Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
020 : Kupu-kupu


__ADS_3

Mereka berada di Jogja tidak lama, hanya sekitar tiga hari dan Dude harus kembali ke Jakarta karena banyaknya pekerjaan yang menunggu. Selain cerdas, Dude juga pekerja keras, karena itu harta peninggalan orang tuanya dia kembangkan setelah dia lulus dari sekolah tingginya di Amerika.


Hanya nasib adiknya yang sempat membuatnya drop. Selama Hana mengandung Rey, Dude berusaha menjadi penenang Hana, bahkan hingga anak Hana lahir, Dude sudah seperti ayah untuk Rey sampai dia tidak ada waktu untuk mendekati wanita dan menikah.


Rey melepaskan kepergian Dude pulang ke Jakarta bersama Kinan. Tidak lupa anak laki-laki yang saleh itu memberikan pesan agar Kinan sabar saat membangunkan Dude salat subuh. Dude sering tidak mau bangun bahkan sampai Rey menyiprat kan air dulu baru bangun. Kinan terkekeh, ingat dirinya pun sama, dia juga bangun salat subuh sering diingatkan ibunya.


Mereka naik pesawat menuju Jakarta. Kinan merasa agak ngantuk karena maklum, di Jogja dia kurang tidur, soalnya harus tidur dalam satu kamar bersama Dude. Kinan yang berusaha membiasakan diri, tetap merasa gugup dan seringkali tidak tidur karena itu.


Dude terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya, menggulir layar sesekali menerima panggilan saat di bandara tadi. Pesawat akan berangkat, Dude dan Kinan sudah duduk di kursi masing-masing.


Kinan mengangkat tangan, Dude melirik sekilas melihat Kinan berdoa. Tiba-tiba dia mencolek tangan Kinan hingga wanita itu agak menjengkit kaget. "Ada apa, Mas?"


"Doa dalam perjalanan itu ada?" tanya Dude membuat Kinan tertawa pelan.


"Ada, Mas. Mau berdoa bareng?"


Dude menyengir sambil menggaruk kening. "Hm, saya nggak tahu doanya, Ki."


"Oh, mau aku kasih tau?"


"Boleh. Coba kamu baca duluan, saya ikuti," angguk Dude terlihat antusias.


"Oke," jawab Kinan setuju.


Kinan kembali menengadah.


"Bismillah Majreeha...."


"Bismillah Majreeha...." ucap Dude mengikuti yang dibaca Kinan.


"Wa mursahaa ...."


"Wa mursahaa ...."


"Inna Robbi, laghafuurur rahiim...."


"Inna Robbi, laghafuurur rahiim...."


"Aaamiin."

__ADS_1


"Aamiin." Dude mengusap wajahnya saat Kinan selesai mengajarkan dia doa ketika di pesawat.


"Makasih ya, kamu udah mau ngajarin saya," ucap Dude, senang.


"Iya, Mas. Nanti bisa dihafal aja, Mas. Itu versi pendek, sebenarnya ada versi lebih panjang," balas Kinan sambil tersenyum.


"Waduh, saya lemah masalah hafalan, waktu itu hafalan sama Rey surat al ikhlas aja cukup lama, bacaannya juga masih gitu, deh. Kamu denger sendiri waktu saya imami salat subuh, maaf ya, Kinan."


Kinan lalu terkekeh pelan sambil menutup mulut. "Nggak apa-apa, Mas. Kita sama-sama belajar. Kinan juga belum lama belajar, kok, masih butuh bimbingan."


"Alhamdulillah. Terima kasih karena kamu mau menerima kekurangan saya, ya, Ki."


Dude menyentuh telapak tangan Kinan untuk pertama kalinya, lalu kedua mata Kinan refleks membulat.


"Maaf, cuman pengin tahu rasanya pegang tangan kamu," ucap Dude dengan polosnya.


Kinan hampir pingsan, dia gugup sampai bengong seperti orang bodoh. Pipinya merah karena saking malunya, baru pertama kali ada pria yang memegang tangannya seperti itu. Dia menarik napas dalam-dalam, tapi udara segar seolah belum cukup untuk menenangkan jantungnya sekarang.


"Hm, semoga kamu nggak keberatan saya pegang tangan kamu, ya?"


Jantung Kinan berdegup sangat kencang, dia melihat dengan jelas tangan Dude menggenggam tangannya dengan erat dan sesekali mengelusnya.


