
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
POV Pak Panji.
Emosi membuat segalanya berantakan, dan itu sekarang yang sedang aku hadapi kali ini. Namun saat melihat Fafa yang tersenyum kepadaku, seolah tidak terjadi apa apa lusa kemarin, benar benar membuatku tidak bisa mengontrol emosiku. Bagaimana bisa dia masih bisa tersenyum penuh arti kepadaku dengan bukti bukti yang berada di tanganku, atau sebenarnya baginya sandiwara adalah kebiasaannya.
Ada rasa kecewa yang begitu luar biasa di dada, ketika Fafa tidak memberiku penjelasan akan kejadian lusa, meski dia terus membantah bahwa itu bukan perbuatannya. Tapi, bukti yang berada di tanganku sama sekali tidak bisa ku abaikan begitu saja.
Entah rasa seperti apa ini, hingga membautku ragu dalam mengambil keputusan, bahkan sampai tidak mendiskusikan keputusan yang aku ambil dengan keluargaku. Tapi yang pasti aku memutuskan tidak ingin melanjutkan kasus ini ke meja hijau, karena aku masih memberi harapan. Harapan untuk diriku sendiri, berharap bahwa itu bukan Fafa.
Tanpa mau menjelaskan apa apa, Fafa melempar uang pesangon yang aku suruh berikan oleh kepala sekolah kepadanya. Lantas pergi meninggalkan aku dengan satu teka teki, bahwa seharusnya aku lebih waspada kepada wanita wanita cantik yang berada di sekililingku.
Wanita cantik, siapa yang dia maksud. Selama ini aku jarang dekat dengan wanita kecuali Diana. Anak salah satu rekan bisnis Papa yang beberapa tahun belakangan ini kencar Papa dekatkan kepadaku. Namun apa iya, gadis lemah lembut seperti Diana akan tega melalukan hal kotor ini kepada Uul.
Memikirkan hal ini, membuatku semakin ingin marah saja."Licik sekali hatimu, Fa." Gumamku sembari melempar uang yang tadi di berikan Fafa kepadaku.
"Don, suruh orang untuk mengikuti setiap gerakan Bu Fafa." Kataku pergi berlalu masuk ke kamar rawat Uul, tanpa menunggu jawaban dari Doni.
Baru kali ini, aku tidak yakin dengan keputusan yang aku ambil. Menyuruh orang untuk mengikuti Fafa, sebenarnya apa yang aku pikirkan. Ini untuk semata untuk kepuasan diriku sendiri atau untuk kepentinga penyelidikan. Tapi, satu yang pasti, aku terlalu kecewa dengan Fafa. Karena ini kali pertama aku menaruh kepercayaan kepada seseorang dan kepercayaan itu berubah menjadi simpati.
Terlebih saat Uul sangat menyukai Fafa, aku Faga cukup tulus kepada Uul, hingga aku lalai akan keselamatan Uul, dan ikut beruforia dengan kepolosan dan tingkah konyol Fafa terhadap kami. Ini lah sekarang hasil dari kecerobohanku, karena terlalu bahagia dengan perasaan aneh setiap kali mengingat tingakh konyol Fafa kepada ku.
Hari berganti, hari ini aku mendapat laporan dari Doni, jika Fafa tengah menikmati waktunya bersantai di salah satu Caffe milik ku yang dimana aku juga sedang berada di tempat yang sama dengan Fafa. Aku terus menatapnya dari kejauhan, dan masih tidak bisa percaya dengan beberapa berkas di tanganku, ketika melihat wajah polosnya.
Mungkinkah, dia orang seperti itu. Bisik hati kecil ku, bertepatan dengan Fafa membanting garbu kecil ke atas piring Brownisnya. Dengan tanpa perduli di raihnya Brownis dengan tangannya tanpa memerdulikan itu anggun apa tidak di lihat orang, juga cara meminum kopinya yang sekali teguk langsung habis. Memperlihatkan kekesalannya yang luar biasa.
__ADS_1
Aku terus memperhatikan tingkah Fafa, yang justru membuatku ingin tertawa. Bukankah itu aneh terhadap diriku. Harusnya aku tidak perlu repot repot memperhatikannya ataupun perduli padanya, tapi justru sikapnya yang sedang uring uringan membuatku ingin terus memperhatikannya.
Setelah Fafa berdiri, aku segera meraih Ponselku, dan memberi tahukan kepada kasir agar tidak menerima uang dari Fafa, dengan alasan apapun. Namun, justru uang ini sekarang berada di gengamanku, lantaran yang aku kira Fafa sudah pergi, ternyata masih kembali lagi. Pas bertepatan dengan aku yang sedang terburu buru untuk segera kembali ke Rumah Sakit, karena Uul yang terus marah tanpa sebab.
