Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 63


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Fa..!" Rutinitas setiap pagi, jeritan maut Ibu Suri. Dan beruntung karena aku memiliki kesabaran tingkat dewa menghadapi cinta Ibu Suri yang tumpah tumpah kepadaku. Sebagia buktinya, ya itu tadi jeritan cinta setiap kali memanggilku.


"Sendiko dawuh, Kanjeng Ratu." Jawabku dengan gaya bak abdi dhalem sebuah Kerajaan.


"Ada apa gerangan Ibu Suri memanggil hamba dengan lantang bak di hutan belantara." Ibu Suri semakin mendelik mendengar ucapanku yang di balik sanjungan juga menambahkan sindirian.


"Plak." Satu pukulan keras dari Ibu Suri mendarat di bahuku yang di sertai dengan memo protesnya. "Kamu ambil coklat yang Bu'e sisihkan kemarin.?" Tanya Ibu Suri memulai sesi introgasinya setelah puas menyalurkan aspirasi kekesalan atas kata hiperbolisku.


"Ihh, Bu'e. Dikira Syiffa tukang ngutil apa. Tanya aja si Empi dan Emaknya, yang semalam nongkrongin Kulkas." Jawabku santai.


"Kalau tau Empi dan Silla semalam makan coklat yang Bu'e sisihin, kenapa kamu tidak negur mereka.?"


"Lha, kata mana yang bilang kalau Syiffa lihat mereka makan. Syiffa cuma bilang Bu'e tanya sama mereka berdua. Gitu." Belaku.


Ibu Suri mendengus sembari menimang nimang sisa dari coklat yang tinggal separo. "Harusnya kamu bilang sama Bu'e, biar Bu'e yang mengontrol mereka." Kata Ibu Suri dengan wajah setengah cemberut kecewa.


Aku menggeleng pelan, lantas menggeser kursi di samping Ibu Suri dan menjatuhkan bobotku disana dan merangkul bahu Ibu Suri yang sedikit merosot. "Karena semalam Syiffa mau panggil Bu'e, Bu'e pas lagi spaneng sama Mas Aris." Ibu Suri menoleh ke arahku dengan tanda tanya di wajahnya.


"Aris siapa, semalam nak Ariz tidak kesini..?" Tanya Ibu Suri. Iyes, aku lupa kalau calon menantu idaman Ibu Suri namanya juga ada Ariznya. Akupun menepuk jidatku pelan.


"Mas Arisnya Mbak Kinan." Jawabku dengan cengengesan. "Kebayang kan kalau tetiba Syiffa panggil Bu'e. Bisa bisa Bu'e langsung bilang Coklat ini is my dream, Fa. Is my dre. Aduh aduh, sakit Bu'e." Triak ku dengan seketika, karena the power of jari Emak Emak sudah mendarat di pinggangku dengan remasan khususnya.


"Kamu tuh kapan bisa serius, semua kamu bercandaain. Jangan sampai hidup kamu juga kamu ajak bercanda."


"Huahahaha. Kayaknya itu ide bagus, Bu'e." Jawabku dan dengan cepat pukulan demi pukulan sudah bertubi tubi mendarat di bahuku hingga membuatku harus berlarian menghindar namun masih terus di kejar kejar oleh Ibu Suri, hingga kami berlarian memutari meja makan bak anak kecil.


Capek memutari meja makan, Ibu Suri kembali duduk di kursi dengan nafas ngos ngosan. Akupun dengan segera mengambilkan segelas air untuk Ibu Suri dan tanganku baru saja menyodor sudah langsung di sambar oleh Ibu Suri. Gerakannya benar benar sat set sat set, persis storynya Bapak Bapak zaman now. Sat Set, Dal Del. Info Mazzsseehh.

__ADS_1


Meletakan gelas yang sudah kosong, kembali tatapan mata Ibi Suri terarah pada titik semula. Yakni, sekantong Coklat yang tinggal separo. Penuh penyesalan dengan apa yang telah terjadi. Kalau boleh di ibaratkan nasi sudah menjadi bubur, atau sudah terlanjur basah ya sudah mandi sekali. Apa coba diriku ini. Pokoknya intinya Ibu Suri itu menyanyangkan Coklat yang telah di sisihkannya raib separo.


"Ya sudahlah, Bu'e. Jangan terlalu di ambil pusing, namanya juga sudah di makan." Kataku mencoba menghibur.


"Hehh.." Helaan nafas Ibu Suri terdengar berat di telingaku, entah beban seperti apa yang begitu memberatkannya. "Ya memang, ya sudah. Bu'e cuma kepikiran saja, kira kira bagaimana kehidupan Bulekmu di Pekanbaru sana." Kata Ibu Suri pelan.


