Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
037 : Cinta Platonik


__ADS_3

Dari banyaknya insan di dunia, mengapa dirimu yang aku sangka. Bisa temani hari-hariku yang tak selalu indah, walau kita tak bisa bersama ~


Pertama kali Kinan melihat Dude, di dalam angkutan umum saat lampu lalu lintas berwarna merah. Kinan, dia yang mengira pria tampan yang ditemuinya itu sudah berkeluarga. Kinan mengubur dalam-dalam perasaan suka yang terus berkembang, saat dia harus sering bertemu dengan pria itu karena pekerjaan.


Yang lebih memalukan lagi, Kinan menangis saat melihat sosok perempuan yang dipeluk Dude penuh perasaan sayang. Wanita yang dipanggil mama oleh Reyhan, anak laki-laki Dude.


Hingga Kinan menerima lamaran Hamzah, dokter yang memang selalu perhatian padanya. Pernikahan yang dia harapkan berjalan lancar, setidaknya melegakan bagi Kinan. Tapi ternyata justeru sebaliknya, jawaban bersedia yang diberikan Kinan pada Hamzah seolah sia-sia, menyerang dia dan menghancurkan harga dirinya seketika.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, saudara Hamzah Abdullah Fahrezi bin Ahmad Asnawi Fahrezi dengan Kinan Adelia binti Husein Abdurrahman dengan maskawin lima puluh gram emas dan seperangkat alat salat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Kinan Adelia binti Husein Abdurrahman dengan maskawin lima puluh gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Bagaimana saksi, sah?"


Hamzah langsung terbangun dari tidurnya dan dia merasakan pusing, marah, ingin mati di saat yang bersamaan ketika mimpi itu kembali hadir membuatnya depresi.


Gelap, Hamzah sama sekali tidak tahu dia berada di mana sekarang. Tangannya terikat kuat begitu juga mulutnya yang ditutup rapat dengan lakban hitam.


Ini di mana? Hamzah hanya bisa bersuara dalam hati, dia memberontak berusaha melepaskan ikatan itu tapi ikatan itu terlalu kuat.


"Kenapa? Kamu nggak bisa buka ikatan itu, Mas?"


Hamzah menatap samar seseorang yang berdiri di hadapannya. "Kinan?"


Wajah Kinan yang muncul di bawah cahaya temaram. Lalu muncullah cahaya kecil dsri korek api yang dinyalakan oleh orang di depannya. "Masih mengira aku Kinan?"


"Diana?!"


"Diana apa yang kamu lakukan pada saya, Di!!"


Diana tertawa, dia lalu mendekati Hamzah. "Kita mati sama-sama, gimana? Hidupmu hancur kan, Mas. Sama kok, hidupku juga."


"Tidak! Hidup kamu yang hancur bukan hidupku!"


"Hidup kamu lebih hancur Mas Hamzah! Dasar manusia munafik!!"


Diana sepertinya jauh lebih depresi dibandingkan Hamzah, dia menangis, tak lama kemudian tertawa, tapi itu sedikit membuat Hamzah terluka. "Diana, maafkan saya."


"Maaf kamu bilang? Kenapa minta maaf, seharusnya kamu puas setelah membalaskan dendam kamu kan?"


Hamzah terdiam.


"Aku sudah ikhlas kamu sakiti, Mas. Tapi, pedih ketika kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan kamu sendiri! Kalau kamu tetap tidak mau menikahi ku dengan layak, aku akan membunuhmu dan kita mati sama-sama setelahnya. Aku akan menenggak racun ini setelah aku memastikan kamu mati."

__ADS_1


Diana sudah benar-benar nekat. Dia menunjukkan sebuah botol kecil, yang Hamzah tau, itu adalah obat yang berbahaya. "Kamu gila Diana! Hentikan kebodohanmu!"


"Bodoh kamu bilang? Siapa yang bodoh? Kita? Kamu juga bodoh, Mas. Aku sudah tidak punya alasan untuk berada di dunia ini lagi. Bukannya kamu pun sama? Cinta kamu tidak akan sampai pada Kinan, karena kamu sendiri yang merusaknya. Kinan bahkan jauh lebih bahagia dengan pilihannya yang sekarang."


"Cukup! Tutup mulut kamu Diana!!"


"Enggak! Aku bebas memaki, bebas melakukan apapun yang aku mau sama halnya dirimu padaku, Mas!"


"Baiklah, Diana! Cukup! Saya janji saya akan menikahi kamu selayaknya! Tapi saya mohon singkirkan obat itu dari tangan kamu sekarang juga!"


Diana memegangi botol kecil yang berisi racun, tadinya dia sudah putus asa, dan sekarang pun masih, dia tidak percaya perkataan Hamzah yang akan menikahinya begitu saja.


"Jangan berbohong padaku, Mas. Kalau Mas hanya ingin aku tidak memberikan racun ini padamu, percuma saja! Aku tidak akan tertipu!"


"Tidak! saya janji, saya bersumpah akan menikahi kamu! Tolong buang racun itu daj buka ikatan saya, Diana!" tekan Hamzah yang sekuat tenaga ingin membuka ikatan itu tapi tetap tidak bisa.


Diana mendekati Hamzah, menyentuh pipinya dengan mata berkaca, mata Hamzah menyoroti nya tajam sekarang. "Kamu tidak percaya saya bilang akan menikahi kamu? kalau begitu cepat kamu berikan racun itu pada saya agar saya mati!"


Diana terdiam.


"Cepat! Itu yang kamu ingin bukan?"


