
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kejutannnn..." Ucapku begitu pintu di buka oleh Kanjeng Ratu Novi. Dan dapat terlihat jelas bahwa Kanjeng Ratu sangat terkejut dengan kehadiranku di Keratonnya yang masih teramat pagi, bahkan dirinya saja masih terlihat awut-awutan dengan busana keagungan keratonnya, Daster buluk.
"Wahh, Aunty Empa sudah datang jenguk Incess." Ucap Novi dengan berapi-api begitu melihat pascel yang tengah aku jinjing dan membuka lebar-lebar pintu rumahnya lantas mempersilahkan aku untuk masuk.
Aku terus mengikuti langkah Novi dan langsung mendudukan diriku di ruang tengah tanpa memerdulikan ajakan Novi untuk masuk ke kamarnya guna melihat bayi cantiknya. "Fa, kamu kesini mau lihat Incess atau apa." Ucap Novi yang sudah berdiri di sampingku dengan bayi kecil dalam gendongannya.
"Iya, sekalian mau ngungsi sampai siang nanti." Ucapku sembari berdiri dan melihat bayi mungil yang berwajah bulat dengan bibir kecil mengerucut warna merah muda.
"Ngusi.?, bukannya mau ke Sekolahan.?" Tanya Novi dengan heran dan memandangku lekat. "Lagi berantem sama Ibu Suri." Lanjut Novi yang sudah hafal betul dengan kebiasanku.
Aku menggeleng pelan, lantas dengan cepat sudah mengambil alih si Incess dan kembali duduk di tempatku semula. "Aku di pecat." Ucapku pelan.
"Apa..??" Pekik Novi dengan mata membulat sempurna, dan dengan cepat sudah duduk di sampingku dengan expresi seorang wartawan yang tengah meminta keterangan dari Artis yang tengah naik daun.
Melihat expresi yang seperti itu, jelas tidak ada kesempatkan bagiku untuk mengeles sedikit saja darinya, dan membuat alasan untuk menghindarinya, karena jika Kanjeng Ratu Novi sudah penasaran maka sampai ke ujung dunia akan tetap di kejar dan di cari tau. Dan dengan palan aku memberikan penjelasan singkat mengenai kejadian hampir seminggu lalu juga mengenai pemecatanku kemarin.
"Terus, kamu enggak berusaha untuk menjelasakan kepada Pak Panji soal titik masalahnya." Cecar Novi dan dengan cepat bibirnya sudah mengomel kesana kemari memberi komentar akan sikap Pak Panji. "Kamu kenapa bodoh banget sih, Fa. Harusnya kamu kan bisa merincikan kejadian sebelumnya ke Pak Panji."
"Boro-boro. Aku enggak di kasih kesempatan untuk bicara, cuma karena ada bukti tanda tanganku di atas Matrai yang disana mengatakan bahwa aku telah menyuruh seseorang untuk menculik, Uul. Dan merencanakan semuanya, lantas mengaku diriku sebagai pahlawan kesiangan." Semprotku ke Novi.
"Terus, kamu terima begitu saja di hina oleh Pak Panji." Ucap Novi lagi.
"Aku rasa itu wajar di laku.."
__ADS_1
"Wajar dari Hongkong, kamu enggak lagi ada sesuatu kan sama Pak Panji, Fa.?" Kata Novi lagi dengan penuh selidik dan memandang lekat ke arahku.
Aku salah tingkah untuk sesat, kemudian dengan cepat menjawab ucapan Novi. "Maksud kamu apa.?" Kataku datar, dan membuat Novi mengangkat satu alisnya dengan masih menatapku lekat lekat seolah sedang mencari jawaban dari wajah datarku yang sedikit gusar.
"Kamu enggak tertarikkan sama Pak Panji." Meluncur juga ucapan Novi yang seolah mampu menamparku dari keterbekuan dan dengan cepat menggeleng dengan pasti. "Kamu yakin, lantas beri aku satu alasan kenapa kamu melakukan hal itu dan menerima seluruh tuduhan dari Pak Panji, tanpa menejelaskan apa-apa padanya. Itu kamu lakukan, lantaran kamu terlalu kecewa terhadap Pak Panji yang tidak percaya padamu.?"
"Bukan seperti itu, aku hanya tidak ing.."
"Itu bukan kamu, Fa." Potong Novi. "Sejak kapan Syifa menjadi pecundang, dan diam atas perlakuan tidak adil untuk dirinya."
"Aku hanya takut akan berimbas pada Kanjeng Dhoro, Vi. Dengan Pak Panji tidak membawa kasus ini ke meja hijau bukankah itu sudah cukup baik dan juga Kanjeng Dhoro masih bisa kerja di Haikal Trans." Kataku pelan.
"Aku semakin bingung saja. Harusnya jika Pak Panji memang begitu perduli dengan Uul, dan tidak perduli sedikitpun terhadapmu. Maka, sudah sepatutnya jika dia meneruskan kasus ini, bukan mal.."
