
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah drama panjang di pagi hari tadi, yang melibatkan Ibu Suri dan Kanjeng Doro, dan sampai sampai aku ikut terseret di dalamnya karena aku yang tanpa sengaja berjalan ke depan ingin mengambil cangkir kotor milik Kanjeng Doro, Ibu Suri ku bilang kalau aku ada di pihak Kanjeng Doro. Sejujurnya iya juga kalau di suruh memilih, agar aku tidak perlu merasakan siksaan yang begitu berat karena harus mendengarkan ceramah setiap menitnya oleh Ibu Suri, tapi tanpa Ibi Suri hidupku juga bakalan sepi. Meski Ibu Suriku sangat crewet dan menangan sendiri tapi di setiap sujudku tak pernah terlupa do'a ku selalu ku panjatkan untuk mereka berdua, yang telah memperjaungkan aku hingga saat ini.
"Mau keman Fa.." tanya Ibu Suri tanpaerasa bersalah sedikitpun karena pagi tadi sudah menceramahi aku habis habisan.
"Mau ngantar Novi Buk.." jawab ku dengan memeriksa isi tas ku.
"Kemana...?" tanya Ibu Suri lagi...
"Ke Mall Buk, mau belanja baju baju bayi dan keperluan bayi lainya.." jawab ku..
"Bu'e nitip ya Fa.." kata Ibu Suri penuh semangat..
"Nitip apa Bu..?" jawab ku lantas mencoba mengecek isi dompetku, karena aku merasakan firasat yang kurang mengenakan saat Ibu Suri bilang mau nitip.
"Sebentar.." jawab Ibu Suri lantas pergi ke kamarnya, dan tak lama keluar lagi dengan botol farfum yang masih separo isinya..
"Belikan farfum kayak ini.." lanjut Ibu Suri..
"Itukan masih banyak Buk.." jawab ku..
"Ya buat persiapan saja, kan minggu depan keluarga dari Pak Sofyan mau datang melamar kamu.." jawab Ibu Suri santai, dia tidak tahu saja bahwa aku sangat kaget sampai sampai dompet di tangan ku terjatuh tanpa sadar. "Katanya kamu kemarin manut sama Orang tua, ." lanjut Ibu Suri dapat membaca ke kagetan di wajahku, akupun mengehela nafas dalam.
"Iya Syiffa tahu Buk, tapi apa hubunganya Farfum sama acara minggu depan.." jawab ku membuat alasan, lalu mengulurkan tanganku bukan untuk salaman tapi meminta uang pada Ibu Suri..
"Apa..?" tanya Ibu Suri..
"He..he..he.., uang saku buat Syiffa mana..." ucap ku
"Emang Silvi apa di suruh mesti minta ongkos.." jawab Ibu Suri sambil menepuk telapak tangan ku.
"Buk, lihat.." ucap ku sembari memperlihatkan isi dompet ku kepada Ibu Suri.. "Ini tannggal tua Buk, Syiffa kan belum gajian.." lanjutku dengan cengengesan di depan Ibu Suri, Ibu Suri mengeleng gelengkan kepalanya lantas mengeluarkan uang 20 ribu dari sakunya dan memberikanya padaku..
"Ihh Bu'e kok cuma ini.." jawab ku
"Itu sudah cukup buat beli bensin motor kamu.." jawab Ibu Suri, lantas bergegas mendorong tubuh ku keluar dari rumah, akupun menyalami Ibu Suri masih sambil cengengesan, karena sudah dapat uang saku dari Ibu Suri, yang sudah sangat lama sekali tidak aku dapatkan. Ya jelas Ibu Suri tidak mau memberiku uang saku karena Ibu Suri jelas sudah faham jika itu hanya alasanku saja minta uang darinya.
__ADS_1
Setelah cukup berpanas panas di jalan beraspal, ahirnya sampai juga aku di rumah Kanjeng Ratu Novi, dan dongkolnya hatiku bak segede batu vulkanik gunung merapi yang terbawa air sungai, karena begitu sampai sana Novi masih belum siap siap malah masih asik rujakan, tadi saja nelfon suruh cepet cepet.
"Sumpah demi bayi yang kamu gembol Vi, lelet bener dah.." ucap ku saat dia hendak pergi ke kamar mandi tapi masih ragu ragu.
"Males banget Mandi aku Fa,.." jawab nya. "Aku rasa enggak perlu mandi juga enggak apa apa.." lanjutnya sambil berlalu menuju kamarnya, aku yang menyaksikan tingkahnya hanya bisa geleng geleng kepala heran, karena sebelum sebelumnya Novi itu orang yang sangat bersihan dan apa apa musti bersih, entah di kehamilanya yang kedua ini dia menjadi orang yang sangat jorok.
Setelah menunggu cukup lama lagi ahirnya berangkatlah kami ke Mall yang di tunjuk oleh Novi, maklum sebagai ojeknya aku hanya ngikuti kemauan dia, dan sekaligus menjadi tim pertimbangan nanti di kala belanja dan itu sudah dia lakukan semenjak dahulu kala, waktu kami masih belinya cuma ikat rambut, atau aksesoris kami lainya.
Sampai di Mall yang di tuju, aku dengan setia ikut memilah dan memilih segala sesuatu yang hendak di beli oleh Novi, dan sesekali Novi terus mengoceh tentang bahan yang kurang tebal lah, bahan yang kurang halus lah dan jahitan yang tidak rapi, lantas kesemuanya itu terhenti ketika sebuah suara lembut menyapa kami berdua..
"Assalamu'alaikum, Syiffa, Novi.." ucapnya..
"Wa'alaikimussalam.." jawab kami berdua sambil menoleh ke arah asal suara tersebut..