Diana masih menggenggam botol itu, lalu dia mulai membuka ikatan di tangannya Hamzah akhirnya terlepas. "Benar Mas akan menikahi ku Mas?"


"Mas nggak akan menyiksa aku setelah kita menikah?" tanya Diana, sebab waktu itu Hamzah sempat bilang akan menjadi suami yang sangat buruk untuk Diana jika mereka benar menikah juga.


"Tidak."


"Mas yakin? Mas nggak bohong?"


"Iya. Sekarang kita pulang," ajak Hamzah. Tapi Diana menggeleng. "Mas harus janji, tidak akan memperlakukan aku dengan buruk nanti."


"Bagaimana saya harus mengatakannya agar kamu percaya, Diana!" tekan Hamzah sambil mengacak rambutnya kasar.


"Undang Kinan ke acara pernikahan kita, minta maaf pada suami Kinan dan juga Kinan, kita selesaikan dengan benar, kita mulai dari awal. Mas mau kan?"


"Kenapa saya harus melakukan itu? Saya belum sanggup bertemu mereka. Jika saya melihat Kinan, yang ada di pikiran saya hanya ingin memaksanya menikah dengan saya, kamu mau saya seperti itu?"


Diana tertunduk dengan perasaan miris. "Se cinta itu kamu dengan Kinan Mas? Lalu kenapa kamu harus menghamili ku, padahal kalau itu tidak kamu lakukan, kamu dan Kinan sudah bahagia sekarang."


"Diam dan jangan membahas itu lagi. Saya yang bodoh, saya yang terlalu bodoh. Kamu diam atau kamu lebih suka kita menenggak racun itu bersama?"


Diana akhirnya memilih diam, lalu menaruh racun itu ke dalam kantong bajunya. "Kalau memang Mas nggak sanggup bertemu Kinan, Mas mau berusaha mencintai aku kan? Aku juga akan berusaha mencintai Mas Hamzah. Bagaimana?"

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak berharap. Yang kamu butuhkan sekarang adalah status yang Jelas, Di. Saya akan berikan itu, saya akan tanggung jawab sampai anak itu lahir. Setelah anak itu lahir, kamu bebas menentukan masa depan mu, sementara saya sendiri sudah tidak memiliki masa depan apapun."


"Kenapa Mas bilang gitu? Kita bisa bahagia sama-sama dengan anak kita, kan, Mas?"


Hamzah menggenggam tangan Diana membawanya pergi dari ruangan yang gelap itu. "Kita pulang dulu, jangan terlalu banyak berpikir terlalu jauh."


...***...


Sementara di kamarnya, Dude dan Kinan sedang duduk menyandarkan punggung ke ranjang. Mereka diam satu sama lain, Kinan bingung harus membuka obrolan, begitu juga dengan Dude, padahal mereka baru saja berbaikan.


"Ki,"


"Ya, Mas?"


"Kamu takut sama saya, ya?"


"Enggak kok Mas." Kinan menggeleng.


"Terus kenapa kamu jauh banget duduknya, Ki? Coba kamu mendekat sedikit," titah Dude.


Kinan tercengir lalu mendekat sedikit ke sisi Dude.


"Maaf Mas." Kinan sekarang berada lebih dekat di samping Dude, lalu mereka saling menatap, tapi kemudian sama-sama berpaling lagi karena malu dan salah tingkah.


"Mas apa kita harus menjalin hubungan cinta platonik?" tanya Kinan.


"Astaga, kamu ini ngomong apa sih Ki? Hubungan cinta platonik tandanya kita tidak saling bersentuhan, kan?"


"Iya, bukannya Mas tersiksa kalau harus menyentuhku? Bukan sentuhan biasa, Mas. Lebih ke sentuhan yang mengarah kepada hasrat seksualitas." Kinan merasa perlu mengatakan itu secara gamblang agar Dude mengerti maksudnya.


Dude lalu menghela napas panjang, dia merasa Kinan telah salah memahami traumanya. "Bukan, Ki. Kamu tahu kan saya bisa mencium kamu kemarin? Tidak masalah, bukan berarti kita tidak bersentuhan dan menyalurkan hasrat. Kamu mencium saya, saya juga baik-baik saja. Iya, kan?"


Kinan mengangguk pelan. "Iya, Mas benar. Tapi, yang aku maksud di sini, kalau pun kita harus menjalani hubungan cinta platonik, sampai Mas sembuh, aku ikhlas Mas. Asalkan itu demi kebaikan Mas Dude."


Mendengar itu membuat Dude tersentuh, dia belum pernah bertemu wanita yang sangat tulus seperti Kinan.


Dude lalu meraih bahu Kinan, membiarkan Kinan menatapnya. "Ki, saya janji akan berusaha sekuat tenaga supaya trauma saya ini sembuh."


Kinan tersenyum lalu mengelus pipi Dude. "Iya, Mas. Kinan akan selalu setia menunggu sampai Mas Dude pulih."


...____...


NOTE :

__ADS_1


Cinta platonik merupakan hubungan emosi yang spesial antara dua individu. Biasanya, ia tumbuh melalui rasa kagum satu sama lain atau karena ada kesamaan minat dan sudut pandang. Istilah cinta platonik merujuk pada nama filsuf Yunani, Plato. Kendati Plato tidak pernah melabeli cinta jenis ini dengan sebutan "cinta platonik," tetapi ia tercatat menjelaskan bahwa ada hubungan cinta tertentu yang tak melibatkan hasrat seksual.


__ADS_2