
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Loh Pak Panji..?" kata Ibu Suri setelah tersadar dari kebengonganya.
"Bu.." sapa Pak Panji sambil mengangguk pelan ke Ibu Suri, "Saya cuma mengantar Syiffa, dan sepertinya sedang acara keluarga, kalau begitu saya permisi,.." ucap Pak Panji dan segera berlalu dari pintu sebelum masuk kedalam rumah..
"Maaf saya permisi.." ucap ku dan mengikuti Pak Panji yang tengah memakai sepatunya kembali..
"Maaf Pak, saya tidak tahu kalau di rumah sedang ada acara.." ucap ku ke Pak Panji.
"Tidak apa apa Fa, saya ngerti, masuklah akan tidak baik jika kamu tetap di luar, karena itu sepertinya tamu untuk mu.." ucap Pak Panji sembari mengulas senyum perhatian padaku..
"Mari saya antar.." ucap ku sembari menggunakan sandal jepit Ibu Suri yang berada di depan..
"Tisak perlu.." jawabnya dan bebarengan dengan itu ponselnya berbunyi dan dengan cepat dia mengangkatnya, aku hanya memperhatikan dia yang tengah menerima telfon sembari berjalan menjauh meninggalkna halaman rumah kami, dan tak lama kemudian kembali lagi dengan Pak Sahri berada di belakangnya menuntun motor ku.
"Trimakasih Pak Sahri.." ucap ku sembari tersenyum simpul...
"Iya Mbak Fafa, sama sama.." ucap Pak Sahri dan kembali berdiri di samping Pak Panji setelah menstandarkan motorku di pinggir dua mobil punya tamu kami.
"Kami permisi Bu Fafa.." ucap Pak Panji, memohon diri pamit kepadaku..
"Trimakasih banyak Pak Panji, Trimakasih banyak Pak Sahri.." jawab ku masih dengan mengulas senyum di bibir ku, sesungguhnya aku kwatir sekali dengan apa yang terjadi di dalam.
"Sampaikan salam saya buat Ibu Suri, maaf sudah mengacaukan acaranya, Assalamu'alaikum.." ucap Pak Panji dengan tersenyum simpul seperti tau kegelisahan hati ku. Ya jelas saja dia tahu, sebagai pembisnis sudah barang tentu dia bisa membaca gerak gerik orang dengan sangat mudah, apa lagi melihat aku yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit kaku dan tangan tanpa henti hentinya saling bertautan dan senyumnya itu entah apa artinya, mengejek kah atau semangatkah atau justru merasa terhibur dengan kegelisahan ku.
"Iya, Wa'alaikumussalam.." jawab ku dan dengan mengantar Pak Panji sampai di depan pintu gerbang, dan ternyata di sana sudah berjajar tim Ghibah yang di komandani oleh Bu Gito. Melihat aku melambai ke arah Pak Panji bisik bisik khas Bu Gito sudah barang tentun memberi wejangan kepada timnya, serta menambah bumbu penyedap agar lebih sedap nanti di pengajian, dan dapat ku pastikan bakal jadi tranding topik diri saya sore nanti di acara pengajian yang di hadiri juga oleh Ibu Suri.
Aku masih berdiri di temapt ku, memandang Pak Panji sampai masuk kedalam mobilnya, bahkan sebelum masuk tadi Pak Panji sempat juga menyapa Tim Ghibah dengan menggukan kepala serta tersenyum simpul.
Mobil Pak Panji melesat ke meninggalkan perumahan kami, dan aku pun bergegas hendak masuk lagi ke rumah namun harus terhenti karena panggilan mesra Bu Gito, yang aku tau maksudnya untuk mengorek informasi dari ku tentunya..
"Syiffa, tunggu dulu Nak.." ucap Bu Gito sembari berjalan ke arah ku yang berada di ambang gerbang rumah ku.
"Enggeh Buk,.." jawab ku..
"Nanti Ibu mu berangkat tidak ya pengajiaanya..?" tanya Bu Gito sambil matanya melongak ke halaman rumah ku.
"Tidak tahu Bu..?" jawabku..
"Sepertinya ada tamu banyak ya.." katanya lagi..
"Iya Buk.."
__ADS_1
"Mobilnya saja sampai dua, jelas itu ada acara yang sedikit istimewa ya.." kata Bu Gito lagi, seraya matanya terus saja mengawasi ke dalam rumah yang kadang terdengar tawa dari sana..
"Saya juga kurang tahu Bu, maaf saya masuk dulu Bu.."
"Masak sih enggak tahu Fa, kan mereka tamu kamu juga.." kata Bu Gito sambil memegang tangan ku agar berhenti dari pergerakan ku..
"Maaf Bu, saya benar benar tidak tahu nanti saja tanyakan sama Ibu Saya.." jawab ku dengan sopan..
"Tapi mobilnya bagus yang ngantar kamu tadi loh Fa, kamu pinter kalau milih pacar.." aku memutar mata ku jenggah mendengar penuturan dari Bu Gito, sudah pasti di otaknya itu sudah tersusun banyak drama yang akan menjadi inti dari pertemuan rutinya, kalau kata Bu Tejo mah ibu solutip,😅😅😅.
