Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 44


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Aku masih terus cengingisan begitu masuk ke dalam mobil Mas Alfi, dan mendapati Mas Alfi yang menatapku dengan raut penuh tanya. Namun, sama sekali tidak keluar pertanyaan dari bibir tebal Mas Alfi, hingga mobil bergerak perlahan hendak meninggalkan tempat parkir.


Mataku yang tanpa sengaja mendongak ke atas, menangkap bayangan Pak Panji yang tengah berdiri di samping jendela kaca, kemungkinan adalah tempat kami tadi berbicara. Lantas, ku giring mataku menjelajahi seluruh bangunan yang ada di lantai dua. Deg, dadaku rasanya langsung berhenti berdetag saat terlihat di mataku bahwa selasar yang tadi aku lewati kacanya tembus pandang dan dapat terlihat jelas gerak gerik yang tengah berada di sana dari tempatku saat ini.


Bukan tidak mungkin, jika Mas Alfi melihatku yang tengah di tarik oleh Pak Panji, hingga masuk ke dalam ruangan yang berada di sebelahnya. Dan tentu wajah penuh tanya Mas Alfi semakin bertambah heran, saat dia melihat aku yang calon tunangannya kembali menemui dia dengan wajah bahagia. Bukankah ini seperti tertangkap basah sedang selingkuh oleh calon Tunangan.


"Mas, apa Mas Alfi tadi melihat sesuatu..?" Tanyaku dengan nada pelan, setelah cukup lama kami diam dan juga mengumpulkan keberanianku untuk bertanya kepada Mas Alfi. Harap harap cemas hatiku, menanti jawaban dari Mas Alfi.


"Melihat, Pak Panji menyeret mu secara paksa yang kamu tanyakan.?" Jawab Mas Alfi yang lebih tepatnya sekaligus bertanya.


Gluk.. Aku menelan saliva ku dengan cepat, hingga rasanya seperti menelan segumpal nasi kering yang langsung melukai tenggorokanku, terlebih saat Mas Alfi menoleh ku sebentar dengan menambahkan ulasan senyum tipis kepadaku.


"Awalnya, aku ingin berlari menarik mu. Tapi, aku rasa kalian memang membutuhkan untuk berbicara hanya berdua saja." Lanjut Mas Alfi, kemudian kembali kami sama sama diam sampai sampai helaan nafas dalam Mas Alfi terdengar oleh ku.


Asli ini rasanya seperti aku yang sedang selingkuh lalu ketahuan oleh pacar dan langsung di introgasi di tempat. Dan yang membuat aku semakin merasa bersalah adalah, Mas Alfi yang masih terus saja tersenyum kepadaku meski sedang menanyakan tentang apa yang terjadi.


"Pak Panji menyuruh Syiffa untuk kembali ke Sekolahan, Mas." Kataku pelan, saat mobil Mas Alfi sudah melaju di jalan beraspal hitam yang basah oleh air hujan.


"Terus.?" Kata Mas Alfi tanpa melepas tatapannya ke depan.


"Ya, jelaslah Syiffa menolak, di kira Syiffa ini apa, kayak enggak ada kerjaan lain saja." Ucapku dengan nada sebal karena teringat akan wajah Pak Panji.


Hening sesaat, dan hanya suara dari mesin mobil yang menderu mengisi kediaman kami berdua.


"Kalau menurutku, Fa." Jeda Mas Alfi, dengan memandang ke arahku di sertai dengan ulasan senyum tipis khasnya lantas kembali menatap ke arah jalan di depan kami. "Tidak ada salahnya, kamu kembali bekerja di sana."


"Kok gitu, ini terasa tidak adil Mas. Setelah apa yang di lakukan Pak Panji terhadap Syiffa, kayak Syiffa manusia yang tidak punya malu saja. Syiffa di pecat dengan tidak hormat, padahal Syiffa sudah menjelaskan semuanya itu bukan kesalahan Syiffa." Omel ku ke Mas Alfi, padahal Mas Alfi hanya bertanya saja, justru mendapat pelampiasan atas apa yang sesungguhnya aku ingin katakan kepada Pak Panji. "Setidaknya minta maaf gih, kembalikan nama baik saya. Masak yanga katanya sultan, ginian enggak peka." Lanjutku dengan ngedumel dan Mas Alfi semakin melebarkan senyumnya mendengar penuturan ku yang terahir.


