Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 56


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Langkahku memelan saat hendak memasuki ruang tunggu si Bandara. Dan seketika tempat bagus yang tadi aku lihat bersama dengan Mas Alfi menghilang dari bayanganku. Bahkan, rencana rencana yang tadi aku dan Mas Alfi bicarakan juga ikut menguar seperti udara pagi saat matahari mulai bersinar, begitu mataku menangkap sosok Pak Panji yang tengah duduk dengan santainya di sebuah kursi.


Kemeja warna Navy yang di gulungnya hampir ke siku, membuat penampilannya terlihat santai. Paduan Jean's abu abu yang robek robek membuat Pak Panji benar benar terlihat jauh berbeda dengan kesehariannya yang serius. Asli ini membuatku semakin khilaf saja.


Kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya menambah nilai plus baginya. Dan tentu saja yang membuat semua wanita tak bisa berhenti menatapnya adalah sikap acuhnya dan memilih fokus dengan laptop yang berada dalam pangkuannya. Sementara seluruh mahluk pemuja keindahan sudah begitu meleleh menatapnya.


"Bu Fafa, mari ikuti saya." Ucap Asisten Dion yang membuatku sejenak berpaling dari mahluk indah yang tengah duduk dengan airmuka tak beriak sama sekali.


Ku ikuti langkah Asisten Dion yang mengajak ku berjalan mendekat ke arah Pak Panji. Dan semakin dekat langkah ini, maka detag jantung ku semakin menggila layaknya anak anak remaja yang hendak bertemu dengan gebetannya. Ahh, dasar hati tidak tau malu.


"Mas, Bu Fafa sudah sampai." Ucap Asisten Dion pelan dan sejenak kepala Pak Panji terangkat menatap kami berdua. Sekilas, ya itu sekilas saja, namun efeknya sungguh luar biasa bagi dadaku.


"Semuanya sudah kamu siapkan dengan benar.?" Tegas, entah kenapa nada itu terdengar tidak begitu indah di telingaku.


"Sudah semuanya." Ucap Aisten Dion dengan memandang lekat Pak Panji.


"Penerbangannya lima belas menit lagi, silahkan duduk dulu." Aku ikut menatap Pak Panji dengan heran. Dan berfikir kemana mana, kenapa moodnya dengan begitu mudah berubah. Apa gerangan salahku padanya.?


Tatapan kesal langsung di berikan Asisten Dion kepada Pak Panji, sementara tangannya sibuk mempersilahkan aku untuk duduk di sofa bludru sebelah Pak Panji. "Bu Fafa mau minum apa.?"


"Tidak usah Pak Dion." Jawabku sembari menyunggingkan senyum kaku ke arah Asisten Dion.


"Pak, saya rasa wajah saya masih terlalu imut untuk di panggil Pak, Bu Fafa." Kelekar Asiten Dion.


Aku terkekeh mendengar ucapan Asinten Dion dan tidak menyangka orang yang aku kira serius ternyata cukup berani berkelekar di hadapan Bosnya. "Saya juga masih terlihat seperti anak SMA lho, Mas Dion."


"Wah, kebetulan sekali Dek Fafa. Hahaha.." Tawa renyah Asisten Dion membuat kepala Pak Panji menatap kami berdua, dan Asisten Dion sepertinya tidak menghiraukan tatapan Pan Panji yang menyorot tidak suka. Apa mungkin aku yang salah melihatnya, karena dengan cepat Pak Panji segera mengalihkan tatapannya begitu mata kami bertubrukan tanpa sengaja.


"Ahh, sayang sekali. Baru juga SMA sudah ada yang punya. Padahal aku baru saja menjatuhkan hatiku untuk Dek Fafa." Lanjut Asisten Dion dengan nada yang tidak aku fahami. Karena jelas terbaca di wajahnya sedang tertawa lepas, namun terlihat di matanya sebuah teka teki.

__ADS_1


"Ehh.."


"Aku harus siap patah hati dari sekarang. Salahku, karena tidak mengenal Dek Fafa lebih dulu." Aku semakin bingung dengan ucapan Asisten Dion yang terdengar sedang menyindir seseorang. Namun itu siapa.? Sedang disini hanya ada kami bertiga saja yang saling mengenal.


Aku baru saja hendak membuka mulutku, untuk menjawab perkataan Asisten Dion, namun dengan cepat Asisten Dion kembali berujar sembari tertawa lagi. "Jangan tanya aku tau darimana, cincin di jari manismu itu yang jelas jelas telah mematahkan hatiku berkeping keping."


