
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hampir 2 jam lamanya, aku menceritakan kejadian siang tadi, dan harus banyak terpotong dengan beberapa pertayaan Bayu yang sedikit menjebak ku. Namun, semua dapat aku atasi atas suport dari Mas Alfi, yang menyuruhku untuk tenang dan jangan terpancing emosi.
Dengan hembusan nafas berat dan juga tubuh yang sangat lelah, akupun ahirnya di perbolehkan keluar dari ruang penyidik dan sekaligus untuk pulang, meski Bayu sangat ngotot agar aku di tahan, atas tuduhan yang menurutku sangat mengada-ngada terhadapku. Yang jelas motif dari Bayu terhadapku adalah karena dendam, tapi siapa yang dia bela di belakangnya itu yang menjadi pertanyaanku.
"Fa, kamu baik baik saja." Ucap Mas Alfi saat melihatku yang tengah berjalan keluar dengan muka pucat juga agar bergetar.
"Syiffa baik-baik saja, Mas." Jawabku.
"Kamu pucat sekali." Ujar Mas Alfi lagi.
"Saya hanya lapar, Mas." Jawabku dengan jujur meski akan terdengar konyol bagi yang mendengarnya. Tapi, itulah diriku, yang tidak ingin terlihat takut terlebih rapuh di hadapan orang lain. Dan itu terbukti berhasil membuat Mas Alfi kembali menyunggingkan senyumnya di wajah yang juga lelah sama sepertiku.
"Ibi dari tadi terus menelefon." Ujar Mas Alfi dengan memberikan Ponselku.
"Mas Alfi mengangkatnya.?" Tanyaku.
"Tidak, sesuai perintah Nyonya tadi." Jawabas Alfi. Dan memang sewaktu aku menitipkan Ponselku kepada Mas Alfi tadi, aku berpesan kepadanya agar tidak mengangkat telefone dari Ibu Suri. Bahkan, aku juga berbohong tentang kejadian hari ini kepada keluargaku jika aku sedang ada urusan yang mendadak.
Dan setelah aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, aku baru tersadar jika ini juga sudah sangat terlambat dari kebiasaanku pulang, bahkan aku belum pernah pulang seterlambat ini sebelumnya, jadi pantas saja jika keluargaku kwatir terhadapku.
"Kita pulang sekarang, sambil mencari makan di arah jalan pulang saja, biarkan motor kamu disini saja. Besok tak ambilkan." Ucap Mas Alfi dan kembali meraih telapak tanganku agar mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Mas, nanti jangan bilang apa-apa sama Pa'e juga Bu'e tentang kejadian hari ini. Biar nanti pelan pelan Syiffa yang bilang sama mereka." Ucpaku.
Mas Alfi menghentikan langkahnya, lantas menatapku dalam, seolah memintku agar aku percaya pada Mas Alfi. "Fa, kita jelaskan sama-sama. Apa yang mereka akan pikirkan, jika melihatmu dengan keadaan mu yang seperti ini, sementara aku hanya diam saja. Seperti kesepakatan kita waktu lalu, bahwa kita akan saling mengenal." Kata Mas Alfi, dan aku hanya bisa menundukan kepalaku.
Mas Alfi, memang lelaki yang sangat bijak, dan penuh tanggung jawab. Tapi, entah kenapa hatiku sulit sekali tergerak melihat kegigihan juga kedewasaannya dalam mengajakku untuk serius. Apa ini trauma.? Ataukah memang aku yang tidak ingin membuka hatiku.?.
Mas Alfi terus saja menuntunku hingga sampai di parkiran dan menyurhku masuk terlebih dahulu ke Mobilnya, sementara Mas Alfi entah pergi kemana, karena saat aku sudah masuk ke dalam mobil dia malah menghilang sebentar lantas kembali lagi dengan membuka bagasinya. Dan tak lama sudah memasuki mobil dengan membawa serta helmku.
"Apa ada sesuatu lagi di dalam Jok motor kamu, atau cuma dua kado itu saja.?" Ucap Mas Alfi sambil memberikan kunci motorku.
Aku menggelang pelan sembari menerima kunci motor dari Mas Alfi. Lantas Mobil Mas Alfi berangsur angsur meninggalkan tempat parkir dari Kantor Polisi yang kami datangi ini.
Dalam perjalan mengantarkan pulang, Mas Alfi mengajakku mengobrol banyak hal. Tapi, sama sekali tidak menyangkut perihal soal kejadian tadi siang ataupun kejadian di Kantor Polisi. Mas Alfi juga sama sekali tidak menanyaiku apa yang di tanyakan Polisi kepadaku.
Dan lagi-lagi sikap Mas Alfi yang seperti ini, sungguh terlihat sangat bijak dimataku, karena dia mencoba mengalihkan fokusku dari kejadian tadi singa dengan hal lain. Dan perbincangan ini, berahir saat mobil dari Mas Alfi berhenti di perempatan jalan dimana disana banyak sekali kuliner kaki lima yang bisa kami pilih.
