Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
068 : Itu Fitnah, Mas. Fitnah!


__ADS_3

"Dude."


Dude menoleh, matanya membulat menatap laki-laki yang ada di sebelahnya. "Hamzah."


Hamzah berdecih. "Kamu masih ingat saya ternyata."


Dude diam, dia masih berdiri di depan kamar Kinan. Padahal petugas resepsionis sudah memberitahu dia bahwa itu benar kamar Kinan Adelia. Tapi kenapa Kinan tidak mau membuka pintunya?


"Kenapa? Kinan tidak mau membuka pintu?"


Dude menatap tajam pada Hamzah. "Apa yang kamu lakukan di sini, kenapa kamu sampai ke depan kamar istri saya?"


"Memangnya kenapa? Apa tidak boleh kalau saya berdiri di depan kamar istri kamu?"


"Kamu sudah tidak waras? Kamu masih bertanya kenapa? Masih bertanya boleh atau tidak?"


"Ya, Kinan saja tidak masalah, dia bahkan memeluk saya. Kamu bisa cium baju saya, ini parfum siapa?"


Dude yakin Hamzah sedang membual tidak jelas. "Kenapa? Kamu tidak percaya? Ini wangi parfum Kinan. Jadi, ternyata dia masih perhatian pada saya. Menurut kamu gimana?"


Amarah Dude mulai terpancing. Apalagi Dude memang mencium aroma parfum Kinan dari Hamzah. Tapi semuanya tidak mungkin, Dude masih berusaha tetap percaya pada Kinan.


"Diam sebelum saya robek mulut kamu!" sentak Dude dengan nada emosional.


"Hah. Kamu bisa melakukan apapun. Tapi saya hanya ingin mengasihani kamu. Kinan sebenarnya mencintai saya, buktinya dia datang pada saya diam-diam dan memeluk saya."


"Lebih baik kamu diam!" tegas Dude.


Kinan mendengar suara suaminya, dia yakin itu benar suara Dude. Kinan langsung membuka pintunya. Jadi sejak tadi yang memencet bel adalah suaminya?


"Mas Dude!" Kinan benar-benar tidak menyangka suaminya ada di depan kamarnya.


"Kinan." Hamzah maju selangkah tapi Dude langsung menghajarnya. "Berani kamu dekati istri saya hah!"


"Mas udah Mas. Ini udah malam, jangan bikin ribut. Masuk Mas," ajak Kinan menarik paksa suaminya.


Hamzah yang terkena pukulan di bibirnya hanya bisa meringis sambil merasakan nyeri. Dia tertawa, tapi juga menahan marah. "Kenapa kamu harus muncul lagi dalam hidup saya, Kinan."


"Mas, udah Mas jangan emosi." Kinan mencoba menenangkan suaminya. Tapi ucapan Hamzah tentang Kinan belum bisa dia maafkan.

__ADS_1


"Mas kamu kemana aja, aku dari tadi nelepon kamu. Aku takut Mas." Kinan langsung memeluk suaminya. Tapi Dude malah mendiamkan Kinan.


Kinan melepaskan pelukannya, dia menatap Dude yang sejak tadi seperti menyembunyikan sesuatu.


"Mas kamu kenapa diam aja?"


"Kamu melakukan apa dengan Hamzah Ki?"


"Hah? Maksud Mas apa?" tanya Kinan tidak mengerti yang ditanyakan suaminya. "Melakukan apa Mas?"


"Ya saya nggak tau Kinan. Karena itu saya tanya sama kamu!!" Gaya bicara Dude berubah lagi, intonasi suaranya juga meninggi, Kinan merasa suaminya sedang marah padanya.


"Mas bentak aku?"


"Jelaskan pada saya Kinan. Apa yang sudah kamu lakukan dengan Hamzah?"


"Melakukan apa Mas? Kinan nggak melakukan apa-apa? Mas sedang marah? Mas marah sama Kinan? Mas nggak tahu apa yang Kinan alami hari ini! Mas malah marah?"


"Ya saya tidak tahu, kamu sendiri yang bilang saya tidak boleh ikut menginap kan? Supaya apa? Supaya kamu bisa berduaan dengan Hamzah?"


"Astaghfirullah. Mas, jaga bicara kamu. Istighfar Mas. Kamu bener-bener keterlaluan."


"Parfum apa Mas?"


"Kinan Adelia saya mencium bau parfum kamu di bajunya dia Ki! Kamu masih tidak tahu apa-apa? Atau saya yang bodoh, saya yang salah sangka?"


