
Happy Reading..
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku yang baru saja selesai rapat degan cepet ingin meluncur pulang ke rumah, karena tadi sebelum berangkat Ibu Suri mewanti wanti ku agar langsung pulang supaya kami bisa makan bersama katanya.
Lah yang membuat heran ku heran, tumbem tumbenan Ibu Suri minta di temenin dan sedikit memaksa, aku rasanya sedikit curiga karena dari belanjaan juga masakan untuk makan siang lumayan banyak juga, jangan jangan ada udang di balik bakwan, yang bikin nikmat tapi gatel sesudahnya,🤭🤭🤭.
Kok bisa gatel..?, soalnya aku alergi sama udang.😅😅😅.
Panas matahari serasa membakar seluruh kulitku, itu di karenakan baju ku yang berwarna hitam di tambah dengan aku harus mendorong motorku karena banya bocor, sehingga membuat peluh ku terus bercucuran seperti rembasan air dari sumber menuju ke tempat yang lebih rendah.
Aku baru saja mengistirahatkan diriku sejenak sambil meminum air yang kau bawa dari rumah, saat tiba tiba sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan menghampiri ku, awalnya aku takut di kira kunti, karena duduk ku di bawah pohon Mohani besar, di tambah penampilanku yang acak acakan. Tapi begitu melihat siapa yang turun dari mobil aku malah menjadi syok dan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Fa.." katanya pelan saat dia sudah semakin mendekat. "Ahirnya aku menenemukan mu.." lanjutnya dengan menambah ulasan senyumnya. Senyumnya masih sama seperti dulu, manis mengandung racun, di tambah giginya yang gingsul serta kulit yang hitam manis menambah racun pada dirinya buat ku.
Dulu, dulu sekali saat melihatnya tersenyum seperti itu maka jantungku akan berdetak lebih kencang, sekarangpun sama cuma detaknya lebih ke arah ngilu yang tertahan di dada.
"Chelepa..," katanya lagi saat dia sudah benar benar berhenti di depan tempatku duduk. Tubuhnya yang tinggi semakin menjulang di tengah posisiku yang sedang duduk. Chelepa, nama itu, panggilan itu, selalu dia sematkan untuk ku, dan kinipun panggilan sayangnya untuk ku itu masih di gunakanya.
"Chel, apa kabar.." katanya pelan.
"Pergilah.." balas ku datar..
"Ayo kita bicara, aku mau menjelaskan semuanya padamu.."
"Tidak perlu Bay, pergilah.." kataku sambil membuang pandangan ku ke arah lain, jika saja ban motorku tidak bocor sudah pasti aku akan pergi dengan secepatnya..
"Chel, ak.."
"Aku tidak mau, pergilah atau aku yang pergi.." ucap ku dan langsung meraih motorku.
"Ayo kita bicara.." katanya dengan langsung menarik tangan ku, aku langsung menyentakan tanganya yang memegang pergelangan tangan ku namun itu membuat dia bersikap semakin menggila dengan meraih tubuh ku agar mau menurut padanya, dan aku terus meronta dengan menendang, memukul dan segala usaha apapun yang bisa aku lakukan untuk lepas darinya.
"Kamu gila ya, apa yang kamu lakukan.." triak ku namun sama sekali tidak di gubrisnya, dia terus saja membawa tubuh ku mendekati mobilnya, namun dengan tiba tiba sebuah tangan kekar memukul wajah Bayu dengan keras hingga membuatnya terpelanting jatuh tersungkur di dekat ban mobilnya.
"Bug..Bug..." dua pukulan keras kembali mendarat di wajahnya, aku yang masih syok dengan apa yang terjadi hanya bisa menjerit jerit kaget tanpa bisa mengatakan apapun, sehingga membuat beberapa pengendara lain yang berlalu lalang ikut menoleh ke arah kamu.
__ADS_1
"Jangan ikut campur urusan kami.." kata Bayu yang sudah berdiri.
"Laki Laki apa yang kasar pada seorang wanita.." katanya dengan suara berat khas dia, "Pergilah.." katanya dengan sudah mencengram kerah baju yang di gunakanya, dan mendorongnya ke pintu mobilnya.
"Chell, kita perlu bicara, jangan sembunyi lagi dariku.." kata Bayu dengan lantang sebelum dia masuk kedalam mobilnya..
Aku masih berdiri dengan tubuh bergetar dan tangan ku mencengkram kuat ujung jilbabku.
