
"Ya."
"Kinan, maaf saya bikin kamu kaget."
"Tidak, ada apa?" tanya Kinan. "Ah, saya lupa tanya kabar. Gimana kabarnya? Mas Hamzah."
Hamzah sampai berkeringat saking gugupnya. Senyum itu masih sama, sangat manis di mata Hamzah. Senyum yang dulu selalu berhasil membuat hatinya meleleh, dan ternyata masih sama sampai detik ini.
"Kabar saya baik, gimana kabar kamu, Ki?" tanya Hamzah balik.
"Baik, alhamdulillah." Kinan menjawab seperlunya saja.
"Maafkan saya ya, Ki. Waktu itu saya membuat kamu takut."
"Ya, tidak apa-apa Mas. Lupakan saja, karena saya juga sudah melupakannya."
Kinan melirik sekitarnya, di sana sangat sepi, apakah baik kalau dia berbicara di tempat yang sepi seperti itu?
"Ki, apa saya boleh minta waktu sebentar. Apa kita bisa berbicara?"
"Hm," Kinan berpikir apakah itu boleh? Tapi, dia belum meminta izin pada suaminya untuk berbicara dengan Hamzah.
"Diana di mana Mas?"
"Diana ada di kamar hotel, saya mengajak dia juga kok."
"Oh syukurlah. Bagaimana kalau bersama Diana juga?"
"Maksudnya?" tanya Hamzah tidak paham.
"Ya, kalau ada yang ingin dibicarakan, bukankah lebih baik ajak Diana juga. Supaya tidak menimbulkan fitnah nantinya."
Saat mereka sedang berbicara berdua. Tiba-tiba datang banyak orang membuat mereka kehilangan fokus. Kinan kemudian turun dari anak tangga pelan-pelan tapi kakinya tergelincir. Dengan sigap dan refleks Hamzah menangkap tubuh Kinan hingga mereka terjatuh bersama. Posisi Hamzah berada di bawah Kinan dan Kinan di atasnya.
"Astaghfirullah." Kinan langsung bangun dari posisi yang tidak mengenakkan itu.
"Maafkan saya Ki, tadi saya hanya refleks karena kamu jatuh."
Kinan menggeleng cepat. "Saya permisi ya Mas."
__ADS_1
Kinan berjalan cepat menuju ke kamar hotel. Dia mendadak mulai takut kembali saat berdekatan dengan Hamzah. Kejadian tadi tentu bukan rencana, itu hanya bagian dari ketidaksengajaan. Tapi, Kinan sangat takut kalau kejadian itu menimbulkan fitnah kalau saja ada yang melihatnya.
Hamzah menyentuh dadanya, jantungnya masih berdentum kencang, masih sama seperti saat dia bertemu Kinan pertama kali. Apa ini? Padahal dia mulai menyusun hatinya, mulai menerima keadaan Diana dalam hidupnya. Kenapa dia sangat sulit melupakan perasaannya pada Kinan Adelia?
Kinan mencoba menghubungi Dude lagi, tapi tetap saja Dude belum merespon. Pesan beruntun yang dia kirimkan pada suaminya belum ada satu pun yang dibaca. "Kamu kemana sih Mas. Maaf Mas seharusnya aku biarin kamu ikut ke sini. Sekarang, aku merasa bersalah, tadi beneran nggak sengaja." Kinan tadi sempat menyentuh dada Hamzah dan itu membuat Kinan merasa sangat bersalah pada suaminya.
Diana baru saja selesai menunaikan salat. Dia melepas mukenanya kemudian kembali berbaring ke tempat tidur. Usia kehamilan yang mulai membesar membuat Diana mudah lelah.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Diana menjawab salam suaminya. Tapi wajah Hamzah berubah muram. Diana jadi aneh, padahal tadi wajah Hamzah tidak begitu.
"Kamu kenapa Mas?"
Bahkan pertanyaan Diana itu tidak digubris oleh Hamzah. "Mas? Kamu baik-baik aja kan?"
"Ya, Diana. Saya hanya merasa agak lelah." Hamzah langsung membaringkan tubuhnya tanpa berkata-kata lagi.
Lalu Diana mendekati Hamzah tapi dia mencium aroma parfum yang asing di tubuh Hamzah.
"Mas, kamu kayaknya nggak pernah pakai parfum kan?"
"Tapi kamu wangi, Mas."