"Kamu senang temanmu masuk penjara.." Pekikku sembari mendelik ke arah Novi.
Novi bukannya takut atau prihatin kepadaku, malah meraup wajahku dengan kasar seraya berucap. "Kamu itu bodoh atau apa sih, Fa. Jika, Pak Panji melakukan itu jelas alasannya bahwa dia sebenarnya sedikit perduli terhadapmu." Ucap Novi dan di barengi dengan suara tangis dari anak Novi yang pertama dan dengan cepat Novi segera melangkah meninggalkan aku dengan Incess yang masih setia tidur di pangkuanku.
Dan disinilah aku sekarang, di meja kecil sudut ruangan yang tengah sepi, karena aku menjadi pengunjung pertama. Dengan terus menunduk mengaduk aduk kopi di depanku dan aku tidak ingin memerdulikan keadaan Caffe yang sudah mulai rame karena hampir memasuki jam makan siang.
Aku terus memikirkan analisis Novi, mengenai alasan Pak Panji yang tidak ingin memperkarakan kasus ini, dan sekaligus teringat wajah kecewa Pak Panji saat menatapku di rumah sakit waktu lalu, lantas entah kenapa ada sedikit ngilu yang menelusup di dadaku ketika mengingat ada sedikit celah yang dengan tiba-tiba harus tertutup rapat dengan terpaksa.
Aku meringis sebal sembari membuang sedok di tanganku dengan kasar, lantas meraih potongan potongan Brownies menggunakan tanganku dan memasukkan ke mulutku dengan cepat seperti seorang yang tengah kelaparan, tanpa memerdulikan tatapan orang-orang di sekitarku.
Dengan sekali teguk, kopi di cangkirku sudah langsung tandas tak tersisa dan menatap jam di tanganku lantas segera bangkit menuju kasir untuk membayar pesananku dan ingin segera kembali ke rumah.
"Mbak." Ucapku pelan sembari menyodorkan kertas berisi pesananku dan sang Kasir menatapku sebentar lantas memanggil teman di belakangnya sembari memberikan kertas isi pesananku.
__ADS_1
"Hari ini, kami sedang memberikan pelayan gratis untuk pemesan pertama, Bu. Jadi, Terima kasih sudah datang, semoga hari anda menyenangkan." Ucap Gadis putih yang bertag nama Wiji.
"Sepertinya tadi tidak ada seperti itu.?" Tanyaku.
"Iya, kami baru tahu dari Owner, kami." Jawab kedua kasir tersebut dengan masih mempertahankan senyum mereka.
"Oh, seperti itu, baiklah kalau begitu, Terima kasih, Mbak." Ucapku sembari memasukan dompetku kembali ke dalam tasku dan hendak berbalik namun aku urungkan, lantas sengaja menitipkan rasa terima kasihku untuk sang Owner. "Oh iya, titip terima kasih untuk Owner ya Mbak, semoga rezekinya makin lancar." Lanjutku, dan di sambut senyum hangat oleh dua gadis di depanku..
"Iya, Bu." Jawab keduanya dan kemudian aku berbalik sembari menyunggingkan senyumku lebih lebar. Namun, seketika lenyap saat ku lihat seseorang yang tengah menuruni anak-anak dari tangga dan bertepatan dengan mataku menangkap salah satu figura yang menampakan foto seseorang yang sekarang sudah memandangku dengan lekat.
Setelah sadar akan tatapan yang terkunci untuk beberapa saat, aku segera berbalik lagi menuju ke kasir dan dengan cepat sudah ku sodorkan uang sejumlah 150ribu ke arah Kasir tersebut sembari berucap pelan. "Mbak, saya tidak jadi ambil makan minum geratis." Ucapku pelan.
"Tapi, Bu. Ini perintah dari Owner, kami." Ucap salah satu dari kasir tersebut dan aku enggan sekali menanggapinya, lantas memilih untuk berbalik dan memandang ke arah tubuh yang tinggi tegap menjulang tidak jauh dariku yang tengah menatapku dengan tatapan penuh intimidasi seperti sedang mengulitiku. Aku memalingkan kepalaku sebentar tanpa memutar tubuhku ke arah Kasir untuk menyindir orang yang tidak jauh di depanku.
"Katakan pada Pak Panji yang terhormat, aku tidak butuh belas kasihannya, dan aku pastikan aku tidak akan pernah datang lagi ke sini untuk meminta gratisan." Ucapku dengan nada dingin lantas melangkah pergi dan melewati tubuh kaku Pak Panji dengan tangan yang tengah mengeras karena jelas manahan amarah oleh sikap ku.
Bersambung...
####
Sek tah, sek tah. Kok kayak anak muda yang lagi marahan sama gebetannya yah..😅😅😅
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862