
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hari ini terasa begitu cepat sekali berlalu, dan rasanya aku enggan sekali menyudahi pertemuanku dengan mereka semua, karena rasa rindu ini belum sepenuhnya tertuntaskan. Dan ahirnya merekapun satu persatu meninggalkan sekolah, setelah jemputan mereka datang, hanya tinggal Uul seorang saja yang belum di jemput.
Ku ajak Uul bebicara sembari membereskan mainan, menyapu dan manata meja kursi juga. Uul cukup menikmati berdua denganku, begitupun dengan yang lain saat memiliki waktu yang hanya berdua saja denganku, tapi memang Uul lah yang paling dekat denganku di banding yang lain.
Selesai dengan ruang kelas, akupun membawa Uul menuju kantor. Masih dengan ceria Uul duduk di sofa yang masih terlihat oleh jangkauan mataku tentunya, meski aku harus menyiapkan laporan juga, sampai sampai aku lupa belum mengchek ponselku.
Setelah usai dengan pekerjaanku, ku lihat Uul tertidur sembari duduk. Akupun mendekat ke arahnya dan ku perhatikan lekat lekat wajahnya yang kuning langsat dengan hidung kecil yang bangir.
"Ibu Uul pasti cantik sekali." Gumamku pelan, lantas kembali ke mejaku untuk mengambil ponselku. "What, enggak kurang banyak apa nelefonnya, tau bener kalau aku bakal mampir untuk melabraknya." Gumamku sambil cekikikan.
Akupun bergeser pada panggilan yang lain, yakni ke panggilan Pak Panji yang baru saja ddi buat kira kira sepuluh menitan. Dan kemudian bergeser ke Chat yang bertebaran kemana-mana.
Satu persatu ku baca chat, mulai dari titah Ibu Suri yang menyuruhku cepat pulang dan membelikan hadiah untuk ponakan baru, dan gerakan jariku langsung berhenti saat mendapati Chat dari Novi.
Setelah usai membaca chat dari Novi, tanpa pikir panjang aku membuat panggilan kepada Pak Panji. Satu Dua kali masih tetap tidak ada jawaban, aku semakin gelisah. Untuk meninggalkan Uul dengan orang lain jelas aku tidak bisa, karena aku tadi sudah berjanji kepada Pak Panji, lagian Uul juga tanggung jawabku.
Aku mencoba menghubungi Novi, untuk bertanya ke adaannya saat ini, namun ponselnya mati, dan itu berhasil membuatku semakin gelisah. Aku kembali menghubungi Pak Panji hingga berkali-kali, namun masih tidak di jawabnya.
"Maaf, Mas Panji. Kok belum ada yang jemput Uul juga. Saya sedang ada keperlaun yang sangat Urgen, apa boleh kalau Uul saya titipkan ke Guru pembimbing lain." Ketikku ahirnya dan mengirimnya tanpa pikir panjang, karena pikiranku tertuju pada Novi sepenuhnya yang jatuh di kamar mandi.
Aku baru saja hendak menuju ke ruangan Bu Rina guna untuk menitipkan Uul, namun dari selasar dapat ku lihat pengasung Uul yang tengah berlari sedikit tergesa untuk menghapiriku.
"Bu, maaf terlambat." Ucap perawat itu sambil mengulas senyumnya di sela sela nafas ngos ngosannya.
"Lho Mbak, katanya sedang tidak enak badan." Ucapku, dan dapat ku lihat bahwa dia baik baik saja meski terdapap seperti bekas tamparan di pipi sebelah kananya.
"Iya Bu, tapi sekarang sudah mendingan." Jawab Perawat itu. "Uulnya mana Bu.?" Tanyanya lagi, dan dengan cepat akupun mengajaknya untuk masuk ke ruanganku.
__ADS_1
"Uul tertidur Mbak." Kataku pelan, dan tanpa menjawab kataku perawat itu segera mengangkat tubuh Uul.
"Biar saya bantu Mbak sampai ke mobil." Kataku dengan mengambil tas Uul, namun dengan cepat tas itu di ambil lagi oleh perawat itu bergumam tidak jelas.
Aku terus mengikuti Perawat itu hingga sampai ke pelataran, dan aku sedikit tercengang karena mobil yang menjemput Uul mabil lain lagi, dan bukan juga mobil berkelas seperti biasanya.
"Terima kasih Bu sudah menjaga Uul." Ucap Perawat itu, ketika aku masih memperhatikan mobil yang berada tidak jauh di depanku.
"Iya Mbak. Hati hati." Jawabku masih dengan memperhatikan Perawat itu hingga masuk ke mobil dan mobil pergi perlahan meninggalkan sekolahan.
Aku kembali bergegas menuju ke ruanganku dna membereskan barnag bawaanku, lantas dengan cepat aku sudah keluar kembali dan berpamitan pada yang lain untuk segera pulang.
Sampai di parkiran akupun bergegas memberi kabar ke Pak Panji jika Uul sudah di jemput, kemudian dengan segera aku sudah memacu pedal gasku untuk segera sampai di rumah Novi.
Aku sudah separuh perjalanan menuju rumah Novi, dan harus berhenti karena getar dari ponselku yang terus berderit-derit di kantong bajuku, dan tampak terlihat olehku nama Novi yang tetpampang disana, dan dengan cepat aku mengangkatnya tapi bukan suara Novi melainkan suara Suaminya.