"Dude lalu memasukkan tangan Kinan ke saku di coat-nya. Kinan makin berdebar, tapi Dude tidak mau melepaskan tangannya, malah sedang tersenyum, mungkin lucu melihat Kinan yang masih bengong sendirian.


Kinan menyentuh dadanya dengan tangan sebelahnya, lalu tangan Dude malah menyentuh wajahnya membiarkan kepala Kinan menyandar ke bahunya.


'Ya Allah, jantungku.' Kinan memejamkan mata, lalu terdengar suara Dude berbisik pelan di telinganya. "Tidur aja kalau ngantuk,"


Perasaan Kinan makin makin tidak karuan. "I-iya, Mas."


Lagi-lagi Dude mengangkat sudut bibirnya, membuat Kinan bukan hanya salah tingkah tapi mematung seketika.


...***...


Setelah pesawat mendarat di bandara Jakarta. Kinan digandeng Dude menuju mobil yang sudah menjemputnya. Ya, Dude seolah tidak mau melepaskan genggaman tangannya itu dari Kinan.


Semburat merah muda di pipi Kinan berpadu dengan senyum tipis yang tidak memudar, melihat ekspresi Dude yang santai tapi diam-diam mengelus punggung tangannya.


Tak lama setelah mereka duduk berdua di bangku belakang mobil. Ponsel Kinan bergetar memunculkan satu pesan baru yang masuk.

__ADS_1


Nomor itu tanpa nama, artinya nomor baru yang belum Kinan simpan.


081xxxx : Assalamu'alaikum, Kinan. Bisakah kita bertemu? Aku mohon, Kinan demi Allah ampuni kesalahanku padamu, Ki. Kumohon, balas pesan ini, jangan kamu block lagi, Ki. Kita belum saling bicara aku ingin minta maaf.


Kinan menatap jelas pesan itu, mengeja dalam hati kata demi kata yang dikirimkan padanya. Laki-laki tidak tahu diri yang masih berusaha menghubunginya padahal dia benar-benar tidak mau berurusan lagi.


"Ada apa, Ki?" tanya Dude melihat raut wajah Kinan yang berubah muram dengan alis agak terangkat dan kening yang mengerut.


"Ini, Mas, ada pesan dari orang yang paling Kinan benci." Kinan menjawabnya agak tajam teringat perbuatan laki-laki bernama Hamzah yang tidak termaafkan baginya.


"Boleh saya lihat?" pinta Dude.


Kinan menyerahkan ponselnya pada Dude. Lalu Dude menekan panggilan pada nomor itu setelah dia sempat membaca isi pesannya.


Hallo.


Saya suami Kinan Adelia, wanita yang masih kamu ganggu.


Menurut Anda apa? Jangan lagi ganggu dia, tindakan Anda sangat tidak bermoral.


Siapa saya? Sudah saya katakan saya suami Kinan Adelia, saya Dude Danuarta.


Saat Dude mengucapkan namanya, seperti terdengar nada terkejut dari Hamzah.


Ya, saya Dude Danuarta suami Kinan Adelia. Mulai sekarang jangan ganggu istri saya atau Anda berhadapan dengan saya.


Panggilan itu pun di matikan oleh Dude. Kinan melihat wajah suaminya yang geram dengan rahang mengeras dan juga kata-kata penuh penekanan. Dude lalu menyerahkan ponsel Kinan dan kembali tersenyum pada wanita disebelahnya.


"Kalau dia masih ganggu kamu, kamu bisa bilang saya, dan saya pastikan dia akan berurusan dengan pihak kepolisian," ujar Dude.


"Terima kasih, Mas." Kinan tadinya kesal menerima pesan dari Hamzah, tapi entah kenapa sekarang dia berbunga-bunga. Tentu bukan karena pesan dari Hamzah, tapi karena pesan dari Hamzah itu, Dude membelanya, dan itu sangat—romantis bagi Kinan.


Sekarang, seolah kepakan sayap kupu-kupu memenuhi perutnya, dengan lengkungan di bibir Kinan yang tidak memudar. Dude menoleh lalu kembali meraih jari-jemari Kinan perlahan membuat Kinan dibuat grogi tidak habis-habis olehnya.


..._______...


...Ciye ciye Kinan 😋...


...yang nulis jadi salting woy 🦋🦋🦋...

__ADS_1


...btw hamzah sampe kapan ganggu Kinan ya? 🙃...


__ADS_2