Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 22


__ADS_3

Mobil berlahan dan pasti meninggalkan komplek perumahanku juga sekaligus meninggalkan para CCTV kampung senior, dan berganti ikut berjubal dengan mobil lain di jalan raya, yang saling berkejaran seperti semut sedang. Dan kesibukan ahir pekan bersama keluarga yang membawa mereka kelaur dari tempat ternyaman di dunia ini, bahkan juga syurga yang kadang lupa di syukuri oleh mereka.


Di dalam mobil yang hanya di isi empat orang ini, Uul tak henti hentinya bertanya pada ku menganai apa saja yang dia lihat di pinggir jalan dan selalu tersenyum bahagia saat penjelasanku di pahami olehnya, hingga mobil berjalan pelan memasuki sebuah hutan lindung dan berahir di sebuah taman besar yang sungguh baru aku tahu ada tempat seperti ini di daerah ku.


Setelah kami keluar semua dari Mobil, dan Uul juga sudah naik kereta dorongnya, kamipun berjalan pelan menyusuri jalan berlapiskan bebatuan laut berwarna putih. Di sisi sisi jalan terdapat berbagai bunga dengan jenis yang sama dan warna yang berbeda, dan kami terus saja menyusuri jalan ini dengan posisi Pak Panji mendorong kereta dorong Uul, dan aku berjalan di samping Uul dengan tanganya memegang tanganku. Siapa yang akan mengira bahwa aku hanyalah guru kelas bagi Uul.


"Fa - Fa, Ma - mam." Ucapnya saat kami sudah cukup berjalan jalan dan mengelilingi hampir separuh dari taman ini.


"Iya, ham - pir sam - pai." Jawab Pak Panji, dan kami saling pandang lantas tersenyum simpul, dan kembali berjalan pelan hingga sampailah kami di tengah tengah taman dengan kolam ikan yang mengelilingi gazebo besar, dan pemandangan kolam semakin menarik dengan di tambah bunga Teratai berbagai warna yang sedang mekar. Kelopak besar besarnya seolah menantang matahari yang menjulang jauh ke atas meninggalkan daunnya.


"Bagus tempatnya." Ucapku pelan.


"Ya, ini tempat favorite Uul." Jawab Pak Panji, lalu kami kembali diam dan berjalan memilih tempat duduk di pinggir dan berdekatan dengan kolam.


"Ya-yah." Kata Uul sambil menarik narik baju kemeja Ayahnya, dan dengan segera pula Pak Panji menuduk dan mendekatkan kepalanya sejajar dengan kepala Uul.


"Mam- Mam, Kan." Kata Uul sembari tangannya menunjuk ke arah kolam ikan.


"Oke, sama Mbak ya." Jawab Pak Panji, dan dengan isyarat matanya dia menyuruh perawat Uul untuk mengajaknya mendekat ke kolam, setelah meminta kepada pelayan pakan ikan. Dan tinggallah kami duduk berdua, sembari terus memperahatikan Uul yang tengah tersenyum penuh bahagia.


"Kamu tau Fa. Uul tidak pernah seantusias ini dengan orang lain. Bahkan sampai mengajak orang asing ke taman ini." Ucap Pak Panji tanpa membaung pandangannya dari Uul, begitupun dengan ku.


"Saya kan bukan orang asing buat Uul, Mas." Jawabku tanpa menatap ke arah Pak Panji yang sedang duduk di sebrangku. Aku yang merasa sedang di perhatikan segera menoleh ke arah Pak Panji. Dan benar saja, ternyata dia sedang memperhatikan aku, lantas tanpa sengaja mata kamipun bersitubruk dan mengunci untuk beberapa menit, sebelum aku tersadar dan membuang kembali pandanganku ke arah kolam dimana Uul sedang memberi makan ikan.

__ADS_1


Di sinilah aku baru menyadari, ternyata benar yang di ucapkan oleh Novi, bahwa Pak Panji memiliki wajah yang sangat tampan. Dengan alis tebal yang tertata rapi, rahang kokoh meski tidak se kokoh semen tiga roda tentunya, di tambah dengan lesung pipi yang berada di kedua pipinya membuat mata nakalku yang jarang memperhatikan Laki-Laki, mau tidak mau harus mengakui bahwa itu pahatan yang sempurna dan akan terlihat lebih sempurna saat otot otot yang menyumpal di balik kaos polonya terexpose nyata. Hayah, Fa Syiffa kok jadi ngelantur tidak karuan, di sapu pikiran kotor mu itu.


Kalau boleh jujur, ini kali kedua dadaku mampu berdesir, meski tidak cukup bertalu talu seperti saat aku meraskan debaran untuk Bayu waktu itu. Dan aku rasa debaran ini tidak perlu di pupuk sama sekali, karena ada Mas Alfi yang sedang aku usahakan untuk mengenalnya.