"Pasti baik baik sajalah, Bu'e." Kataku menjawab agar tidak terlihat Ibu Suri mengobrol sendiri, meski itu sebenarnya yang sedang di butuhkan untuk Ibu Suri. Karena jika mengajakku ngobrol pasti ujung ujungnya tensinya akan naik, lantaran aku yang sering mencandainya.


Tapi, sejujurnya aku juga sangat bisa di ajak bicara serius. Cuma, aku kadang suka males menganggapi masalah yang sebenarnya sepele tapi di buat rumit. Sebagai contoh, jika masalah itu bersangkutan dengan Bu Gito. Karena, intinya di alun alun, bisa sampai ke balai kota dan puter balik di pasar pon lalu melingkar di simpang lima, jauh banget kan.


"Sudah tiga puluh dau tahun Bu'e tidak ketemu Bulekmu, Fa. Dan selama itu pula Bu'e tidak tau bagaimana kabarnya mulai dia ajak pindah oleh Almarhum Pamanmu ke Pekanbaru sejak pengantin baru. Tau tau sekarang Bulekmu sudah menjada." Kata Ibu Suri penuh sorot rindu.


"Hemm, berarti seumuran Mas Salim ya, Bu'e." Kataku.


"Iya, Bulekmu pergi pas Salim baru umur setahun." Jawab Ibu Suri.


Aku manggut manggut mengerti, dan anggukan kepalaku semakin sering, seiring dengan Ibu Suri yang sedang menceritakan kisah masa kecilnya bersama ke empat saudaranya yang ke semua ini sekarang ada di rantau. Cerita menggelitik, cerita yang haru, kesemua itu melinangkan airmata. Karena, sejatinya air mata itu adalah hal yang paling jujur dalam pengexpresian rasa.


"Bisa di bilang begitu, karena kami sama perempuan. Meski, Bulekmu itu sangat cerewet."


"Lah, mengatai Bulek Halim cerewet, padahal diri sendiri juga enggak kalah cerewet." Gumamku pelan.


"Bu'e dengar, Fa."


"Kiakkk, syukur Alhamdulillah kalau Bu'e dengar. Itu artinya Syiffa tidak bicara di belakang kan." Jawabku mencoba ngeles. "Syiffa kok heran ya Bu'e. Kalau kadar kecerewetan Bu'e masih di bawah standart, lalu berapa persentase penurunan gen cerewet dari Mbah Putri kepada Bulek Halim.?"


"Delapan puluh lima persen." Jawab Ibu Suri yang membuatku langsung tertawa terbahak bahak.


"Dan pokoknya nanti Bu'e bakal pamer mantu mantu Bu'e sama Bulekmu, biar kata mantunya ada yang Tentara Bu'e tidak akan kalah saing, karena Bu'e punya Nak Ariz sebagai kandidat terbaik." Jiwa berapi api Ibu Suri membautku bergidik sekaligus kepo. Kepo membayangkan akan seseru apa mereka saat mengobrol nanti.


"Ihh, Bu'e belum juga jadi mantu sudah mau di pamer pamerin, pamali tau Bu'e." Timpalku.

__ADS_1


"Kamu itu ngomong apa.? Atau kamu sebenarnya mikir yang lain. Ingat besok kamu sudah mau Fitting baju pengantin, Fa." Ujar Ibu Suri dengan nada tegas.


"Glukk.." Salivaku terasa terganjal oleh biji Kedondong mendengar penuturan Ibu Suri dan aku tidak bisa membuat pembelaan seperti biasanya, atau sekedar membuat banyolan. Aku benar benar mati kutu.


Benar, aku sudah mau Fitting baju pengantin besok, dan tak seharusnya aku berpikir terlalu drama ataupun terlalu ke Bollywoodtan seperti dalam film Kuch Kuch Hota Hai. Itu semua terjadi hanya dalam Film dan Novel, tidak akan pernah terjadi dalam dunia nyata. Seperti kesepakatanku dengan hatiku sendiri, bahwa semuanya telah berahir di Singapore lusa.


Dua bulan, aku rasa akan cukup bagiku untuk mengembalikan tatanan hatiku pada tempatnya. Dan mengingatkan posisi Mas Alfi di dalam hatiku, terlebih melihat antusias dan bahagianya Ibu Suri dan Kanjeng Dhoro dengan harapan bahwa Mas Alfi adalah jodoh terbaik bagiku.


Aku kira usaha saja tidak akan cukup. Tapi, aku akan berjuang demi kebahagiaan mereka berdua yang telah memperjuangkan aku, terlebih aku tidak ingin mereka jadi bahan ejekan dan omongan orang untuk kedua kalinya karena aku. Fix, Mas Alfi adalah pilihan yang tepat bagiku dan keluargaku.


.


.


.


.


.


Bersambung..


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2