Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
075 : Saya Hanya Mencintai Kinan Adelia


__ADS_3

Diana menatap foto pernikahan dia dengan laki-laki yang kini sudah ada di penjara, itu pun keinginan Hamzah. Daripada bersamanya, Hamzah lebih suka menebus kesalahannya dengan itu. Hatinya masih merasakan teriris perih. Kalau saja perlakuan Hamzah tidak seperti itu padanya. Kalau saja dia tidak menikah dengan Hamzah dan memilih menjaga kandungannya sendiri.


Penyesalan akan selalu membuatnya merasa gusar.


Proses sudah dia lalui. Mediasi sudah dilakukan. Tapi Hamzah tidak memohon agar Diana mencabut tuntutan.


Semua yang dilakukan Hamzah selalu Diana maklumi. Termasuk tidak memberi nafkah padanya selama menjadi suami.


Diana yang menanggung semua selama Hamzah menikahinya. Alasannya Diana yang ingin menikah. Diana yang meminta Hamzah memulai hidup dengannya. Hamzah juga tidak pernah menemani Diana ke dokter untuk memeriksakan kandungan.


Apakah Hamzah separah itu? Jawabannya adalah "iya".


Pilu jika harus diceritakan keseluruhan tentang apa yang di alami Diana. Sampai di titik di mana Diana memberikan obat pada Hamzah dan suaminya itu perlahan luluh. Tapi ternyata, Hamzah pun selama melakukan itu, dia membayangkan Kinan bukan Diana.


Diana meringis, tak sadar air mata luruh ke pipinya.


Hamzah tidak membantah setiap apa yang dikatakan Diana di pengadilan.


Sampai detik di mana Diana menderita di rumah sakit pasca keguguran. Hamzah masih mengatakan dia hanya mencintai Kinan Adelia.


Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, Mas. Kamu membalaskan sakit hatimu padaku. Sampai aku kehilangan bayiku. Katakan padaku, apa kamu pernah sekali saja merasa mencintai ku, Mas?


Tidak, Diana. Saya hanya mencintai Kinan Adelia. Kamu benar, saya memang jahat. Maaf karena saya tidak bisa mencintai wanita lain selain Kinan sampai detik ini.


Tidak ada yang bisa dilakukan Diana saat itu selain tersenyum perih.


Itu juga yang diceritakan Diana selepas dia siuman. Pada Kinan dan Dude. Hamzah tidak bisa lari dari hukuman. Terlebih, Hamzah sendiri yang memilih untuk membayar kesalahannya dengan cara di penjara.


Biarkan saya menebus kesalahan saya di penjara. Lakukan proses hukum dengan apapun tuntutan yang bisa kamu ajukan pada pengadilan Diana.


"Kukira kita bisa bersama. Kalau sudah begini, aku tidak tahu apakah aku bisa memercayai laki-laki. Aku sudah mengubur keinginan ku untuk mendapatkan laki-laki yang juga mencintaiku. Mungkin ini hukuman buat ku."


Diana memasukkan foto-foto itu ke dalam kotak. Dia memilih tidak melihat gambar menyakitkan itu lagi.


"Ini jalan hidup kamu, Di. Itu juga yang diinginkan laki-laki itu. Kamu dan dia tidak ada ikatan apapun sekarang. Dia juga tidak bersedih atas kehilangan bayi dalam kandungan ku. Ya, sejak awal dia memang tidak menginginkan itu. Dia tidak menginginkan bayiku."


...***...


"Ya Allah, jadi Mbak Kinan sekarang gimana keadaannya? Kenapa Mas nggak mengabari Hana, Mas?"

__ADS_1


Maafkan Mas, Dek. Semuanya benar-benar tidak terkendali kemarin. Mas juga sangat sibuk dengan Mbak Kinan mengurus semuanya. Karena itu hari ini baru bisa menghubungi kamu. Mas juga nggak mau kamu kepikiran. Dua bulan lagi kamu dan Bastian kan akan menikah.


"Iya, Mas. Tapi tetap saja, nggak boleh begitu ya lain kali. Kita ini keluarga, apapun yang terjadi harus tetap saling mengabari. Hana khawatir. Ibu dan Bapak juga pasti kepikiran dan kaget kalau Hana ceritakan yang terjadi di sana. Apalagi Mbak Ki, gimana kalau dia trauma?"


Nggak, alhamdulillah. Mbak Kinan baik-baik aja. Ini sekarang Mbak Kinan sama Mas lagi di hotel. Ya, untuk sekedar merilekskan pikiran. Kalau di rumah sudah biasa.


"Alhamdulillah kalau gitu. Kasihan Mbak Kinan. Selama menikah dengan Mas belum pernah jalan-jalan. Ajak Mbak Ki jalan-jalan Mas. Ke luar negeri atau ke mana gitu. Pasti dia juga butuh hiburan."


Ya, Dek-ku. Nanti Mas ada rencana ajak Mbak Kinan ke Cappadocia selesai kamu menikah.


"Wah. Masya Allah. Hana juga ingin kalau ke Cappadocia, Mas."


Benar. Mas seharusnya memiliki tanggung jawab mengajak kamu jalan-jalan Dek. Maafkan Mas ya. Tapi kata Ibu Bapak, sebelum kamu menikah, kamu nggak boleh pergi jauh dulu. Jadi ikut aja kata orang tua. Setelah menikah, Mas akan hadiahkan kamu tiket bulan madu dan fasilitas lengkap. Kamu bebas pilih mau ke mana.