Aku seketika tertawa begitu Asisten Dion menekan dadanya dengan kedua tangan, sementara expresi wajahnya di buat seperti sedang merasakan sakit yang begitu luar biasa. Dan andai di sekitar kami ada seorang Sutradara, pasti akting dari Asisten Dion akan memuluskan jalannya untuk menjadi seorang Aktor.


"Berisik sekali." Tajam, nada itulah yang aku dengar dari suara Pak Panji dan membuat tawaku seketika terhenti. "Urusanmu disini sudah selesaikan. Cepat enyahlah dari sini, Yon." Lanjut Pak Panji. Dan dari nada bicara Pak Panji, sepertinya Asisten Dion bukan hanya sekedar Asisten saja.


"Sadis, menganggu usahaku untuk PDKT saja." Balas Asisten Dion.


"Kamu mau aku kirim Tarakan sana."


"Dasar tukang ngancam. Bos Sadis. Bos Baperan." Aku tak henti hentinya menatap dua orang yang tengah terlibat perdebatan yang menurutku terlihat seperti seorang sahabat bukan seperti Bos dan Bawahan.


"Lekaslah, dan jangan lupa, habis ini langsung temui Pak Jaka." Kembali Pak Panji bertutur tanpa menoleh pada orangnya.


"Terima kasih, Mas Dion."


"Coba dengan nada sedikit manja."


"Ckckckc, Lain kali akan saya coba." Jawabku.


"Akan ku tunggu di terminal terdekat.Hahaha."


"Akan lebih baik nunggunya di Apotek terdekat saja. Sepertinya Mas Dion membutuhkan obat."


Asisten Dion semakin mengeraskan tawanya, hingga membuat Pak Panji berdehem cukup keras. "Iya, aku pergi sekarang." Ucap Asisten Dion. "Semoga kamu tidak di buat repot sama orang yang sedd. Auw." Pekik Asiten Dion begitu sebuah majalah mendarat di bibir tebalnya.


"Iya, aku akan diam dan lekas pergi." Gerutu Asisten Dion sembari pamit dengan, dan kode mata yang di berikan padaku menbuatku harus berfikir keras, karena aku sama sekalu tidak tahu apa maksudnya itu.


Sepeninggal Asisten Dion, aku dan Pak Panji hanya diam dalam kecanggungan hingga suara panggilan dari Maskapai yang hendak kami tumpangi, memberi pemberitahuan agar penumpang segera naik ke Pesawat. Akupun ahirnya hanya bisa terus mengintili langkah lebar Pak Panji yang sepertinya tidak menghiraukan aku sama sekali.

__ADS_1


Dia yang meminta kesedianku, dia yang mengurus segalanya. Tapi, sikapnya menunjukkan seperti hadirku tidak berarti apa apa bagi dirinya. Lalu, saat nanti disana tanpa ada orang yang aku kenal, aku harus bagaimana. Sepertinya keputusanku kali ini salah besar, karena terlalu perduli dengan orang lain yang tidak perduli dengan kehadiran kita di sampingnya.


Dan anehnya dada ini masih saja tidak mau sadar, bahwa Mas Alfi adalah pilihan terbaik. Meski, aku sudah berupaya sangat keras untuk menghadirkan Mas Alfi di kepalaku begitu aku Pak Panji berada di dekatku. Dan nyatanya itu tidaklah semudah mengatakan kata kata Ikhlas, namun hati masih tidak mau melepaskan.


Dan disini, di dalam Pesawat ini. Pak Panji benar benar menunjukan bahwa semua yang aku rasakan hanya sebuah harapan saja. Tatkala tempat duduk kami berbeda. Dan hubungan yang sebelumnya terjalin hingga menumbuhkan tunas di dalam hatiku, hanya di anggap sebagai hubungan baik dengan wali kelas Uul saja.


Aku hanya bisa terus memandang siku Pak Panji yang duduk di cabin beda dua jalur denganku. Dan tak sekalipun dia menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa aku masih berada di tempatku. Hingga ketinggian Pesawat berada di beberapa ribu kaki dari permukaan laut yang membuatku memilih menutup mataku, dan berangsur angsur meringankan tubuhku yang sudah terserang kantuk. Dan berganti dengan sebuah mimpi indah yang tidak ingin aku percayai..


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Bingung karep e dewe Bu Fafa iki. wez tah lah, mantep ae karo Mas Alfi..😅😅😅😅😅


Like, Comen dan Votenya di tunggu yah. meski Upnya lama bingit..🤣🤣🤣


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2