Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
080 : Permintaan Bercinta


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ...


Usia kandungan Kinan memasuki bulan ke tiga.


Kinan sudah mulai terbiasa dengan keadaannya yang hamil. Begitu juga bawaan bayi yang tidak dapat diprediksi. Kinan mulai menerima banyak perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Bagian-bagian tubuhnya mulai berkembang lebih cepat dari biasanya. Terutama bagian dada dan perut yang makin membuncit.


Rasa begah mungkin belum terlalu terasa. Tapi malam hari Kinan tidak bisa tidur dengan menggunakan selimut. Padahal AC sudah dinyalakan dengan suhu paling dingin. Sampai-sampai Dude saja menggigil saking dinginnya. Anehnya Kinan malah sebaliknya, menurutnya itu tidak terasa dingin.


Malam itu, Dude melihat istrinya mengenakan pakaian yang sangat tipis. Ah, sudah biasa, setiap malam semenjak hamil Kinan memang lebih sering mengenakan pakaian tidur yang tipis. Jujur itu membuat Dude seringkali tidak dapat menahan diri. Sementara dokter menganjurkan agar tidak terlalu sering melakukan hubungan intim saat kandungan masih muda.


"Kenapa sayang? Kamu kok lihatin aku gitu." Lirikan mata Kinan. Dia tersenyum lalu duduk di dekat suaminya. "Belum ngantuk? Tidur, yuk," ajaknya.


"Hm, itu, Sayang." Dude menggaruk tengkuk. "Sayang ..." sentuh Dude di bagian paha mulus Kinan yang terbuka. Dude mengelus nya pelan.


"Eum, ada apa?" jawab Kinan, dia tersenyum santai.


"Baju kamu tipis banget, yakin kamu nggak dingin?" tanya suami Kinan masih dengan tangan yang mengelus tubuh Kinan.


"Enggak kok Mas. Emangnya kenapa? Mas kan tahu aku malah lebih cenderung kegerahan daripada kedinginan."


Dude mengangguk, dia kemudian mendekati wajah Kinan, menyentuh bahunya, mengusap kemudian secara perlahan-lahan. "Aku juga merasa kegerahan jadinya," bisik Dude di telinga Kinan.


Kinan terkekeh. "Sayang, geli ih." Sambil memeluk Dude kemudian. Dia mengelus dada kokoh suaminya, sambil menempelkan wajahnya. Dude makin frustrasi. Selama hamil Kinan juga kurang peka dengan keinginannya untuk bercinta. Alhasil Kinan lebih sering ketiduran dibanding tahu kode yang dia berikan.


Ya, biasanya istri yang memberi kode. Tapi kali ini suami yang ketar-ketir memberi kode. Tapi sayang, sang istri malah kurang peka terhadap kode yang suaminya berikan.


"Sayang, kamu belum ngantuk, kan?" bisik Dude lagi.


Kinan mengangguk. "Belum sayang. Kamu lagi pengin ya."


Deg.


Sontak Dude membulatkan matanya. "Kok kamu tahu?"


Kinan terkekeh lagi. "Kerasa sayang, ada yang menyentuh aku barusan. Tuh kan ..." cengirnya.


Dude makin salah tingkah. "Kalau udah tahu kenapa kamu kayak nggak peka."


Kinan malah makin merasa gemas, karena menurutnya Dude lucu ketika ingin sesuatu tapi tidak bisa mengungkapkan. "Peka sayang, sangat peka. Tapi kamu tahu 'kan dokter bilang apa."


"Terus apa sekarang belum bisa juga?" tanya Dude, agak putus asa.


"Boleh kok sayang," jawab Kinan.


Dude yang semula lemas tidak ada semangat. Langsung saat itu juga menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Beneran sayang?"


"Iya sayangku, boleh boleh boleh." Kinan menampakkan barusan giginya, lalu dia mengerucutkan bibir. "Kiss me."


Tanpa membuang waktu lagi. Ketika sudah di berikan izin. Dude tidak akan melepaskan Kinan dengan mudah. "I miss you sayang."


"Miss you more." Senyum Kinan mengembang. Dia kemudian perlahan, satu persatu melepaskan pakaian suaminya. "You just turn on, Papa."


"I've been On since earlier, when I saw you are so sexy."


Aku sudah bangkit sejak tadi. saat aku melihat kamu yang begitu seksi.


"Really?"


