
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tiga hari sudah berlalu, dan selama itu pula aku menjadi seorang pasien yang penurut kepada Ibu Suri. Selama tiga hari itu juga tidak ku ketahui kabar dari Ponselku, Ibu Suri hanya memberitahuku jika ada panggilan dari siapa-siapa, tanpa memberiku hak untuk menyentuh Ponsel ku. Kejam kan?.
Dari tiga hari itu hanya Mas Alfilah yang sering menghubungiku, juga datang menjengguk ku. Lha emang ada yang lain yang sedang aku tunggu.?. Atau aku punya teman lain selain dari pada Kanjeng Ratu yang sekarang lagi menikmati moment suwitnya bareng Incessnya. Jelas, aku terlupakan sekarang.
Pagi ini aku sudah bersiap kembali ke sekolah, juga sudah kembali bersemangat, dan sengaja ku buang jauh-jauh wajah pucatku agar Ibu Suri memberi izinnya untuk aku kembali beraktivitas.
"Fa, sudah di tunggu Nak Ariz di depan." Panggil Ibu Suri kepadaku dari pintu kamar yang ku biarkan terbuka.
"Akan siap sebentar lagi, Bu'e." Jawabku sembari tanganku sibuk menata keperluanku yang hendak aku bawa ke Sekolahan.
"Cepetan, jangan lama-lama, kasian Nak Ariz nanti terlambat kerjanya."
"Haduew, belum-belum aku sudah kayak anak Mantu saja." Gerutuku sambil mempercepat gerakan tanganku sepeninggal Ibu Suri.
Kenapa Mas Alfi yang mengantarku.? Itu karena titah dari Ibu Suri yang memperbolehkan aku kembali ke Sekolahan, asal ada yang mengantar jemput, dan pas semalam aku berdebat dengan Ibu Suri soal itu, Mas Alfi menawarkan diri menjadi ojek, jelas dengan senang hati Ibu Suri mengiyakan tawaran Mas Alfi, secara Mas Alfi adalah kandidat calon mantu idaman.
Aku mendapati Mas Alfi yang tengah berbincang hangat dengan Kanjeng Dhoro di teras. Dengan balutan kemeja biru laut Mas Alfi tampak segar, apa lagi rambutnya yang habis di cukur membaut dirinya tampak lebih rapi lagi dan manis. Dan ulasan senyum tipis yang di lemparkan kepadaku menambah nilai plus-plus bagi Mas Alfi.
"Tuh, anaknya. Lama di kamar keluar juga masih sama saja." Ucap Ibu Suri.
"Cantik kok anak Pa'e." Jawab Kanjeng Dhoro dan membuat Mas Alfi mengalihkan pandangannya dariku, lantas menatap Kanjeng Dhoro yang juga tengah menatap Mas Alfi.
"Fa, sudah semua. Bekalnya yang tadi Bu'e siapkan juga sudah kan." Cecar Ibu Suri kepadaku.
"Sudah Buk. Ayo Mas, nanti telat lho." Kataku mengajak Mas Alfi untuk segera berangkat, dan Mas Alfi segera bangkit dari duduknya lantas berpamitan kepada kedua orang tuaku begitupun dengan ku dan kami sama-sama melangkah menuju mobil Mas Alfi yang terparkir di depan pagar rumah ku.
Mas Alfi dengan ramah menyapa Tim CCTV kampung yang tengah bergerumbul di depan basecamp mereka. Dan aku yang sudah hafal betul dengan kegiatan mereka lebih memilih hanya tersenyum tipis ke arah mereka lantas segera masuk ke dalam mobil Mas Alfi tanpa berkata apa apa.
"Kamu beneran sudah baikan, Fa.?" Tanya Mas Alfi begitu masuk kedalam mobil.
"Tentu, Mas."
"Baiklah, sudah tidak ada yang tertinggalkan.?" Kata Mas Alfi sembari menghidupkan mesin mobilnya.
"Ada Mas, bekasnya. Ha.ha.ha." Ucpaku dengan cengingisan.
__ADS_1
"Ada-ada saja kamu itu, Fa."