"Assalamu'alaikum, Fa." Ucapnya disana.
"Wa'alaikumussalam, Dre. Gimana, apa semua baik baik saja." Jawabku.
"Alhamdulillah, jad.."
"Kamu pulang saja, cari kado dulu buat Inces dulu baru jenguk, mohon maaf aku tidak menerima tamu tanpa hadiah. he.he.he." Sahut suara Novi yang kayak enggak baru lahiran saja.
"Dasar Nopet.Awas saja yah." Ucapku dengan geram tapi sekaligus lega karena mendengar semuanya baik baik saja.
"Maaf ya Mbak Mblo, kita mau menikmati moment suwit bareng keluarga, jadi Jomblo di larang iri. Assalamu'alaikum." Ucap Novi dan dengan sengaja memutuskan panggilannya sebelum aku menjawabnya.
Dengan rasa kesal aku memandang ponselku sembari menjawab salam Novi. "Wa'alaikumussalam." dan dengan masih kesal pula ku masukan Ponselku dan memutar balik motorku untuk mencari hadiah pesenan Ibu Suri.
Cukup sudah kesabaranku keluar masuk ke satu toko bayi satu ke yang lainnya. Dan semua semua yang kau tunjukan ke Ibu Suri tidak ada yang cocok dengan seleranya. Sekali Ibu Suri menyukainya, tapi harganya katanya terlalu mencekik di leher katanya, ahirnya tanpa persetujuan dari Ibu Suri aku memilihkan sepaket perlengkapan bayi, mulai dari handuk, baju, topi, hingga popok bayi juga. Dan aku membeli dua paket seligus, saru berwarna biru untuk Kepanakan baruku, dan satu berwarna pink untuk si Incesnya Novi.
__ADS_1
Dua paket itu ku letakan di depan motorku, dengan sedikit kesusahan akupun hanya bisa menjalankan motorku pelan pelan, itupun juga dengan sesekali berhenti untuk membenarkannya.
"Nasib-nasib, jadi orang baik." Gumamku pelan, saat behenti lagi di sebuah jalan yang agak sepi dengan tumbuhan Ilalang yang tinggi menjulang di kiri kanan jalan, untuk membenarkan barang bawaanku yang kembali miring. Dan baru saja aku hendak menstater motorku, saat sayub sayub ku dengar suara anak yang seperti ketakutan dan manangis sembari seperti berbicara namun tidak jelas.
Akupun mematikan motorku, lantas clingak clinguk kesana kemari mencari keberadaan asal suara tersebut. Dan suara itu semakin jelas terdengar di sertai dengan teriakan seorang wanita gang menyeru mungkin mengejarnya. Dan suara itu tiba-tiba menghilang.
Akupun hendak kembali menstarter motorku lagi, namun seketika kembali tanganku terhenti saat ku lihat asap hitam yang membumbung tinggi tidak jauh dari tempatku, dan tanpa berfikir panjang lagi aku langsung berjalan dengan sedikit berlari menuju tempat yang sepertinya adalah sebuah gudang kosong.
Aku sampai di tempat itu bertepatan dengan sebuah mobil yang pergi meninggalkan gudang tua tersebut. Dan hatiku benar benar merasa sangat gelisah saat ku lihat seluet wajah seseorang yang tengah berada di dalam mobil itu. Dan aku semakin seperti tidak bisa bernafas saat ku lihat tas kecil waran biru yang sangat aku kenal.
"Uul.." Pekikku, dan seketika masuk ke dalam gudang itu tanpa memerdulikan bahwa api sudah hampir melahap separuh dari gudang tersebut. Dan aku semakin histeris saat ku lihat tubuh kecil Uul tengah di kelilingi oleh Api.
Hanya bermodal Jilban segi empat yang ku lepas dari kepalaku akupun berusaha untuk memanamkan Api yang tengah menjilat kulit kuning langsat Uul, dan dengan segera meraih tubuhnya dalam dekapanku, panas juga memvakar kulitku.
Aku berlari sekuat yang ku bisa di balik rintihan kesakitan Uul, dan di sela sela rintihannya tak henti hentinya di panggilanya namaku dan Ayahnya. Hingga, ketika aku rasa posisiku sudah sedikit aman dari gedung yang tengah terbakar itu, akupun langsung meraih ponsel dari tasku dan mendial nomer yang bisa sesegera mungkin akan memberi pertolongan untuk Uul.
Setah menghubungi ambulan, akupun segera menelefon polisi, dan terahir baru menelefon Pak Panji untuk memberi kabar akan kejadian ini, namun sama sekali nomernya tidak bisa di hubungi, tanpa memerdulikan penampilanku yang sudah tak menentu, panas, perih, sakit, semau seakan hilang begitu saja saat mataku menatap ke arah kaki Uul kulitnya mengelupas sudah seperti ayam yang kena siram air panas.
Dan aku berusaha mengajaknya berbicara agar untuk tetap tersadar, dan mencoba mengalihkan rasa sakitnya itu dengan meniup niup bagian yang di katakannya panas, hingga setengah jam lamanya saat Ambulan beserta dengan polisi yang aku hubungi datang. Dan tanganku tidak pernah lepas dari genggaman Uul hingga sampai tiba di Rumah Sakit.
Bersambung...
####
Kok jadi gini. Butuh juga yang bikin tegang..
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862