"Look like i'm lying? My passion is only yours. Feel me touch you."


Terlihat berbohong? Gairah ku hanya milikmu. Rasakan aku menyentuhmu.


"Ah." Kinan mengerang dengan gerakan tubuhnya yang seolah tidak bisa hanya diam. Tapi Dude meminta Kinan untuk tetap diam tanpa membalas.


"Diam sayang, jangan lakukan apapun. Kalau tidak kamu akan aku hukum," kata Dude mengingatkan. Kinan hanya mengangguk kecil sambil menahan hasrat yang kian menjadi-jadi.


"You're so wet, baby girl. Look so good?"


Kamu sudah basah, sayang. Apakah enak?


Tidak. Aku gila karena kamu. Ini sungguh buruk!


"Hanya gila saja belum cukup. Harusnya lebih gila lagi." Dude tersenyum penuh arti. Kecupan bertubi-tubi diberikan tepat di bibir Kinan.


"Do it slowly. Okay."


"Of course."


Percintaan itu lembut, tapi terasa sangat panas hingga keduanya terbakar. Dilakukan pelan dan perlahan penuh kehati-hatian dan juga penuh cinta.


Tidak ada yang bisa mengabaikan perasaan ingin terus bersama. Bercinta sampai adzan subuh terdengar. Padahal Kinan berkata tidak akan bergadang. Tapi, apa boleh buat.



Suasana kamar Hana dan Bastian masih sama. Mereka tidur setelah mulai merasa kantung datang.


Namun ada yang berbeda di malam itu. Tatapan Hana pada Bastian seolah menyiratkan sebuah ajakan.


"Mas. Kamu udah ngantuk?" tanya Hana.

__ADS_1


"Hm, belum dek sayang." Bastian tersenyum.


Ya, mereka lebih santai sekarang saat berbicara satu sama lain. Bukan hanya karena pernikahan mereka yang berjalan tiga bulan. Tapi karena penyerahan Hana yang belum lama ini diberikan pada Bastian. Ya, penyerahan dirinya yang utuh sebagai seorang istri. Menjalankan tugasnya, juga kebahagiaan karena rasanya amat menyenangkan saat melakukan itu.


Baru kemarin Hana berani mengatakan.


Aku siap untuk melakukannya denganmu, Mas.


Hana menggenggam tangan suaminya, menatap matanya dengan tatapan mendalam. "Katakan saja kalau Mas menginginkan sesuatu. Jangan takut Hana tidak mau melakukannya. Oke."


Bastian tersenyum. Kata-kata itu bukan tanpa alasan dilontarkan Hana. Sebab, kemarin juga Bastian mengatakan tidak berterus terang karena takut Hana kurang berkenan.


"Baiklah sayang."


Hana tersenyum. "Malam ini mau langsung tidur?"


"Hm, sebaiknya gimana? Menurutmu?"


Bastian mencium bibir merah Hana sekilas. Hana langsung tersipu.


Gelengan pelan Hana seolah memberikan sinyal agar tidak langsung tidur.


"Oh, baiklah." Bastian mengangkat tubuh Hana, memindahkannya ke pangkuan.


"Mau apa?" Senyum Hana seolah tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya.


"Mencegah agar kita tidak tertidur dulu." Bastian mengecup mata Hana bergantian. Perasaan penuh kelembutan dirasakan Hana seiring sentuhan yang kian menggodanya.


"I love you Mas."


Kata-kata itu baru saja terucap dari bibir Hana untuk pertama kalinya.


"Apa? Mas boleh dengar sekali lagi?? " Raut kaget, bahagia, bercampur jadi satu di wajah Bastian.


Hana mengusap rahang suaminya. "I love you Mas."


Senyuman lebar melingkar di bibir Bastian. Ciuman yang cukup dalam diberikan di bibir Hana, lalu mereka mengambil napas kemudian.


"I love you too."


Hana merasa sangat dicintai. Hana belum pernah merasakan kelembutan yang lebih lembut dari itu. Seolah dia tidak pernah punya luka di masa lalu. Hana sudah melupakannya. Hana benar-benar merasa terlahir kembali sebagai wanita yang sangat beruntung di muka bumi ini.


...____...


...Maaf kalau ada typo atau kurang berkenan ya. 😇...

__ADS_1


...Nggak lama lagi end. Eh, gimana ya maunya? wkwk ...


__ADS_2