"Ya bagus kalau saya wangi, Di."
"Bukan gitu, Mas. Ini wangi parfum yang aku kenal."
"Maksud kamu?" Hamzah beranjak dari posisinya.
Diana terdiam, dia menghirup lagi aroma Hamzah.
Ya, Diana tidak salah, dia memang mengenal wangi itu.
"Kamu jangan berfikir aneh, Di. Saya tidak pakai parfum." Hamzah menegaskan pada Diana agar istrinya itu tidak berfikiran yang bukan-bukan.
"Tapi Mas, aku yakin ini parfum perempuan." Diana mulai merasa curiga. Tapi parfum perempuan, lalu siapa perempuan itu?
Hamzah langsung teringat kejadian saat Kinan jatuh tepat di atas tubuhnya. Apa mungkin itu wangi parfum Kinan?
__ADS_1
Hamzah lalu membuka kemejanya, dia mulai mencium aroma yang tertinggal di sana. Benar, Hamzah juga mencium wangi parfum yang sama sekali belum pernah dia hirup sebelumnya.
Diana menatap Hamzah serius. "Jujur Mas itu parfum siapa?"
Hamzah masih memegangi kemejanya dalam keadaan bertelanjang dada.
"Saya nggak tahu, Di." Hamzah kali ini terpaksa berbohong. Bagaimana kalau dia berkata tadi dia bertemu Kinan, pasti Diana akan salah paham.
"Tapi kenapa bisa menempel sekali di baju Mas?" tanya Diana lagi.
"Di, tadi banyak sekali perempuan, entah itu dokter atau perawat. Jadi mungkin saja parfum itu tidak sengaja menempel di baju saya. Atau terkena saat kita tidak sengaja bersinggungan."
Diana merasa itu agak mustahil. Sebab wangi itu cukup kuat menempel di baju suaminya.
"Sudah, Di. Kamu jangan berfikir macam-macam. Saya ke sini untuk tujuan pekerjaan. Kalau niat saya macam-macam untuk apa saya ajak kamu, kan?" kata Hamzah mencoba meyakinkan istrinya.
Lagi pula dia dan Kinan memang tidak melakukan apa-apa. Tapi percayalah, walau hanya sekedar bertemu, perasaan Hamzah sangat kacau sekarang. Hamzah terus kepikiran Kinan. Tanpa Diana sadari, Hamzah sejak tadi menciumi aroma yang tertinggal di bajunya.
Jadi ini aroma Kinan? Batinnya.
"Ya sudah Mas, maafkan Diana ya." Diana merasa mungkin dia sudah berlebihan. Bener kata suaminya, kalau memang suaminya itu berniat macam-macam, untuk apa dia di ajak ikut pergi bersama? Lebih baik Diana tetap dibiarkan di rumah saja, pikir Diana.
Diana mendekati Hamzah dia bermaksud memeluk Hamzah, tapi laki-laki itu malah menghindar. "Saya mandi dulu ya, Di."
"Ah, iya Mas."
Hamzah pergi ke kamar mandi membawa serta baju kemejanya yang tadi.
Di dalam kamar mandi, Hamzah menciumi kemejanya lagi. Dia meneguk ludah, bayangan Kinan yang tersenyum membuatnya tidak bisa berhenti memikirkan wanita yang sudah bersuami itu.
Ditambah lagi aroma Kinan yang tertinggal di bajunya makin membuat Hamzah tidak dapat menutupi perasaannya. "Ini benar aromanya."
Tanpa dia sadari aroma parfum Kinan dapat menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya. Hamzah jadi membayangkan Kinan ada di depannya. Aroma itu seperti memberikan euforia sendiri buatnya.
Diana mengingat lagi, sebenarnya itu wangi parfum siapa? Wangi itu terasa tidak asing buatnya. Tapi siapa dan di mana Diana menghirupnya? Dia benar-benar tidak ingat.
"Ya Allah, nggak mungkin kan? Kinan? Aku ingat wangi itu mirip dengan wangi parfum Kinan. Ya, aku pernah menemani Kinan memilih parfum itu dulu. Sejak saat itu Kinan tidak pernah ganti parfum." Diana tidak habis pikir bagaimana wangi parfum itu menempel di kemeja suaminya.
"Nggak Diana. Kamu tidak boleh berpikir buruk. Nggak mungkin Kinan kan? Pasti aku yang salah."
__ADS_1