Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
049 : Saya Yang Beruntung Menikahi Kinan


__ADS_3

Hari itu pesta pernikahan Kinan dan Dude pun di gelar. Pesta yang megah dibuatkan Dude khusus untuk pernikahan mereka, menurut Dude itu sebanding karena dia menikahi wanita yang luar biasa, meski di awal dia menikahi Kinan karena ingin membantu wanita itu.


Banyak yang kaget, seorang Dude Danuarta yang pernah bilang tidak tertarik menikah akhirnya mempersunting seorang perawat muda dan cantik, Kinan Adelia yang malam itu terlihat menawan dengan balutan gaun putih dan jilbab senada, dengan make up yang simpel tapi cantiknya elegan.


"Kinan, kamu cantik banget," puji Ibu Fatimah pada menantunya. Ibu Halimah hanya tersenyum merasa bahagia melihat putrinya bisa menikah dan di ketahui banyak orang. Sebab jika mengingat acara pernikahan Kinan waktu sebulan lalu, itu bagaikan pernikahan yang acak-acakan, hancur berantakan karena ulah Hamzah yang mengacaukan segalanya.


"Bu Halimah luar biasa bisa mendidik anak sebaik Kinan," kata Bu Fatimah.


"Bu Fatimah terlalu berlebihan. Kinan banyak mendapatkan pelajaran dari luar dibanding dari saya, Bu," balas Bu Fatimah.


Kinan hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya. Padahal Kinan selama ini jarang main di luar, pendidikan yang dia dapat sekitar delapan puluh persen dari didikan ibunya, selebihnya dari pengalaman dan semasa dia mengemban pendidikan di luar.


...***...


Seorang wanita cantik sedang menatap layar tablet ditangannya. Foto Dude terpampang di sana dengan highlight Pengusaha Ternama Dude Danuarta akan Menggelar acara Pernikahannya hari ini.


Bibirnya bergetar, tanpa sadar dia tersenyum walau senyuman itu tidak terlihat seperti senyum yang bahagia.


"Kenapa kamu memutuskan aku, dan menikah dengan wanita lain, Dude. Apa aku seburuk itu di mata mu? Tapi, bukankah hubungan kita dulu sudah cukup jauh. Tidak bisakah kamu mengerti, itu bukan sekedar satu malam yang tidak berarti.


I thought I would be the bride for you ....


Kemudian dia mengambil sebuah kotak berisi jas yang dia pilih khusus untuk Dude. Hadiah itu memang dia akan berikan pada Dude sebagai kado pernikahan, tapi ternyata dia tidak sekuat itu, perasaannya tetap saja sedih, hancur berkeping-keping melihat berita pernikahan mantan kekasihnya yang terindah itu.


Tak lama kemudian, suara klakson terdengar. Supir pribadinya sudah datang menjemput. Selina berjalan ke depan cermin, memeriksa ulang penampilannya, lalu dia mengulas senyuman tipis, mengusap benda yang melingkar di jari manisnya. Itu bukan cincin pertunangan, tapi hadiah dari Dude di hari ulang tahunnya, beberapa tahun silam.



Kembali ke pesta pernikahan Dude dan Kinan. Tamu undangan sudah berkumpul, begitu juga keluarga Dude dan Kinan. Hana dan Rey juga terlihat bahagia duduk di samping Bu Fatimah dan Bu Halimah. Bapak Rahman selaku wali Dude pun ikut duduk tepat di samping Dude. Karena akad nikah sudah dilangsungkan di rumah Kinan, hari ini mereka hanya menggelar pesta saja.


Dude terpukau untuk ke sekian kalinya, saat Kinan berjalan di temani oleh pendamping pengantin, mereka berdua adalah teman-teman Kinan. Wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu tampak cantik nan anggun membuat Dude berdecak kagum dengan senyuman yang tak memudar sejak pertama memandang.

__ADS_1


Dude lalu menjemput Kinan, meraih telapak tangannya, membawa Kinan ke singgasana pengantin mereka di hari itu. Sebuah kursi untuk mereka berdua. Sambil melempar senyuman mereka duduk berdampingan, membuat siapapun yang melihatnya akan iri dengan pasangan itu.


Seperti layaknya pernikahan pada umumnya, ada suara musik, juga MC yang membawakan acara, dibarengi tawa bahagia mempelai saat diminta untuk saling mengecup kening dan bernyanyi. Kebahagiaan yang lengkap seolah tanpa cela, sebelum wanita bernama Selina datang sebagai tamu yang tidak di undang, menerobos masuk walau namanya tidak ada dalam daftar tamu yang di undang.


"Dude."


Mata Dude membulat melihat Selina berdiri di hadapannya juga Kinan. Bukan hanya Dude yang terkejut, tapi juga Kinan, seingatnya dia pernah bertemu dengan wanita itu. Ya, Kinan mengingatnya, dia adalah wanita cantik bak model yang tidak sengaja menabraknya saat di butik.


"Astaghfirullah. Jadi dia Selina?"


