
Dude memutuskan menunggu sampai Kinan pulang di rumah sakit. Dia tidak tenang jika belum menyelesaikan semua kesalahpahaman yang mulai dia sadari letaknya.
Berjam-jam Dude bolak-balik dari ruangan dokter Angga dan mengobrol sambil menunggu Kinan, sesekali menengok Kinan yang sedang melakukan pekerjaannya, tapi hanya dari kejauhan. Obrolan random antara dia dan dokter Angga hanya sebatas untuk membunuh bosan menunggu, tapi dia sadar dia harus menunggu Kinan pulang.
"Kinan?" panggil seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. Kinan baru saja keluar dari ruangan untuk bersiap-siap pulang, lalu dia berbalik dan terkejut melihat sosok itu.
Hamzah, dia berdiri tepat di depannya sekarang. Pria itu melepaskan hoodie yang dia pakai, hingga tampaklah cukup jelas wajahnya yang terlihat suram, kurus dan juga acak-acakan tidak seperti yang Kinan kenal rapi dan elegan.
"Mau apa kamu ke sini Mas!" decak Kinan sambil memundurkan tubuhnya.
Kinan berlari menjauh, dia segera menuju lift untuk turun, tapi lift tidak kunjung terbuka. Sialnya, Hamzah mengejar dia seolah tidak menyerah untuk bisa menangkap Kinan.
Hamzah tidak bersuara, dia hanya terus mengikuti Kinan yang berlari menuju tangga darurat untuk turun. Kinan tergesa menuruni anak tangga, sampai tidak sadar sepatunya lepas karena dia terlalu cepat berlari, dan kakinya pun terkilir.
"Argh!"
Suasana di tangga darurat cukup sepi jam segitu, karena pekerja lain masih berada di ruangan atau sudah pulang sejak tadi.
"Kinan jangan lari!"
Namun Kinan tetap berlari walau kakinya sakit, entah kenapa dia sangat ketakutan melihat penampilan Hamzah yang sangat berbeda, seperti orang yang depresi.
"Jangan kejar saya!" teriak Kinan.
"Kinan kita harus bicara!" teriak Hamzah masih terus mengejar dan kini dia semakin dekat dengan Kinan mengingat Kinan yang mulai meringis kesakitan karena kakinya terkilir.
Kinan sudah tidak dapat berlari lagi, dia kemudian jatuh tersungkur dan tetap berusaha memundurkan tubuhnya. "Kinan, maafkan saya."
"Saya sudah memaafkan tapi tolong jangan dekati saya!" tegas Kinan.
Hamzah berjongkok lalu memegangi kaki Kinan dan itu membuat Kinan menjerit. Hingga jeritan Kinan itu terdengar oleh Dude yang sedang menunggu di kursi lobi.
"Kinan!" Dude menghampiri suara yang dia yakini suara Kinan itu, dia menaiki anak tangga karena yakin suara itu berasal dari sana.
Dude berlari secepat mungkin dan benar saja Dude melihat Kinan sedang menangis dan di depan Kinan ada seorang pria yang sedang berjongkok sambil memegangi kaki Kinan.
"Kinan! Siapa kamu!" sentak Dude lalu mendorong kuat pria itu.
__ADS_1
"Mas Dude!"
Kinan berdiri dengan terseok-seok ke belakang Dude. Sedangkan Dude tercengang menatap pria yang ada di hadapannya. Dengan secepat mungkin pria itu menutup kembali wajahnya dengan masker dan bermaksud pergi.
"Tunggu!" Dude menangkap bahu pria itu kuat. "Kamu Hamzah! Kamu kenal saya kan!" tekan Dude dengan rahang mengeras dan terlihat emosi. Jadi selama ini dugaannya benar, dia adalah Hamzah yang dia kenal?
"Bukan!" Hamzah menghempaskan kuat tangan Dude tapi Dude lebih kuat lagi mencengkramnya. "Kamu harus berhenti mengejar Kinan!"
"LEPAS!" Hamzah berbalik lalu berusaha mendorong tubuh Dude tapi tidak berhasil. Tangan Dude akhirnya terlepas dan Hamzah berlari kencang menjauhi Dude.
Saat Dude hendak mengejar Hamzah, Kinan berteriak. "Udah Mas jangan dikejar aku mohon!"
Dude langsung berbalik menghampiri Kinan yang merintih memegangi kakinya. "Kinan, kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Mas. Makasih ya udah nolongin aku," ucapnya pada Dude.
"Kaki kamu sakit, Ki, terkilir?"
"Kayaknya iya, Mas."
"Kamu bisa jalan nggak, Ki?"
"Cukup, Ki. Jangan dipaksa, kaki kamu terkilir, kamu naik ke punggung saya ya? Biar saya gendong."
