Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
023 : Kelembutan Membuai


__ADS_3

...Note : Mengandung part dewasa....


...****...


...Kinan POV...


Malam ini aku sangat gugup. Aku duduk di samping pria tampan yang beberapa waktu lalu aku lihat di jalanan macet kota Jakarta. Pria yang semula kukira seorang duda, atau malah mungkin masih memiliki istri. Lucu, kalau aku mengingatnya. Bagaimana bisa aku menyukainya saat pandangan pertama. Bahkan aku pun belum mengenalnya sama sekali, baik kah dia atau malah sebaliknya. Itulah jodoh, detik ini aku berada di sampingnya sebagai istri sahnya.


"Ki. Kamu udah ngantuk?" katanya menoleh ke arahku. Aku bingung antara menggeleng atau mengangguk. Jujur aku mengantuk, karena beberapa hari ini kurang tidur. Tapi, ini malam pertama aku dan dia? Aku harus apa? Aku bingung. Maksudku, aku pertama kalinya tidur berdua dengan sikap mulai saling terbuka, tidak seperti kemarin yang masih amat canggung.


"Hmm, emangnya Mas nggak ngantuk?" tanyaku, aku berpikir dia juga pasti lelah. Tapi sangat mengejutkan, dia menggeleng cepat padaku.


"Belum."


Lalu sekarang aku harus apa? Jantungku terus berdegup tidak menentu. Aku gugup, aku merasa malu berada sedekat ini dengan pria dewasa. Meski dia suamiku, tapi tetap saja aku merasa canggung, aku ingin tertidur segera. Tapi apakah dia akan marah kalau aku tidur? Ah, tidak mungkin. Mas Dude sangat baik, dia lembut. Apa dia akan tega memarahiku? Kurasa tidak.


"Baiklah. Mas mau aku temenin ngobrol?"


Dia masih menatapku, lalu lengkungan di bibirnya membuat aku melebarkan mata. Dia terkekeh sambil mengusap pipiku.


"Kamu gugup?"


Pipiku memerah, aku berdebar-debar. Rupanya dia dapat melihat sorot mataku, tingkah lakuku yang begitu alami, alami terlihat gugup.


"Kelihatan ya." Aku tercengir lalu menutupi wajahku dengan telapak tangan.


Dia menyentuh telapak tanganku, lalu menempelkannya ke dadanya. "Aku juga."


Hei, kali ini Mas Dude menggunakan bahasa informal dan aku jadi makin salah tingkah.


Seolah jarum jam berhenti berdetak, suara pun tak terdengar sama sekali. Hening, aku tidak mendengar apapun selain detak jantungnya, debarannya yang terasa oleh telapak tanganku yang menempel di dadanya.


"Aku gugup banget," katanya lagi dan itu sangat teramat memalukan karena aku tertegun dengan wajah bengong, pasti terlihat bodoh.


Dia suamiku, dia begitu manis. Aku salah tingkah. Ya Robb, aku ingin sekali memasukkan wajahku ke balik selimut tebal, mukaku pasti sangat merah dan memalukan sekarang.


"Jadi, jangan merasa gugup sendirian. Kalau kamu ngantuk, kamu tidur ya."


Sungguh pengertian. Tapi, kenapa sekarang rasa kantukku seketika hilang. Aku mulai merasa panas. Ia masih menggenggam telapak tanganku, lalu dengan lembut ia mengecupnya. Tepat di telapak tanganku, bukan di punggungnya. Getarannya terasa jelas menguar kesekujur tubuhku.


Glekk.


Aku meneguk ludah. Aku berasa akan pingsan jika dia terus menatapku seperti itu. Ini pertama kalinya, aku sedekat ini dengan lawan jenis, rasanya aku merona dan panas. Allah, apa ini rasanya cinta setelah menikah?


"Kinan." Dia menangkub wajahku, menatap mataku lebih dalam. Aku tertegun, tidak bergerak barang sedikitpun.


"Ya?" jawabku, masih teramat gugup.

__ADS_1


"Kamu cantik. Rambutmu panjang. Kulitmu halus," katanya sambil membelai berulang pipi merahku. Aku hanya tersipu.


"Terima kasih, Mas." Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku pun ingin memuji dia. Tapi, aku tak kuasa, lidahku kelu.


Cup.


Dia mencium pipiku. Aku bergetar, aku mengerjapkan mata cepat.


Senyumannya begitu spesial. Aku ingat pertama kali senyuman itu kulihat, itu juga yang menjadi alasan aku menyukainya. Bolehkah aku berkata, jangan tersenyum seperti itu kepada wanita lain? Ah, aku sungguh maruk.


"Kinan. Kok kamu diem aja? Apa aku bikin kamu takut?" tanyanya. Aku tentu menggeleng. Aku tidak mungkin takut padanya. Aku menyukainya.


"Enggak kok Mas. Aku nggak takut, aku cuma..."


"Hmm?" Dia menunggu aku melanjutkan kata-kataku.


"Malu," kataku, dia pun tergelak pelan.


"Pipi kamu merah, gemas."


Aku juga gemas, ingin sekali aku menjawabnya. Tapi, lagi-lagi aku tak sanggup mengutarakannya gamblang seperti yang dia katakan dengan mudah padaku barusan.


Dia semakin mendekat, mengelus setiap sudut wajahku hingga aku terbuai. Punggung telunjuknya hangat mengenai kulitku, aku pun tak menolak, menghindar, hanya merasakan sentuhannya itu.


