
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tidak terlalu luas, tapi cukup untuk menapung berpuluh puluh desain pakaian serta pernak perniknya. Dan dapat aku simpulkan, jika Mas Alfi telah memilih tempat ini dengan perhitungan yang sangat matang. Yap, untuk sekali seumur hidup. Namun, apa jadinya jika sekali dalam seumur hidup itu berdasar atas keragu raguan.
Aku tidak meragukan Mas Alfi, justru akulah yang meragu.
Sudah hampir lima belas hari, sekembalinya aku dari Singapore yang seperti mimpi, tapi aku malah belum terbangun sepenuhnya dari mimpi yang coba aku rangkai dalam jeda. Benar benar konyol. Padahal selama inipun Pak Panji benar benar hilang tanpa kabar.
Itu bukan diriku. Sudah ribuan kali aku suarakan agar aku kembali fokus merajut masa depan dengan Mas Alfi, namun semakin aku tepis rasa bersalahku terhadap Mas Alfi justru semakin menyeruak keluar kepermukaan. Terlebih saat kebaya putih berpayet membalut tubuhku hari ini.
Ini bukan hari pernikahanku, hanya final fitting baju untuk akad, sekaligus untuk acara resepsi. Namun membayangkan aku bersanding dengan Mas Alfi sementara hatiku lari menemui Pak Panji, aku merasa itu sangat tidak adil untuk Mas Alfi.
Ingin aku jujur, namun melihat senyum Kanjeng dhoro dan Ibu Suri nyaliku seketika menciut seperti balon karet terkena air panas. Aku hanya tak ingin senyum mereka kembali aku renggut seperti enam tahun lalu, saat acara lamaranku dan Bayu menjadi buah bibir banyak orang. Oelh sebab itulah aku memilih diam sembari berusaha menata hatiku kembali.
"Mbak, kerudungnya mau dipola seperti apa.?" Ucapan salah seorang pekerja butik menyadarkan lamunan panjangku. Dan membuatku menghela nafas dalam, seolah sedari tadi aku tidak menariknya sama sekali.
"Bagusnya seperti apa.?" Tanyaku balik.
"Mbaknya punya reverensi.?" Aku hanya menggeleng pelan.
"Baiklah, kita akan coba menyesuaikan dengan bentuk wajah Mbaknya ya." Ucapnya sembari memutar mutar jilbab di kepalaku.
Aku tidak sama sekali mengeluarkan komentarku, persis seperti calon pengantin yang sedang banyak pikiran tentanga bagaimana acara akan berlangsung. Itu benar jika aku banyak pikiran, tapi pikiranku tidak sepenuhnya tentang pernikahanku dua bulan lagi, tapi justru terbagi. Lagi lagi tentang Panji Haikal.
"Bagaimana Mas, cantik kan.?" Tanya sang pengawai kepada Mas Alfi yang entah sejak kapan keberadaanya sudah berdiri di belakangku dengan setelan beskap putih lengkap dengan pecinya.
Aku menyungging senyum kaku ke arah Mas Alfi yang tengah menatapku melalui cermin besar di hadapanku. Dan ajungan jempol Mas Alfi cukup menjadi jawaban Mas Alfi akan tanya sang pegawai di sampingku.
Tidak banyak yang perlu di perbaiki dari baju yang di pesan. Semua sudah sesuai keinginan kami berdua. Sehingga dengan cepat pula kami telah pindah ke tempat yang lainnya.
Mendinginkan tenggorokan dengan es tebu di pinggir jalan cukup menyenangkan dengan hadirnya segerombol pengamen bersama suara emas mereka. Aih, yang bikin tidak nyaman adalah lagu galau milik Armada band yang berjudul Asal Kau Bahagia. Lirik lagunya mengambarkan kondisi yang mungkin saja akan kau hadapi jika aku tidak bisa menyudahi perasaan tidak sepatutnya yang aku rasakan terhadap Pak Panji.
"Fa, apa kamu baik baik saja.?" Mas Alfi cukup jeli dengan perubahan yang secara tidak langsung aku tunjukan lewat prilakuku.
__ADS_1
"Mungkin sedikit tidak baik baik saja." Ucapku jujur. Entah apa yang aku pikirkan ketika mengucapkan kalimat itu, karena pada ahirnya Mas Alfi yang peka langsung memutar badanya menghadapku sepenuhnya dan meletakan gelasnya.
"Aku akan mendengarkan." Ucap Mas Alfi pelan.
Aku tidak berani menatap ke arah Mas Alfi, dan memilih mengaduk aduk minumanku dengan sedotan.
"Kamu stress dengan pernikahan yang akan kita langsungkan.?" Harusnya tanya Mas Alfi itu bisa angguki jika memang itu yang aku rasakan. Tapi nyatanya tidak seperti itu, dan aku tidak bisa untuk berbohong.
"Mas,." Ucapku terputus dan perlahan aku angkat kepalaku untuk menatap Mas Alfi guna memastikan reaksi wajah Mas Alfi.
"Katakan saja, Fa."
Aku menarik nafasku lantas menyandarkan punggungku di kursi kayu yang aku duduki agar sedikit santai. "Menurut Mas Alfi, bagaimana jika tiba tiba aku meragu." Pelan ahirnya kata itu keluar.