"Nggak Mas, aku nggak apa-apa, kok."
"Ki, saya suami kamu, saya berhak untuk melindungi kamu, apalagi kamu lagi terluka. Kamu naik punggung saya ya?"
Kinan tidak dapat menolak, dia memang tidak dapat memaksakan kakinya yang sedang sakit. Kinan akhirnya mengikuti kata-kata Dude untuk naik ke punggungnya.
Perasaan Kinan makin tidak jelas saat Dude menggendongnya, bahkan beberapa orang yang melihat mereka membuat Kinan jadi malu sendiri. Dia melesakkan wajahnya ke punggung Dude lalu memejamkan mata karena tidak mau melihat orang-orang yang menatapnya sekarang.
"Maafkan saya ya, karena saya terlambat datang, kamu sudah terlanjur terkilir seperti sekarang," ucap Dude.
"Nggak, Mas. Ini bukan kesalahan Mas. Justeru Kinan makasih karena Mas datang menolong tadi."
"Saya akan perkarakan Hamzah setelah saya tahu dia Hamzah yang saya kenal, Ki."
__ADS_1
"Jangan, Mas. Nanti panjang urusannya."
"Tapi dia akan ganggu kamu terus, jadi saya harus pastikan dia tidak bisa ganggu kamu lagi."
Kinan lalu terdiam, pria sebaik Dude, apakah benar telah mendustainya, telah memiliki perempuan lain saat menikahinya? Tapi, kenapa Dude tega padanya? Batin Kinan.
Akhirnya mereka sampai di tempat parkir. Dude menurunkan Kinan pelan, lalu membukakan pintu, Kinan masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang. Dude menyalakan mesin mobil, lalu bertanya pada Kinan, tentang kakinya yang terkilir. "Kaki kamu masih sakit, Ki?"
Kinan mengangguk. "Iya, nanti di rumah biar Kinan urut pakai minyak angin, Mas."
"Ya udah, kita pulang, ya. Sekalian kita bicara di rumah saja biar lebih santai."
"Iya, Mas."
Diperjalanan pulang Kinan terus berpikir tentang perasaannya yang tidak berubah sama sekali walaupun tahu pesan yang dia baca semalam itu nyata.
"Ki, saya kira saya tidak bisa menundanya, setidaknya saya ingin kamu tahu, setiap yang saya lakukan tentang sikap saya, itu semua bukan karena kesalahan kamu, dan bukan karena peran orang lain di sana, saya memiliki masalah saya sendiri."
"Hm, maaf Mas. Tapi, Kinan semalam tidak sengaja membaca pesan yang masuk ke HP Mas Dude," ujar Kinan, dia menghela napas berat selepas mengungkapkan hal itu. "Jujur Kinan kaget, dan Wallahi, itu tidak Kinan sengaja."
Dude juga menghela napas mendengar ungkapan dari Kinan. "Ternyata karena itu. Maafkan saya, Ki. Dia Selin, teman lama saya dari Amerika. Dia memang selalu mengatakan apapun dengan bebas. Jadi, saya harap kamu tidak salah paham. Seharusnya saya memblokir nomor dia, tapi saking sibuknya saya mengurus Hana dan pekerjaan saya saat di Indonesia, saya sampai lupa melakukannya," jawab Dude.
Kinan mulai berkaca-kaca dalam hatinya dia bersyukur, jadi semua yang dia pikirkan hanya prasangka buruk? "Ya, maaf Mas. Kinan hanya tidak ingin merusak hubungan lama Mas, jika memang dia spesial di hati Mas. Aku cukup sadar diri pernikahan ini tidak direncanakan," balas Kinan.
"Tidak, Ki. Saya dan dia hanya masa lalu."
"Jadi, dulu Mas dan dia ada hubungan? Ah, maaf kalau saya lancang."
Dude menghela napas lagi. "Iya, Ki. Tapi semua udah berlalu dan tidak ada yang bersisa sama sekali."
"Setiap orang punya masa lalu kok Mas. Terima kasih karena Mas mau jujur sama Kinan. Maaf atas prasangka ku yang membuat kesalahpahaman," kata Kinan.
Dude agak merasa lega karena Kinan mau menerima penjelasannya tentang Selina. Sekarang tinggal jujur akan dirinya, tentang masalah yang dia miliki, dari dirinya sendiri, yang dia tidak tahu apakah Kinan mau menerima kekurangannya itu.
"Terima kasih, Ki, karena kamu mau mengerti penjelasan saya. Mengenai sikap saya juga bukan karena peran orang lain sama sekali, Ki. Melainkan pergulatan batin saya sendiri, karena saya memiliki masalah yang cukup serius, ini tentang saya."
Kinan lalu mulai penasaran. "Apa itu, Mas?"
__ADS_1
"Nanti saja di rumah ya."