"Fa, Fafa. Apa kamu mau minum lemon kipas." Kata Pak Panji dan aku yang tersadar dengan lamunanku segera mengangguk hingga membuat Pak Panji tertawa terbahak bahak dan menyisakan wajah bengongku yang heran. "Kamu ngelamun ya.?" Ucap Pak Panji lagi, saat wajahku masih saja absrut.


"Asli, wajah kamu lucu sekali Fa." Lagi ucap Pak Panji dan mau tidak mau akupun ikut tertawa garing, dan melihat tawanya yang melengkungkan bibirnya dengan sempurna secara tidak sadar kembali aku terhipnotis dengan wajah sempurna miliknya. "Emang ada Lemon kipas." Lanjut Pak Panji lagi setelah tawanya berhenti dan masih menyisakan senyum tipus di wajahnya yang semakin membuatnya tampak manis dengan senyum simpul tersebut.


"Saya dengar tadi Lemon Tea." Ucapku dengan muka memerah menahan malu. Dan lagi lagi Pak Panji kembali tertawa terbahak bahak melihat expresiku.


"Asli, baru kali ini saya ketemu cewek lucu banget kayak kamu Fa." Katanya, dan berbarangan dengan itu pelayan datang membawa pesanan kami yang berupa Ikan Gurame bakar lengkap dengan lalapannya.


"Kamu tadi ngelamunin apa." Kata Pak Panji lagi saat pelayan sudah selesai menata pesanan kami di meja.


"Melamuni sampean." Jawabku spontan dan begitu tersadar dengan ucapanku, aku segera menutup mulutku dan memandang ke arah Pak Panji yang hendak berdiri dengan menaikan sebelah alisnya bertanda heran. Kemudian kembali dia tertawa sambil menggelengkan kepalanga pelan seraya tangannya di kibaskan di depan wajahnya.


"Iya, lupa." Jawabku dengan langsung berdiri dan berjalan pelan di belakangnya dengan menundukan wajahku dalam dalam, tanpa memerhatikan jalan.


"Brukkk." Tiba tiba aku sudah menabrak sesuatu yang keras, tapi bukan tembok. Dan tangan nakalku justru meraba raba sesuatu yang keras di depanku dan begitu sadar dengan yang ku pegang segera aku melonjak dari tempatku hingga hampir saja menubruk meja di sampingku, namun tangan kekar Pak Panji segera meraih pinggangku hingga tubuhku benar benar menempel di otot besinya.


"Dug.. Dug..Dug.." Suara berisik dari jantungku yang bertalu talu saat tanganku mendarat dengan sempurna di bagian dadanya yang benar benar keras seperti beton jalan raya, di tambah lagi dengan mataku yang terikat dengan netra tajamnya.


"Maaf, permisi." Ucap seseorang yang juga hendak mencuci tangan. Kamipun ahirnya hanya saling diam dan menjadi canggung terlebih untukku.

__ADS_1


Makan siang kami hanya di isi oleh suara Uul, dan sesekali saja aku menimpalinya juga Pak Panji. Kecanggungan masih saja terus terjadi hingga sampai dalam perjalan pulang, apa lagi aku yang duduk di depan dengan Pak Panji di sampingku di tambah Uul yang sudah tidur, membuat kami berdua kehilangan bahan obrolan dan hanya sesekali saling lirik dan tersenyum garing, dan setiap kali hendak berbicara pasti Pak Panji akan memulai dulu dengan berdehem pelan.


"Sudah sampai Fa. Terimakasih untuk hari ini." Ucap Pak Panji ketika mobil sudah berhenti dengan sempurna dan kemudian dengan cekatan Pak Panji keluar lebih dulu, dan membukakan pintu mobil untukku tanpa memerdulikan CCTV kampung yang berdiri di tempatnya seperti saat aku berangkat tadi, dan dengan komposisi lengkap. Tukang nyinyir, tukang pengumpul info, tukang kompor, tukang penyiar berita.


Pak Panji terus saja membuntuti langkahku, hingga sampai di depan teras dan memberikan paper bag yang berisi oleh oleh untuk kedua orang tuaku. Lantas segera pamit dan melangkah pergi saat sudah memastikan aku masuk ke dalam rumah.


"Gentle sekali sikapnya." Gumamku pelan saat kembali membalikan badanku untuk melihat mobil Pak Panji pergi dari depan rumahku.


"Manis sekali." Tiba tiba sebuah suara berbisik di telingaku dan membuatku berteriak seketika, karena telah di goda dengan sengaja..


"Mas Salimmmmmm.."


Bersambung...


####


Aih Bu Fafa lama tidak muncul, sekali muncul membawa bunga bunga bertebaran...


Like, Coment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz kopi


@maydina862


__ADS_2