Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
039 : Berhubungan Dua Hari Sekali?


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, pernikahan Kinan dan Dude hampir berjalan satu bulan penuh.


"Mas?"


Dude bergeming.


"Udah siap berangkat sekarang?"


Hening.


"Mas?" ulang Kinan.


Kinan bangkit dari duduknya setelah selesai merapikan jilbab berwarna abu-abu yang dia kenakan. Kinan berjongkok tepat di hadapan Dude yang terlihat bengong dengan tatapan kosong, dia memandangi wajah lelaki itu dari dekat.


"Mas? Kamu bengongin apa?"


"Astaghfirullah. Ki, saya bengong, ya?" ucap Dude yang baru tersadar dari lamunannya.


"Iya, lagi melamun kan apa?"


"Tidak. Ini hanya pikiran yang seringkali melintas sejak saya menikah, dan saya tahu, pernikahan tidak hanya tentang memulai kebahagiaan baru."


Senyum dan anggukan Kinan membuat Dude terhenyak kembali, pertama kali dia bertemu dengan gadis di hadapannya.


"Kamu benar, Mas." Kinan menyentuh telapak tangan Dude dengan seulas senyuman yang tidak memudar dari bibirnya. "Karena pernikahan itu tentang kita yang berkomitmen, untuk menjalaninya bersama, berdampingan, saling menerima dan melengkapi. Jadi, percaya, apapun yang kita lalui, akan berjalan lebih mudah jika tetap bergandengan tangan seperti ini."


Dude mengeratkan genggaman tangan Kinan, dia ikut tersenyum. Dia menyadari beruntung dia menikahi gadis bernama Kinan, seperti hadiah, seperti sebuah kado yang amat berharga yang dia dapatkan dari Tuhan secara tidak di duga.


Tangan kukuhnya meremas jemari Kinan dengan lembut. Dia mendaratkan sebuah kecupan di jari manis istrinya yang dihiasi sebuah cincin dengan berlian kecil, hadiah darinya.


"Terima kasih, Kinan." Dude tersenyum. Kemudian Kinan bangun memeluk suaminya.


"Kita berangkat ke rumah sakit ya, Mas. Bismillah, ini adalah ikhtiar," ucap Kinan.


"Ya, Bismillah, Ki, kamu benar."


...***...


Hiasan janur kuning bersama deretan kursi yang berjejer di depan rumah berukuran cukup besar, bertuliskan nama sepasang manusia yang akan mengesahkan pernikahan mereka. Hamzah & Diana


Diana meremas jari-jarinya, gugup kian melanda, rasa was-was dan ketakutan membayangkan berlangsungnya pernikahannya dengan seorang pria yang sama sekali tidak mencintainya itu. Diana, dia tidak pernah mengira akan begini pernikahan yang dia impikan layaknya sebuah pesta sakral antara dia dengan jodohnya yang saling mencintai. Menjadi ratu sehari bersama pangerannya , tapi dia kubur mimpi-mimpi itu, dia terima seadanya, takdirnya, menikah dengan pria bernama Hamzah Abdullah Fahrezi.


"Sudah siap semuanya. Kamu harus senyum ya, Di. Semua orang tidak ada yang boleh tahu, apa yang ada di dalam sini," ucap ibu Diana, dia menyentuh perut Diana yang masih datar dibalik kebaya berwarna putih berhiaskan manik-manik permata yang berkilauan.


"Iya, Bu." Diana hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


Di tempat akan berlangsungnya acara akad nikah, sudah duduk Hamzah dengan baju berwarna senada dengan Diana, dia hanya duduk menatap kosong sebuah meja panjang, tempat di mana dia akan menjabat tangan penghulu, menjadikan Diana istri sahnya. Seharusnya, aku menikahi kamu, Kinan, bukan Diana.


Bagaimana tidak merasa pilu, bahkan saat Diana duduk tepat di sisi pengantin pria, di sisi Hamzah, lelaki itu tidak menoleh barang sedetik untuk menatap wajahnya. Sungguh tidak umum, tidak seperti pasangan yang saling cinta, itu pasti yang ada di pikiran orang-orang, batin Diana.


Tapi apa yang dia harapkan? Begini saja sudah jauh lebih baik daripada dia menenggak racun dan mati konyol.


"Apa semua sudah siap?" ucap penghulu yang berada di hadapan Diana dan Hamzah.


"Ya, saya siap," jawab Diana.


"Pengantin pria, apa sudah siap?" tanya Penghulu lagi.


Diana menoleh sekadar menatap wajah bengong Hamzah, lalu dia menyentuh telapak tangan Hamzah, seketika Hamzah sadar dan mengangguk. "Ya, saya siap."


Akad nikah pun dimulai.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, saudara Hamzah Abdullah Fahrezi bin Ahmad Asnawi Abdullah, dengan Diana Ghanisa Alvira binti Muhammad Razaq Ar-Razi dengan maskawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas seratus gram dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Kinan Adel—"


"Maaf saya akan mengulangnya."


Perasaan Diana hancur, bahkan nama Kinan masih begitu besar menjadi harapan Hamzah. Dia merasa miris dengan dirinya sendiri. begitulah yang dirasakan keluarga Diana, mereka tahu semuanya yang dilalui Diana tidak mudah. "Sabar, Di," bisik ibunya ditelinga Diana.


"Baik," angguk Hamzah sambil menghapus peluh di keningnya. Dia masih selalu mengingat Kinan, bahkan di detik-detik dia akan menikahi wanita lain, bukan Kinan.


Air mata Diana tertahan sekuat tenaga, dia meremas telapak tangannya keras dengan terus menerus bisikan ibunya mencoba menguatkan ia. "Kuat, Nak. InsyaAllah Hamzah akan berhasil setelah ini."


