
Happy Reading...
ππππππ
"Emmmpppiiiii..." Teriak ku saat aku baru saja membuka kamar ku, dan memperlihatkan keponakan ku yang tengah mengambar tembok kamar, sepray, juga cermin meja rias ku, dengan lipstic satu satunya yang ku punya, dan kepalaku yang tadinya baik baik saja langsung nyut nyutan begitu menyaksikan itu semuanya, lantaran muka mungil itu malah menatap ku dengan tatapan tanpa dosa dan cendrung bahagia memamerkan hasil karyanya di kamar ku.
"Ada apa sih Fa, teriak teriak.." Kata Ibu Suri dari ruang tamu, namun aku sungguh tidak ingin menjawab tanya Ibu Suri dan berfokus ke arah keponakan ku yang sudah mulai menunjukan bakatnya menggambar. Dan untung bagi si Empi lantaran menggambar di kamarku, tidak dapat ku bayangkan apa yang akan terjadi jika dia menggambar di kamar Ibunya.
"Fa.!. Masya'Allah, Silvi apa yang kamu lakukan di kamar Bude.." Kata Ibu Suri dengan sudah menarik tangan Silvi.
"Buk, biarkan saja.." Kata ku sambil menggulung sepray ku lantas menggantinya dengan yang baru.
"Keseringan sama anak anak nakal, jadinya Silvi kamu biarkan saja berbuat semaunya.." Kata Ibu Suri dan itu membuat gerak tangan ku terhenti, lantas bicara pelan.
"Bukan nakal Buk, tapi istimewa.." Kata ku lantas kembali melanjutkan kegiatan ku sebelumnya, tanpa memerdulikan Tausiyah panjang Ibu Suri karena jika aku terlalu mengambil hati ucapan Ibu Suri ujung ujunganya akan berdebat, maka dari itu aku lebih memilih diam atau membuat seolah olah tidak mendengarnya dan fokus ke hal lain.
Sore merambat ke malam, setelah drama lipstic menggambar kamar ku, bahkan sisa sisanya masih dapat di lihat di kamar ku, meski Silla juga sudah berusaha untuk membantuku membersihkannya. Malam ini seusai makan malam, kami semua tengah duduk bersama di ruang tengah, Mas Salim dan Istrinya, Silla dan Suaminya dan tidak ketinggalan si Empi biang onar di rumah.
"Empa, Au ihat u tup (Bu Fa, mau lihat you tube)." Kata Empi saat aku baru saja memegang ponsel ku.
"Empi, enggak boleh.." Kata Silla dengan nada sedikit tegas.
"Abuk akal, Aming au gong (Ibuk nakal, Pak Salim mau gendong)" Kata Empi sudah sambil mengulurkan tangannya ke arah Mas Salim.
"Sini, sudah lama enggak gendong Aming yah." Ujar Mas Salim dengan meraih Empi dalam pangkuannya.
"Fa, buatkan Pa'e Kopi.." Kata Pa'e.
"Ashiap Pak.." Jawabku.
__ADS_1
"Sekalian buat semuanya Fa.." Timpal Ibu Suri dan hanya ku jawab dengan anggukan kepala.
Sambil menunggu air mendidih, aku terus fokus pada ponsel ku yang tengah membalas beberapa chat dari teman teman lama waktu kuliah, juga si cerewet Novi.
"Ping" Suara notif pesan dari ponsel ku yang baru saja aku taruh, dan tampak dua pesan yang muncul disana. Dengan satu tangan ku geser pelan ponsel ku dan tampak nama Mas Alfi dan Pak Panji, dengan sedikit mengerutkan keningku, aku membaca bergantian pesan dari mereka berdua.
"Assalamu'alaikum Bu Fafa. Selamat malam. maaf menganggu, kalau boleh minta tolong, besok bisa temani Uul jalan jalan di taman, karena dari bertemu di Mall tadi Uul terus saja bertanya mengenai anda.." Isi chat dari Pak Panji dan dengan cepat aku membalasnya.
"Wa'alaikumussalam Pak Panji. Selamat malam. Insya'Allah saya usahakan." Jawab ku dan kemudian jempol jari ku berpindah dengan cepat ke arah chat yang datangnya dari Mas Alfi.
"Assalamu'alaikum Fafa, lagi sibuk enggak..?" Isi chatnya dan dengan cepat pula segera ku balas..
"Wa'alaikumussalam Mas Alfi. Sibuk sih enggak tapi lagi bikin kopi.." Jawabku kemudian dengan segera ku taruh ponsel ku dan segera menyeduh kopi serta beberapa cangkir teh juga, dan membiarkan begitu saja ponsel ku meski sebentar sebentar berbunyi.
