Syifa'Ul

Syifa'Ul
Part 24


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam datang, dan nyatanya tanpa Ibu Suri berada di rumah duniaku benar benar sepi, sesepi PSBB yang tengah berlangsung di desa desa. ( Eitss, emang di desa rame kalau enggak ada PSBB.?. Juga enggak sih..🤭.)


Malam yang biasanya rame dengan suara TV di tambah rebutan remot Ibu Suri dan Silvi, kali ini benar-benar terasa sunyi. Sungguh ini membuat ku merasa seperti anak yang terbuang dan merindukan Ibu Suri dengan teramat sangat. ( Halah Lebay.)


Silvi yang biasanya rame, juga lebih seneng diam dengan botol susu yang sedari tadi menempel di mulutnya. Kanjeng Dhoro juga seperti seorang yang sedang kehilangan belahan jiwanya, dengan hanya duduk termenung sambil menikmati kopinya juga roti yang di berikan Pak Panji siang tadi, di ruang tengah.


Niat hatiku ingin membereskan rumah Mas Salim, juga sekaligus menata kamar untuk bayi serta Ibu bayi yang akan datang besok siang. Namun apalah dayaku, karena Silvi masih asik bermanja di pangkuanku, bahkan aku saja belum menganti bajuku dari habis shalat Isya' tadi, yakni masih dengan menggunakan Daster gombal busuk kesayangan Ibu Suri, itu karena kerinduanku yang teramat sangat dalam untuk Ibu Suri.


Kakiku rasanya sampai ke semutan gara-gara Silvi yang tidak mau bergeser sedikit saja dari kakiku, dan sambil terus membujuknya agar mau pindah sebentar, aku tak henti hentinya berbicara kesana kemari meski tanpa respon darinya.


"Nasib, nasib, belum punya anak sendiri tapi sudah kayak janda yang di tinggal gugur Suaminya dalam tugas Negara." Kataku pada diriku sendiri pelan. Tapi, tanganku masih senantiasa membelai kepala Silvi dengan lembut.


"Fa, ada Nak Ariz di depan." Kata Kanjeng Dhoro memberi tahuku dengan melongak di pintu kamar ku, hingga membuat Silvi yang tadinya sudah menutup matanya kembali membukanya lebar lebar.


"Iya Pa'e, sebentar Syiffa ganti baju dulu." Jawab ku, dan hendak mengangkat kepala Silvi dari pangkuanku. Belum juga kepalanya bergeser dari kakiku, si Silvi sudah nangis dan malah minta gendong padaku.


Beberapa menit berlalu, dan Silvi masih sama saja tidak mau turun dari gendonganku, akupun juga tidak bisa mengganti pakaianku hingga Kanjeng Dhoro kembali datang ke kamarku.


"Fa, lama bener sih, kasian Nak Ariz.?" Kata Kanjeng Dhoro, masih dengan melongak di pintu kamarku.


"Silvi ini lho Pak, enggak mau turun." Jawabku, Lantas Kanjeng Dhoropun mengulurkan tangannya hendak menggendong Silvi, namun Silvi malah merapatkan tangannya di leherku. Dengan menghela nafas dalam ahirnya akupun mengajak Silvi untuk keluar dari pada Mas Alfi lama menungguku.


Sesampaianya di luar, Mas Alfi menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tersenyum tipis dan aku tahu senyum itu pasti untuk penampilanku yang sudah kayak Emak-Emak komplek yang sedang kehabisan uang belanja.


"Assalamu'alaikum. Selamat malam Fa." Sapa Mas Alfi pelan dengan masih mempertahankan senyuman di bibirnya.


"Wa'alaikumussalam. Selamat malam Mas. Empi ayo salaman sama Om Alfi." Ucapku ke Silvi, dan dengan sangat cekatan Mas Alfipun mengulurkan tangannya dan di sambut dengan malu malu oleh Silvi. "Duduk Mas." Lanjutku.


"Terima kasih, Fa." Jawab Mas Alfi pelan dengan menundudukan dirinya di kursi kayu teras kami, sejurus kemudian akupun ikut duduk di sebrang Mas Alfi tengah duduk, dengan Silvi yang masih senantiasa memeluk leherlu erat.


"Ini ada titipan dari Ibu, Fa." Kata Mas Alfi pelan dengan menyodorkan kotak berbungkus kresek ke arahku.