Perlahan mobil Mas Alfi meninggalkan depan rumah ku dan menyisakan pendangan aneh dari tim CCTV yang sedang berbisik-bisik mesra mengenaiku, Ingin aku tidak Ge-Er, tapi aku terlanjur hafal betul dengan gaya para tetanggaku, jadi aku memilih jalan aman dengan hanya diam saja.
Mobil Mas Alfi membelah jalanan dengan lancar, selancar obrolan kami berdua mengenai hal yang kami suka ataupun tidak suka, dan sesekali kami akan tertawa saat jiwa humorku sudah keluar, hingga tanpa terasa perjalanan setengah jam ini cepat sekali berlalu.
"Mas, nanti Syiffa akan ke Rumah Sakit dulu, mau nengokin Uul, jadi Mas Alfi enggak usah jemput Syiffa." Ucapku saat hendak keluar dari mobil Mas Alfi.
"Nanti aku susul ke Rumah Sakit, Fa. Sudah janji sama Bu'e, saya enggak enak entar dikira saya tukang bohong dan Laki-Laki yang enggan tanggung jawab." Jawab Mas Alfi dengan tersenyum.
"Boleh juga, kan enggak terlalu jauh juga dari kantor Mas Alfi.Terima Kasih ya Mas. Assalamu'alaikum." Ucapku dengan bergegas membuka pintu mobil Mas Alfi.
"Wa' alaiakumussalam, kalau ada apa apa telefon saja." Jawab Mas Alfi dengan mengulas senyum tulus ke arahku, dan ku balas senyum Mas Alfi kemudian berdiri di samping Mobil Mas Alfi hingga mobil menghilang di balik pintu gerbang.
Aku melangkah pelan menuju ruangan ku, semakin dekat langkahku semakin terdengar suara ramai dari sana. Dan benar saja, sampai di tempatku ternyata disana tengah ada Bu Rina dan Bu Umi serta satu Guru baru yang usianya kelihatannya lebih muda dariku.
"Ehh, Fa. Sudah enakan.?" Tanya Bu Umi yang melihatku berada di ambang pintu.
"Assalamu'alaikum." Sapaku pada ketiga rekan kerja ku itu.
"Wa'alaikumussalam. Gimana udah benar benar pulih.?" Tanya Bu Rina.
"Ini Anita, Fa. Guru baru yang bakal jadi rekan kamu, pengganti Novi." Ucap Bu Umi memperkenalkan kami.
Ku ulurkan tanganku menyalami gadis cantik dengan kulit kuning langsat dan tubuh proposional bak model di samping ku, maklum tubuhku hanya semampai alias semeter tak sampai jadi aku suka kagum sama yang tinggi-tinggi. "Asyiffa. Panggil saja Fafa." Ucap ku.
"Anita Cahaya Irsani. Panggil saja Nita Mbak Fafa." Jawab Anita dengan lugas. Gadis ini cukup piawai, dan terlihat dari wajahnya yang kalem pasti dia adalah gadis yang sabar. Aku yakin sekali tidak akan butuh waktu lama baginya untuk menarik hati anak-anak dan menjadi idola baru bagi mereka.
"Sudah berkelaurga.?" Tanyaku.
"Belum, do'akan saja segera ketemu jodohnya, Mbak." Jawabnya dengan tersipu malu.
"Yang di suruh Do'ain saja belum laku itu, Nit." Ujar Bu Rina.
"Bu Rina ini kalau ngomong suka bener deh, ha ha ha. Kalian sesama pejuang pencari jodoh harus akur dan saling bahu membahu mencari jodoh." Kata Bu Umi.
"Sudah ku duga. Mohon bersabar ya Mbak Nita kalau sama kami, dan mohon untuk berbesar hati jika sudah ngomongin jodoh." Kataku dengan menyungingkan senyum ke arah Mbak Anita yang sepertinya cukup kaget dengan gurauan kami.
"Iya, Nit. Jangan suka di masukin dalam hati kata-kata kami, kami hanya bercanda." Timpal Bu Rina lagi.
__ADS_1
"Iya, Bu. Dan sepertinya saya akan segera krasan disini bersama kalian semua." Jawab Anita dengan mengulas senyumnya.
