
Happy Reading...
"Loh, sampean Mas.." tanyaku begitu faham dengan seseorang yang tengah tersenyum simpul ke arah ku.
"Sudah kenal...??" tanya Kanjeng Doro sembari menyentuh lengan ku.
"Enggeh Pak, kami kenal waktu masih kuliah.." jawab Mas Alfi,
Haris Alfi Syahrien, begitulah aku mengenalnya waktu itu, dia adalah seseorang masiswa tingkat ahir di kampus tempat ku belajar, sementara aku adalah masiswi baru.
Pertemuan yang sangat koyol itu tetap membekas untuk kami berdua hingga menjalin kedekatan selayaknya teman dekat, yang hanya berjalan beberapa bulan saja, karena dia sudah lulus kuliah dan kembali lagi ke kota asalnya.
Tujuh tahun berlalu kami di pertemukan kembali, di pertemukan dengan peranan orang tua, jika boleh meraba jelas ini ada bau bau perjodohan yang di buat oleh kedua orang tua kami.
"Jadi kalian tidak saling mengenali saat pertama kali bertemu di Kampus..?. Padahal dulu kalian sangat sering bertemu waktu kecil dan juga sangat akrab.." kata Pak Sofyan kepada Mas Alfi.
"Ariz sih faham Pak< cuma Dek Syiffa nya saj yang lupa dengan Ariz.." jawab Mas Alfi masih dengan senyum manis.
"Kok Mas Alfi enggak bilang ke Syiffa..? protes ku, hanya takut saja dia menceritakan bagaimana kami bertemu pada saat pertama kali.
"Iya loh nak Ariz kok enggak bilang saja kalau kalian sebenarnya dulu adalah teman baik.." ucap Ibu Suri ku.
"Sampean ini mbak Jamil kayak tidak tahu bagiaman Ariz saja, dia anaknya kan pemalu.." jawab ibunya Mas Alfi. Aku tidak heran dengan itu karena itu memang benar adanya, bahkan di kampus dulu dia jadi idola karena lebih banyak bertindak daripada berkat kata.
"Sudah pinter, pendiam kok say jadi gemes sendiri ya.." jawab Ibu Suri ku.
"Jadi Mas Muhsin, saya kok penasaran sam ikan hias sampean yang katanya sampean budi dayakan di belakang rumah sampean.." kata Pak Sofyan kepada Kanjang Doro, dan aku dapat tahu ini sebenarnya sengaja ingin memberiku ruang untuk berdua saja dengan Mas Alfi.
"Oh iya Mas, ayo. Bu`e juga tadi katanya mau ngajak Mbak Yanah ke belakang rumah Salim untuk melihat bunga bunga yang baru di tanam kemarin.." kata Kanjeng Doro. Wokey aku faham betul dengan sikap mereka dan aku bukan anak kecil jadi sebenarnya tinggal suruh saj kami bicara berdua saja, bukanya lebih mudah.
"Iya Pa`e, Ayo Mbak Yanah kita lewat depan saja.." ucap Ibu Suri sembari membimbing Bu Yanah untuk keluar dari dlam rumah.
Sepeninggal mereka ber empat tinggal aku dan Mas Alfi seorang saja yang masih sa sma diam.
"Kamu apa kabar Syiff..? tanya Mas Alfi kepadaku, pertanyaan basa basi saja sesungguhnya itu.
"Alhamdulillah baik baik saja Mas , seperti yang sampean lihat.." jawab ku.
__ADS_1
"Apa kesibukan kamu sekarang..? tanya Mas Alfi lagi.
"Masih sama sesuai jurusan saya Mas..."
"Itu bagus, berarti tidak akn sia sia ilmu yang kamu pelajari.." jawabnya dengan senyum simpul..
"Mas Afi sendiri sibuk apa sekarang..? tanya ku.
"Sibuk di cariksn jodoh sama orang tua.." jawabnya dengan senyum yang makin bertambah melebar dan itu membuat ku salah tingkah dnegan ucpanya. "Saya juga ada pekerjaan disini kurang lebih selam 3 bulan kok.." lanjutnya.
"Oh tak kira beneran mau cari jodoh ke kota ini.."
"Ya kalau dapat juga enggak apa apa berarti bonus.." jawabnya dan kami kembali tersenyum dengan kaku.
Sekuat apapun selera humor ku jika sudah di hadapkan sama orang pendiam pasti ambyar begitu saja.
"Iya teman kamu siapa itu yang suka banget sama ceker krispi, yang selalu nempel sama kamu..? tanya Mas Alfi kepadaku setelah kami diam untuk beberapa saat, dan itu menunjukan bahwa dia berusahaa sangat keras untuk membangun komunikasi dengan ku.
"Novi.." jawab ku.
"Iya, apa dia juga berasal dari kota ini..?. tanyanya.
"Oh, apa dia juga masih sendiri..?.
"Dia sudah berkeluarga, dan sudah mau memiliki anak kedua.." jawab ku.
Dan seterusnya obrolan ini terus terjadi, meski sejujurnya aku sangat bosan, karena dari setiap kata katanya sangat di tata dan hati hati, sangat jauh sekali dengan ku yang tidak suka basa basi dan cendrung apa adanya. Setelah cukup lama mereka semua kembali ke ruang tamu dengan di tambah Silvi yang ikut meraimaikan suasana ini, juga sekaligus bisa mengalihkan kebosanan yang sedang aku rasakn.