Usai membuat Kopi dan Teh, dengan segera aku membawanya ke ruang tengah dimana semua sedang berkumpul. Dan kembali ponsel ku berbunyi lagi sampai sampai membuat Kanjeng Doro memperhatikannya lantaran itu jarang terjadi.
"Boleh satu cangkir kopi buat menemani lembur nih.." Balasan dari Mas Alfi. "Jangan terlalu manis, karna senyum Fafa sudah cukup jadi pengganti gula buat kopinya.." Lanjut chatnya dan itu cukup membuat ku terbelalak lantas dengan cepat berpindah ke chat dari Pak Panji..
"Semoga saja besok Ibu Suri tidak memberi titah secara mendadak. Oh iya, Ibu Suri mengucapkan banyak terimakasih, juga saya..βΊοΈβΊοΈ. Terimakasih banyak Pak Panji, Farfumnya wangi baunya..βοΈβοΈ" Isi balesan chat ku dan dengan segera ku taruh Posnel ku, lantaran berbarengan dengan itu titah Ibu Suri membahana untuk menyuruh ku mengasah kemampuan ku untuk menjadi pemijat profesional.
Sembari rebahan di kasur lantai di depan TV, tangan ku sudah memijat kaki dari Ibu Suri yang terus menjadi komentator acara siaran berita di salah satu TV Nasional, dan jika boleh jujur aku lebih suka Ibu Suri melihat Sinetron saja karena komentarnya lebih lucu daripada mengomentari berita.
"Tuh Fa lihat, semua pada naik, cabe, tomat, sayur mayur, telur juga enggak mau kalah.." Ujar Ibu Suri..
"Iya Buk, Garam saja juga ikut naik, di Bang Kumis biasanya sepuluh ribu dapat tiga, tadi Silla beli cuma dapat dua.." Timpal Silla.
"Ya emang waktunya naik, kan di bawa ke pasar juga mesti pakai bensin.." Jawab ku santai.
"Ya Mbak Syifa sih enggak mikir beli Cabe.." Timpal Silla lagi, dengan ikut pindah duduk di kasur lantai dan mengambil remot TV di depan Ibu Suri.
__ADS_1
"Tuh, Listrik naik lagi.." Kata Ibu Suri dan itu memantik semua ikut berkomentar, karena voleme TV oleh Silla di besarkan hingga semua memperhatikan TV, dan hanya aku saja yang tidak merespon apapun selain terus memijat kaki Ibu Suri.
"Ya pemerintah itu sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengatur semuanya, agar sampai pada masyarakat dengan harga terjangkau.." Kata Mas Salim dan kemudian semua saling bersahut sahutan menyampaikan pendapatnya masing masing.
"Tagihan listrik naik, tagiahan PAM naik, Gas naik, bahkan kopi yang lagi di minum Pa'e juga naik lho Pak. Bu'e pusing mikirin bayarnya gimana.." Kata Ibu Suri.
"Ya tinggal bayar tho Buk, kan biasanya juga langsung bayar di ZIA Net, dan lagi Nomer metter tagihan sudah di simpan sama Bang Azka pemilik ZIA Net, berarti kan tinggal datang kesana saja." Jawab ku masih tanpa memerdulikan TV di depan kami.
"Bukan itu Fa, Bu'e itu pusing mikirin uangnya.." Jawab Ibu Suri.
"Lha kan uang juga dari Syifa, Bu'e tinggal berangkat bayar.." Jawab ku dan itu sontak membuat Ibu Suri langsung duduk dan memukul bahu ku dengan kencang, sontak saja itu membuat semuanya tertawa karena lagi lagi aku berhasil membuat Ibu Suri jengkel dengan setiap jawaban ku.
"Pak, segera suruh Alfi nikahin Syifa biar Bu'e tidak pusing ngadepin anak stress ini. Masih mending seharian sama Silvi dari pada sama Syifa. Bisa darah tinggi lama lama.." Kata Ibu Suri.
"Gitu gitu kan Syifa masih berguna juga, buktinya masih suruh mijitin Bu'e.." Kembali timpal ku dan itu membaut perdebatan sengit antara aku dan Ibu Suri kembali terjadi, hingga baru berahir lantaran suara ponsel ku yang tengah berdering dan menampilkan nama Mas Alfi di sana, lantas membuat semua memandang ke arah ku dengan senyum aneh dan menyuruh ku untuk menyingkir dari ruang tengah.
Bersambung...
####
Haris Alfi Syahrien atau Panji Haikal..?
Kalau Emak sih milih Like, Coment dan Votenya sajah..π€π€βοΈβοΈ
Love Love Love...
ππππππ
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862