"Tidak apa-apa, Mas. Yang terpenting kenyang." Jawabku.
Mas Alfi tersenyum mendengar penuturan ku, kemudian Mas Alifipun memesan Dua porsi Nasi Goreng Seafood dan juga Dua Gelas Es jeruk. Sembari menuggu pesanan, kami yang tengak duduk di lesehan yang di sediakan terus mengisinya dengan mengobrol hal remeh temeh seputar Nasi Goreng atapun makanan lainnya, terutama makanan rumahan yang biasa di masak sendiri.
"Bener, Mas Alfi bisa masak.?" Kataku dengan nada tidak percaya.
Dengan santainya Mas Alfi hanya tersenyum, dan menggeser Es Jeruk yang baru saja di sajikan. "Itu hal biasa bagiku, Fa. Sedari lulus SD aku sudah tinggal di Pesantren, di tambah Kuliah juga kost. Jadi, masak ataupun bersih bersih itu hal yang sudah sangat biasa aku kerjakan sendiri." Ujar Mas Alfi.
"Wah, kerennya Mas Alfi." Jawabku spontan saja, karena sejujurnya aku tidak tahu harus berkata apa tentang Mas Alfi, dia terlalu sempurna untuk ukuran wanita seperti ku yang tidak memiliki kelebihan apa-apa, baik secara wajah, secara otak, terlebih secara Ilmu agama.
__ADS_1
"Makanya Ibu menyuruhku untuk segera menikah agar ada yang membantu mengerjakan semua itu untuk ku." Kata Mas Alfi lagi sambil mensruput Es Jeruknya. "Sejujurnya bukan hanya Ibu saja yang menginginkan hal itu, Fa. Aku juga menginginkannya, bukan karena aku mau ada yang membantuku, lebih lagi membatu pekerjaan di rumah. Tapi, lebih karena untuk penenang hati untuk jalan Ibadah. Karena bagiku Istri itu bukan sekedar tentang urusan, dapur, sumur, apa lagi kasur. Tapi, Istri itu adalah partner, Istri itu adalah cahaya di dalam sebuah rumah tangga." Lanjut Mas Alfi, dan itu berhasil membuatku kembali berfikir bahwa aku tidak akan cukup pantas jika harus bersanding dengannya.
"Mas, apa Syiffa akan mampu. Syiffa bukanlah orang begitu tau tentang Agama, hafal bacaan shalat fardu saja sudah untung. Dan, Syiffa rasa Mas Alfi terlalu jauh bagi Syiffa." Ujarku pelan sambil menatap Mas Alfi yang juga tengah menatapku.
Di ulasnya senyum tipis ke arahku, dan terdapat kehangatan di balik senyum Mas Alfi. "Jika, Allah menakdirkan aku yang menjadi Imam untuk mu, maka sudah menjadi kwajibanku untuk membimbing mu. Dan percayalah tidak ada jodoh yang tertukar." Jawab mas Alfi dengan mantap berbarengan dengan Nasi Goreng yang datang di sajikan di meja. Dan membuat obrolan yang tadinya sedikit serius menjadi kembali ke topik semula yakni mengenai makanan dan cara membuatnya.
Usai makan Mas Alfi bergegas mengantarkan ku untuk pulang. Baik aku ataupun Mas Alfi terus terusan memperhatikan jam tangan kami masing-masing, sesungguhnya ini belum terlalu malam masih jam 8 lebih dikit. Tapi, untuk ukuran kepulanganku yang sedari pagi belum kembali, ini sudah pasti akan menjadi tanda tanya besar untuk Ibu Suri, terlebih untuk CCTV yang kemungkinan sudah siap di tempanya. Di tambah lagi, aku yang pulang dengan di antar oleh seorang Laki-Laki, dan menggunakan pakaian lain. Jelas, repeorter akan segera mencari informasi bahkan akan menambahkan hal yang tidak perlu juga.
Mobil Mas Alfi berhenti sempurna di depan rumah ku yang tengah sepi, justru di rumah sebelahlah yang sedang ramai, yakni di rumah Mas Salim. Dan bertepatan dengan aku dan Mas Alfi yang tengah keluar, juga sedang keluar Bu Tejo dan genknya dari rumah Mas Salim, lantas dapat di pastikan sesudahnya bisik dan bisik terus saja menyertai langkah kembali ke rumah mereka. Meski, sebuah senyuman mereka bingkai untuk kami yang di tambah dengan sapaan halus untuk Mas Alfi.
Bersambung...
####
Ini sebenarnya Pak Panji kemana yah, kok enggak muncul-muncul..??
Aih, Mas Alfi kenapa dirimu manis sekali, membuatku bingung harus memilihmu padahal kamu sudah memilih Bu Fafa..😅😅😅😅
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862