Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 53


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Fa..." Pekikan Ibu Suri membautku berjingkat, hingga hampir saja menjatuhkan gelas yang berada dalam gengamanku. "Ada apa dengan mu, heran dari tadi Bu'e tu ngomong sampai berbusa, kamu malah ngelamun." Lanjut Ibu Suri.


"Bu'e ngomong sama Syiffa.?" Jawabku dengan muka datar tanpa dosa.


"Memang disini ada siapa lagi..?"


"Tuh, Pa'e datang." Ucapku sembari menunjuk Kanjeng Dhoro yang baru masuk ke rumah dengan daguku.


"Ehh, Pa'e sudah pulang. Sana buatin kopi Pa'e Fa." Ujar Ibu Suri dan dengan cepat sudah meraih tangan Kanjeng Dhoro dalam kecupan mesra seorang istri. Ahh, kalau lihat pemandangan seperti ini sungguh membuatku iri dan dengki terhadap mereka berdua. Juga sekaligus menjadi harapan terbesarku kelak jika sudah memulai Rumah Tangga, akan seperti Kanjeng Dhoro dan Ibu Suri.


Aku melangkah masuk ke dapur, dan sudah memulai ritual membuat kopi untuk Kanjeng Dhoro, juga sekalin membuatkan teh untuk Ibu Suri, daripada nanti aku di suruh kembali lagi ke dapur untuk membuatkannya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat kopi, karena memang aku bukan seorang Barista, dan cukup dengan kopi instans saja. Terlebih lagi tidak ada alat untuk membuat kopi seperti yang ada di cafe cafe punya Pak Panji.


Pak Panji, kenapa aku harus mengingat Pak Panji lagi, padahal fokusku sedang berada pada kedua cangkir yang sedang aku tuangkan air panas. Harusnya aku memikirkan bagaimana caraku berbicara dengan Mbak Anita. Tapi, apa itu perlu aku lakukan, sedangkan Mbak Anita saja lebih memilih diam. Apa aku tidak keterlaluan jika melakukan hal itu.


Alih alih, Pak Panji mau bergeser sedikit saja dengan Mbak Anita. Malah makin memenuhi pikiranku, gara gara panggilan yang di lakukan semalam setelah aku pulang jalan dengan Mas Alfi. Dan hingga sore ini permintaan Pak Panji membuatku bingung hendak menggambil keputusan.


Dari hati yang terdalam, aku ingin menerima permintaan Pak Panji. Tapi, jika mengingat kembali ucapan Mas Alfi semalam, aku takut jika pada ahirnya Mas Alfi menyerah bukan karena Mas Alfi yang tidak mampu untuk melupakan masa lalu, melainkan karena aku yang tidak bisa untuk di ajak berjuang bersama.


"Fa, mau sampai kapan kamu terus mengaduk cangkir itu." Kata Kanjeng Dhoro yang tanpa aku sadari sudah berada di ambang pintu.


"Eh, tadi Syiffa lihat gulanya agak keras Pa'e." Kilahku.


"Ya sudah Pa'e tunggu di belakang."


"Iya." Jawabku singkat dan dengan cepat sudah mengambil nampan untuk membawa dua cangkir tersebut ke belakang rumah.


Baru kakiku keluar dari pintu belakang, sudah terdengar tawa Silla dan Ibu Suri, entah bahasan apa yang mereka ambil hingga membuat tawa mereka pecah.


"Apa sih yang di bahas Pak." Ucapku sambil meletakkan cangkir Kanjeng Dhoro.


"Ya, Pa'e tidak tau lah Fa, kan Pa'e baru juga kesini." Jawab Kanjeng Dhoro.


"Mbak Syiffa tau enggak."


"Enggak taulah."

__ADS_1


"Kebiasaan Mbak Syiffa ini. Silla kan belum mulai cerita." Bibir Silla manyun.


"Ya udah cerita gih. Apaan.?" Jawabku seraya mengambil tempat duduk di samping Ibu Suri.


"Tadi, pas di acara arisan RT. Bu Gito bikin ulah lagi."


"Ya kan emang dia artisnya." Selaku.


"Dengerin dulu Mbak." Ucap Silla. Silla segera menggulung lengan kemejanya untuk mempraktekan gaya Bu Gito yang sedang pamer gelang. Lalu dengan cepat di raihnya pisang goreng di hadapan kami.


"Saya itu enggak level ya sama jajanan pasar yang kayak gini." Ucap Silla dengan gaya menirukan Bu Gito. Dan dasar si Silla bakat aktingnya benar benar mumpuni hingga awal sampai ahir Ibu Suri dan aku tak henti hentinya tertawa melihatnya Silla yang menirukan gaya Bu Gito dengan apik.


"Sill, itu piring di depanmu masih penuh. Sini tak gesernya ke Bu Heni, biar ke makan. Kalau saya mah jajanan kayak gini udah bosen." Jeda Silla masih menirukan gaya Bu Gito.


"Begitu piring tak geser ya. Ehh, separuh piringnya masuk ke Tas Mahal dari Dubai milik Bu Gito." Lanjut Silla dengan tawa terbahak bahak.


"Ehh, katanya tadi enggak level dan bosen, kenapa masuk ke kantong ajaib." Ucapku.