Detak jantungku seolah berhenti. Saat telunjuknya mengusap permukaan bibirku. Kedua mata kami saling bertemu, intens. Dia mendekat, hingga pertama kalinya dalam hidupku, merasakan bibirku di sentuh oleh pria. Dia menyentuh ku di sana, aku bahkan tidak bernapas saking gugupnya. Aku memejamkan mata, saat sesuatu yang lembut itu terasa dingin menempel di bibirku. Aku terbawa suasana, sampai aku hampir tersedak oleh sentuhan yang diberikannya.


Dude, dia mengusap pipiku. "Kamu menahan napas?" tanyanya, sungguh memalukan.


"Maaf." Aku memalingkan wajah sambil menyentuh bibirku. "Maafin aku, Mas."


Dia terkekeh pelan. "Jangan minta maaf, kamu nggak salah kok."


Tetap saja aku malu sekali. Aku ingin menenggelamkan wajahku ke dalam air.


Dia meraih tubuhku, mendekati wajahku. Lalu tersenyum. Kali ini aku tak tahu sejak kapan aku berada di pangkuannya. Aku ingin beranjak, tapi aku terkunci oleh dekapannya.


"Jangan menahan napas, oke?" katanya. Aku menatapnya sekilas tapi kemudian aku memilih memejamkan mata.


Dia kembali menyentuh bibirku. Aku mengikuti arahannya, aku tak lupa bernapas, aku mulai merasakan aliran darahku berlarian, aku berdesir saat bibirnya bergerak leluasa di bibirku. Aku membuka mulutku, bermaksud mengambil napas. Tapi, dia menerobos masuk dengan lidahnya. Mengabsen seluruh rongga mulutku bebas, kian menggebu dan aku terperangah, membisu.


Tangannya bergerak, menekan tengkukku. Aku mulai mengerti caranya. Aku melingkarkan tanganku ke lehernya, mengusap belakang kepalanya. Dia masih bersama sentuhannya yang halus, perlahan, sangat lambat, senti demi senti, aku benar-benar terpedaya oleh rasa sayangnya. Aku merasa disayang, aku merasa dicintai.


"Kamu mau salat dua rakaat dulu? Sekarang? Atau besok?" tanyanya. Aku mendadak bodoh.


"Sala?" kataku, aku benar-benar tak paham, bukan tak paham, aku yang lupa.


"Salat sebelum itu, tadi Mas membacanya di internet, " ucapnya sambil mengerlingkan mata. Aku tercengir. Astaghfirullah, aku begitu bodoh.

__ADS_1


"Ya Allah. Maaf Mas, aku lupa." Padahal biasanya aku tidak begini, sungguh.


Dia mengangguk. "Mau sekarang?"


"Apanya, Mas?" Lagi-lagi aku seperti orang kebingungan.


"Salat, Dek sayang."


Aku akan meledak, aku benar-benar akan meledak.


Aku mengangguk juga meski susah payah. "Iya salat sekarang, Mas." Meskipun aku malu, tapi aku sudah terlanjur basah ingin melanjutkan yang tadi, batinku tak munafik.


"Kalau gitu kita ambil wudhu. Setelah itu salat dulu," ucapnya.


"Iya Mas."


Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.


Selesai salat. Dia mendekatiku, bahkan dia membantu aku membuka mukena yang aku kenakan. Aku tersentak tapi aku hanya diam membiarkan dia melakukan apa yang ingin dilakukannya.


"Kamu udah siap?" tanyanya. Kenapa aku merasa takut. Ini pengalaman pertama dan aku cemas, apakah akan sakit?


"Aku takut sedikit. Takut sakit," jawabku polos, jujur apa adanya.


Dia mengusap pipiku. "Insya Allah nggak sakit. Aku nggak memaksakan jika kamu tidak siap sekarang."


Tapi mana mungkin aku membiarkan suamiku menunggu. Sementara kami berdua bahkan sudah menunaikan salat dua rakaat barusan.


"Aku insya Allah siap."


Dia tersenyum lalu meraih tubuhku, menggendongku secara serta-merta. Aku berdebar, aku panik dan aku tak tahu harus apa.


"Kamu nggak perlu melakukan apa-apa. Mengerti?" katanya. Aku hanya menuruti kata-katanya saja. "Iya, Mas."


Bibirnya kembali menggoda bibirku dengan lihai. Aku hanya merasakan hawa panas itu hadir lagi, sangat panas saat ini.


Dia bergerak lebih dalam dan semakin dalam. Aku amat terbuai, aku menarik lehernya hingga semakin dalam lagi. Dia mulai melucuti kancing piama tidurku, aku pun refleks melakukan hal yang sama padanya.


Napas kami sudah begitu menderu berat. Aku merasakan wajahnya yang menggelap menatapku lekat. Kelembutan itu pindah ke leher jenjang ku, dia mencecapnya hingga membuat aku bersenandung secara refleks. Aku malu, sangat malu, kenapa aku malah bersuara seperti itu.


Dia menggigit pelan, sedikit dalam. Aku tidak kesakitan, aku malah merasa gemetaran.


"Sekarang?" tanyanya. Aku sudah setengah polos. Bagaimana dia bisa bertanya demikian. "Lakukan," jawabku.


Malam itu pun aku dan dia bersatu dalam sebuah penyatuan yang memabukkan. Terlalu indah jika di jabarkan mendetail, intinya malam itu aku sepenuhnya miliknya, begitupun dia, sepenuhnya milikku.


..._____...

__ADS_1


...Semoga gak di takedown aamin 🙂...


__ADS_2