
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seminggu itu bukan waktu yang lama, dan selama itu pula Asisten Pak Panji selalu menghubungiku untuk menyiapkaan segala keperluanku, mulai dari Paspor, visa dan segalanya. Ada hal yang membuatku sedikit kecewa juga sih. Itu karena, sejak Pak Panji menerima kabar aku bersedia datang menemui Uul, Pak Panji benar benar memberi jarak dengan ku. Aku tidak tau, perasaan apa ini. Yang pasti ini justru membuatku kecewa bukan malah lega.
Dan sepertinya, dugaanku memang benar adanya. Bahwa kebaikan Pak Panji selama ini terhadapku murni karena Uul semata. Berarti semua yang aku rasakan itu murni karena aku yang terlalu perasaan saja. Jadi, lebih baik aku juga memberi jarak juga. Tapi, apa aku mampu..??
Sebuah koper dengan ukuran sedang, sudah berada di depan pintu kamarku. Dan sedari subuh tadi Ibu Suri tak henti hentinya terus mengulang ulang Tausiyah kepadaku.
"Fa, kamu disana harus seperti ini, harus seperti itu. Ingat loh Fa, kamu itu sudah bertunangan." Kira kira seperti itulah inti dari Mauidhoh Hasanah Ibu Suri. Lalu apa kabar dengan kanjeng Dhoro.? Seperti biasanya Kanjeng Dhoro hanya akan bicara sedikit namun memiliki arti yang bila di jabarkan bisa sebuku full nulisnya. Anggap saja untuk memahami nasehat Kanjeng Dhoro itu, ibarat belajar Bahasa Indonesia mengenai kalimat langsung dan tidak langsung.
Aku masih sibuk dengan jilbab di kepalaku, saat Ibu Suri masuk ke kamar ku, dan dari cara Ibu Suri yang berbicara dengan lembut, sudah dapat ku duga jika calon menantu idaman Ibu Suri pasti sudah datang. Yes, tebakanku memang tidak pernah salah.
"Fa, nak Ariz sudah ada di depan." Kata Ibu Suri sembari menilik penampilanku.
"Iya, bentar lagi Syiffa sudah selesai, Bu'e." Jawabku tanpa mengalihkan mataku dari cermin di depanku.
Ibu Suri diam sebentar dan tatapannya intens menatapku lewat cermin di depanku. "Kamu berhias buat siapa." Ucap Ibu Suri dengan nada biasa tapi terdengar menohok di hatiku. Hingga membuat tanganku langsung terhenti begitu saja dan balik menatap Ibu Suri masih melalui kaca di depanku.
"Kamu berhias untuk Pak Panji.?" Seketika aku terbatuk batuk hebat oleh ucapan Ibu Suri. Dan langsung menjawab Ibu Suri dengan kelakarku untuk menutupi perasaanku tentunya.
"Ini kan pertama kali Syiffa ke luar Negri Bu'e. Jadi wajar saja kan kalau Syiffa pingin tampil cantik. Lagi kalau Syiffa kelihatan jelek, yang malu juga Bu'e. Pasti pada bilang gini. Itu anak siapa sih dekil amat. Apa mau jadi TKW kesini. Hayo hayo, Bu'e apa tidak malu." Ujarku dengan nada canda.
"Ndhak apa apa jadi TKW asal halal, Fa." Jawab Ibu Suri dengan membanarkan letak brosku yang tidak simetris.
"Memang iya. Tapi, kalau sudah di hadapkan sama Bu gito apa Bu'e bisa menang argumen. Secara Sandrakan kerjanya kantoran, enggak kayak Syiffa yang cuma jadi Guru. Itupun gajinya enggak seberapa." Jawabku dengan gaya mengikuti Bu Gito.
"Hayah, makin kemana mana nanti. Kasihan Nak Ariz di luar panas. Mana Bu'e belum buatian minum juga." Jawab Ibu Suri dengan bergegas pergi dari kamarku begitu ingatannya soal menantu idaman kembali.
Aku kembali merapikan penampilanku di depan cermin dan baru saja hendak beranjak darisana saat kepala Ibu Suri kembali muncul di pintu kamarku. "Buruan, Fa." Ucap Ibu Suri cepat, dan dengan cepat pula sudah menghilang lagi.
Aku menggeleng gelengkan kepalaku pelan, sejurus kemudian sudah berjalan keluar dari kamar menuju teras depan dengan koper yang aku seret. Dan berhenti tepat di ambang pintu saat melihat intraksi Empi dengan Mas Alfi.
Mereka berdua tampak sedang asik mengobrol, dan nyatanya Mas Alfi sangat telaten dengan anak kecil, itu terlihat dari cara Mas Alfi yang menjawab segala kecerewatan Empi dengan senyum juga kata kata yang lembut. Bahkan, aku saja belum tentu bisa seperti Mas Alfi. Meski setiap harinya aku berintraksi dengan anak anak. Tapi, mereka berbeda. Mereka tidak seperti Empi, yang akan terus terusan ngomong kayak motor yang remnya blong.
