
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tidak ada yang lebih rumit dari soal hati. Dan tidak ada yang lebih dalam dari pikiran manusia. Dalamnya laut, tingginya gunung, luasnya kebun, semua masih dapat di ukur. Tapi, seberapa dalam pikiran manusia, ataupun bagaimana yang di rasakan oleh hati manusia, siapa yang akan tahu. Seperti itu juga yang aku coba fahami beberapa hari ini.
Aku masih terus terusan ragu dengan apa yang bersuara di hatiku. Aku ingin, aku mau, namun aku takut jika harus mengutarakan maksud hatiku kepada Mas Alfi. Jika, ini khusus untuk Uul, mungkin saja aku tidak akan sedikitpun ragu untuk membicarakan dengan Mas Alfi. Alih alih ini murni demi Uul, tapi malah soal hati yang tidak tau malu dengan terus menerus memikirkan orang yang tidak sepantutnya untuk di pikirkan.
Siapa diri ini, harusnya aku sadar diri. Aku bukan apa apa, bukan siapa siapa. Kenapa aku harus terjebak rasa nyaman dengannya yang sekarang tidak memberiku kabar sedikitpun. Ya kali, dia mikirin seseorang sepertiku. Horang bisnisnya saja menggurita kemana mana, dan sudah barang tentu banyak wanita cantik yang hilir mudik mendekatinya.
"Aku ini loh siapa." Gumamku pelan, mencoba menyadarkan diriku sendiri tentang rasa aneh yang tiba tiba menguat dan memberi nama indah di dasar hati.
Aku memandang jari manisku yang tersemat cincin bertulis nama Mas Alfi. Dan perasaan perih itu mengiris hatiku. Terlebih lagi, saat tadi pagi aku melihat ke dalam mata Mbak Anita, dan menemukan rasa sesak yang tidak bisa di jabarkan olehnya, saat Mas Alfi mengantarku dan menyapa Mbak Anita seperti tidak pernah terjadi apa apa di antara keduanya. Meski, juga dapat ku lihat di mata Mas Alfi, bahwa sesungguhnya masih ada sedikit canggung bagi Mas Alfi.
Di situlah letak sakitku. Karena, aku berada di tengah tengah rasa yang harusnya bisa mekar dengan aku yang memupuk dan menyiraminya. Bukan malah ikut menjadi racun dengan egoisanku, sementara di dalam hatiku juga ada sebuah nama yang telah terukir.
Panji Haikal, kenapa harus namamu yang berada di dalam hatiku. Kenapa, harus dirimu yang menyulam benang benang cinta yang sempat terkoyak oleh luka. Dan apakah ini akan sampai pada tempatnya, jika nama Kharis Alfi Syahrien yang tertulis di cincin yang melingkari jari manisku.
Helaan nafas dalam berulang ulang menjadi saksiku, bersama secangkir kopi yang sudah mulai mendingin. Mendung yang berarak menjadi pemandangan yang seperti sebuah lukisan di atas kanfas biru segar. Hampir sejam lamanya, aku terus berdiam diri menanti janji, janji yang sesungguhnya masih satu jam ke depan.
Menunggu Mas Alfi, demi membicarakan soal permintaan Uul terhadapku, yang sebenarnya juga aku inginkan. Dan, apa ini akan cukup tepat.? Entahlah, yang pasti saat ini aku ingin egois sejenak, untuk memastikan tentang perasaanku. Juga, sekaligus untuk memastikan bahwa aku tidak akan pantas menyukai Pak Panji. Jahat sekali bukan diriku. Tapi, andaipun Mas Alfi tidak memberikan aku ijin, aku juga tidak akan memaksa untuk menemui Uul.
Kemeja warna Navy yang membungkus tubuh tegap Mas Alfi terlihat sedikit lusuh kontras dengan wajah Mas Alfi yang berseri. Senyum manis juga tidak meninggalkan bibirnya, hingga gurat lelah payah habis bekerja langsung memudar begitu saja.
"Sudah lama..?" Tanya Mas Alfi.
"Lumayan." Jawab ku dengan menambahkan sungingan senyum di bibirku.
"Yang bener. Jika di lihat dari kopi yang tinggal ampasanya saja, jelas itu sudah lama.." Mas Alfi menarik kursi di depanku, lantas menaruh tas kerjanya di kursi sebelahnya.
Aku tertawa sebentar sembari menutup mulutku. "Ckckckc, kelihatan banget yah." Ucapku.
"Kamu tadi naik apa kesini, Fa.?" Tanya Mas Alfi sembari tangannya meraih buku menu.
"Bareng Pa'e berangkat kerja." Jawabku.
"Beliau masih semangat sekali bekerja. Semoga beliau di beri panjang umur, hingga melihat kita bahagia, lantas bisa membahagiakan Pa'e dan Bu'e." Nyutt, nyeri di dadaku mendengar penuturan Mas Alfi. Kenapa, hatiku masih tidak tau malunya dengan memikirkan Pak Panji terus menerus. Padahal Mas Alfi begitu layak untuk di pikirkan lebih.
__ADS_1
"Fa," Ujar Mas Alfi dengan melambaikan tangannya di depan wajahku. "Ngelamunin apa, aku kan ada di depanmu." Kelekar Mas Alfi sambil melebarkan senyumnya.