"Bu Fafa, duduklah.." katanya pelan, aku tidak tahu bagaimana aku bisa sudah sampai di bawah pohon kembali, tapi yang jelas aku jalan sendiri..😄😄😄
"Silahkan diminum dulu Bu.." katanya lagi sambil menyodorkan botol air mineral kepadaku. Setelah aku meneguk sampai habis setengah botol barulah getar tubuh ku sedikit berkurang dan sudah bisa melihat dengan jelas siapa orang yang telah menolongku.
"Trimakasih Pak Panji.." ucapku pelan.
"Apa motor anda baik baik saja.." tanyanya..
"Mas, sepertinya motor Mbak Fafa banya bocor.." kata Pak Sahri sebelum aku menjawab pertanyaan dari Pak Panji.
"Baiklah Pak, sampean bawa motor Bu Fafa ke bengkel terdekat sini, biar Bu Fafa saya antar pulang.." kata Pak Panji.
"Tidak usah Pak, saya bisa membawanya sendiri.." ucapku dan itu membuat Netra kelam milik Pak Panji menatapku cukup lama.
"Saya rasa, anda akan lebih aman jika ikut saya dulu Bu,.."
"Nanti bagaimana dengan motor saya.." jawab ku..
"Biar nanti di antar kerumah anda oleh Pak Sahri, bukan begitu Pak..?" tanya Pak Sahri.
"Iya, betul itu Mbak Fafa,.." kata Pak Sahri, lalu memberikan kunci mobil ke Pak Panji dan meminta kunci motor dari ku.
"Mari Bu Fafa.." ucap Pak Panji datar sambil tanganya mengiringku kearah mobil mewahanya, coba saja kalau pas enggak habis ada kejadian yang bikin hati syok, pasti hati girang banget bisa naik mobil sport kayak gini.
Aku masih diam saja saat Pak Panji membukakan pintu mobil untuk dan menyuruhku masuk ke dalam mobilnya.
"Pak Sahri kami duluan, nanti saya telfon kemana harus mengantar motor Bu Fafa.." pamit Pak Panji kepada Pak Sahri, dan itu membuat ku tertekun untuk beberapa saat, mengagumi kepribadian Pak Panji yang rendah hati, bahkan dengan sopirnya saja bisa bersikap begitu ramah.
"Baik Mas.." jawab Pak Sahri, dan Pak Panji langsung bergegas masuk kedalam mobil begitu mendapat jawaban dari Pak Sahri..
__ADS_1
"Jadi Bu Fafa kemana saya harus mengantar anda..?" tanyanya dengan mulai mengencangkan sabuk pengamanya.
"Ke Jln, KH.Wahid Hasyim Pak.." jawabku singkat.
"Baiklah, siap meluncur.." katanya dengan senyum manis. What, barusan aku bilang manis, tapi ya emang bener manis sih.
Kami sama sama diam dalam kecanggungan, dan baru kali ini aku merasa canggung dengan seseorang, entah kemana larinya sikap humor ku, tiba tiba sepeti hanyut do bawa air sungai yang meluap.🤭🤭🤭
"Bu Fa.."
"Pak Pan.." kami saling pandang saat kami tiba tiba saling ingin memualai bicara dan sejurus kemudian kami saling tersenyum..
"Silahkan anda duluan.." katanya sambil mengulas senyum ke arahku, dan makin di buat salah tingkah dengan tatapan hangatnya kepadaku.
"Saya, mau bilang Trimakasih karna sudah menolong saya.." ucapku sedikit tergagab, dan aku sangat mengutuki akan tingkah ku ini. " Dan seharusnya Anda tidak perlu mengantar saya.." lanjut ku.
"Melihat dari kenekatanya bukan berarti dia tidak akan mengikuti anda Bu Fafa,.." jawabnya datar dan pandanganya lurus ke depan,. "Dan dari kenekatan itu bisa saya baca bahwa ini menyangkut soal urusan hati.." lanjutnya dengan menoleh ke arahku juga masih dengan senyum, tapi itu mampu membuatku menelan saliva ku dengan kesusahan.
"Well, saya tidak akan bertanya soal itu, karena itu hak privasi anda, yang ingi.."
"Krucuk.. Krucuk ..Krucuk.." bunyi perut ku membuat Pak Panji menghentikan kata katanya danengantinya dengan senyum yang sedikit melebar.
"Itu dia, mari kita makan siang.." lanjutnya, dan kali ini sungguh aku tidan bisa berkata apa apa selain dari menutup muka ku dengan kedua tangan ku, karena harus menanggung malu di akibatkan dengan perut yang tidak mau ikut jaim dan bertingakh elegant sedikit saja.
Bersambung...
Perut oh perut kenapa engkau lapar..😅😅😅
Kira Kira apa yang akan terjadi saat mobil mewah Pak Panji masuk ke perumahan Bu Fafa...🤔🤔🤔🤔
Lobe Love Love..
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1