"Terima kasih, Mas. Bu Yanah repot repot saja." Jawabku sok malu malu, padahal dalam hati penasaran banget apa isinya.

__ADS_1


"Iya memang, itu merepotkan. Aku sebagai anaknya jadi kalah saing dengan calon mantunya." Jawab Mas Alfi pelan dengan masih tersenyum tipis, dan itu berhasil membuatku salah tingkah kayak anak SMP yang lagi di gombalin gebetanya. "Iya, anak Mas Salim berjenis kelamin apa.?" Tanya Mas Alfi yang seolah sadar bahwa aku sedang malu-malu singa.


"Laki-Laki Mas, dan kayaknya akan menjadi jagoan sendiri deh." Kataku.


"Bukan jagoan, tapi sepasang." Jawab Mas Alfi.


"Ya Allah sampai lupa. Mas Alfi mau minum apa.?" Kataku dengan hendak berdiri namun Silvi masih enggan mau turun dariku.


"Sudah enggak apa-apa, Fa. Kamu duduk saja." Jawab Mas Alfi. Akupun ahirnya masih senantiasa duduk di tempatku.


Mas Alfi memang sangat pandai dalam mencuri simpati Anak-Anak, buktinya Silvi saja sudah mulai nyaman di ajak bicara oleh Mas Alfi, dan sedikit demi sedikit sudah mengendurkan tangannya dari leherku.


"Silvi mau lihat kucing-kucing lucu Om Alfi tidak.?" Tanya Mas Alfi ke Silvi begitu respon Silvi sudah banyak, Silvipun tampa malu langsung mengangguk, dan Mas Alfi segera mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh kecil Silvi, begitu Silvi sudah berada di pangkuannya dengan cepat di raihnya ponsel Mas Alfi yang tergeletak di atas meja.


Melihat mereka yang tengah asik menonton vidio sambil bercanda di sertai dengan Mas Alfi yang berhasil mencuri curi ciuman dari Silvi, akupun bergegas berdiri dari duduk ku untuk menuju ke dapur guna membuatkan secangkir kopi untuk Mas Alfi.


Sembari menunggu air mendidih, aku menganti pakaianku dengan pakain yang lebih layak, agar terlihat seperti janda yang berkelas, entah kelasnya berapa yang penting tidak terlihat seperti janda standar tidak berlevel, karena menggunakan Daster gombal busuk. ( Wong nikah saja belum kok jadi janda..🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️. )


Di ruang tengah, Kanjeng Dhoro yang melihatku menganti pakaianku ikut tersenyum tipis saat memandangku, dan jelas terlihat di matanya binar kebahagiaan untuk ku. Aku rasa itu cukup wajar, karena selama lima tahun belakang ini, aku cukup jaga jarak dengan seorang Laki-Laki dan sama sekali tidak memiliki kedekatan dengan lawan jenis, terlebih sampai bertandang ke rumah ku.


"Lha kan itu untuk teman kopi Pa'e." Jawabku.


"Kopi Pa'e sudah habis. Kamu bawa saja kesana." Kata Kanjeng Dhoro, akupun ahirnya berhenti sejenak dan setelah piring roti berada di nampanku, akupun bergegas menuju ke teras kembali.


"Kopinya Mas." Ucapku singkat, saat kopi sudah ku letakan di atas meja beserta dengan temannya.


"Terima kasih, Fa." Jawab Mas Alfi sambil menengadah mengalihkan pandangannya dari Silvi juga ponselnya untuk menatapku, dan senyuman manis langsung tersungging ke arah ku.


"Berapa sendok gulanya ini tadi, Fa." Kata Mas Alfi begitu sudah mensruput sedikit kopi di hadapannya.


"Sesendok, apa kemanisan.?" Tanyaku.


"Iya, manis banget, pasti kamu tambahin senyum kamu, makanya jadi manis banget." Ujar Mas Alfi dengan kembali meraih cangkir kopinya dan kembali mensruputnya.


"Mas Alfi bisa saja, tak kira itu tadi beneran kemanisan." Jawabku dengan muka yang memerah menahan malu. Aku tidak pernah mengira bahwa Mas Alfi akan pintar sekali berkata kata manis seperti ini. Bener yang di katakan orang orang. Orang pendiam itu cendrung menghayutkan, seperti Mas Alfi yang diam diam suka mengombal dan membuat wajah wanita sepertiku merona..