"Nak Ariz bisa sering main main kemari, kalau pas ada waktu senggang.." ucap Kanjeng Doro.
"Iya betul itu Riz biar makin akrab sam Syiffa.." ucap Pak Sofyan.
"Sebenarnya kalau boleh usul mbok ya enggak usah lama lama langsung di lamar saj to pak.." kata Bu Yanah dan membuat ku lansung tersedak salivaku, hingga semua yang berada di ruangan itu menoleh ke arah ku.
"Biar pelan pelan saja Mbak Yanah, toh mereka sudah kenal dari kecil pasti tidak akan lama sesudahnya untuk menyelami satu dengan yang lain.." kata Ibu Suri sembari menatapku dengan penuh penekanan dan aku tau itu adalah sesuatu yang harus ku setujui.
Perbincangan ini terus berlanjut hingga mereka pamit untuk kembali kota mereka, tapi tidak dengan Mas Alfi yang tetap tinggal di kota ini karena ada pekerjaan di sini. Kalau boleh jujur sesungguhnya aku masih sedikit trauma jika harus menjalin hubungan dengan seseorang, apalagi ke tahp yang lebih serius, mengingat aku dulu yang pernah gagal dan menyisakan malu untuk keluarga ku terlebih untuk ku.
__ADS_1
itu saja dengan orang yang sudah lama aku kenal, bagaimana dengan orang yang belum tahu sifat dan karakternya seperti Mas Alfi.
Sepeninggal mereka aku masih duduk dengan Silvi yang masih senantiasa berada di pangkuan ku, dan tak lama setelah itu masuklah seluruh anggota keluarga termasuk Mas Salim dan Istrinya, Silla juga Suaminya. Kalau melihat dari gelagatnya sepertinya akan ada sidang paripurna dan itu sudah pasti mengenai tamu yang barusan saja keluar dari rumah kami.
"Fa, baimana menurutmu anaknya Pak Sofyan..?" tanya Kanjeng Doro kepadaku, aku masih diam mencoba mencari jawban yang tepat untuk mereka yang sesungguhnya berharap banyak padaku.
"Baik,sopan dan mapan tentunya.." jawab ku mencari jalan aman saja..
"Kalau dia memintamu untuk jadi Istrinya apa kamu bersedia..?" tanya Kanjeng Doro lagi dan semua hanya diam saja mendengarkan, termasuk Ibu Suri yang biasanya banyak bicara.
"Syffa masih perlu berfikir lagi Pak.." jawab ku..
"Jangan banyak berfikir, kalua di lihat dari keluarganya jelas dia anak yang baik, kenal lama belum tentu itu baik seperti yang sudah pernah terjaid.." ucap Ibu Suri dan aku tau itu kata sindiran pada ku.
"Bu'e kal..."
"Maunya Bu'e gimana..?" tanya ku ke Ibu Suri,walau sejujurnya aku sudah tau jawaban apa yang akan di berikan olehnya.
"Fa, tidak ada orang tua yang menginginkan anak anaknya tidak bahagia, jika melihat dari orang tua nak Ariz yang selalu mengedepankan ahlaq dan sopan santun, pasti Ariz tumbuh besar dengan didikan yang benar, dan Pa'e cuma bisa mengarahkan saja, maka dari itu kami sepakat unuk kalian lebih saling mengenal dulu.." ucap Kanjeng Doro dengan penuh pengertian.
"
kalau menurut Bu'e dan Mbak Yanah tadi mereka bisa saling mengenal setelah menikah.." ucap Ibu Suri..
"Mbok ya jangan gegabah tow Bu'e, belum tentu Ariz itu siap menikah dalam waktu dekat.." jawab Kanjeng Doro..
"Halah Pak, ya sudah pasti siap tho Pak wong ya pekerjaan sudah mapan, usia juga sudah matang, apa lagi yang di tunggu wong kelihatanya saj dia suka kok sma Syiffa..." kata Ibu Suri.
"Dan kamu fa, mau cari yang seperti apa lagi, bukanya yang dulu itu sudah pilihan kamu sendri, dan ternyata itu tidak baik kan, apa salahnya jika sekarang kamu mengikuti kemauan orang tua.." lanjut Ibu Suri.
"Tapi Buk Syif.."
"Enggak usah tapi tapian, Bu"e sudah capek dengar omongan tentang kamu.." tandas Ibu Suri yang lansung memutuskan tanpa mendengarkan alasan ku. Dan pembicarran ini nyatanya dominan milik Ibu Suri bahkan Kanjeng Doropun tidak bisa berkutik saat Ibu Suri sudah keluar sifat keras kepalanya.
"Jadi apa keputusan mu Fa.." tanya Kanjeng Doro setelah melewati perdebatan panjang dengan Ibu Suri dan jika melihat dari car Ibu Suri menatap ku aku tidak punya pilihan lain selain mengiyaknya.
"Syiffa manut apa kat orang tua Pa'e.." jawab ku, sambil berdiri meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
Aku hanya mau mereka memahami bahwa aku masih sedikit takut jika harus menjalin hubungan dengan lawan jenis, terlebih jika harus ke arah yang lebih serius, karena itu pasti akan melewati tahap demi tahap yang dulu pernah aku lalui dan sejujurnya aku masih trauma.
bersambung..