Mas Alfi tidak langsung menjawab. Untuk sesaat Mas Alfi menatapku cukup lama dan ikut menyandarkan punggungnya persis seperti yang aku lakukan. Helaan nafas berat Mas Alfi bisa aku dengar jelas di runguku, dan itu terjadi sampai beberapa kali sebelum ahirnya Mas Alfi mengemukakan pendapatnya.
"Itu semestinya wajar terjadi." Lirih sekali ucapan Mas Alfi terdengar dan kembalu terjeda. "Itu bisa aku lihat dari perubahan sikapmu ahir ahir ini."
"Mas.."
"Tapi Mas." Ucapanku seketika terhenti begitu aku melihat senyum Mas Alfi terbit, karena seolah itu pula aku seperti melihat senyum Kanjeng dhoro dan Ibu Suri disana. Hingga membuat lidahku kelu sendiri.
"Ayo kita tingkatkan lagi komunikasi kita, seperti sebelumnya." Kembali Mas Alfi menyungging senyum yang kali ini lebih lebar lagi dari sebelumnya dan itu berhasil menular kepadaku meski agak sedikit kaku.
Ini bukan soal prioritas kebahagiaanku semata, tapi juga kebahagiaan kedua orang tuaku, sekaligus misi agar sampai mereka kembali di rundung malu. Oleh sebab itu tidak hanya tekat yang aku butuhkan, melainkan juga menekan kuat kuat perasaan yang telah usai agar jangan sampai bercokol di otak dan hatiku. Meski itu tidak mudah untuk di tolaknya.
Setelah obrolan singkat serius, kembali Mas Alfi mencoba membangkitkan jiwa humorku yang beberapa minggu ini seakan punah. Sebelum ahirnya Mas Alfi harus minta maaf kepadaku tidak bisa mengantarkan aku pulang, karena panggilan mendadak dari klaiennnya.
Seperti yang di katakan Mas Alfi sebelumnya, bahwa dirinya tengah merintis usaha untuk bekal masa depan kami, dan itu terbukti dengan kesibukannya ahir ahirnya ini usaha cukup lancar. Dan bisa juga dikatakan cukup berhasil.
Tatapan menyesal Mas Alfi kembali di layangkan kepadaku, sebelum ahirnya benar benar pergi meninggalkan aku sendiri dengan kata pamitnya bahwa nanti malam akan melakukan vidio call.
Sepeninggal Mas Alfi aku memilih berjalan pelan menyusuri trotoar, sembari menunggu angkutan umum lewat. Tapi baru beberapa langkah mataku menangkap mobil yang tidak asing untukku, dan kembali membuat dadaku sesak dia buatnya. Terlebih lagi, begitu mobil itu melintas di depanku dan si empunya mobil duduk didalamnya dengan pandangan lurus kedepan.
Buru buru aku menunduk sebelum dadaku semakin di buat menggila hanya dengan melihatnya. Dan memacu langkahku lebih cepat dari sebelumnya, hingga tanpa terasa aku sudah jauh meninggalkan keramaian dan berada di tempat yang cukup sepi.
__ADS_1
Sudah hampir sejam lamanya aku menunggu kendaraan umum, namun naas seolah mereka sedang mogok kerja berjamaah hingga membuatku jemu sekaligus menyesali keinfluasifanku gara gara hanya melihat Pak Panji lewat, yang bahkan orangnya saja tidak melihatku. Atau lebih tepatnya tak ingin melihatku.
Lelah berdiri, akupun duduk di pinggir jalan kemudian kembali berdiri, dan pada ahirnya akupun memilih meneruskan langkahku sembari membalas beberapa chat yang masuk, dan salah satunya dari Mas Alfi yang menanyakan keberadanku yang belum sampai di rumah.
Baru saja jariku hendak mengetik balasan chat Mas Alfi, tiba tiba aku di kagetkan dengan sebuah mobil yang mengerem mendadak lalu berhenti tepat di sampingku. Kaca mobil yang serba hitam membuat aku tidak bisa mengenali siapa orang yang berada di balik kemudi. Sepertinya akupun juga tidak kenal, maka aku memilih untuk melanjutkan jalanku.
"Senang bertemu dengamu, Asyiffa." Suara serak dan beratnya tidak mungkin aku lupakan, dan tanpa aku menoleh aku sudah bisa menebak siapa orang yang sedang menyapaku dari belakang.
Aku baru hendak berlari, namun dengan cepat tangan besarnya meraih lenganku kasar dan menyeretnya, sementara tangan yang satunya dengan cepat membekap mulutku agar tidak bisa berteriak. Di dorongnya tubuhku dengan kasar hingga sampai ke mobil dan melemparku ke dalam lantas dengan gerakan gesit pula, dia mengambil semprotan dari dalam daskbord lalu menyeprainya ke arahku, setelah pusing yang menerpa hanya berisi gelap tanpa ujung.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Setelah seabad tak menyentuh Bu Fafa.
Like, Coment dan Votenya jan lupa.
Love Love Love...
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
By: Ariz Kopi.
__ADS_1
@maydina862