, aku menyadari aku telah terlambat. Dan seluruh kebahgiaanku lenyap di gantikan dengan rasa yang tiba tiba bercampur aduk di dada.
Marah sekaligus kecewa, tapi tidak tahu itu aku tujukan untuk siapa, karena semua kesalahan ada pada diriku yang telah tidak mempercayai Fafa dan terlebih tidak ingin mempercayai perasaanku sendiri, bahwa aku telah jatuh cinta pada Fafa sejak aku mulai nyaman Fafa berada di dekatku.
Bersambung..
__ADS_1
POV Pak Panji end.
.
.
.
.
.
###
Maaf untuk Pak Panji Slow dulu enggeh, karena terlanjur jatuh hati sama Gus Ali..🤭🤭
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1