__ADS_1
"Kenapa berhenti di tengah tengah pintu. Mau dapat Duda kamu." Deg, ucapan Ibu Suri membuatku seperti tertohok kembali dan dengan gerakan kikuk aku beranjak dari tempatku berdiri berbarengan dengan tatapan Mas Alfi yang tertuju padaku.
"Sudah, Fa.?" Tanya Mas Alfi basa basi.
Ku ulas senyum ku dan mengangguk pelan ke arah Mas Alfi. "Di minum dulu tehnya Mas. Bu'e buatnya sampai enggak tidur loh." Ucapku sambil menggeser cangkir ke arah Mas Alfi.
"Terima kasih Buk. Terima kasih Fa." Ucap Mas Alfi.
"Di minum pelan pelan saja. Jangan terburu buru." Ucap Ibu Suri.
"Iya Buk." Mas Alfi mengangkat gagang cangkirnya sembari menatap ke arahku yang tengah duduk di samping Ibu Suri. "Lumayan masih lama Fa, penerbangannya.".
Aku melirik jam yang melingkari tanganku. "Lumayan, Mas. Masih nanti jam sepuluh lebih sedikit."
Mas Alfi mengalihkan pandangannya ke arah Ibu Suri yang sedang memangku Empi. "Buk, bolehkan Syiffa saya ajak dulu ke suatu tempat, sebelum berangkat." Ucap Mas Alfi dengan nada sopan.
Aku dan Ibu Suri saling berpandangan dan Ibu Suri seperti sedang mencari kepastian dariku, dan aku hanya mengangkat bahuku sebagai jawaban tidak tahu.
"Apa nanti tidak akan terlambat." Jawab Ibu Suri dengan nada tidak yakin.
"Bagaimana, Fa.?" Tanya Ibu Suri kepadaku.
"Bagaimana apanya tho, Buk. Syiffa sih terserah saja." Jawab ku dan itu langsung mendapat reaksi dari tangan Ibu Suri yang berada di atas pahaku.
"Auh, sakit Buk." Jeritku, sata tangan Ibu Suri yang tersembunyi di balik meja mencubit kecil pahaku. Hingga membuat Mas Alfi menantap heran ke arahku, lantas tertawa kecil setelag sadar dengan apa yang terjadi. "Bu'e ini selalu. Di kira Syiffa kebal apa.!" Dengusku.
Ibu Suri semakin gencar mencubitiku, itu jelas di lakukannya karena merasa malu dengan ucapanku yang sembrono di depan Mas Alfi.
"Maafkan sikap Syiffa yang suka blak blakan ya Nak Ariz." Ucap Ibu Suri dengan membubuhkan senyum di bibirnya. Aku hanya mencebik pelan ke arahnya dan itu membuat Mas Alfi semakin tertawa lebar saja.
Setalah mendapat setempel ijin dari Ibu Suri, Mas Alfipun segera menghabiskan tehnya, dan mengajak ku untuk segera berangkat. Dengan drama panjang Empi dulu, ahirnya Ibu Suri bisa leluasa melanjutkan tausiyahnya kepadaku, sebagai wejangan hidup di luar negri. Ehh, emang mau berapa lama sih diriku disana. Kok kayak mau hidup disana lama saja. Paling juga seminggu udah mentok banget.
"Fa, jangan lupa kalau sudah sampai sana, kamu cariin teman Bu'e ya." Kata Ibu Suri kembali mengingatkan aku dengan pesennya yang tidak boleh aku lupakan.
"Ih, Bu'e. Di kira disana kayak di kampung saja. Lagian ya Bu'e Syiffa disana di rumah sakit bukan untuk jalan jalan." Jawabku santai.
__ADS_1
"Ya kalau pas ada waktu luang, Fa." Ngeyel Ibu Suri.
Dengan menhela nafas kesal akupun ahirnya mengiyakan perkataan Ibu Suri. "Iya, iya. Siapa nama teman Bu'e, Syiffa lupa."
Dengan senyum cerah Ibu Suri langsung menjawabnya. "Masroin. Sampaikan salam Bu'e kangen bangat."
"Udah itu saja.?" Lagak ku kayak nanti benar benar ketemu saja. Secara alamatnya saja enggak tau menahu.
"Udah itu saja. Lainnya nanti bisa Bu'e telfon kalau kamu pas ketemu." Jawab Ibu Suri. "Sudah sana cepat pergi. Nanti keburu pesawatnya datang."
Aku ngedumel sebentar sebelum ahirnya beranjak juga dari tempatku dan berjalan beriringan dengan Mas Alfi menuju mobil yang terparkir di samping jalan sembari membahas tausiyah Bu'e serta temannya yang bernama Masroin.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Mamak lagi semangat karena dapat chat dari diah...😅😅😅😅
Di tunnggu Like, Comentnya..
Love Love Love...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862