"Jadi, jika semua di kembalikan oleh Pak Panji seperti sedia kala, kamu akan bersedia kembali ke Sekolahan.?" Tanya Mas Alfi.


"Tergantung, dari Mas Alfi mengijinkan apa tidak." Jawabku dan lagi lagi senyum Mas Alfi semakin melebar saja.


"Aku anggap itu sebagai rayuan, Fa." Ucap Mas Alfi dengan menatapku sebentar, dan aku rasa aku telah salah bicara. "Kalau menurutku, Fa. Kamu berada di sana karena anak anak itu, dan itu semua pekerjaan yang sangat mulia, tidak akan ternilai oleh rupiah yang kamu hasilkan disana. Jadi kembalilah ke sana, tapi setelah acara pertunangan kita." Lanjut Mas Alfi, dan kali ini akulah yang melebarkan senyum ku mendengar penuturan Mas Alfi.


"Pertunangan." Gumam ku pelan, namun pikiranku kembali ke masa enam tahun silam. Sejujurnya jika boleh berkata jujur, aku masih sedikit takut mengulang pertunangan. Takut, jika kekacauan akan terjadi lagi, dan aku dan keluarga ku yang akan menanggung semuanya kembali.


"Ya, dengan begitu aku memiliki sedikit hak untuk menyuruhmu untuk tidak bisa dekat dekat dengan laki laki lain, dan nanti setelah cincin tersemat di jari manis mu, dunia akan tau bahwa kamu adalah calon ibu dari anak anak ku." Lanjut Mas Alfi, dan kali ini aku benar benar tersedak oleh saliva ku hingga terbatuk batuk hebat mendengar penuturan Mas Alfi.

__ADS_1


"Sedikit norak sih, Fa. Tapi, jika boleh jujur aku ini tipe laki laki pencemburu. Ha.ha.ha." Lanjut Mas Alfi dengan tawa pecah melihat expresi ku yang masih saja tidak menentu mendengar penuturan Mas Alfi.


Lantas setelahnya kami hanya terus saja bercanda, dan membual selayaknya pasangan muda yang sedang kasmaran, saling merayu dengan kata kata gombal receh. Hingga mobil yang kami tumpangi berbelok di halaman rumahku dan tampak di teras Ibu Suri bersama Kanjeng Dhoro serta Si Kuncrit Empi.


Aku keluar lebih dulu, dan langsung menemui kedua orang tuaku lantas meraih Empi dalam gendonganku. Sedang Mas Alfi sibuk dengan oleh oleh yang di titipkan oleh Ibunya Mas Alfi.


"Maaf, Pak, Buk. Alfi tidak bisa menepati janji untuk pulang tepat waktu, tadi jalanan macet jadi kami memutuskan untuk istirahat sebentar dari pada terjebak macet di jalan." Jelas Mas Alfi begitu selesai mencium kedua tangan orang tuaku dan mendudukan dirinya di samping ku.


"Tidak apa apa, Nak Ariz. Bagaimana kabar orang tua mu, semua baik baik saja kan." Jawab Kanjeng Dhoro.


"Alhamdulillah, Pak. Dan Bapak juga kirim salam buat njenengan berdua."


"Alaika Wa'alaikumussalam. Gimana tadi Syiffa disana bikin Ibu Nak Ariz kesel tidak." Jawab Ibu Suri hingga membuatku langsung bereaksi dengan cepat sembari membulatkan mataku.


"Bu'e, pertanyaannya merendahkan Syiffa banget." Potongku.


"Tidak Buk, Bunda sangat senang dengan kehadiran Syiffa disana, dan juga tidak sabar menunggu minggu depan." Jawab Mas Alfi dengan memandangku sebentar, dan itu sukses membuat mukaku kembali memanas. Karena tidak menyangka Mas Alfi berani berkata seperti barusan di depan kedua orang tuaku.


"Alhamdulillah." Ujar Kanjeng Dhoro. "Iya, kalian sudah makan apa belum.?" Lanjut Kanjeng Dhoro.


"Fa, cepat siapkan makanan tadi Bu'e sudah masak." Timpal Ibu Suri.


"Betul, Bu, Pak." Jawab Mas Alfi sembari melihat jam di tangannya. "Empi, kok belum tidur jam segini." Lanjut Mas Alfi sembari menoel dagu lancip Empi yang asik duduk di pangkuanku sembari beramin ponsel milik Mamanya.