Marah, Fafa terlihat sangat marah ketika meninggalkan Caffe, begitupun dengan ku. Dan aku semakin marah lagi, saat melihat uang seratus lima puluh ribu yang entah kenapa masih aku bawa hingga ke rumah sakit. Dan bertambah semakin marah berkepanjangan, saat Diana datang ke Rumah Sakit menjenguk Uul, dan Uul tidak mau menerimanya bahkan sampai berteriak teriak histeris.
Aku tidak habis fikir, pengaruh Fafa terhadap Uul ternyata akan sangat besar seperti sekarang ini. Hingga Diana yang sudah bersusah payah mendekat kepada Uul sejak perjodohan yang di lakukan kedua orang tua kami dua tahun lalu, dengan mudah di ganti oleh Fafa, yang baru di kenal Uul setengah tahun lamanya.
Diana yang begitu lembut terhadap Uul juga tidak kalah telaten seperti Fafa, tidak dapat bisa menenagkan Uul, bahkan Diana justru membuat Uul semakin histeris tidak bisa di kontrol. Aku yang sudah habis kesabaran sampai sampai membentak Diana dan menyuruhnya untuk cepat keluar dari ruangan rawat inap Uul.
Uul masih saja tidak ingin tenang, dan terus memintaku untuk memanggilkan Fafa. Dan andai saja Mama tidak cepat datang, sudah pasti aku akan mendatangi Fafa, meski itu harus merendahkan harga diriku di depannya untuk meminta tolong darinya.
Beberapa hari berlalu, setiap harinya akan selalu sama. Uul merajuk dan bertanya kapan Fafa akan datang, kapan Uul akan boleh pulang dan bermain dengan Fafa. Aku hampir di buat stress karenanya. Apa lagi di tambah gugatan Susan juga sudah masuk ke meja hijau menambah tingkat stress ku bertambah parah.
Dengan langkah sedikit ku paksa, aku berangkat juga ke oulet Caffe yang berada di salah satu Mall di pusat kota, demi mendengar beberapa laporan juga sekaligus untuk membuang stress yang melanda. Tapi, sial sekali bagiku. Dunia ini seperti hanya sesempit daun rambutan di depan rumahku saja. Karena lagi lagi, aku harus bertemu dengan Fafa.
Harusnya aku tidak perduli, tapi hati yang sialan ini justru berfikir terlalu jauh dan menerka nerka apa yang di lakukan kedua orang itu di malam minggu seperti sekarang ini. Wajah jutek Fafa saat melihatku membuatku semakin ingin meremukkan gelas yang berada di Caffe ini, andai aku tidak ingat aku adalah orang yang di hormati oleh orang yang berada di sini.
Perasaan macam ini.? Desah hatiku dengan marah. Ada semacam rasa terbakar di dalam dada, saat melihat sikap Fafa terhadap Khariz yang tanpa di baut buat. Apa lagi sikap Khariz kepada Fafa, yang membuat Fafa seperti anak abege yang tenah di mabuk cinta, dan aku di tengah mereka seperti obat nyamuk.
Asli, karena pertemuan sebentar saja dengan Faga di Caffe tadi, membautku tidak bisa menutup mataku dan hanya terus berputar putar di kamar ku dengan terus terbayang wajah Fafa dengan sikap spontan yang berhasil membodohi aku dan Uul.
*It*u bukan urusanku, mau dia bersama Khariz, mau dia bersama laki laki manapun. Putusku dengan kasar, lantas segera membanting tubuhku di ranjang besarku, dan lagi lagi mataku tidak ingin terlelap.
Aku kembali bangun, lantas mengambil Ponselku dan segera menghubungi Doni. "Don, besok aku mau tau laporan soal Khariz. Salah satu Manager di Haikal Tran's pusat. Datanya lengkap." Kataku tanpa basa basi pada Doni, yang aku yakin dia saat ini juga tidak begitu mengerti dengan maksudku. Karena jelas sekali suaranya serak, menandakan bahwa dia baru bangun tidur.
Aku tidak perduli dengan Doni, yang aku pedulikan adalah dadaku yang sedang panas ini butuh pelampiasan, dan Doni yang yang menjadi korbanku saat ini. Setelah melakukan panggilan kepada Doni tanpa kejelasan. Akupun bergegas ke ruang Gym ku, dan menuntaskan kekesalanku dengan beberapa besi juga peralatan oah raga lainnya. Hingga keringat membanjiri tubuhku, hingga entah sampai jam berapa aku berkutat disana. Dan siapa yang harus di salahkan untuk hal ini semua, jelas sekali Fafa. Karena dia telah berani mengobrak abrik pikiranku tanpa pamit.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Part berikutnya masih POV Pak Panji lagi enggeh. Semoga masih senantisa sabar menunggu. Seperti sabarnya Gus Ali ketemu sama Mbak Juju.
🤭🤭🤭🤭
Like, Koment dan Votenya masih di tunggu.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1