"Maaf Bu, saya permisi.." ucap ku dan sambil melangkah masul kedalam lewat pintu samping tanpa memerdulikan Bu Gito yang masih berada di depan ambang gerbang rumah ku dengan komat kamit tidak jelas.
"Empa..." panggil Silvi saat aku baru saja masuk ke dapur lewat pintu samping.
"Mbak, baru datang ya.." tanya Silla sambil menyiapkan makanan di atas meja..
"Sudah agak tadi sih. Memang tamu dari mana Sill..?" tanya ku ke adik ku, sembari tangan ku mengambil air minum lantas dengan cepat meneguknya, karena rasanya begitu gerah di luar tadi pas ketemu Bu Gito..
"Dari kota D Mbak, temannya Pak E katanya, mau lihat sampean juga soh katanya..." kata Silla, sontak membuat air yang ingin aku teguk menyembur keluar mengenai Silvi yang berada di bawah ku..
"Empaaa.. hu..hu..hu.." teriak Silvi sambil menangis.
"Maaf, Empa enggak sengaja.." jawab ku.
"Kok bisa sih Mbak, sini sayang tak bersihin...?" tanya Adik ku.
"Mending Mbak Syiffa ganti baju dan nemuin tamunya sebelum Bu'e datang sambil ngomel halus .." ucap Silla..
"Males ahh Sill, ucap ku dan malah duduk di kursi, dan tidak meleset ucapan dari Silla, baru saja mulut kami tertutup membicarakanya, Ibu Suri sudah datang dan berbicara pelan tapi dengan nada perintah yang tidak bisa di bantah..
"Sill, buru di siapkan makananya di meja depan dan kamu Fa buruan ganti baju mu sebelum Pa'e pulang.." kata Ibu Suri..
"Kenapa sih pakai baju ini saja.." jawab ku.
"Bu'e bilang buruan ganti baju, dan benerkan wajah kamu yang kusam itu.." kata Ibu Suri dengan membulatkan matanga tandanya dia sedang marah yang di tahan agar tidak suaranya sampai keluar..
"Biasanya juga gini gini aja.." ucap ku sambil berdiri dari tempat ku duduk..
"Silvi biar disini saja, biar kamu enggak kelamaan di kamar.." ucap Ibu Suri ku, dengan mengerucutkan bibirku ku dudukan Silvi di tempat duduk ku barusan.
"Iya Pak Panji sudah pulang.." tanya Ibu Suri..
"Pak Panji..?" tanya Silla bingung..
"Sudah, ceritanya panjang nanti saja do bahas kalau enggak mau Bu'e tausiah lagi.." ucap ku.
__ADS_1
Mumpung Ibu Suri sedang tidak bisa triak triak memakiku akan senang sekali menjahilinya sedikit saja..
Tidak perlu waktu lama bagiku untuk bersih bersih dan memoles wajah ku yang sesungguhnya sudah cantik ini, hanya dengan bermodal bedak bayi dan lipstik semua sudah tampak sempurna, lagi ini bukan acara kondangan atau wisuda yang mengharuskan aku pakai make up tebal.
"Tok..Tok..Tok.." suara ketukan pintu kamar ku dari luar, dan ini tidak biasa karena biasanya Ibu Suri akan langsung nyelonong saja tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk saja Bu'e.." ucap ku.
"Ayo cepat keluar.." kata Ibu Suri saat membuka pintu dan hanya melongak ku dari pintu saja..
"Iya.." jawab ku lalu keluar mengikuti langkah Ibu Suri, hingga sampai di ruang tamu.
"Duduk sini Nak.." ucap Kanjeng Doro, akupun mengikuti alur yang di buat oleh Ibu Suri dan Kanjeng Doro buat ku.
"Ini anak saya Syiffa, Mas Sofyan, yang dulu sering ikut saya ke rumah sampean.." ucap Kanjeng Doro, dan aku memandang ke arahereka semua, yang tadi belum sempat aku perahatikan satu satu..
"Cantik ya Bune.." kata teman Kanjeng Doro..
"Iya Pak, bukan begitu Riz.." kata Ibu yang duduk di samping Ibu Suri lalu melempar pandang ke arah seorang pemuda yang duduk tepat di sebrang ku, dan kemana saja tadi mataku hingga aku baru saja sadar ada seorang pemuda hitam manis yang duduk memperhatikan aku.
"Loh, Sampean Mas...?" tanya ku begitu faham dengan seseorang yang tengah tersenyum simpul ke arah ku..
Bersambung....
####
"Mak jangan di anak tirikan dung saya ini, mentang mentang saya bukan anak Pesantren, seperti Zilla, ataupun Bunda Ikah.."
"Maaf ya Fa, bukan maksud hati mau menganak tirikan tapi ya gimana, untuk menulismu Emak butuh kerja keras banget..😅😅😅"
"Halah alasan saja Mak e iki, emboh wz Mak, pokok aku protesssss, Emak mah kebanyakan Ghibah sama Geng Rewel.."
"Ya gimana tow Fa, tanpa Geng Rewel dirimu tidak akan lahir, wz tah percayalah akan indah pada waktunya.."
"Tettt.. itu lagu punya Dewi Persik Mak...🤣🤣🤣🤣.."
Intermezzo saja yah...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi..
__ADS_1
@maydina862