
"Jadi maksud kamu datang kemari ingin meminta pakde menemui keluarga orang tua murid kamu itu? Kamu bermaksud melamar perempuan itu?"
"Nggih, Pakde." Bastian mengangguk. Dia akhirnya memberanikan diri untuk melamar Raihana. Walau dia baru beberapa kali bertemu dengan Raihana, tapi pikirannya terus tertuju pada Hana, dan dia ingin menjadikan Hana istrinya.
"Apa dia itu perempuan yang baik menurut kamu, Bas?"
"Ya, Pakde. Menurut Bastian dia adalah wanita yang bukan hanya sekedar baik, tapi spesial."
Pakde dari Bastian hanya menuruti keinginan keponakannya saja. Berhubung orang tua Bastian keduanya sudah meninggal, jadi hanya dia lah keluarga yang dimiliki Bastian.
"Baik, Pakde akan datang untuk melamar kan wanita itu, Bas."
"Terima kasih, Pakde." Bastian bersyukur, walau di dalam hatinya belum yakin Hana mau menerima lamarannya. Tapi kalaupun ditolak Bastian sudah siap, jika memang itu keputusan Hana. Tapi, rasa cintanya itu tulus untuk Hana, tidak peduli bagaimana pun masa lalu Raihana.
***
Hari itu selepas subuh Hana yang sedang menyapu halaman toko kuenya dikejutkan dengan seorang laki-laki yang terbaring di dekat tokonya. Dia kaget, orang itu tidak bergerak, apakah dia tidur? Hana tidak berani mendekat. Tapi, saat Hana melihat lagi, dia mengira orang itu sedang menggigil kedinginan. Tubuhnya terlihat kurus, dengan pakaian tidak seperti pengemis yang biasa di lihat. Apa orang itu bukan pengemis? Hana bertanya-tanya dalam hati.
Lalu orang itu bangun dari posisinya dengan gontai, dia seperti sedang menahan sakit sendirian.
"Pak, apa Bapak baik-baik saja?" tanya Hana memberanikan diri bertanya.
Kemudian laki-laki itu berbalik. Hana langsung menjerit, laki-laki itu terkejut mendengar suara jeritan Hana. Tapi, dia sedang sakit, dia berhenti tidak sengaja di depan toko kue Hana tanpa ia tahu sebelumnya bahwa itu toko milik wanita yang pernah dia lukai di masa lalu.
"Raihana?"
Hana memundurkan tubuhnya. Dia berlari masuk ke dalam tokonya. Tapi karena panik, dia kesulitan membuka toko kuenya yang dia kunci sendiri sebelumnya.
"Hana, maafkan saya."
"Pergi!! Jangan dekati saya!"
Laki-laki itu menangis, dia meraung ingin bersujud di depan Hana. "Maafkan saya Raihana, saya tidak sengaja menemui kamu seperti ini. Hana, saya sekarat."
Kesehatan Bagus memang menurun semenjak dia memutuskan untuk mencari tempat lain selain Jakarta. Dia yang semula mengira bahwa Hana berada di Jakarta sama sekali tidak tahu bahwa Hana justru ada di Jogjakarta, tempat dia menyepi.
Belum sampai ke perkampungan yang dia tuju, kesehatan Bagus malah makin menurun. Sekarang Allah mempertemukan dia di hadapan Hana dalam keadaan dia sekarat, Bagus merasa tubuhnya dingin sekali seperti es.
"Hana, maafkan saya. Ampuni saya. Demi Allah saya menyesal dan saya sadar saya salah padamu Hana. Saya hanya ingin memohon ampun padamu, Hana."
Hana menangis ketakutan, tapi dia melihat laki-laki itu tidak berdaya.
"Saya sekarat Han."
Hana yang sesenggukan lantas berjongkok menatap Bagus yang kedinginan seperti terkena hipotermia.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
Bagus menangis, dia tidak menyangka wanita itu bahkan bertanya keadaannya.
"Ampuni saya Hana."
"Saya tidak membuntuti kamu. Saya tidak berniat mengganggu hidup kamu. Tapi tidak tahu, kenapa saya ada di sini, di depan kamu sekarang. Maaf beribu maaf, Han."
Suara Bagus gemetar, dengan tubuhnya yang menggigil.
"Mohon ampun pada Allah, mohon ampun pada Allah bukan pada saya!" teriak Hana.
Suasana subuh saat itu memang sepi, sebab belum banyak orang-orang yang melintas. Hana menangis di hadapan Bagus yang kedinginan, menggigil seperti menahan sakit.
"Demi Allah saya sudah bertaubat Han."
Tiba-tiba saja Reyhan muncul di belakang Bagus, tepat di hadapan Hana dengan mata membulat.
"Ma! Dia siapa!" teriak Reyhan takut kalau Mamanya berada dalam bahaya.
"Reyhan," ucap Hana dengan tangisnya yang kian pecah. "Reyhan. Ya Allah Nak, dia papamu."
Meski dengan perasaan hancur akhirnya kata-kata itu keluar dari bibir Hana.
"Apa? Papa?" Reyhan menatap Hana dengan mata melotot. Dia memeluk Hana, lalu bertanya lagi. "Apa maksud Mama? Siapa dia?"
Bagus makin tidak berdaya, seperti napasnya sudah di ujung kerongkongan.
"Dia papamu, Reyhan. Papamu sudah bertaubat, bimbing papamu, Reyhan." Tangisan Hana membuat Reyhan kebingungan. Tapi Reyhan adalah anak yang cerdas, dia anak yang shaleh.
