Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
042 : Sama-sama Sayang


__ADS_3

Saya sayang kamu


Belum sempat Kinan membalas ungkapan perasaan dari Dude, dering telepon rumah membuat fokusnya buyar. Sebuah panggilan dari Reyhan yang ditunggu-tunggu. Kiranya ada apa gerangan? Hingga membuat senyuman lebar menghiasi bibir Dude. Kinan masih duduk di tempatnya, menunggu suaminya selesai menelepon dan menceritakan ada apa, sehingga membuat Dude berulang kali mengucapkan syukur.


Masih dengan senyum lebarnya, Dude berjalan menuju Kinan, lalu tanpa aba-aba Dude langsung menggendong Kinan ala bridal style. Kinan terkaget, dia tertawa karena Dude bahkan berputar masih dengan posisi menggendongnya.


"Mas Dude! Ada apa? Masya Allah kayaknya seneng banget," ucap Kinan sambil berpegangan erat ke leher suaminya. "Kinan takut jatuh, turunin Kinan, Mas."


Tapi Dude malah membawa Kinan ke dalam kamar, mendudukkan Kinan di tepi ranjang. Sambil mengusap wajahnya, Dude terlihat berkaca-kaca, kemudian tersenyum, lalu memeluk Kinan lagi. Kinan makin bingung, ada apa sebenarnya? Kinan baru pertama kali melihat ekspresi Dude yang seperti sekarang.


"Mas? Tarik napas dulu, pelan-pelan hembuskan."


Dude lalu menarik napas dalam-dalam, menghembuskan kemudian seperti yang disarankan Kinan.


"Oke, sekarang Mas cerita ke aku. Ada apa, Mas?"


"Alhamdulillah, Ki. Alhamdulillah Hana udah sembuh!"


"Ya Allah Alhamdulillah, beneran Mas? Beneran Hana udah sembuh?" Kinan tidak kalah kagetnya, dia bahkan langsung menjatuhkan air matanya refleks saking terharunya.


"Iya, Ki. Tadi Rey bilang gitu, awalnya saya juga agak ragu, tapi Hana mengambil alih panggilan dan setelah sekian lama saya tidak mendengar ..." putus Dude, untuk pertama kalinya Kinan melihat Dude menangis. Kinan langsung memeluk erat suaminya, mengusap punggungnya.


"Untuk pertama kalinya saya dengar suara dia yang ceria, normal, dia panggil saya Mas Dude, Hana sudah sehat, Mas. Saya bahagia sekali, Kinan. Adik saya yang selama ini menderita, terpuruk, nyaris seperti mayat hidup, akhirnya bisa berbicara seperti dulu lagi, seperti belasan tahun lalu saat saya hendak berangkat untuk kuliah di Amerika."


Dude menangis sesenggukan di pelukan Kinan, begitu juga dengan Kinan, mendengar ucapan Dude, seperti ada kepedihan yang selama ini melukai suaminya, perlahan terobati, tapi seolah tidak percaya bahwa seluar biasa itu nikmat Tuhan untuk kesembuhan Hana, wanita itu, wanita kuat itu benar-benar sembuh seperti sedia kala.


"Alhamdulillah, Mas. Akhirnya Hana bisa kembali lagi, Kinan juga sangat bersyukur dan bahagia, meski Kinan baru mengenal Hana, tapi Kinan yakin dia wanita yang sangat kuat, dia juga beruntung punya anak yang tegar, kuat, penyayang seperti Reyhan, dan juga dia memiliki Mas yang sangat luar biasa seperti kamu," tutur Kinan sambil menghapus jejak air mata di pipinya, sementara tubuh Dude sampai gemetaran, dia belum selesai dengan tangisnya hingga sulit berbicara.


Kinan menatap wajah Dude yang basah karena air matanya, lalu membantu menyeka jejak air mata di sana dengan telapak tangannya. Kinan tidak tahu seberapa kuat Dude menahan diri untuk tidak menangis selama ini, berusaha tegar, menopang semua beban di pundaknya karena dia sangat menyayangi adik perempuan satu-satunya itu.


"Ini air mata kebahagiaan, keluarkan saja supaya Mas merasa lebih lega lagi," kata Kinan. Dude pun makin terisak dalam tangisnya.


"Terima kasih, Ki. Saya hanya penantian saya selama ini ternyata memiliki hasil yang begitu manis. Walau sangat berat dan pahit di awal, saya masih ingat berulangkali Hana ingin mati, lalu bagaimana dengan saya? Kalau saya down, saya juga terpuruk dan menyerah, bagaimana nasib Reyhan yang masih dalam kandungan, bahkan sampai terlahir prematur."


Kinan menepuk-nepuk pelan punggung suaminya, dia membiarkan suaminya mengeluarkan semua yang mengganjal selama ini. Pasti sangat berat, Kinan mengerti.

__ADS_1


"Karena Allah Maha baik, Mas. Allah tahu hamba-Nya yang tidak pernah menyerah dan terus berusaha, walau belasan tahun itu sangat lama, tapi sekarang Mas bisa merasakan manisnya pelajaran hidup yang luar biasa." Kinan mengecup punggung tangan suaminya dengan derai air mata serupa. "Mas sangat kuat dan tegar, Kinan yakin Allah sangat sayang sama Mas dan kita semua."