"Halah, kayak Mbak Syiffa enggak hafal sama gaya Bu Gito. Emang beneran tasnya itu dari Dubai. Dubainya halu. Ckckckck.." Jawab Silla.


"Itu kan tetangga kamu, Sill." Timpalku.


"Temannya Bu'e tuh." Sangkal Silla. Bu'e yang masih tertawa hingga meneteskan airmatanya masih tidak dapat berkata apa apa, saat Silla melempar umpannya.


Kami bertiga masih duduk duduk di teras belakang, sembari beralih topik pembiraan. Dan tentunya itu tidak jauh jauh juga dengan rencana pernikahanku. Aku sih lebih memilih untuk diam, karena sejujurnya hatiku masih di liputi keragu raguan.


"Pa'e sama Bu'e dulu nikahnya gimana.?" Tanyaku dengan tiba tiba.


"Ya nikah saja Fa. Emang mau gimana..?" Jawab Ibu Suri.


"Ya Syiffa tau. Maksud Syiffa, Bu'e sama Pa'e apa pacaran dulu, atau di jodohkan, atau mungkin kayak Syiffa." Terangku. Kanjeng Dhoro dan Ibu Suri saling tatap sebelum ahirnya menatapku dengan tatapan tajam.


Aku yang sadar dengan itu, segera saja membuat bantahan atas tatapan mereka kepadaku. "Jangan salah faham, Syiffa hanya ingin tau saja."


"Apa ada yang tidak beres.?" Telak Ibu Suri.


"Betul, kata Ibu Fa. Apa ada yang tidak benar. Atau kamu masih keberatan.?" Timpal Kanjeng Dhoro.


"Bukan seperti itu. Pa'e dan Bu'e jangan berfikir aneh aneh. Ini murni karena Syiffa yang ingin tau." Jawabku sembari memutar mutar cincin di jari manisku.


"Jika ingin memulai sebuah hubungan memang akan selalu banyak godaan dan cobaan, Fa. Mungkin darimu, atau juga dari Nak Ariz." Ucap Kanjeng Dhoro. "Apa itu yang menganggu pikiranmu dari tadi." Lanjut Kanjeng Dhoro setelah memberi jeda sebentar pada ucapannya.

__ADS_1


"Tidak, tentu itu sama sekali tidak. Itu hanya soal Uul saja." Dan sepertinya mengkambing hitamkan Pak Panji bisa jadi alasan yang tepat juga.


"Ada apa lagi soal Uul." Tanya keduanya hampir bersamaan.


Aku menghela nafasku sebentar lantas menatap keduanya. "Sudah seminggu ini Uul berada di Singapore untuk menjalani pengobatan. Dan kira kira tiga harian ini Uul terus menginginkan Syiffa ada di dekatnya. Jadi, semalam Pak Panji nelfon Syiffa minta kesediaan Syiffa untuk datang kesana."


"Lha terus kamu mau kesana.?" Jawab Ibu Suri.


"Syiffa belum memberi keputusan. Syiffa bilang tanya dulu sama Pa'e dan Bu'e. Menurut Pa'e dan Bu'e bagaimana.?" Tanyaku lagi.


Ibu Suri menyikut lengan Kanjeng Dhoro, dan dengan kode yang di berikan oleh Ibu Suri, Kanjeng Dhoropun segera duduk dengan tegak lantas berdehem pelan.


"Dhemm. Kamu memang tanggung jawab kami Fa saat ini. Tapi, sekarang kamu juga memiliki tanggung jawab lain juga. Yakni, kamu harus menjaga perasaan orang lain yang telah menyematkan cincin di jari manismu. Kami tidak akan keberatan soal itu asal kamu berjanji bisa menjaga sikapmu disana. Juga asalkan, Nak Ariz menyetujuinya."


"Kamu sudah bicarakan dengan Nak Ariz.?" Tanya Ibu Suri.


Aku menggeleng pelan. "Syiffa baru bicara sama Pa'e dan Bu'e saja." Ucapku.


"Kamu bicarakan dengan Nak Ariz dulu." Jawabku singkat.


"Calon mantu idaman Bu'e pasti akan dengan bijak menyikapi ini." Ujar Ibu Suri, dan tidak lama setelahnya Kanjeng Dhoro dan Ibu Suri sudah sahut sahutan berebut mencari siapa yang paling berjasa menemukan Mas Alfi untuk ku.


Senyum keduanya membuatku juga tersenyum simpul. Tapi, senyum ini tidaklah sama seperti senyum mereka yang penuh harapan akan kebahagiaan yang akan di sulam kurang dari tiga bulan ini. Dan melihat antusias dan kebahagiaan mereka berdua, aku rasanya tidak akan sanggup jika mengoyakan lagi jahitan luka lama yang masih membekas.


"Maafkan aku Mbak Anita, sepertinya aku akan egois, dan pura pura tidak tau menahu soal ceritamu dan Mas Alfi. Karena sekarang Mas Alfi dan aku akan memulai cerita baru." Lirihku dalam hati, juga bisa di bilang ini menjadi janjiku. Janjiku agar senyum dan kebahagiaan kedua orang tuaku tidak akan pudar lagi olehku.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2