Meski Reyhan tidak tahu banyak cerita tentang mamanya di masa lalu, tapi dalam mimpinya dia ingin sekali bertemu dengan papanya.
Sekarang Reyhan menangis di hadapan orang yang Hana bilang dia adalah papanya. Orang itu sudah tidak berdaya. Lalu secepatnya Reyhan memeluk orang itu. "Papa?!"
Bagus meneteskan air mata, dia bahkan tidak berdaya untuk sekedar menyentuh wajah putranya.
"Papa!"
Hana memeluk Reyhan dengan rasa sakit yang luar biasa. "Bimbing papamu, Reyhan!"
"Laa ilaaha illallah." Pelan-pelan Reyhan mengucapkan itu di telinganya papanya yang sekarat.
Bagus hanya meneteskan air mata merasakan pendengarannya mulai samar. Tapi, dia bisa mendengar cukup jelas lafadz yang dilantunkan Reyhan. Anak laki-laki yang selama ini dia sia-siakan bahkan tidak dia anggap ada.
Reyhan menangis terisak, begitu juga dengan Hana. Mulut Bagus bergerak mencoba mengikuti lafadz tauhid yang terus-menerus Reyhan lantunkan tepat di telinganya.
"Laa ilaaha..."
"Illallah.." Bagus akhirnya bisa mengucapkan satu lafadz itu.
__ADS_1
"Muhammadarrasullullah." Reyhan masih setia membimbing Bagus.
"Mu—Muhammad—rasul ..."
Bagus mulai tidak kuat mengucapkannya. Reyhan juga gemetaran memeluk papanya. "Muhammadarrasullullah," ulang Reyhan.
"Rasulullah ..." Kemudian Bagus terkulai, matanya terpejam dan sekujur tubuh Bagus makin dingin, hingga saat Reyhan menyentuh nadinya tidak lagi berdenyut.
"Innalillahi wainna ilaihi raaji'uun." Reyhan mengecup kening papanya. Meski dia dipertemukan di ujung napas papanya. Tapi Reyhan bersyukur papanya bisa mengucapkan kalimat tauhid di tarikan napas terakhirnya.
Raihana menangis memeluk kepala Reyhan. "Innalillahi wainna ilaihi raaji'uun."
...***...
Setiap bernyawa pasti akan merasakan mati. Tapi, Hana tidak menyangka bahwa dia akan dipertemukan dengan Bagus dalam keadaan seperti itu. Walau tadinya Dude tidak mengizinkan Rey membantu prosesi pemakaman Bagus, tapi karena Hana sendirilah yang memohon pada Dude, sambil menjelaskan semuanya. Akhirnya Dude luluh membiarkan Reyhan membantu pemakaman Bagus.
Dude dan Kinan langsung terbang menggunakan pesawat dari Jakarta pagi hari itu juga setelah Hana menceritakan semuanya via telepon.
Setelah Bagus dimakamkan Hana masih menangis, dia merasa sedih melihat Reyhan, pasti itu amat berat, amat menyakitkan bagi Reyhan.
"Rey, kamu harus kuat ya."
Reyhan menggeleng. "Reyhan nggak apa-apa, Ma. Reyhan justru mencemaskan Mama. Apa Mama sudah memaafkan Papa?"
Dengan derai air mata dan tarikan napas berat, Raihana mengangguk. "InsyaAllah Mama sudah memaafkan papamu. Mama juga berharap Allah mau mengampuni dosa-dosa Mama."
Reyhan baru berumur sebelas tahun, tapi dia sangatlah kuat menghadapi semua itu. Cibiran dari teman-teman yang sempat membuatnya sedih pun kini tidak lagi dia dengar. Baginya tidak ada yang namanya anak haram. Mungkin hubungan itu haram, tapi tidak dengan anak yang dilahirkan.
Tidak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan. Tapi Allah selalu mengampuni hamba-Nya, sebanyak apapun dosa yang dilakukan hamba-Nya itu.
"Alhamdulillah, Ma. Sekarang Rey merasa lega, dan Rey juga berharap Mama merasakan hal yang sama."
"Iya, Rey. Semoga papamu di ampuni oleh Allah. Mama ikhlas memaafkan dia, dan mendoakan yang terbaik."
Keluarga Bagus tidak ada yang datang, saat Hana meminta orang tua angkatnya menghubungi. Mereka tidak lagi peduli bahkan seolah lupa bahwa Bagus adalah anak mereka. Belakangan baru Hana tahu, bahwa Bagus terlahir dari keluarga broken home.
...***...
"Mas, Kinan harap Mas juga mau memaafkan Bagus ya, bagaimana pun juga dia sudah tidak ada, Mas. Tidak baik menyimpan dendam," kata Kinan.
Dude sejak tadi hanya diam, dia duduk bersama untuk mendoakan Bagus, tapi tidak sedikit pun Kinan melihat Dude menggerakkan bibirnya sama sekali.
"Mas nggak boleh terus menerus menyimpan dendam pada Bagus. Ikhlaskan dan maafkan kesalahannya."
Dude lalu menatap Kinan, mengusap puncak kepalanya. "Ya, Ki."
"Kinan harap Mas mau mendoakan almarhum juga ya."
__ADS_1
Dude lalu mengangkat tangannya, mulai membaca doa-doa untuk Bagus.
Kinan bersyukur, begitu juga dengan Hana yang duduk tepat di sebelahnya. Mereka semua berusaha untuk ikhlas, sebab sewaktu Hana terluka, bukan hanya Hana sendiri yang terluka, melainkan seluruh keluarga merasakan bagaimana sakitnya Hana kala itu.