Dude mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap mata Kinan. "Dan kamu menjadi hadiah dari Allah untuk saya yang sangat luar biasa Ki. Terima kasih sudah menerima tawaran saya untuk menikahi kamu, saya merasa beruntung memiliki kamu," ucapnya dengan ketulusan yang terpancar dari sorot matanya pada Kinan.



Kinan beranjak dari ranjangnya, dia merasakan haus dan tidak sengaja tertidur selepas salat dhuha. Saat dia membuka mata, dia ada di atas ranjang dengan mukena yang sudah terlepas, padahal seingatnya dia tadi ketiduran di atas sajadah.


Lalu Kinan menurunkan kaki, baru saja telapak kakinya menyentuh lantai, Dude muncul dan berlari ke arahnya. Kinan panik, dia kaget kenapa suaminya berlari seperti itu. "Ada apa Mas?"


"Biar saya yang gendong kamu. Mau ke mana? Kenapa nggak manggil saya?"


"Hah?" Kinan malah melongo, dia lalu mengerjapkan mata sembari menghela napas. "Kinan cuman mau ambil minum kok. Tadi Kinan ketiduran kayaknya, tapi kok sekarang malah ada di atas ranjang ya?"


"Oh, tadi saya yang gendong kamu pas kamu ketiduran, Ki. Kamu bisa pegal-pegal kalau tidur di lantai," jawab Dude dengan santai.


"Ya Allah pantesan aja, kirain aku mengigau terus pindah sendiri," cengir Kinan. "Makasih ya, Mas."


Dude tersenyum. "Iya, terus sekarang kamu mau ke mana?" tanyanya lagi.


"Astaghfirullah Mas. Turunin Kinan Mas. Mas mau apa?" tanya Kinan dengan rsut terkejutnya.


"Saya kan udah janji akan menebusnya dengan cara menggendong kamu, ke mana aja kamu mau pergi, saya akan gendong."


"Ta-tapi Mas, nggak usah sampai segitunya. Aku malah nggak enak sama Mas jadinya," geleng Kinan.


"Ki, saya serius lho, kamu kira saya bercanda? Udah nggak apa-apa, saya antar kamu, ya." Dude pun berjalan menuku dapur sambil menggendong Kinan.


Pipi Kinan memerah karena malu, padahal dia sudah berusaha menolaknya, tapi ternyata ini sisi lain Dude yang baru Kinan tahu. "Makasih ya Mas."


Dude melirik Kinan sekilas lalu melempar senyum. "Sama-sama, Sayang."


Deg.


Kinan termangu dengan semburat kemerahan yang makin terlihat di pipinya.

__ADS_1


"Sayang?"


Dude menoleh. "Ada apa?"


Kinan secepatnya menggeleng. "Enggak, Mas."


Tanpa terasa sudut bibir Kinan terangkat, jadi perlahan mimpinya tentang Dude memanggil sayang padanya itu menjadi nyata?


Sesampainya di dapur, Kinan diturunkan oleh Dude, dia langsung duduk mengambil gelas, tapi Dude merebutnya pelan.


"Biar saya yang tuang, ya."


Kinan yang masih tersipu karena dipanggil sayang, jadi salah tingkah, kenapa suaminya jadi mendadak manis?


"Em, kan Kinan bisa sendiri," kata Kinan.


"Saya tahu kamu bisa sendiri, Ki. Tapi ini bukan hanya karena saya merasa bersalah sudah membuat kamu merasakan nyeri dan sakit semalam, tapi ini karena saya bahagia menjadi suami kamu." Jawaban Dude sontak langsung membuat Kinan membisu dan terkesima.


"Ini minumnya." Dude memberikan segelas air itu untuk Kinan, lalu Kinan meneguknya cepat. Di saat yang sama Kinan merasa haus dan panas jadi dia dengan singkat menghabiskan satu gelas penuh air putih yang diberikan Dude padanya itu.


"Kamu kehausan dari tadi ya? Ya ampun, nanti saya sediakan dispenser air di dalam kamar supaya kamu tidak repot harus ke dapur ya."


Kinan menggeleng cepat. "Jangan, Mas. Dapur kan dekat, nggak apa-apa," tolaknya.


Dude terkekek sambil menggaruk tengkuknya. "Maaf kalau saya agak norak ya Ki. Jujur baru pertama kali saya bertemu wanita seperti kamu. Saya sendiri takut, jika sikap saya tidak berkenan di hati kamu, Ki. Saya ingin jadi suami yang baik untuk kamu."


Kinan makin tidak tahu harus berbuat apa dan berkata apa lagi. Dia hanya bisa tertunduk sambil memainkan kuku-kuku jarinya. Lalu Dude menyentuh dagu Kinan, mengangkatnya pelan, menatap mata Kinan. Di satu waktu mereka saling berpandangan dan terfokus hanya pada itu, tanpa pergerakan, hanya saling memandang saja.


Kinan meneguk ludah, mendadak dia seperti sesak napas, padahal hanya dipandangi saja oleh suaminya.


Namun satu kecupan mendarat di bibir Kinan dan terjadi tanpa aba-aba, sebab Kinan tidak tahu pergerakan menyentuh dagu, mengangkat wajah itu adalah aba-abanya.


..._____...


...Nanti di lanjut lagi 😂...

__ADS_1


__ADS_2