Dude menggenggam erat tangan Kinan seolah mengisyaratkan agar Kinan tetap tenang. Tidak ada yang paham situasi itu sangatlah mendebarkan, karena yang lain mengira Selina adalah tamu biasa, walau dia memang terlihat agak mencolok dibandingkan tamu yang lain sebab dia cantik, terlihat mirip artis ternama.


"Selamat atas pernikahan kamu." Selina mengulurkan tangan, tapi Dude tidak mau menerima uluran tangan Selina.


Kinan mendadak canggung dengan jantung berdegup kencang. Ia menatap Selina yang begitu cantik, pikirannya mulai berkelana. Kinan berpikir Selina itu mantan kekasih suaminya, pasti mereka dulu sangat dekat. Kinan merasa cemburu sebagai wanita yang normal.


"Terima kasih," balas Dude.


"Selamat ya, kamu sangat beruntung bisa menikah dengan Dude," kata Selina pada Kinan.


"Saya yang beruntung bisa menikah dengan Kinan," sela Dude, lalu dia mengeratkan genggaman tangannya pada Kinan.


Kinan tertunduk, dia bingung dengan situasi itu. Berdiri menatap sepasang kekasih di masa lalu yang satu dingin, yang lainnya seperti masih menaruh harapan dari sorot matanya. Kinan sadar, wanita bernama Selina itu sepertinya masih menyukai suaminya.


"Kamu selalu blak-blakan Dude. Baiklah, aku tidak akan mengganggu berlangsungnya acara pernikahan kamu. Aku ke sini hanya ingin memberikan selamat dan sedikit kado pernikahan. Sudah aku berikan di depan tadi. Kuharap kamu tidak terlalu dingin padaku, Dude. Kita mengakhiri semua dengan baik-baik saja, aku bukan musuh mu juga," kata Selin.


Dude memijat kening, bukankah Selina yang terlalu blak-blakan. Untuk apa membahas tentang yang lalu di hadapan Kinan? Pikir Dude, menahan geram. Kinan meremas telapak tangannya, dia hanya bisa menghela napas sambil menunggu Selina berlalu.


Seorang laki-laki pun masuk, muncul menyusul Selina, mata Dude makin membulat menatap laki-laki itu dari kejauhan. Mereka menuju pintu keluar, sepertinya laki-laki itu sengaja menjemput Selina.


"Astaghfirullah."

__ADS_1


"Kenapa, Mas?" Tanya Kinan saat melihat suaminya seperti sangat terkejut.


"Astaghfirullah. Hana, mana Hana, Ki?"


"Hana? Sepertinya Hana sedang makan bersama Rey, Mas. Ada apa? Kenapa Mas terlihat kaget?"


Dude menggeleng. Dia memperhatikan Selina pergi bersama laki-laki itu. Dude sangat mengingat wajah laki-laki itu. Dia adalah orang yang telah merusak masa depan adiknya. "Ternyata dia sudah keluar dari penjara. Kenapa dia bersama Selina?"


Kinan hanya bertanya-tanya karena suaminya tidak menjawab pertanyaannya tadi. Kenapa Dude kaget dan kenapa dia seperti mencemaskan Hana. Kemudian Dude mengambil ponsel terlihat seperti menghubungi seseorang.


"Mas, ada apa? Kenapa Mas terlihat sangat terkejut. Apa Mas sudah tidak mau berbagi dengan Kinan?"


Akhirnya Dude menatap Kinan dengan wajah pucat. "Maafin Mas, Ki. Tidak, tadi saya melihat orang yang tidak saya undang ada di sini, Ki. Seharusnya dia tidak ada di sini."


"Maksud Mas dia itu Selina?" jawab Kinan tanpa berpikir panjang, karena hanya Selina yang datang tanpa menggunakan undangan.


"Bukan. Saya tidak peduli dengan Selina, Ki. Saya harap kamu jangan salah paham ya. Selina tidak berarti apa-apa bagi saya."


Kinan tersenyum, seperti ada perasaan lega setelah Dude mengatakan itu.


"Lalu apa yang membuat Mas kaget?"


Dude terdiam sejenak, sesekali melemparkan senyuman pada tamu undangan yang sedang fokus pada hidangan di pesta itu.


"Ada Bagus, Ki. Pria yang sudah menghancurkan hidup Hana."


"Astaghfirullah." Kinan refleks langsung beristighfar. "Di mana Mas?"


"Dia datang bersama Selina, Ki. Saya juga tidak tahu kenapa mereka bisa datang bersama. Saya langsung menghubungi penjaga keamanan agar memastikan tidak ada lagi tamu yang tidak di undang. Saya takut, Ki. Hana baru sembuh, kalau melihat Bagus lagi, bisa-bisa Hana kambuh."


Kinan tidak menyangka di acara pesta kali ini akan ada kejadian yang tidak terduga. Kinan juga ikut cemas, bukan tentang kedatangan Selina, tapi tentang laki-laki bernama Bagus.

__ADS_1


__ADS_2