"Itu tadi beneran, yang senyum kamu manis. Kalau kopinya sih pahit, soalnya gulanya minder sama senyum semanis madu kamu." Lanjut Mas Alfi, dan ini sungguh membuatku benar benar tidak bisa berkata apa apa selain dari merona dan terus merona.

__ADS_1


Kalau boleh Jujur, Mas Alfi tipe yang jauh berbeda dengan Bayu. Mas Alfi meskipun orangnya pendiam tapi mudah dekat degan orang di sekitarnya, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya cendrung tertata meski sedang menggombal sekalipun. Satu lagi, sopan santunnya terhadap orang di sekitarnya, tidak perduli tua atapun muda, dai sama sama menaruh hormatnya.


Nyaman, itulah yang aku rasakan saat sedang mengobrol dengannya, meski saat aku sedang berada di dekatnya aku seperti tidak mengenali diriku sendiri, lantaran aku lebih sering merasa malu-malu. Dan itu jelas jauh berbeda saat aku sedang bersama Pak Panji, yang cendrung spontan dan bersikap masih dengan karakterku juga tertawa bebas selayaknya kami sudah cukup lama kenal.


Menit berlalu, hingga pada hitungan Jam. Dan tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.30, Silvi juga sudah jatuh terkulai di pangkuan Mas Alfi. Dan begitu aku mengangkat tubuh kecil Silvi, Mas Alfipun juga pamitan hendak kembali ke kostannya.


Setelah Mas Alfi berpamitan pada Kanjeng Dhoro akupun mengintili tubuh tinggi Mas Alfi, mengantar Mas Alfi hingga sampai di depan pintu gerbang yang dimana Mobil Mas Alfi terparkir di sana.


"Kamu tahu, Fa. Hari ini rasanya aku kayak ngapelin janda." Ucap Mas Alfi dengan senyum yang tersungging di bibirnya saat sudah berada di samping mobil miliknya. Tapi, senyum itu tidak terlihat mencemo'oh ataupun merendahkan, justru senyuman itu tampak hangat di mataku.


"Maaf Mas, jadi merepotkan Mas Alfi. Saya juga tidak mengira kalau Silvi akan rewel, biasanya anak itu enak kok meski di tinggal berhari hari sama saya, mungkin karena siang tadi kurang tidur." Jawabku dengan menundukan kepalaku di depan Mas Alfi.


"Tapi aku suka, Fa. Itu menunjukan kalau kamu kelak akan menjadi seorang Ibu yang sangat baik untuk anak anakmu. Dan dari dulu aku menyukai sikapmu yang apa adanya seperti tadi." Ucap Mas Alfi dan mendengar ucapan Mas Alfi barusan aku langsung mengangkat kepalaku dan menandang lurus ke arahnya yang semakin melebarkan senyumnya untuk ku.


"Mas, Syiffa bukan wanita yang istimewa, Syiffa banyak kekurangan yang harus di perbaiki agar cukup pantas bersanding dengan sampean." Ucapku masih dengan memandangnya lekat dan justru Mas Alfi kembali tersenyum kepadaku.


"Bukan hanya kamu, Fa. Tapi, kita. Kita perlu sama-sama belajar dan mengenal, maka dari itu ayo kita saling berusaha untuk memantaskan, agar kelak bisa saling mengisi, menerima dan menasehati satu sama lain." Jawab Mas Alfi dan seperti ada kesepakatan tersendiri saat Mas Alfi mengatakan itu, meski dalam hati aku masih belum terlalu mantap dan yakin dengan pilihanku untuk mengenalnya lebih.


"Sudah sangat malam, dan aku tidak mau sampai orang orang memergoki kita lantas menikahkan kita malam ini juga, karena aku belum cukup punya mahar untuk membelikan daster segudang untukmu." Kata Mas Alfi dan kembali tawa kami pecah di suasana yang tadi sedikit serius. "Cepat masuklah, Assalamu'alaikum." Lanjut Mas Alfi.


"Hati-hati di jalan, Mas. Wa'alaikumussalam." Dengan mengulas senyum hangat ke arahku Mas Alfi beranjak menaiki mobilnya setelah mendengar jawaban salam dariku. Dan perlahan-lahan mobil itu merangakak menjauh meninggalkan aku yang masih berdiri di tempatku hingga mobil Mas Alfi menghilang barulah aku beranjak masuk ke dalam rumahku.


Bersambung...


####


Gombalannya kok kopi sih Mas Alfi, kan Emak jadi kangen minum kopi kalau gini...


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2