
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Mobil mewah milik Pak Panji berbelok di sebuah restoran yang lumayan, lumayan menguras kantong ku jika aku datang kesini dengan Novi..🤭🤭.
Sebenarnya mau jaga image, tapi perut sudah terlanjur keroncongan, dan sepertinya naga dalam perutku memang sengaja melakukan ini padaku..
Dan ini sebenarnya juga sudah mendekati rumah ku, tapi Pak Panji bersikeras mengajak ku makan, katanya sebagai ucapan trimakasihnya karena Uul sekarang menjadi lebih penurut dan mudah di ajak komunikasi.
Sah sah saja sih itu, cuma menurutku ini terlalu berlebihan jika Pak Panji mengajak ku makan di restoran mewah seperti ini.
Bukan aku menolak sih, cuma jika di beri pilihan untuk makan dimana jelas aku akan memilih di warung kaki lima saja. Karena selain lebih leluasa juga porsinya lebih banyak dan irit di dompet..😅😅😅
"Bu Fafa silahkan.." kata Pak Panji memberiku biku menu, aku pun membaca setiap menu yang tercatat rapi dan tidak lupa membaca pula harga yang tertera di sampingnya.
"Maaf Bu Fafa saya kekamar mandi sebentar.." ucap Pak Panji sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Iya Pak silahkan.." jawabku, dan kemudian kembali memfokuskan mataku ke buku menu..
"Masak air putih harganya 20rbu, airnya orang kaya kali.." gumam ku pelan, dan setiap kali melihat menu lagi aku juga akan bergumam sendiri terus terusan..
"Mahal bener harganya.." gumam ku saat sudah menemukan menu yang cocok tapi tidak cocok dengan harganya..
"Tidak apa apa Bu Fafa, yang penting terjamin kesehatnya dan bersih tempatnya.." kata Pak Panji yang sudah berdiri di belakang ku dan kemudian kembali ke tempat duduknya..
"Juga harus sehat di kantong Pak.." jawab ku sambil tersenyum menutup mulut ku dan Pak Panji seperti mengerti ke arah mana bicaraku lalu ikut tersenyum simpul kepadaku.
"Jadi anda mau pesan yang mana..??" tanya Pak Panji kepadaku..
"Kalau boleh jujur ya Pak, saya jelas memilih makanan yang murah dan mengeyangkan.." jawab ku..
"Tapi apa itu akan terjamin kesehatanya.." jawab Pak Panji sambil menautkan kedua alisnya..
"Hemm, yang terpenting itu adalah rasa, kalau soal sehat atau enggak itu biar tubuh kita yang bekerja, karena semua bakal baik baik saja hato kita bahagia.." ucap ku dan kali ini cara bicaraku sudah seperti kami kenal cukup lama.
"Se simple itu..?" tanyanya..
"Iyes dong, coba Pak Panji pikir kenapa orang orang tidak bisa menikmati hidupnya, karena hatinya tidak bahagia, hatinya tidak bisa terlaku sibuk memikirkan untuk besok dan lusa dan melupakan hari ini.." ucap ku lancar. "Maaf ya Pak, saya banyak omong.." kata ku ahirnya setelah melihat Pak Panji mengangguk angguk meneyetujui perkataan ku.
"Tidak apa apa Bu, dan baru kali ini saya bertemu dengan seorang perempuan yang tidak basa basi dan bertingkah seolah malu lamu lantas meningkatkan kelas diri mereka ketika bertemu dengan seseor.."
"Seseorang yang seperti anda..." jawab ku, sambil nyengir kuda.
"Iya betul.." jawab Pak Panji sambil ikut tertawa..
__ADS_1
"Itu karena mereka melihat anda yang orang berpunya Pak.." jawab ku lagi..
"Bisa jadi seperti itu, lantas kenapa Bu Fafa tidak meningkatkan kelas Bu Fafa saat ketemu saya.." ucap Pak Panji dengan nada humor..
"Karena kelas saya belum anda tingakt jadi enggak naik naik.." jawab ku dan di sambut tawa oleh Pak Panji..
"Jadi ini permintaan yang tanpa proposal dan tanpa melalui rapat dengan kepala sekolah juga dewan guru.." kata Pak Panji masih dengan tertawa lebar, seperti beban berat sudah benar benar hilang dari pundaknya.
"he..he..he.., kalau bisa di ACC tidak keberatan kami Pak.." jawab ku.
"Akan saya pertimbangkan Bu, ini dari tadi ngobrol terus kapan makanya. Jadi Bu Fafa mau makan apa..??" tanya Pak Panji kepadaku..
"Apa sajalah Pak yang penting mengenyangkan..?" jawba ku,
"Dan murah..ha..ha..ha.." kata Pak Panji lagi sambil tertawa, akupun ikut tertawa lalu Pak Panji memilih menu untuk kami lantas kami menunggunya sambil mengobrol dengan masih tertawa tawa sampai sampai aku tidak ingat akan kejadian tadi saat bertemu dengan Bayu.