"Lum, antuk." Jawab Empi singkat.


Kamipun melanjutkan obrolan kami sebentar mengenai acara pertuangan minggu depan serta serab serbinya, sebelum ahirnya Mas Alfi pamit untuk pulang. Aku mengantar Mas Alfi hingga ke samping mobilnya dan masih dengan berbisik bisik pelan, mengenai hal sepele apa yang akan aku kerjakan besok siang.


"Sudah sampai sini saja masuklah." Ucap Mas Alfi begitu kami sudah sampai di pintu gerbang rumah ku.


"Tidak apa apa Mas, Syiffa tunggu sampai Mas Alfi masuk Mobil." Ucapku dengan tersenyum tipis ke arah Mas Alfi.


"Disini banyak orang, Fa. Takut nanti jadi fitnah."


Kami sama sama menghentikan langkah kami, dan untuk sesaat saling pandang sebelum ahirnya aku membuang pandanganku ke sekeliling dan mendapati Bu Gito beserta Sandra yang tengah berdiri di teras mereka dengan menatap kami berdua.


"Selamat malam, Fa." Ucap Mas Alfi setelah pandangan kami bertemu lagi.


"Selamat malam, Mas." Jawabku, namun Mas Alfi masih saja tidak beranjak dari tempatnya dan masih senantiasa memandangku dengan intens hingga membuat ku salah tingkah.


"Fa." Ucap Mas Alfi pelan masih dengan memandangku dan perlahan tangannya terulur ke udara tepat di depan wajahku namun tidak di teruskannya. "Maaf lupa, belum halal." Lanjut Mas Alfi lantas membelokan tangannya ke tengkuknya mengusapnya dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Jangan lupa undang aku hadir di mimpimu malam ini. Assalamu'alaikum." Ucap Mas Alfi lagi sambil beranjak pergi meninggalkan aku dengan wajah memerah manahan malu.


Aku masih berdiri di tempatku setelah menjawab salam dari Mas Alfi, dan baru beranjak hendak masuk ke rumah saat mobil Mas Alfi sudah mulai berjalan pelan meninggalkan jalan depan rumah ku. Sembari menepuk nepuk pipiku pelan aku terus saja bergumam sendiri.


"Siapapun, pasti akan jatuh cinta dengan sampean Mas Alfi, jika perlakuan sampean sangat manis seperti tadi." Gumamku sembari memikirkan perlakuan Mas Alfi yang senantiasa menghargai dan menghormati wanita, dan diam diam hatiku berbisik seperti tidak rela jika perlakuan manis Mas Alfi di terima oleh orang lain.


Akupun masuk ke dalam kamar ku masih dengan senyum senyum tidak jelas sembari memegangi pipiku yang terus mengahangat. Namun itu tidak berlangsung lama, karena lamunanku di buyarkan oleh suara Empi yang ternyata ada di dalam kamarku.


"Empa, bobok baleng yuk." Ucap Empi dengan wajah polosnya dan langsung naik ke atas ranjangku. Akupun menepuk keningku pelan seraya dalam hati berucap. Perawan rasa janda ya kayak gini.


"Baiklah, cepat tidur ayo." Ucapku dan sudah menata bantal juga sekaligus selimut untuk Empi.


"Empa, nak ya aik obing."


"Hemm."


"Empi, au unya obing."


"Iya, besok suruh beliin Ayah Empi Mobil di pasar." Jawabku sekenanya.


"Ada obing di pasal..?"


Duhh, ni bocah katanya ngajak tidur malah ngajak ngobrol. "Ada, besok beli dua satu di bungkus satu di makan di tempatnya." Ucapku asal asalan dan itu berhasil membuat Empi berfikir keras dengan jawabanku.


"Empaaaa.." Triak Empi saat sudah sadar dengan jawabanku dan membuatnya duduk kembali, namun aku sama sekali tidak ingin bangun dan malah memalingkan tubuhku ke arah lain hingga membuat Empi terus terusan ngoceh kesana kemari lantas pergi dari kamarku dengan meninggalkan aku yang tengah tertawa ngakak dengan tingkahnya yang mencari pembelaan dari Ibu Suri, dan pasti setelah ini suara merdu Ibu Suri akan nyaring terdengar membelah gendang telingaku.


"Syiffaaaa..." Tuh kan bener....


Bersambung...


####


Like, Koment dan Votenya selalu di tunggu enggeh..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2