Kinan menangis. Baru kali ini dia melihat kilat kemarahan yang begitu jelas di wajah suaminya.


"Jelaskan pada saya!" tekan Dude.


"Mas salah, Kinan nggak pernah melakukan apa-apa."


"Lalu kenapa Hamzah bilang kamu memeluknya? Siapa yang harus saya percaya, hah?"


"Astaghfirullah. Mas Dude! Mas harus percaya sama Kinan. Kenapa Mas bertanya, harus percaya siapa! Kinan kecewa sama Mas. Kenapa Mas memfitnah Kinan berbuat keji! Untuk apa Mas! Untuk apa Kinan mengirim pesan meminta Mas datang? Untuk apa Kinan berulang kali telepon Mas!"


Kinan memundurkan tubuhnya, dia duduk di tepi ranjang sambil menangis. "Mas keterlaluan. Mas kira Kinan nggak takut sama laki-laki itu. Kinan takut sampai gemetaran!"


Dude menatap Kinan, dia makin bingung. Dia terpancing emosi, dia juga terbakar cemburu. Dia marah mendengar ucapan Hamzah. Dia sangat marah karena dia tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Mas nggak percaya sama Kinan. Mas kasar sama Kinan, Mas membentak Kinan untuk hal yang tidak Kinan lakukan?" ucap Kinan dengan suara gemetar.


Dude masih berdiri, diam tanpa tahu harus berkata apa saat itu.


"Mas tidak bertanya baik-baik pada Kinan. Demi Allah, Kinan bisa jelaskan semuanya, Mas."


"Ini kesalahpahaman. Mas sudah termakan ucapan laki-laki itu. Dia sakit jiwa! Mas tahu nggak!"


Dude mulai menyadari, mungkin saja dia yang salah menuduh Kinan karna amarahnya yang tidak terkontrol.


"Mas bisa cek CCTV. Pertemuan Kinan dan dia di tempat umum kok." Sesekali Kinan menyeka air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. "Kinan tidak sengaja terjatuh karena kaki Kinan tergelincir di tangga. Dia menangkap Kinan, mungkin saat itu parfum ku menempel di bajunya."


Dude menatap Kinan dengan perasaan bersalah. Jadi, dia telah salah paham?


"Kinan juga merasa bersalah, Mas. Tapi Kinan mau minta maaf sama Mas karena kejadian yang tidak di sengaja itu. Hanya saja ponsel Mas nggak bisa dihubungi. Apa Kinan marah, menyalahkan Mas, nggak! Kinan tahu Mas sibuk."


Kinan meluapkan semua yang ingin dia katakan, hatinya masih sakit menerima tuduhan Dude padanya tadi.


"Semudah itu Mas percaya kata-kata dia dan menuduh Kinan punya hubungan dengan dia di belakang Mas? Itu fitnah Mas, fitnah!"


"Ki, maafkan ..."


"Kinan maafkan, tapi maaf juga Kinan terlanjur sakit hati sama kata-kata Mas dan tidak mudah melupakan itu."


Dude mendekati Kinan lagi. Tapi Kinan menjauh, dia bahkan mundur tidak mau kalau Dude menyentuhnya. "Kemana suami Kinan yang lembut, Mas kasar sekali tadi, apa Mas sadar?"


"Maaf, Ki. Maafkan tadi Mas terbawa emosi."


"Mas bukan terbawa emosi, tapi Mas tidak percaya pada Kinan, Mas."


"Ki, maafkan aku, Ki."


"Ya, ini awalnya sepele lho Mas. Ini kesalahpahaman. Tapi Mas tahu nggak? Kinan takut banget waktu dia pegang tangan Kinan kuat-kuat, saat itu apa Mas ada? Nggak, Mas nggak ada, Mas susah dihubungi, Kinan takut Mas!"


"Kinan maafin Mas, Ki. Maaf karena Mas sudah kasar sama kamu. Tolong Ki, Mas menyesal." Dude mendekati Kinan tapi Kinan langsung diam. Dia tidak lagi mencegah Dude mendekatinya, tapi Kinan tidak mau menatap Dude.


Dude bisa merasakan tubuh Kinan gemetar. Dia benar-benar sudah salah membentak Kinan tadi. "Maafkan Mas, Kinan."


...____...

__ADS_1


...Maaf kalau typo bertebaran. ngetiknya sambil emosi. 🙂...


__ADS_2