Seusai makan kami melanjutkan perjalan pulang, tidak sebenarnya Pak Panji yang sedang mengantarku untuk pulang kalau Pak Panji tidak tahu hendak kemana setelah ini..
"Pak di gang depan belok kiri ya.." ucap ku ke Pak Panji..
"Pak..??" katanya sambil menoleh ke arahku.. "Apa wajah saya mirip seperti Bapak Bapak supir angkot Bu Fafa..?" kata Pak Panji sambil tersenyum simpul..
"Saya juga enggak setua itu jika hatus di panggil Bu..." jawab ku dengan senyum yang ku tutup dengan tangan ku..
"Well, sepertinya saya harus memanggil anda dengan Mbak, agar saya tidak di panggil dengan sebutan Pak Pak sopir angkot.." ucap Pak Panji..
"Lantas saya harus memanggil anda bangaimana..?" tanya Pak Panji..
"Syiffa, namanya saya Syiffa.." jawab ku..
"Hemm, Syiffa, terlalu panjang.."
"Kan Uul sudah memberi panggilan pendek buat saya, Fafa.." jawab ku. "Itu Pak Gangnya.."
"Baik Bu.." jawabnya lalu tertawa ringan.. "Panggil saya Panji saja Bu.." katanya..
"Anda menyuruh saya memanggil nama saja, sementara anda memanggil saya Bu, apa itu adil.." jawab ku..
"Iya, iya, iya, Fafa, jadi dimana arahnya kemana ini Fa.." kata Pak Panji..
"Masih lurus Pak.." jawabku..
"Pak lagi.."
"Maaf, kayaknya kurang sopan kalau harus panggil nama saja.." jawab ku dengan sedikit nyengir..
__ADS_1
"ha..ha..ha.., bisa saja, tinggal panggil saja.."
"Itu di depan belok kanan,.." kata ku.
"Oke.."
"Nahh itu yang ada pohon Sirsak di depan pagar, Rumah orang tua saya Mas Panji.." kata ku dan memelankan di bagian ucapan namanya..
"Boleh juga, di panggil Mas.." katanya sambil tersenyum sedikit melebar. "Jadi ini rumahnya..?" tanya Pak Panji, dan aku cukup tercengang karena ada dua mobil yang juga tengah terparkir di halaman rumah ku, jadi mobil Pak Panji harus mundur kembali dan berhenti di depan ruamh Bu Gito, dan apesnya Bu Gito sedang berada di terasnya sehingga dengan leluasa dia bisa melihatku keluar dari mobil mewah Pak Panji..
"Baru pulang Fa..." triak Bu Gito kepadaku..
"Enggeh Bu..." jawab ku dan hendak segera memacu langkah ku agar CCTV kampung tidak beraksi, namun harus terhenti karena Pak Panji yang juga ikut keluar dari mobil dan memanggilku.
"Fa, Fafa, apa kamu tidak menyuruhku untuk mampir, nanti Pam Sahri gimana..?" tanyanya dengan senyum seperti biasa, tapi mungkin bagi Bu Gito itu akan lain critanya, apa lagi kalau sudah di asah dan di tambah oleh Bu Gito bisa bisa Booming dan pasti bakalan ngamuk Ibu Suri nanti.
"Iya Pak, mari.." jawab ku pelan dan segera memaju langkah ku, sementara Pak Panji mengikuti ku dari belakang..
"Assalamu'alaikum..." ucap ku
"Wa'alaikumussalam.." jawab suara dari dalam dan itu sepertinya orang banyak karena banyak sandal juga sepatu diteras rumah ku.
"Nah ini anaknya sudah dagang.." ucap Ibu Suri dan saat aku menyalaminya, akupun mengedarkan pandanganku ke seluruh ruan tamu yang ada beberapa orang menatap ku dengan intens.
"Fa, kamana saja jam segini baru pulang, ayo cepat di salami semuanya.." bisik Ibu Suri kepadaku la tas akupun mengikuti kata lata Ibu Suri.
"Bu' di lua.."
"Assalamu'alaikum..," suara bariton dari Pak Panji mennggema di seluruh ruan tamu yang tidak seberapa itu dan membuat semua mata memandang ke arah pintu dimana seseorang yang di pandang pun ikut bingung dengan pandangan bingung dari orang orang tersebut...
"Krikk...Krikkk..Krikkk..." Suara Jangkrik memecah kesunyian...
Bersambung...
Wah..Ngamuk bener bener ngamuk tuh Ibu Suri bakalan..
Maag Bu Fafa saya enggak ikut ikut, ya..
kaburrrr.....
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862