Namun bukan itu yang membuat Diana menangis, dia mengutuk dirinya sendiri, semua karena perbuatannya di masa lalu yang membuka pintu gerbang duka di kehidupannya sekarang.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, saudara Hamzah Abdullah Fahrezi bin Ahmad Asnawi Abdullah, dengan Diana Ghanisa Alvira binti Muhammad Razaq Ar-Razi dengan maskawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas seratus gram dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya." Hamzah berhenti sejenak, lalu dia menarik napas dalam-dalam, menguatkan dirinya, mencoba melenyapkan nama Kinan dari hatinya walau hanya sesaat saja.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Diana Ghanisa Alvira binti Muhammad Razaq Ar-Razi dengan maskawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas seratus gram dibayar tunai!"


"Saksi, bagaimana apakah sah?"


"Sah! Alhamdulillah!"


Akhirnya meski dengan derai air mata Diana, kini dia sah menjadi istri Hamzah, pria yang sama sekali tidak dia sangka-sangka akan menjadi masa depannya.


...***...


Kinan menunggu Dude yang sedang berada di dalam ruangan pemeriksaan. Dia terus berdoa, berharap ada titik terang, bagaimana cara mengatasi trauma yang dirasakan suaminya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, seorang suster keluar dari ruangan tempat Kinan menunggu di depannya. "Ibu Kinan, silakan masuk, ditunggu dokter di dalam."


Kinan pun berdiri, dia mengikuti suster itu masuk ke dalam ruangan dokter.


Dude juga sedang duduk di hadapan dokter. Lalu Kinan ikut duduk di samping Dude.


"Mas, udah selesai diperiksanya?" tanya Kinan.


"Belum, Ki. Kata dokter, ada beberapa persoalan yang harus dibicarakan dengan kamu juga," jawab Dude.


"Benar, Bu. Sebagai istrinya, saya menyarankan agar ibu ikut andil di sini. Saya yakin phobia yang di alami pak Dude ini bisa diatasi. Kuncinya, kerja sama antara suami-istri agar saling menguatkan, supaya Pak Dude juga percaya, di sini tidak ada yang ingin menyakiti, tidak perlu merasa dengan berhubung intim, lalu Pak Dude merasa menyakiti Ibu Kinan. Padahal tidak, kan? Bagaimana menurut ibu Kinan?" jelas dokter pada Kinan.


"Benar, dokter. Saya setuju sekali, dan saya akan berusaha semaksimal mungkin membantu suami saya," jawab Kinan.


"Nah, sudah begini saya tambah yakin Pak Dude akan cepat pulih."


Dude menggenggam tangan Kinan, lalu Kinan mengusap tangan Dude, dia berusaha memberi dorongan semangat agar suaminya yakin, semua bisa dilewati jika bersama-sama.


"Ingat Pak, kuncinya adalah percaya dan hilangkan semua ingatan yang membuat pak Dude merasa berhubungan itu akan menyakiti pasangan. Apalagi Pak Dude mencintai pasangan Bapak, kan? Nah tumbuhkan rasa cinta, percaya, dan ingin menyalurkan kasih sayang itu lebih dalam lagi. Jangan takut, rileks kuncinya."


Meskipun Dude belum berkata dia mencintai Kinan, tapi dia ingin menjadi suami yang normal bagi Kinan. Begitu juga Kinan, menurutnya cinta akan tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu nanti.


"Bisa juga melakukan pemanasan yang jauh lebih lama lagi, dan lebih intens. Untuk vitamin akan saya beri resep ya. Nanti tetap harus kontrol satu minggu sekali, dan saran saya dicoba untuk melakukan hubungan dua hari sekali atau tiga hari sekali. Jika masih ada masalah saat melakukan penetrasii maka bisa di ulangi lagi, jangan menyerah, oke!"


Dokter itu sangat bersemangat memberikan dorongan bagi Dude dan Kinan. Sebenarnya Dude juga heran ada apa dengan dirinya, kenapa saat hendak berhubungan dan bercumbu pun Dude padahal tidak mengingat hal yang buruk di masa lalu. Tapi, saat ingin melakukan itu, pikiran tentang kenangan buruk itu seolah datang begitu saja dan membuatnya gemetaran tidak bisa melanjutkan lagi.


"Baik dokter, terima kasih banyak." Dude menjabat tangan dokter. Kinan juga ikut berterima kasih pada dokter, dan dia berharap kali ini suaminya bisa mengatasi ketakutannya itu.


Mereka pun memutuskan untuk pergi makan siang dulu sebelum pulang ke rumah.


"Mas, kita mau makan siang di mana?" tanya Kinan.


"Ki, bagaimana kalau kita makan siang di dekat hotel saja?" tawar Dude sambil menyetir mobilnya.


"Kenapa di dekat hotel Mas?"


"Hm, saya kepikiran apa sebaiknya kita menyewa kamar hotel? Hm, anggap saja sebagai bulan madu, kalau kamu sudah boleh cuti lagi, kita bisa bulan madu ke luar kota, atau luar negeri mungkin? Sekarang tidur di hotel mungkin akan lebih rileks."


Kinan memainkan kuku-kuku jarinya, dia agak malu membahas masalah bulan madu karena memang tidak dia pikirkan sebelumnya. Hanya jika melihat keadaan Dude mungkin benar, tempat yang rileks akan membantu hubungan mereka nantinya.


"Hm, boleh aja Mas."


"Oke kalau gitu, saya akan hubungi orang hotel agar menyiapkan kamar untuk kita." Dude mengusap tangan Kinan. "Semoga kali ini berhasil ya."


Kinan mengangguk. "Iya, Mas. Aamiin."

__ADS_1


__ADS_2