"Well, Sudah waktunya untuk tugas negara. Ayo semua semangat." Ujar Bu Rina sambil melangkah pergi dari ruangan ku serta di ikuti oleh Bu Umi, dan menyisakan aku juga Mbak Anita yang juga tengah bersiap-siap memasuki kelas kami.
Kami berjalan beriringan menuju ruang kelas kami, dan berpisah setelah kami sampai di ruangan yang hanya bersekat tembok lantas mulai sibuk dengan anak-anak kami semua. Raut gembira mereka menjumpaiku kembali mampu mengalihkan semua pikiranku kecuali tentang keadaan Uul saat ini, dan itu membuatku merasa sangat tidak sabar hari ini usai dan segera menemui Uul di Rumah Sakit.
Waktu yang terasa lambat, sampai juga membawaku kepada penghujung pertemuan hari ini dengan anak-anak Istimewaku. Dan dengan ketergesaanku harus terhenti kembali oleh panggilan Kepala Sekolah yang menyuruhku menghadap di ruangannya.
Ku ketuk pintu Ruangan Pak Doni, dan jawaban dari dalam untuk menyuruhku masuk membuatku bergegas mendorong pintu ruangan Pak Doni. "Anda mencari saya, Pak." ucapku pelan masih dengan berdiri di samping pintu.
"Iya, Bu Fafa. Silahkan duduk." Jawab Pak Doni mengarahkan tangannya agar aku duduk di sofa. Akupun berjalan pelan menuju sofa dan mendudukan diriku disana sembari menunggu Pak Doni yang masih duduk di kursi kerjanya.
Tidak lama Pak Doni segera berdiri dari duduknya dan mendudukan dirinya di sofa sebrangku. Dapat ku dengar helaan nafas dalam beliau sebelum ahirnya menyerahkan amplop kecil warna coklat kepadaku. "Maaf, Bu Fafa. Kami harus melakukan ini, karena apa yang anda lakukan sudah membahayakan salah satu Murid disini." Ucapnya dengan nada menyesal.
"Apa ini, Pak." Jawabku dengan nada bingung, meski jujur saja aku bisa meraba bahwa ini ada sangkut pautnya dengan kejadian tempo hari. Tapi, apa itu pantas bagiku.?
"Kami sangat menyesal dengan kejadian kemarin, yang sudah melibatkan Bu Fafa di dalamnya. Dan kami akan sangat kehilangan Bu Fafa, karena kinerja Bu Fafa sangat bagus selama bergabung bersama kami disini. Tapi, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui keputusan dewan Komite terutama pemilik yayasan ini untuk memberhentikan anda." Ucap Pak Doni dengan pelan namun cukup aku dengar dengan jelas, bahkan juga membuat bahuku merosot.
"Tapi, saya tidak melakukan hal yang tidak benar, Pak. Dan saya rasa semua ini salah faham." Jawabku, namun sekali lagi Pak Doni hanya bisa menggeleng pelan dan menyuruhku untuk membuka amplop di tanganku.
"Bu Hera dan Pak Panji tidak akan memperkarakan hal ini ke meja hijau." Lanjut Pak Doni yang menbautku semakin tercengang dan semakin bingung. Apa yang di maksud tidak memperkarakan, memang apa yang aku lakukan kepada Uul, aku hanya menolongnya, kenapa semua jadi tidak jelas dan kusut seperti ini.
"Silahkan kemasi barang-barang anda, Bu Fafa." Ucap Pak Doni lagi dan membuatku langsung berdiri dan pamit meninggalkan ruangan Pak Doni dengan langkah gontai.
Aku tau ada yang tidak beres, dan aku tau harus kemana sekarang agar semuanya jelas untuk mendapat jawaban atas pemberhentianku. Bukan masalah di pecatnya, dan tidak masalah bagiku di pecat asal alasannya tepat, alasan ini jelas ada kesalah fahaman yang sengaja menjatuhkanku.
Bersambung...
####
Lho kok makin ruwet saja tho Bu Fafa ini..
Semoga tidak seruwet Like, Coment dan Votenya buat sampean ya Bu Fafa..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862