"Eh, itu. Tidak, hanya saj."
"Santai, Fa. Jangan gugub gitu." Potong Mas Alfi. "Makan dulu biar enak ngobrolnya entar." Lanjut Mas Alfi.
Dua porsi Mie Goreng sea food dan juice lemon squas mengisi meja kami, tidak banyak kata yang kami keluarkan selama makan berlangsung. Dan entah kenapa baru sekarang aku merasa canggung dengan Mas Alfi. Apa karena ada orang lain yang bersemayam di hatiku, atau karena juga hal lain. Dan aku merasa bahwa Mas Alfi juga demikian dengan ku.
"Fa, aku merasa hubungan ini tidak sehat sejak aku jujur padamu soal Anita."
"Uhuk, uhuk, uhuk." Seketika aku tersedak oleh jus lemon yang baru aku tenggak. Aku memandang Mas Alfi dengan intens begitupun dengan Mas Alfi.
"Tidak, bukan soal itu Mas. Aku percaya sama Mas Alfi." Kilahku. Jelas saja aku tidak akan berani jujur, jika sebenarnya aku juga kepikiran soal itu, hanya saja pikiranku bukan yang dimana dimana.
"Alhamdulillah, dan terima kasih kamu sudah percaya soal itu, Fa. Aku takut saja, jika itu menjadi alasan kenapa ahir ahir ini kamu banyak diam kepadaku." Jawab Mas Alfi dengan sungingan senyum hangat. "Lalu, apa yang membuatmu ahir ahir ini pendiam.?" Tanya Mas Alfi.
Aku diam sesaat, mencoba mencari kata yang tepat untuk mengutarakan maksudku. "Ini soal Uul, Mas."
"Uul, ada apa. Apa masih soal tuntutan." Terdengar nada kwatir dari cara bicara Mas Alfi.
Aku segera menyahut dengan tanganku yang langsung melambai di depan dadaku. "Bukan, bukan soal itu. Uul meminta saya untuk menemaninya di Singapore."
"Sudah, terahir kali Syiffa jenguk sudah hampir delapan puluh persenlah. Hanya saja orang punya duit suka enggak bisa di tebak cara berfikirnya." Jawabku.
"Itu wajar, Fa. Itu juga karena memprioritaskan orang yang di kasihi. Aku juga punya keinginan di hati untuk memprioritaskan seseorang yang aku kasihi. Memberikan kebahagiaan tanpa dia harus meminta. Bukan semata hanya dari uang. Meski, tidak di pungkuri semua membutuhkan uang." Kata Mas Alfi.
"Tapi, kalau berlebihan juga kesannya gimana gitu."
"Itu bagi kita yang tidak memiliki banyak uang, Fa. Kalau bagi Pak Panji kan lain ceritanya." Aku tertekun sejenak mendengar penuturan Mas Alfi. Benar, bagi Pak Panji uang untum tiket ku le Singapore jelas tidak ada apa apanya. Di banding dengan rasa cintanya sama Uul. Dan kenapa, ada rasa ngilu di hatiku. Mengingat, Pak Panji memintaku datang untuk Uul, bukan untuk dirinya.
"Jadi, apa keputusanmu.?" Ucap Mas Alfi lagi, saat di lihatnya aku masih berfikir dengan ucapan Mas Alfi.
"Syiffa, sudah bicara sama Pa'e dan Bu'e, dan mereka bilang keputusan berada di tangan Mas Alfi."
"Kok sama saya.?" Kata Mas Alfi heran.
"Pa'e bilang, kalau Mas Alfi mengijinkan Syiffa menemani Uul untuk berobat. Maka, Pa'e dan Bu'e akan menegijinkan."
__ADS_1
Terlihat Mas Alfi berfikir sebentar sembari menatapku yang tengah menatap dengan penuh harap. Harapan bahwa Mas Alfi akan mengijinkan aku. Dan niat jahat dari harapan itu adalah, bisa kembali dekat dengan Pak Panji seperti sedia kala, sebelum ahirnya aku akan melupakan segalanya pula.
"Apa kamu menginginkan datang kesana menemani Uul, Fa.?" Tanya Mas Alfi dengan nada dalam.
"Kalau Mas Alfi keberatan, Syiffa tidak apa apa Mas." Jawabku dengan senyum yang tiba tiba hambar.
"Pergilah, aku tau kedekatanmu dengan Uul. Dan semoga saja dengan berjauhan, akan ada ruang rindu untuk kita." Ucap Mas Alfi dengan senyum hangat.
"Mas, tap.."
"Aku percaya denganmu, seperti kamu percaya padaku." Ujar Mas Alfi lagi.
"Terima kasih, Mas." Mas Alfi melebarkan senyumnya seiring dengan senyum tulus yang tercetak di bibirku. Dan semoga saja, apa yang aku lakukan ini akan menjadi jawaban atas kegelisahanku, lantas akan menyadarkan akan statusku dengan Pak Panji. Sehingga akan benar apa yang di ucapkan oleh Mas Alfi, akan muncul ruang rindu di antara kami setelah kami berjauhan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Kok bingung eram tho. Koyok Emak e seng bingung gawe alur e ceritane sampeab Bu Fafa.
Like, koment dan votenya di tunggu enggeh..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862