"Ehh, Mas, Mas siapa saya lupa namanya tapi ingat wajahnya, yang dulu pernah tanpa sengaja kena pukul Syiffa pas di tit.." kata Novi tapi langsung saja ku bekap mulutnya agar jangan sampai kelaur lagi kata kata yang membuat kami merasa malu nantinya..
"Mas Alfi, namanya Alfi.." ucap ku dengan cepat namun yang punya nama Alfi di depanku hanya tersenyum simpul saja.
"Kayaknya bukan itu panggilanya.." kata Novi begitu aku melepaskan bekapan di mulutnya.
"Ariz, biasanya di panggil Ariz, cuma Syiffa saja yang memanggil dengan nama tengah saya.." jawab Mas Alfi masih dengan mengulas senyum kepada kami berdua.
"Mas Ariz lagi belanja paa kok masuk ke stad keperluan bayi..?" tanya ku.
"Oh.." jawab ku hanya ber Oh ria.
"Kok kayaknya kalian akrab bener.." ucap Novi seperti sedikit curiga, bukan sedikit curiga aku tau dia sangat curiga apa lagi dari cara memandang ku sudah sangat jelas sekali jika dia curiga sekali, dan pasti nanti akan membrondongku dengan berbagia pertanyaan.
"Iya karena kemarin lusa kami baru bertemu.." ucap Mas Alfi masih juga dengan mempertahankan senyuman manisnya.
"Ow, seperti itu.." jawab Novi tapi itu sama sekali tidak mensirnakan pandangan penuh selidik kepadaku.
"Fa, apa kita bisa bicara sebentar sambil makan siang.." tanya Mas Alfi tiba tiba, dan itu membuat pergerakan tangan Novi langsung terhenti dan memandang kami secara bergantian..
"Baiklah baiklah, ada yang bisa memberi penjelasan kepada ibu hamil ini yang acaranya sedikit terganggu.." ucap Novi tentu dengan gaya bicaranya yang selalu membaut orang merasa terpojok.
"Nanti aku jelaskan.." bisik ku padanya, dan dengan cepat dia mencubir pingang ku dengan juga berbisik pelan di telingaku..
"Fa, sudah sana pergi aku ikut bahagia mendengar dari Ibu Suri.." ucap Novi dan rasanya aku mau marah mendengar ucapan Novi, karena ini adalah kong kali kong mereka berdua, dan aku terkena jebakan BadMan.
__ADS_1
"Baiklah Mas, ayo.." jawab ku setelah membalas Novi dengan sumpah serapah dalam hati tentunya.
Kami berjalan beriringan menuju food corner dan sesekali bahu kami harus bersentuhan karena ramainya pengunjung yang datang berdesak desakan. Lantas setelah memilih makanan yang kami inginkan dan juga tempat yang cukup nyaman kamipun mulai berbicara pelan meski hanya pertanyaan basa basi saja, dan tenyata Mas Alfi tidaklah sekaku kemarin pas di rumah, dia terlihat santai dan sesekali membuat guyonan juga, dan pembicaraan ini sudah mengarah ke arah yang sedikit serius ketika Mas Alfi menanyakan tentang hubungan yang hendak kami jalin ini.
"Fa, apa kamu yakin dengan keputusan kamu, aku tidak ingin kamu terpaksa menjalani semua ini dengan ku, karena pernikahan itu bukan sebuah permainan rumah rumahan dan akan berahir begitu saja saat kita sudah bosan." katanya dengan nada yang lembut namun penuh arti tanya kepadaku karena berbalut dengan keraguan yang mengantung di setiap ucapanya. Ku hela nafas ku dalam dalam sebelum ahirnya aku menjawab tanyanya..
"Yakin karena orang tua yang memilih sampean untuk saya Mas, tidak yakin karena aku sendiri masih belum mengenal sampean, dan ragu saat trauma di masa lalu itu belum juga hilang.." jawab ku langsung pada poin yang ingin dia ketahui lantas di balasnya olehnya dengan senyum pengertian.
Memang jika boleh jujur aku adalah Jomblo 🤭🤭🤭, dan juga tidak ada seseorang yang mendekati ku atau seseorang yang mengisi hatiku saat ini, aku jomblo karena aku Trauma akan hianaan dan cacian orang orang terhadap keluarga kami saat itu, dan masih terlalu takut jika harus tiba tiba berkomitment tanpa mengenal terlebih dahulu.
"Kalau begitu ayo lebih dekat.." ucap Mas Alfi masih dengan senyum hangatnya dan ku balas dengan senyum hangat pula, karena tidak ada salahnya jika kami saling mengenal dan bertukar nomer ponsel dulu.
Kami terus saja mengobrol kesan kemari, membicarakan Film, musik juga tidak ketinggalan tentang pekerjaan kami berdua, kadang kadang tawa renyah ku keluar begitu saja saat menceritakan keseruan ku di sekolah bersama anak anak istimewa ku, dan pandangan hangat Mas Alfi yang tertuju padaku seolah bicara bahwa dia menaruh respeck atas pekerjaan ku..
"Fa...." triak sebuah suara dan langsung membuat kami mengalihakan pandangan kami ke asal suara tersebut...
Bersambung....
####
Di potong begitu saja..
🤣🤣🤣🤣
"Jahat Mak, sudah lama tak di sentuh sekali di sentuh di potong begitu saja..." kata Syiffa..
"Anak gadis tidak boleh crewet..🤣🤣🤣"
"Huhh.. pilih kasih.."
"Percayalah nanti akan sampai juga pada tujuanya, pelan pelan saja, jangan ke buru buru..."
"Sak karep e wes Mak, aku pasrah saja.."
"Nah gitu dung, syantiq.."
Love Love Love..
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862