"Mas Dude nggak perlu repot. Hana hanya bergurau. Kebahagiaan Hana sudah sangat luar biasa. Bisa pulih dan bersama-sama Rey adalah kebahagiaan terbesar Hana, Mas."


Mas tahu, tapi itu memang sudah Mas rencanakan untuk hadiah kamu. Kalau Mas nggak berhasil bujuk kamu terima hadiah itu. Mbak Kinan akan hukum Mas lho Dek. Jadi jangan ditolak.


"Ya Allah ada-ada saja Mbak Ki, nih. Iya iya, Mas. Baik kalau begitu. Ya sudah, Mas jaga diri baik-baik ya. Jaga Mbak Kinan, awas jangan sampai Mbak Kinan sakit karena kelelahan. Segitu dulu aja ya, nanti Hana telepon lagi. Assalamualaikum."


Waalaikumsalam warohmatuloh ...


...***...


Bagi Hana keluarga adalah yang terpenting. Meski dia akan segera menikah. Semua persiapan sudah di urus oleh orang tuanya. Hana juga tidak berniat mengadakan pesta pernikahan mewah. Pesta yang sederhana saja baginya sudah cukup.


Harapan Hana, bahagianya tidak hanya dia rasakan sendiri. Tapi orang-orang di sekitarnya ikut pula merasakan.


"Mbak Hana, gaunnya sudah selesai. Bisa kita langsung coba sekarang?"


"Iya, baik." Hana tersenyum berjalan ke arah petugas butik. Hari ini memang jadwal Hana melakukan pengukuran gaun pengantin. Berhubung gaun yang dia inginkan ukurannya agak kebesaran. Hana menunggu penjahit memperbaikinya sebentar. Itulah mengapa Hana memiliki banyak waktu untuk berbincang dengan Dude di telepon tadi.



Kinan baru saja selesai dari salon yang ada di sekitar hotel tempat dia akan menginap bersama suaminya malam ini. Dia merasa membutuhkan itu untuk menyegarkan pikiran. Kinan selama prosesi hukum Hamzah tidak bisa tidur. Terngiang kata-kata Hamzah yang mengatakan saat meniduri Diana, yang ada di bayangan laki-laki itu adalah dia. Kenapa juga Hamzah tidak merasa malu berkata jujur tentang hal itu. Kinan merasa marah, kenapa Hamzah harus sampai seperti itu padanya? Kinan tidak tahu apa yang di rasakan Diana saat mendengar itu.


"Sudahlah Kinan, lupakan itu."


Kinan menatap suaminya yang sedang duduk sambil memegang ponsel. Dia tersenyum mendengar gumaman suaminya sendirian.

__ADS_1


"Hm, perempuan bisa menghabiskan waktu sangat lama saat di salon." Dude hanya bisa menggeleng, sambil menunggu Kinan keluar dari ruangan di sebelahnya. Untung saja Hana mau menemaninya mengobrol di telepon selama Kinan ada di dalam sana tadi.


"Mas."


"Ya. Akhirnya kamu selesai juga sayang."


Dude yang tadi tertunduk mulai mengangkat wajahnya perlahan. Dia tercengang melihat Kinan keluar dalam keadaan sudah berdandan.


"Ya Allah cantik banget istri Mas." Dude tersenyum lalu berjalan menghampiri Kinan.


"Kinan potong rambut." Senyum Kinan mengembang sembari melingkarkan lengannya ke leher suaminya.


"Nanti aku mau lihat ya kalau udah di hotel."


"Iya sayang." Kinan terkekeh. Kemudian dia menggandeng tangan suaminya.


"Kita langsung ke hotel kan? Kamu pasti lama nunggu dari tadi. Bosan ya?"


"Enggak kok, aku tadi telepon Hana."


"Oh, ya? Gimana kabar Hana. Ya Allah, kita belum pernah menghubungi Hana belakangan ini."


Dude mengusap kepala Kinan. "Nggak apa-apa, sayang. Hana udah ngerti, aku udah ceritakan semuanya kok sama dia."


"Lho dia jadi kepikiran Mas." Kata Kinan.


"Dia malah marah karena kita nggak kasih tau sejak awal, sayang."


Kinan menghembuskan napas panjang. "Gitu ... ya."


"Iya. Nggak apa-apa sekarang dia sudah tau, dan tadi Hana juga sedang menunggu gaun pernikahannya jadi. Aku menunggu kamu keluar dari salon."


Kinan tersenyum lebar. "Aku nggak sabar mau datang ke acara pernikahan Hana, Mas."


"Ya, Mas juga. Rencana Mas mau kasih hadiah rumah untuk Hana. Tapi Mas takut hadiah itu nantinya menyinggung Hana atau keluarga Bastian. Karena setelah menikah Hana menjadi tanggung jawab Bastian. Menurut kamu gimana?" tanya Dude.


Kinan perlahan mengelus lengan suaminya. "Nanti kita obrolin ya waktu di hotel." Bersama senyum tipis dari bibirnya.


"Oke."

__ADS_1


...______...


...🤍🤍🤍🤍🤍...


__ADS_2